
"Tapi ini adalah mimpiku." bantah Hanna.
"Hanna sayang, Youzi benar; ini sama sekali bukan sebuah mimpi." beritahu Baotu.
"Eh?" Hanna mengangkat kedua alisnya dengan bingung. Matanya yang besar berkedip-kedip, tampak berusaha memproses informasi yang baru diterimanya. Ini bukan mimpi? Tapi bagaimana mungkin? Aku kan sedang berada di pulau bunga, sedangkan ayah sedang berada entah berapa milyar kilometer jauhnya dari Sirria. Jadi kalau ini bukan mimpi, bagaimana aku bisa ada disini? Pikir Hanna. Berbagai ekspresi muncul bergantian di wajah mungilnya, mengikuti dialog yang terjadi dalam kepalanya, membuat ia tampak sangat menggemaskan. Bao Youzi mendekat dan mencubit kedua pipi Hanna dengan gemas.
"Ah!" pekik Hanna kaget. Dengan reflek Hanna mengangkat sebelah kakinya untuk menendang Bao Youzi, namun Bao Youzi berkelit dengan lincah.
"Kenapa setiap kali bertemu denganku kau selalu menganiaya pipiku? Sakit tau!" protes Hanna kesal sambil mengusap-usap kedua pipinya. Bao Youzi yang merasa bersalah melihat pipi gadis itu menjadi memerah, mengulurkan tangan untuk mengusap-usap pipi Hanna. Namun Hanna membuka mulutnya dan menggigit tangan Bao Youzi sekuat tenaga.
"Aww! Kenapa kau menggigitku? Dasar gadis buas!" protes Bao Youzi sambil mengibas-ngibaskan tangannya yang sakit. Walaupun tidak sampai luka, namun sederet bekas gigitan berwarna kemerahan tampak mencolok di atas punggung tangannya yang putih. Hanna memandang hasil karyanya dengan puas.
"Rasakan! Siapa suruh menjahiliku!" cetus Hanna dengan jumawa.
Baotu menarik Hanna dan mengajaknya duduk di depan sebuah meja.
"Sayang, apa yang terjadi? Bagaimana kau bisa ada disini" tanya Baotu. Hanna menggelengkan kepalanya.
"Aku juga tidak tahu, Ayah. Yang terakhir kali kuingat adalah bahwa aku sedang bersantai di bukit ungu bersama Aspixia, lalu kemudian jatuh tertidur. Saat aku membuka mata, aku sudah berada disini." Cerita Hanna.
"Apakah ini yang disebut dengan proyeksi astral?" ucap Bao Youzi sambil menggosok-gosok dagunya.
"Proyeksi astral?"
"Aku baru baca soal ini kemarin. Jadi menurut legenda, di alam semesta ini ada orang-orang yang memiliki kemampuan untuk melepaskan roh dari tubuhnya sendiri." cerita Bao Youzi.
"Tubuh tanpa roh, bukannya itu sama saja dengan tubuh yang sudah mati?" Tanya Hanna.
"Walaupun tubuh tersebut telah ditinggalkan oleh roh belum tentu bahwa tubuh tersebut sudah mati. Walaupun rohnya sudah keluar dari tubuh, namun tidak ada perubahan pada tanda-tanda vitalnya. Tubuhnya hanya terlihat seolah-olah sedang tertidur. Ia akan terbangun kembali begitu rohnya kembali." jawab Bao Youzi.
"Mengapa mereka ingin melepaskan roh dari tubuhnya?" Tanya Hanna lagi. Melepaskan roh dari tubuh? Bukankah itu berbahaya? Bagaimana kalau rohnya tidak bisa kembali ke dalam tubuh?
"Konon katanya roh bisa melakukan perjalanan tanpa batasan ruang dan waktu. Sehingga ia bisa pergi kemanapun atau ke waktu kapanpun sesuka hatinya."
"Begitu hebatnya?" Hanna tercengang.
"Legendanya seperti itu. Fenomena roh keluar dari tubuh untuk melakukan perjalanan inilah yang disebut dengan nama proyeksi astral atau perjalanan astral." jawab Bao Youzi.
"Bagaimana caranya?" Tanya Hanna. Karena walaupun bila benar ia melakukan perjalanan astral, hal itu terjadi begitu saja. Hanna tidak memiliki pengetahuan apa yang menjadi penyebabnya atau bagaimana rohnya melakukannya.
"Roh bisa dilepaskan setelah tubuh dibawa ke dalam ketidak sadaran, misalnya saat tidur atau saat bermeditasi. Kau hanya akan terbangun setelah roh kembali ke dalam tubuhmu."
"Jadi menurutmu saat ini aku sedang melakukan proyeksi astral?"
"Bukankah semua penjelasan tadi cocok dengan keadaanmu sekarang?"
"Jika aku cuma roh, mengapa aku memiliki tubuh yang padat dan bisa disentuh? Bukankah roh seharusnya hanya sebuah entitas yang tidak memiliki fisik nyata?" Hanna mencubit lengannya sendiri, kemudian mengerutkan keningnya ketika ia merasakan sakit. "Tuh kan, sakit. Ini tubuh sungguhan, bukan roh."
