
Sirrian mendorong pintu menuju ke ruangan pribadi Baozhu di Kuil Langit hingga terbuka lebar, sementara Tarli mengumumkan kedatangan mereka dengan riang.
"Ibu, kami dataaaaang!"
Seorang wanita yang sedang duduk di atas sofa sambil merajut, mengangkat wajahnya. Ia adalah seorang wanita yang sangat cantik, dengan wajah keibuan berbentuk hati dan rambut hitam berkilat yang disanggul longgar di atas kepalanya. Sekilas ia tampak baru berusia 30 tahun, namun apabila orang menatap matanya, mereka akan bisa melihat ketenangan dan kebijaksanaan yang hanya akan tampak pada orang yang sudah hidup sangat lama. Dan wanita ini adalah seseorang yang sudah hidup jutaan tahun lamanya, melampaui usia semua kehidupan yang ada di Sirria. Dia adalah Baozhu, sang perintis kehidupan di Sirria.
Baozhu tersenyum lebar dan merentangkan tangannya, menyambut Hanna yang diulurkan oleh Tarli. Dari segala penjuru Kuil Langit, seluruh penghuni berdatangan untuk melihat anggota keluarga terbaru mereka. Anak-anak Baozhu berkumpul di sekeliling ibu mereka, sedangkan para penghuni lainnya berkerumun di depan pintu, sehingga mempersulit siapapun untuk masuk ke dalam ruangan.
Dikerumuni oleh begitu banyak orang dan berada dalam dekapan orang yang seharusnya asing baginya, Hanna tidak tampak takut, tapi malah tersenyum sangat lebar. Tangan mungilnya bergerak-gerak riang seolah menyapa semua orang. Suara aaaah dan oooh berdengung disekitarnya, menyuarakan kekaguman mereka akan kecantikan dan kelucuan bayi mungil itu.
"Bukankah ia sangat cantik, ibu?" tanya Tarli, terdengar bagaikan seorang kakak yang bangga.
"Benar. Ia luar biasa cantik dan menggemaskan." Jawab Baozhu sambil mencubit pipi Hanna gemas. Hanna menangkap jari Baozhu dalam genggaman erat telapak tangan mungilnya sambil tersenyum lebar.
Baozhu memandangi bayi dalam pelukannya. Ia tidak dapat mengingat kapan terakhir kali ia memeluk seorang bayi. Bayi terakhirnya adalah Xiao Bao dan sekarang Xiao Bao, sudah berusia 900 tahun. Tanpa disadarinya waktu telah berlalu begitu lama. Tapi bagi mereka yang abadi seperti dirinya, berlalunya waktu nyaris tak lagi bermakna. Satu-satunya saat yang membuat ia terpikir untuk mengintip kalender langit adalah seperti saat-saat ini; ketika sebuah nyawa dihantarkan sang takdir ke dalam dekapan tangan-tangannya.
"Dimana Xiao Bao?" Tanya Baozhu.
"Disini! Aku disini!" Sahut sebuah suara kekanak-kanakan. sebuah tangan mungil tampak terulur naik dan turun dari balik kepala orang-orang yang mengerumuni pintu masuk. Tak lama kemudian dari balik kerumunan, seorang pria muncul dengan memanggul seorang anak laki-laki di atas bahunya.
Pria itu bertubuh tegap dan tinggi besar. Rambutnya dibiarkan panjang terurai hampir mencapai bahu. Wajahnya dipenuhi jenggot tebal, membingkai bibir tebalnya yang tersenyum riang. Hidungnya tampak kokoh dan tinggi sedangkan matanya berbentuk almond dengan bola mata berwarna hitam pekat yang berkilauan, menunjukan kecerdasan pemiliknya.
Anak laki-laki yang duduk di atas bahunya tampak baru berusia sekitar 12 tahun, dengan tubuh yang ramping dan wajah yang kekanak-kanakan. Rambut coklatnya yang bergelombang agak panjang, membingkai wajahnya yang tampan. Hidungnya lurus dan tinggi. Sehelai kain berwarna perak terikat di keningnya dan matanya hijaunya menyipit kesal, sedangkan bibirnya cemberut, menunjukan suasana hatinya.
"Ah, Xiao Bao, kemarilah dan lihatlah adikmu." pinta Baozhu. Pria itu menurunkan si anak lelaki dari bahunya, sedangkan si anak masih saja memasang ekspresi kesal.
Baozhu tersenyum geli melihatnya. Putranya ini terkenal mudah sekali naik darah namun mudah pula merasa senang. Temperamennya sangat cocok dengan penampilannya yang mirip seorang anak berusia 12 tahun. Padahal sesungguhnya Xiao Bao sudah berusia 900 tahun. Namun fisiknya tidak pernah mengalami perubahan sejak ia mencapai usia 12 tahun.
