
"Apa Yu Yi Fan begitu tampan?" Tanya Adonis tiba-tiba. Rowena yang sedang menyesap air jahenya pelan-pelan, sampai tersedak dan terbatuk-batuk dengan wajah memerah. Menarik nafas panjang, Adonis menepuk-nepuk punggung Rowena dengan sedikit terlalu keras dari yang diperlukan.
"Ap… apa?" Tanya Rowena di antara batuknya.
"Makanya hati-hati kalau minum!" Tegur Adonis. Kening Rowena yang sudah berkerut, semakin berkerut saja. Ia menyipitkan matanya pada Adonis dengan kesal. Aku sudah berhati-hati! Dasar kau saja yang suka sekali mengagetkanku di waktu-waktu yang tidak tepat! Membuatku tersedak karena terkejut. Omel Rowena dalam hati, terlalu sibuk batuk untuk bisa mengucapkannya keras-keras.
Orang ini, tadi membuatku makan sampai muntah-muntah. Sekarang membuatku tersedak. Apakah ia bermaksud menyiksaku? Pikir Rowena kesal. Ketika merasakan tepukan pada punggungnya menjadi semakin kencang, Rowena menepis tangan Adonis dan bangkit berdiri. Adonis langsung menangkap pergelangan tangannya.
"Mau kemana?" Tanya Adonis.
"Kembali ke kursiku."
"Kenapa tidak duduk disini saja?"
"Dan merelakan diriku untuk dipukuli olehmu?"
"Aku hanya berusaha membantu meringankan tersedakmu." Sahut Adonis, seolah-olah ia tidak bermaksud melampiaskan kekesalannya dengan tepukan di punggung tersebut. Mata Rowena langsung menyipit kesal karena bantahannya.
"Ooooo? Yang benar?" Dasar pembohong!
Adonis menarik tangan Rowena dengan keras dan memaksanya kembali duduk.
"Baiklah, jangan marah. Aku minta maaf, ok?! Sekarang duduklah dengan tenang. Aku janji tidak akan mengganggumu lagi."
"Ah, jadi kau sadar telah menggangguku?"
"Tentu saja."
"Apa?"
"Kau sudah menggangguku begitu lama. Sekali-kali aku ingin juga membalas dendam padamu."
"Kapan aku mengganggumu? Seingatku satu-satunya hal yang kulakukan padamu adalah mengabaikanmu."
"Justru itu! Itu yang mengganggu! Semua orang sangat baik padaku. Tapi hanya kau saja yang selalu tidak perduli padaku!" keluh Adonis. Mulut Rowena sampai terbuka mendengarnya. Apakah kau ingin membahas itu disini, ya Dewa Bebal? Maki Rowena dalam hati.
"Dan tadi, bisa-bisanya kau merayu Yu Yi Fan di depan mataku!"
"Merayu? Kapan aku…"
"Kau merayunya!" Tegas Adonis, semakin lama terlihat semakin kesal.
"Kau tidak pernah sekalipun ramah padaku, tapi begitu manis padanya!" Aaaah, jadi dia cemburu? Menarik. Pikir Rowena. Sebuah rasa hangat yang menyenangkan berputaran di perutnya, menghilangkan rasa mual yang tadi menguasainya. Bersandar dengan santai di kursinya, Rowena memandangi wajah Adonis sambil tersenyum simpul. Jari telunjuk tangan kirinya menekan tombol untuk menurunkan sandaran kursi. Melihat tubuh Rowena yang sekarang sudah dalam posisi terbaring di sampingnya, Adonis bertanya heran.
"Kau sedang apa?" Tanyanya heran.
"Bangunkan aku apabila sudah sampai." Ucap Rowena, sambil memejamkan mata. Adonis cemburu padanya! Rowena ingin menikmati perasaan yang dihasilkan oleh fakta ini lebih lama lagi karena rasanya sangat menyenangkan.
Tiba-tiba Rowena merasakan bahunya diangkat sedikit dan sebuah tangan hangat menyelusup ke belakang lehernya. Rowena langsung membuka mata dan menemukan Adonis juga telah menurunkan sandaran kursinya dan turut berbaring disisinya dengan lengan dijadikan sandaran kepala Rowena.
"Kenapa…"
"Tidurlah. Aku akan menemanimu."
"Memangnya kenapa?"
"Ini tempat umum…"
"Apa perduliku! Semua orang juga tahu kalau kau milikku!"
"...…." Benarkah? Lalu mengapa aku tidak tahu?
"Jadilah anak baik, dan tidurlah!" Perintah Adonis.
Ia menarik Rowena lebih dekat sampai kepala gadis itu berbaring di bahunya, lalu memejamkan matanya. Wajah Rowena memerah sampai ke telinga dan tubuhnya tanpa sadar menegang. Rowena bisa mendengar detak jantung Adonis yang kuat dan cepat di dadanya, berdenyut seirama dengan detak jantungnya sendiri. Namun perlahan-lahan detak jantung tersebut melambat dan menjadi lebih tenang, sementara perutnya bergerak perlahan; menandakan bahwa si pemiliknya telah tertidur. Perlahan-lahan tubuh tegang Rowena menjadi lebih santai.