"Kalau itu aku juga tidak tahu." sahut Bao Youzi sambil tersenyum malu.
"Begitulah menurut legendanya." Bao Youzi mengangguk.
"Youzi, dari mana legenda ini berasal?" Tanya Baotu yang sedari tadi hanya diam saja.
"Dari banyak tempat dan banyak kebudayaan di alam semesta. Ini adalah alasan utama mengapa legenda ini menarik perhatianku, yaitu karena aku menemukan kisah yang sama di beberapa planet yang berbeda, yang tidak memiliki hubungan satu sama lain. Kupikir bila beberapa planet yang berbeda memiliki 1 legenda yang sama, pasti ada suatu kebenaran dalam legenda tersebut."
"Benar. Biasanya memang seperti itu." Guman Baotu. Keningnya berkerut karena berpikir keras.
"Ah, dan ada lagi." ucap Bao Youzi tiba-tiba. Wajahnya tampak girang seolah baru saja menemukan sesuatu yang menarik. "Di planet Pleibea ada sebuah klan yang terkenal dengan kemampuan proyeksi astral. Namun ada sebuah skill dalam proyeksi astral yang mereka lakukan yang berbeda dengan yang lain. Konon katanya mereka bukan hanya mampu melakukan perjalanan di dunia fisik saja, namun mereka juga mampu memasuki dunia mimpi. Kemampuan ini disebut sebagai penjelajah mimpi." ceritanya.
"Dunia mimpi? Mimpi hanyalah bunga tidur yang terbentuk dari endapan ketidak sadaran. Bagaimana mungkin ada yang namanya dunia mimpi?" tanya Hanna.
"Mereka percaya bahwa semua mimpi sebenarnya memiliki sebuah jembatan yang menghubungkan mimpi yang satu dengan mimpi yang lainnya. Hanya saja biasanya hubungan ini tidak pernah ditemukan. Penjelajah mimpi memasuki mimpi orang lain dengan melewati jembatan tersebut."
"Menarik. Apakah Ayah atau Youzi pernah pergi ke planet pleibea?" tanya Hanna lagi.
"Pernah." Sahut Baotu.
"Benarkah? Lalu apakah Ayah bertemu dengan penjelajah mimpi?"
"Tidak. Saat kami sampai dimana, penjelajah mimpi sudah punah. Yang tertinggal hanyalah legenda mereka." Sahut Bao Youzi.
"Cih. Legenda lagi. Tak bisa diandalkan." gerutu Hanna.
"Tapi Ayah rasa sebagian legenda itu benar. Buktinya kau ada disini sekarang." sahut Baotu.
"Emm. Lalu bagaimana cara Hanna untuk kembali?" tanya Hanna pada Ayahnya dengan wajah khawatir.
"Dengan cara bangun?" cetus Bao Youzi. Hanna menyipitkan matanya kesal. Kalau itu aku juga tahu! Gerutu Hanna dalam hati.
"Youzi bodoh, bagaimana caranya agar bisa bangun?"
"Eeer... Itu..." Youzi menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Bisa tidak kalau kamu bangun seperti biasanya aja?"
"Aku tidak tahu caranya!" jawab Hanna, tiba-tiba merasa ingin menangis karena gemas pada jawaban asal-asalan Bao Youzi. Melihat ekspresi wajah Hanna yang campur aduk, Baotu merasa iba. Ia mengusap kepala putri angkatnya tersebut, berusaha menenangkannya.
"Hanna, tenanglah. Bagaimana kalau kita tunggu saja? Karena kita tidak tahu bagaimana ini terjadi, daripada merisaukannya, lebih baik kau menggunakan kesempatan ini untuk menikmati rasanya melakukan penjelajahan antariksa. Mungkin nanti kau akan bangun dengan sendirinya." Bujuk Baotu. "Lalu apabila sampai nanti kau tidak bangun-bangun juga, kita bisa mencoba menghubungi rumah dan meminta tolong."
Hanna mengangguk. Ayahnya benar, mengapa harus risau. Mungkin nanti ia akan kembali dengan sendirinya. Lagipula di sisi tubuhnya ada Aspixia yang pasti akan menyadari bila sesuatu yang aneh terjadi. Jadi lebih baik ia menikmati saat ini sepuasnya.
"Kalau begitu bisakah ayah memberiku tour keliling pesawat?" tanya Hanna dengan ceria.
Sementara itu, di bukit ungu, tepat seperti dugaan Hanna, Aspixia terbangun di sisi kakaknya. Namun ketika ia menoleh ke arah Hanna, ia tidak menemukan Hanna, tapi malah menemukan seekor naga yang tubuhnya 2 kali lebih besar daripada Aspixia, sedang berbaring di sampingnya, tepat di tempat Hanna tadi berbaring.
Copyright @FreyaCesare