
"Hanna!" Suara panggilan Jaaz dalam kepalanya terdengar makin mendesak. "Hanna, dengarkan aku! Masih ada kesempatan. Ashia masih bisa diselamatkan!" Seru Jaaz. Mendengarnya, Hanna langsung mengangkat kepalanya.
"Ada apa, Hanna?" Baozhu memandang heran pada putrinya yang tiba-tiba berhenti menangis dan menegakkan tubuhnya di atas pangkuan Baozhu.
"Kenapa Hanna?" Tanya Baozhu lagi, tapi Hanna mengabaikannya. pandangannya hanya terfokus pada Jaaz dan berita yang dibawanya.
"Tuan Zorex bisa menyelamatkan Ashia, Hanna. Tapi waktunya sempit. Kita harus melakukannya sekarang!" Ucap Jaaz.
"Benarkah?" tanya Hanna penuh harap. Jaaz mengangguk.
"Apa Zorex yang mengatakannya padamu?" Jaaz mengangguk kembali.
"Bicaralah pada Zorex sekarang!" suruh Jaaz. Hanna langsung bangkit dari duduknya.
"Paman Zhouyou, Kak Hazrat, Zorex bilang ia bisa menyelamatkan Kak Ashia." Mendengar ini, Zhouyou langsung mengangkat kepalanya.
"Be..benarkah?" Tanyanya terbata.
"Aku akan bicara padanya." Dengan sempoyongan Hanna berjalan menuju Zorex yang sebenarnya tidak berada jauh darinya. Sesampainya di depan wajah Zorex, Hanna bersimpuh dengan tergesa. Lututnya menghantam batu-batu kecil yang tersembunyi di antara rerumputan sehingga menyebabkan luka lecet dan gores. Namun Hanna tidak merasakannya. Perhatiannya hanya tercurah sepenuhnya pada Zorex. Dibelakangnya Hazrat dan Zhouyou yang masih menggendong Ashia, turut bersimpuh di atas rumput hijau, menghadap Zorex. Naga itu diam tak bergerak. Matanya tertutup rapat dan tubuhnya tidak menunjukan adanya tanda-tanda kehidupan.
"Zorex..." Panggil Hanna pelan, khawatir Zorex telah kehilangan nyawanya. Untungnya mata besar Zorex membuka perlahan.
"Hanna." Sapanya lemah.
"Apa kau tidak apa-apa?" Tanya Hanna.
"Jangan perdulikan aku... Sudah tak ada waktu lagi. Terjemahkanlah kata-kataku... pada mereka." Ucap Zorex pelan. Hanna mengangguk, lalu menoleh pada Hazrat dan Zhouyou.
"Aku akan menerjemahkan kata-kata Zorex. Tolong dengarkanlah." Zhouyou dan Hazrat mengangguk.
"Gadis itu, ia separuh Naga." ucap Zorex. Hanna mengangguk. Mata Zorex berkedip pelan, lalu ia melanjutkan bicaranya.
"Tubuh manusianya telah mati, namun aku masih bisa merasakan kehidupan pada sisi Naganya. Hanya saja karena... ia terkunci begitu dalam... Naganya tidak bisa menolong dirinya sendiri dan... aura kehidupannya pun mulai meredup." Kata Zorex terbata. Hanna langsung menerjemahkan kata-kata tersebut untuk semuanya.
"Yang harus dilakukan untuk menyelamatkannya... adalah membebaskan Naganya. Setelah Naganya bebas... kemampuan regenerasi Naga akan memperbaharui tubuh manusianya, dan kemudian membangkitkannya kembali."
Mata sang Naga tertutup sesaat, kemudian ketika membuka kembali, ia berkata,
"Tapi akan ada efek sampingnya."
"Efek samping?" Tanya Hazrat.
"Setelah Naganya terbangun... sejak itu... ia mungkin akan mampu berubah menjadi Naga." Jawab Zorex, membuat semua orang tercengang.
"Atau... ia mungkin tidak akan berubah... tapi bila ia memiliki anak, maka anak itu akan memiliki kemampuan untuk berubah... menjadi Naga."
Hanna memandang Zhouyou yang sedang memandangi Ashia. Gadis itu diam tak bergerak karena tubuh manusianya telah mati. Sekarang, Ashia memiliki kesempatan untuk hidup kembali, namun ia mungkin tidak akan lagi hanya menjadi Ashia, karena ia juga akan memiliki Naga yang aktif dalam tubuhnya. Apakah itu akan membuat perbedaan? Tidak! Zhouyou tidak perduli! Ashia boleh berubah jadi apapun, asalkan ia hidup dan bernafas di sisi Zhouyou. Zhouyou sama sekali tidak perduli.
"Lakukanlah!" Ucap Zhouyou tegas. "Kalau kau bisa menyembuhkannya, aku akan memberikan apapun yang kau minta!" Janjinya.
Hanna memandang ke arah Hazrat dan Hazrat mengangguk pelan. Lalu Hanna kembali menghadap Zorex dan berkata,
"Lakukanlah, Zorex." pinta Hanna. "Tolong kembalikan kak Ashia pada kami. Raja kami berjanji bahwa ia akan memberikan apapun yang kau minta sebagai imbalannya."
Mendengar ini sang Naga terkekeh pelan.
