Flower Of The Dragon

Flower Of The Dragon
Teman-Teman Baru



Semenjak hari itu terjadi perubahan dalam perilaku Chimera. Mereka yang biasanya tidak pernah menampakkan diri di sekitar kuil, sekarang seringkali terlihat sedang berada di area Kuil Langit. Mereka bertengger di batang pohon, asyik dengan urusannya sendiri. Ada juga yang melenggang dengan santai memasuki area Kuil untuk minum dari sungai. Bahkan beberapa chimera tampak berenang-renang di sungai. Mereka tidak tampak terganggu dengan kehadiran manusia dan tidak keberatan menjadi objek perhatian semua orang yang melihatnya. Tampaknya para Chimera telah sepakat bahwa penghuni Kuil Langit sama sekali tidak berbahaya sehingga mereka tidak perlu lagi menyembunyikan diri. Bahkan beberapa mulai berani mendekati manusia secara langsung dengan penuh rasa ingin tahu.


Orang pertama yang merasakan secara langsung curahan rasa ingin tahu Chimera itu tentu saja adalah Tarli. Saat Tarli sedang tidur siang di bawah pohon rindang di pinggir sungai dalam wujud aslinya, ia dikejutkan oleh udara hangat yang menghembus di wajahnya. Saat ia membuka mata, Tarli bertatapan dengan sepasang mata berwarna hijau milik seekor Chimera. Sempat menegang karena terkejut, tubuh Tarli kembali santai saat mengetahui bahwa Chimera yang sedang bertatapan dengannya hanyalah seekor anak Chimera. Bentuk tubuhnya tampak mirip dengan Tarli, bahkan juga warnanya. Hanya saja Chimera mungil itu memiliki sebuah batu permata berwarna hijau di keningnya. Mungkin kemiripan mereka mengundang rasa ingin tahu si Chimera kecil itu, begitu pikir Tarli saat itu dan kembali pada posisi santainya,  membiarkan dirinya diamati.


Namun sesuatu menggigit ekornya, membuat Tarli nyaris melompat karena terkejut. Saat itulah ia baru menyadari bahwa ia bukan sedang berhadapan dengan 1 ekor Chimera, namun 4 ekor Chimera yang identik satu sama lain, sampai ke warna permatanya. Ketiga ekor Chimera lainnya saat itu sedang bermain menangkap mangsa dengan ekor Tarli sebagai mangsanya.


Tercengang, Tarli hanya bisa diam dan membiarkan mahluk-mahluk mungil itu berbuat sesukanya. Berdasarkan pengalamannya dengan Spoutfire, Tarli menyadari bahwa Chimera tidak ada bedanya dengan hewan lainnya namun dengan inteligensi yang lebih tinggi. Walaupun berbahaya, mereka tidak akan menyerang bila tidak merasa terancam. Berbekal pemikiran ini, Tarlipun kembali meletakkan kepalanya keatas 2 kaki depannya, dan jatuh tertidur dengan nyenyak, seolah ia tak perduli dengan apapun yang terjadi di dunia. 10 menit kemudian, anak-anak Chimera tersebut mulai menguap dan satu demi satu menyurukkan diri ke lekuk tubuh Tarli dan tidur bersamanya. Adonis dan Rowena yang lewat di dekat mereka sambil bertengkarpun sampai berhenti berjalan  dan memandangi dengan mulut terbuka lebar.


Sejak hari itu penghuni Kuil Langit seringkali menemukan Tarli sedang tidur siang bersama anak-anak Chimera tersebut. Hanna menyebut mereka sebagai Deneget'e bernama Nix, Linx, Viz dan Lax, lalu memasang pita dengan warna berbeda di leher mereka, agak mudah di bedakan. Biru untuk Nix, Merah muda untuk Linx, Oranye untuk Viz dan hijau muda untuk Lax.