Xiao Bao dianugerahi tambahan mata ketiga yang terletak di antara kedua keningnya yang selalu ditutupinya dengan sehelai kain pengikat kepala. Mata ketiga ini memberinya kemampuan untuk melihat takdir seseorang. Namun biasanya kemampuan ini akan menghilang ketika pemiliknya tumbuh dewasa.
Sejak kecil tugas Xiao Bao adalah untuk menemani Baozhu mengawasi jalannya kehidupan di Sirra dengan menggunakan mata ketiganya. Baozhu merencanakan untuk mengirimkan Xiao Bao untuk tinggal di kerajaan Langit begitu ia tumbuh dewasa dan tak mampu lagi menggunakan mata ketiganya. Namun Xiao Bao yang enggan berpisah dengan Ibu angkatnya meminta Rowena, sang Dewi Ramuan, untuk menciptakan ramuan yang dapat membuat Xiao Bao tidak akan kehilangan kemampuannya sehingga ia bisa terus tinggal bersama Baozhu di Kuil Langit.
Sayangnya ramuan tersebut bukan hanya mempertahankan kemampuan Xiao Bao, tapi juga berefek samping menghentikan pertumbuhannya. Xiao Bao memang tampak senang-senang saja menjadi anak-anak selama 900 tahun hidupnya, namun Baozhu mau tidak mau merasa sangat sedih karena ia tidak akan pernah melihat Xiao Bao menjadi dewasa, menikah dan berkeluarga.
"Ayo, kemarilah Xiao Bao." Panggil Baozhu kembali sambil mengulurkan tangannya. Xiao Bao mendekat dan menyambut uluran tangan ibunya. Matanya beralih pada mahluk mungil yang bergerak-gerak dalam pelukan Baozhu. Bibirnya secara otomatis langsung menyunggingkan senyum melihat kemanisan bayi itu. Xiao Bao mengulurkan tangannya untuk menyentuh pipi Hanna, namun begitu ujung jarinya menyentuh kulit Hanna, tubuh Xiao Bao langsung tersentak keras dan berhenti bergerak. Matanya tertutup rapat dan nafasnya tertahan di tenggorokan. Kain perak di keningnya terlepas, memperlihatkan sebuah mata yang terlihat menyala terang, layaknya sebuah lampu. Tak lama kemudian dari sela-sela bibirnya sebuah suara yang tidak terdengar seperti suara Xiao Bao yang sebenarnya terdengar, mengungkapkan ramalan tentang Hanna dengan nada datar yang pelan namun jelas.
"Dia akan menjadi wanita yang paling indah yang pernah diciptakan di dunia ini. Kecantikannya akan menggetarkan 3 dunia. Ia akan menjadi wanita yang paling berkuasa di planet ini. Pria yang dinikahinya akan menyatukan 3 dunia; mungkin dalam kehancuran, atau mungkin dalam kedamaian, pilihannya ada pada dirinya. Apapun jalan yang dipilihnya, perang besar akan dimulai karena dirinya dan jutaan nyawa akan hilang untuk menjadi bayarannya."
Ketika ramalan selesai diucapkan, tak seorangpun dalam ruangan itu yang bergerak dari tempatnya, termasuk juga Baozhu dan Xiao Bao sendiri. Mereka terlalu terkejut pada isi ramalan yang begitu menakutkan.
Sebuah batu kristal bening sebesar bola tenis meja terbentuk dari ketiadaan dalam genggaman tangan Xiao Bao. Dengan linglung Xiao Bao mengangkat tangannya dan memandangi batu kristal tersebut, seolah ia tidak memahami mengapa sang batu tercipta. Itu adalah kristal ramalan yang selalu terbentuk begitu sebuah ramalan diucapkan. Fungsinya mirip seperti sebuah perekam. Tercipta dengan tujuan untuk memperdengarkan ramalan pada pemiliknya ketika sang pemilik telah dewasa dan dianggap sudah siap untuk mendengarnya.
"Xiao Bao, berikan itu padaku." Pinta Baozhu lembut. Suara Baozhu membangunkan Xiao Bao dari kelinglungannya. Ia lalu mengulurkan tangannya dan memberikannya pada Baozhu. Baozhu menimang-nimang batu kristal tersebut dalam telapak tangannya sementara pikirannya berputar kencang dan matanya memandang Hanna yang tertidur lelap dalam pelukannya.
Hanna begitu mungil, begitu rapuh. Sungguh kejam takdir membebaninya dengan jalan hidup seberat itu. Bagaimana ia akan menanggungnya? pikir Baozhu. dari luar pintu, salah seorang pelayan membungkuk memberi hormat dan berkata, "Yang Suci, Baozhu, Klan Bunga sudah sampai dan sekarang sedang menunggu di Aula."
Copyright @FreyaCesare