"Letakkan salah satu tangannya menempel di kulitku." Perintah sang Naga lagi. Zhouyou mengangkat sebelah tangan Ashia dan meletakkannya di atas salah satu cakar Zorex yang terbuka. Zorex kemudian menutup kedua matanya. Tak lama kemudian cahaya terang berwarna putih tampak berpendar dari kulit Ashia. Ia terlihat bagai bohlam lampu yang bersinar terang menyilaukan mata. Cahaya tersebut bertahan selama 10 menit. 10 menit yang terasa bagaikan berjam-jam bagi Zhouyou. Ketika cahaya tersebut memudar, kemudian menghilang, Ashia tetap diam tak bergerak. Zhouyou meraih tubuhnya dan mencoba membangunkannya, namun Zorex menghentikannya.
"Naganya telah bebas... Sekarang penyembuhannya... sedang berlangsung. Akan butuh waktu... tapi ia akan bangun kembali." Kata Zorex. "Bawalah ia ke tempat yang aman... dan... tunggulah."
Tak perlu diberitahu 2 kali, Zhouyou langsung mengangkat Ashia dan membawanya memasuki istana, diikuti oleh hampir semua orang, kecuali para pengawal istana, Hanna, Adonis dan Xiao Bao, serta Jaaz dan Xiam yang tetap tinggal di sisi sang Naga. Hanna masih bersimpuh di hadapan Zorex dengan khawatir.
"Zorex?" Panggil Hanna. Zorex tidak bergeming. Hanna bangkit untuk mendekat dan menyentuh wajahnya perlahan. "Zorex?" Tapi Zorex masih tidak menjawabnya. Hanna mulai menangis kembali dan mencoba menepuk-nepuk wajah Zorex pelan. "Zorex, jawab aku!" Pintanya. Zorex tidak membuka matanya, namun ia berbisik lirih.
"Kau menangis? Sudah lama sekali... sejak seseorang... menangis untukku." Ucap Zorex.
"Terimakasih, Zorex. Aku sangat berterimakasih." ucap Hanna. Tangannya membelai-belai wajah Zorex lembut.
"Gadis kecil.... apa kau... tidak ingin melepaskan Nagamu juga?" Tanya Zorex. Hanna menggeleng.
"Tidak, Zorex. Aku tidak tahu apa-apa tentang menjadi Naga. Lagipula aku sudah cukup bahagia dengan apa adanya diriku. Aku akan tetap seperti ini saja."
"Sayang sekali. Padahal... ada banyak hal besar... yang akan bisa kau lakukan... bila kau seekor Naga."
"Tidak apa-apa, Zorex.Tanpa berubah wujud menjadi Naga sekalipun, aku tetap saja anggota klan Naga."
"Benar. Dan kau... adalah Naga tercantik... yang pernah kutemui. Bahkan... ketika kau menyembunyikan wajahmu... di balik cadar itu." Hanna tersenyum mendengarnya.
"Hanna... Katakan pada Rajamu untuk selalu melindungi anakku." kening Hanna berkerut mendengarnya.
"Anak?"
"Aku bersyukur bisa bertemu denganmu... Naga kecil." ucap sang Naga lirih. Zorex menarik nafas panjang untuk terakhir kalinya, untuk kemudian pergi meninggalkan dunia. Melihatnya, Hanna langsung menangis tersedu sambil memeluk moncongnya erat-erat. Hanna menangisi kematian Zorex, menangisi kehidupannya yang penuh penderitaan, dan menangisi kehidupan masa lalu yang seluruh pengetahuannya memudar bersama matinya sang Naga kuno terakhir.
Di belakang Hanna, Adonis, Xiao Bao, Jaaz dan Xiam membungkuk untuk memberikan penghormatan terakhir mereka.
"Selamat jalan, tuan Zorex. Semoga di dunia yang lain kau akan bertemu kembali dengan Tuan Aspixia dan bahagia bersamanya." Ucap Jaaz.
Adonis mendekat dan mengangkat Hanna ke dalam pelukannya. Hanna menangis keras di bahu Adonis sementara pria tersebut menepuk-nepuk punggung adiknya dengan penuh kasih sayang. Membiarkan Hanna meluapkan kesedihannya sampai puas dalam perlindungan tangan-tangan Adonis.
"Terimakasih, Zorex. Selamat jalan." Bisik Adonis. Di sebelahnya, Xiao Bao hanya berdiri diam tanpa suara.
Lama setelahnya, Adonis memutuskan untuk membawa Hanna beristirahat di kamarnya. Ia menggamit tangan Xiao Bao untuk mengajaknya masuk bersamanya. Namun ketika mereka berbalik untuk meninggalkan tempat itu, seorang pengawal berseru untuk menghentikan langkahnya.
"Dewa Adonis, sepertinya para Chimera itu menemukan sesuatu!" Beritahu sang pengawal. Langkah Adonis dan Xiao Bao langsung terhenti. Mereka, termasuk Hanna yang masih menangis, berbalik kembali untuk melihat apa yang Jaaz dan Xiam temukan.
Di dalam salah satu cakar Zorex, terdapat sebuah benda berwarna merah yang menyerupai telur raksasa. Hanna langsung teringat pada kata-kata yang diucapkan Zorex disaat-saat terakhirnya,
"Hanna... Katakan pada Rajamu untuk selalu melindungi anakku."
"Telur Naga?" Guman Hanna pelan, namun sudah cukup untuk membuat Adonis dan Xiao Bao menoleh dengan ekspresi shock.
"Apa?" Tanya Adonis.
"Telur Naga, Kak. Itu adalah sebuah telur Naga!"
Copyright @FreyaCesare