Bukan hanya Tarli, Sirrianpun mengalami beberapa kunjungan yang mengejutkan. Beberapa kali infirmary di datangi oleh tamu yang tidak biasa. Mulai dari seekor Chimera yang menyerupai burung bangkai, yang bertengger di jendela sambil mengulurkan sebelah sayapnya yang terluka; seekor Baqu, Chimera yang menyerupai kera, yang mencoba mencuri buah dari atas meja kerja Sirrian; sampai seekor Chimera bertubuh panjang seperti ular besar namun berkaki seperti buaya sedang menunggunya sambil bertengger di atas meja kerja milik Sirrian, dengan kaki yang terluka. Sirrian harus menahan diri karena instingnya memerintahkannya untuk lari setiap kali si ular membuka mulutnya yang berbisa.


Pada suatu malam Ashia datang mengetuk pintu kamar neneknya. Baozhu yang membukakan pintu terheran-heran saat Ashia mengatakan bahwa malam itu ia ingin menumpang tidur di kamar Baozhu. Saat ditanya alasannya, Ashia mengungkapkan bahwa ia baru saja 'terusir' dari kamar Hanna dan ada yang lain yang telah mengambil alih tempat tidurnya. Baozhu yang merasa heran kemudian mendatangi kamar Hanna untuk melihat siapa yang telah berani mengusir cucunya dari kamar putri bungsunya. Namun betapa terkejutnya Baozhu dengan apa yang dilihatnya kemudian.


Diatas ranjang tersebut Hanna sedang tertidur dengan nyenyaknya. Sementara di sisi tempat Ashia biasanya tidur, spoutfire dan 3 ekor chimera; 1 menyerupai kucing, 1 menyerupai kelinci dan 1 lagi menyerupai serigala, ikut tertidur bersama Hanna. Si kucing mengangkat kepala ketika Baozhu masuk ke kamar dan memandang Baozhu lekat-lekat seolah bertanya,


"Ada apa?"


Baozhu menarik nafas panjang, memandang lurus pada mata si kucing dan berkata,


"Lain kali apabila ingin tidur disini, jangan lupa untuk menyisihkan tempat untuk Ashia ya. Ia akan tidur bersamaku malam ini, tapi besok aku harap ia bisa kembali tidur disini." Baozhu tidak tahu apakah Chimera itu bisa memahami ucapannya, namun dalam situasi tersebut, Baozhu tak bisa berpikir harus melakukan apa. Setelah menunduk memberi hormat  pada si kucing, Baozhu lalu berpamitan.


"Baiklah. Selamat malam" Kemudian Baozhu berbalik keluar kamar dengan anggun. Di depan pintu kamar Baozhu menarik nafas panjang untuk menenangkan hatinya. Dia yang telah hidup jutaan tahun lamanya dan dipuja sebagai Mahadewi di Sirria itu, untuk pertama kalinya, dibuat bingung oleh seekor kucing. Baozhu tidak yakin tentang apa yang diinginkan oleh para Chimera tersebut, namun Baozhu yakin bahwa Hanna akan aman bersama mereka. Setidaknya untuk malam itu.


Keesokan harinya Hanna berkicau dengan gembira bahwa Spoutfire, Daaz (si kucing), Raagh (si kelinci) dan Zath (si serigala) datang untuk bermain dengannya. Tapi karena kelelahan, mereka semua tertidur nyenyak sampai pagi.


Kakak-kakaknya tercengang kaget mendengar cerita Hanna, namun Baozhu hanya mengangguk, tampak tidak terpengaruh dengan cerita gadis kecil itu. Saat Hanna meminta ijin pada Baozhu untuk memperbolehkan teman-teman untuk sering menginap di kamarnya, Baozhu hanya menekankan bahwa agar Hanna selalu ingat untuk tidak membiarkan teman-temannya mengambil tempat Ashia tidur, membuat beberapa pasang mata nyaris melompat keluar karena terkejut.


Benar saja, malamnya Chimera-Chimera tersebut kembali ke atas ranjang Hanna. Namun kali ini mereka mengosongkan sisi ranjang tempat Ashia tidur. Walaupun merasa khawatir pada bahaya yang mungkin dialaminya saat tidur di sisi species yang paling misterius di planet itu, melihat Hanna yang tertidur dengan begitu pulasnya, mau tidak mau Ashia memberanikan dirinya untuk berbaring di atas ranjang tersebut.


Setelah mematikan lampu, Ashia memasuki selimut dan berbaring miring, menghadap ke arah Hanna. Namun baru saja ia mencoba memejamkan mata, ia merasakan sebuah tubuh hangat menempel di belakang punggungnya dan sebuah kepala bertengger di pinggangnya. Ashia menoleh dan berpandangan dengan sepasang mata menggemaskan milik Zath. Ia lalu menarik nafas panjang dan menutup matanya kembali. Tak sampai 5 menit kemudian. ia sudah tertidur lelap.


Baozhu sedang mengunjungi infirmary. Ia berdiri di depan jendela yang menghadap ke halaman belakang, memandang keluar sambil menyesap segelas es teh yang dibuatkan Sirrian untuknya. Saat itu lagi-lagi Tarli sedang tidur bersama Chimera-chimera kecilnya di bawah pohon yang rindang di tepi sungai sementara di pohon tepat diatas mereka, 2 ekor burung sedang bertengger dengan anggun, seanggun yang bisa dihasilkan oleh tubuhnya yang botak dan hanya memiliki bulu berwarna biru terang di bagian sayapnya itu. Di sisi lain tampak Hanna sedang berlatih pedang dengan Jendral Bao Yi Rang, sementara Ashia duduk menonton bersama Daaz dan Zath di sisi kiri dan kanannya, serta Raagh diatas pangkuannya. Baozhu tersenyum.


"Andai Baotu melihat ini ia akan sangat bahagia." Ucap Baozhu. Sirrian yang sedang duduk di sofa, tidak jauh darinya turut tersenyum. "Tak pernah sekalipun kami pernah membayangkan bahwa kita akan hidup berdampingan sebagai teman dengan Chimera." Sirrian mengangguk mendengarnya.


"Siapa sangka mahluk yang begitu menutup diri selama ribuan tahun sehingga menjadi sebuah misteri, ternyata berperilaku layaknya Tarli. Berkat hal itulah, hanya dalam sebulan saja aku sudah memiliki banyak informasi mengenai mereka. Membuatku berhasil menyelesaikan pekerjaan yang sudah berusia ribuan tahun." komentar Sirrian.


"Apakah kau berhasil mengumpulkan banyak data?" Tanya Baozhu. Sirrian mengangguk.


"Aku berhasil mengumpulkan data vital dari berbagai jenis Chimera yang telah berkunjung kesini."


"Tentu saja, ibu. Aku menemukannya setiap hari." Sirrian berjalan ke sisi Baozhu, si depan jendela. Ia memandang keluar jendela dan mulai membeberkan hasil pengetahuan terbarunya.


"Coba lihat burung yang bertengger di atas Tarli itu, ibu. Itu namanya Lazuli. Mereka tidak selalu botak seperti itu. Namun setiap 50 tahun sekali bulu dan paruh Lazuli rontok dengan sendirinya. Paruhnya segera tumbuh kembali, namun memerlukan waktu 4 bulan untuk bisa mencapai ukurannya yang sempurna, sedangkan bulunya baru akan tumbuh kembali setelah 2 bulan. Bulu tubuhnya sama warnanya dengan bulu di sayapnya. Aku tidak sabar ingin melihat kebotakannya tertutupi bulu. Dia pasti luar biasa tampannya. Oh iya, usianya bisa mencapai 250 tahun." Lalu sirrian menunjuk pada 4 teman tidur siang Tarli.


"Itu adalah Deneget'e. Mereka memiliki fisik yang sangat mirip dengan Macam Kumbang dengan dua perbedaan kecil, usia mereka bisa mencapai 100 tahun dan mereka terlahir dengan sebuah permata hijau di keningnya. Mereka selalu lahir dalam jumlah 4 ekor, namun melahirkan hanya bisa terjadi sekali dalam seumur hidup. Dan," Sirrian menunjuk kearah Ashia dan teman-teman mungilnya berada. "Diantara ketiga Chimera itu, menurut ibu yang mana yang paling berbahaya?" Tanya Sirrian. Baozhu termangu sesaat.


"Zath?" Tebaknya. Tapi Sirrian menggeleng.


"Subspecies Zath adalah Varu. Secara umum ia tidak berbeda dengan serigala, hanya saja ia memiliki usia yang lebih panjang yaitu mencapai 200 tahun dan memiliki sebuah kristal abu-abu menempel di ujung ekornya. Namun kepribadiannya bahkan lebih manis dari seekor golden retriever."


"Daaz subspecies adalah Macka. Ia tampaknya memiliki kecerdasan yang paling baik diantara subspecies lainnya. Usianya bisa mencapai 500 tahun dan kristalnya juga tertanam di keningnya, seperti Deneget'e. Saat ini Daaz masih anak-anak. Entah kelak ia akan tumbuh menjadi sebesar apa. Aku juga belum menemukan sejauh apa ia bisa berbahaya, namun kuku-kuku yang tersembunyi di antara kakinya sangat tajam dan kuat."


"Mahluk manis di pangkuan Ashia itu adalah Knyn. Ia pada dasarnya manis, manja dan suka bermain. Namun saat marah ia akan menyemburkan gas beracun yang mematikan bagi siapa saja. Aku tidak tahu bagaimana efeknya bagi Qu's atau Sirria, tapi aku sungguh tidak berharap salah satu dari kita akan menjadi objek kemarahannya." Yang benar saja? Mahluk kecil yang mirip bola bulu berkaki itu paling berbahaya diantara ketiganya? Baozhu menggelengkan kepalanya, lalu ia bertanya,


"Lalu kristalnya? Mengapa mereka semua memiliki kristal di tubuhnya?"


"Kupikir kristal tersebut terhubung dengan kekuatan mereka. Kak Yi Rang menceritakan bahwa ia selalu melihat kristal di kening  induk Spoutfire menyala terang sebelum menyemburkan aliran listrik dari dalam tubuhnya."


"Bagaimana cara kau mengumpulkan data itu?" Data fisik memang bisa diperoleh melalui scanning, namun data yang dimiliki Sirrian sudah melewati data fisik.


"Hanna membantuku untuk mewancarai mereka. Info terbanyak diperoleh dari Daaz. Dia sangat informatif dan sangat bangga pada speciesnya." Sirrian terdiam sesaat kemudian berkata, "Ibu, Chimera jelas berada 1 tingkat diatas binatang. Sebagian dari mereka menunjukan kecerdasan yang setara dengan Tarli. Apakah mereka teman? Atau kah mereka sedang mencoba mempelajari kita? Aku sangat ingin tahu." Baozhu tersenyum mendengarnya.


"Kau dan rasa ingin tahumu itulah yang membuat Baotu merasa bahwa ia bisa meninggalkan Sirria untuk menjelajah semesta dengan lega hati. Karena ia percaya kau bisa mengambil alih tugasnya dengan baik." Baozhu menepuk pipi putranya penuh rasa sayang.


"Apakah aku harus berpura-pura terluka dan menjadi bodoh agar ayah segera pulang?" Sirrian menawarkan diri, membuat Baozhu tertawa.


"Anak bodoh, handheldmu saja akan dengan mudah menyembuhkan efek luka sesederhana itu. Jadi melakukan hal itu sangat tidak diperlukan. Lagipula, aku sudah sangat puas dengan keadaan saat ini. Aku hidup dikelilingi oleh anak dan cucuku tersayang. Baotu bisa melanjutkan pekerjaannya sampai dirinya merasa puas."


"Apa ibu tidak merindukannya?"


"Tentu saja. Tapi setelah menikah selama jutaan tahun, kepergiannya tidak lagi membuatku merasa sedih dan kesepian. Pikiran dan perasaan adalah hal yang mudah berubah. Bagiku yang sekarang, asal Baotu bahagia dan anak cucuku juga bahagia, aku akan sangat berbahagia pula."


Sirrian memeluk ibunya penuh rasa sayang.


"Terimakasih telah menciptakan diriku, ibu. Dan terimakasih telah membuat aku bisa hidup lebih lama dari seharusnya." Ujar Sirrian. Baozhu menepuk tangan putranya pelan dan tersenyum penuh kebahagiaan.


"Sama-sama, nak. Sama-sama."


Copyright @FreyaCesare