Setelah menarik nafas panjang, Rowena membetulkan posisi kepalanya di dada Adonis agar lebih nyaman dan kemudian memejamkan matanya. Tak lama kemudian Rowena tertidur dengan seulas senyum menghiasi wajahnya, sama sekali tidak menyadari bahwa Adonis sama sekali belum tertidur. Adonis hanya mengatur pernafasannya dan berpura-pura tidur untuk membantu Rowena mengatasi rasa malunya.
Mata Adonis terbuka sesaat untuk memeriksa keadaan Rowena. Setelah ia merasa yakin bahwa Rowena sangat nyaman dan santai dalam pelukannya, Adonis tersenyum lalu kembali menutup matanya. Adonis bertekad untuk menikmati rasa bahagia yang dibawa oleh tubuh Rowena dalam pelukannya. Sepenuhnya berusaha mengabaikan rasa lain yang mengganggu di bagian bawah tubuhnya. Oh well! Biar bagaimanapun ia adalah seorang pria normal yang tergila-gila hanya pada 1 wanita dalam hidupnya yang panjang itu, dan sekarang wanita tersebut ada dalam pelukannya. Menarik nafas panjang, Adonis membelai kepala Rowena dan menfokuskan perhatiannya pada rasa rambut gadis itu di ujung-ujung jarinya. Nona, kau membuatku gila!
***
Suara Pilot yang mengumumkan bahwa mereka telah sampai di tempat tujuan menyebabkan Rowena terbangun. Ketika ia hendak bangkit dari berbaringnya, sepasang tangan yang melingkari pinggangnya, menghalanginya untuk bergerak. Rowena menoleh dan menemukan wajah Adonis yang berada begitu dekat dengan wajahnya. Pria itu tersenyum malas dengan ekspresi yang tampak baru bangun dari tidur, membuat nafas Rowena langsung tercekat di tenggorokan.
"Kita sudah sampai." Beritahu Rowena, berharap Adonis melepaskannya. Namun Adonis malah makin mengetatkan pelukannya.
"Aku tahu." Bisik Adonis tepat di telinga Rowena. Nafasnya yang hangat membelai lembut kulit leher Rowena, membuat Rowena bergidik.
"Lepaskan aku!" Desak Rowena, berusaha membebaskan dirinya dari kungkungan tangan-tangan Adonis. Namun tangan pria itu bagaikan belenggu baja yang tidak bisa digerakkan sedikitpun.
"Sebentar lagi." Bisik Adonis sambil menyurukkan kepalanya ke lekukan leher Rowena. Tiba-tiba sebuah suara berdehem terdengar dari gang di sisi mereka. Wajah Rowena menjadi semakin terbakar karena malu menyadari bahwa Yu Yi Fan telah berdiri di sisi kursi yang mereka tempati.
"Pergi jauh-jauh sana!" Geram Adonis kesal pada Yu Yi Fan.
"Kau yang harus pergi jauh-jauh! Dia hanya melaksanakan tugasnya. Kenapa dimarahi?!" Rowena berbisik keras dan menyikut pinggang Adonis untuk membebaskan dirinya sambil melemparkan pandangan penuh permohonan maaf pada Yu Yi Fan. Yu Yi Fan hanya tersenyum maklum dan bersikap seolah ia tidak melihat apapun.
Dengan kesal Adonis melepaskan Rowena. Rowena langsung bangkit dan pindah ke kursi yang lain, sementara Adonis bangkit dan duduk dikursinya sambil melontarkan tatapan penuh kekesalan pada Yu Yi Fan. Sepenuhnya mengabaikan sang Dewa yang sedang bersikap tidak masuk akal, Yu Yi Fan dengan sigap membantu menegakkan sandaran kursi yang tadi mereka gunakan untuk tidur, lalu setelah membungkuk memberi hormat pada Adonis dan Rowena, berjalan tenang menuju pantry.
Adonis yang masih diliputi rasa malas dan nyaman setelah tidur pendek mereka berdua, duduk bersandar di kursinya sambil menatap Rowena yang duduk di kursi di seberangnya lekat-lekat. Wanita yang masih bersemu merah karena merasa malu itu balik memandangnya dengan kesal, membuat Adonis mengernyitkan matanya. Ia masih merasa gusar karena dibangunkan, merasa kesal karena kehilangan kehangatan tubuh Rowena di antara kedua tangannya dan kecewa karena wanita itu tampaknya selalu berusaha berada sejauh-jauhnya darinya. Adonis telah menunggu terlalu lama dan momen tadi membuat kebutuhannya akan kedekatan dengan Rowena menjadi semakin tidak tertahankan. Melihat bahwa kursi yang ditempati Rowena adalah kursi tunggal sehingga Adonis tidak bisa duduk di sampingnya, sambil mengerahkan seluruh feromonnya, Adonis menatap Rowena dan memanggilnya.
"Rowi."
Sayangnya Rowena hanya mengerjapkan matanya sekali namun tidak menjawab.
"Kemari." Perintah Adonis.
Namun bukannya menjawab, Rowena malah balas mengernyitkan matanya dengan ekspresi membangkang. Kedua tangannya meraih seat belt dan memasangkan seat belt tersebut ke pinggangnya dengan suara keras, kemudian mengencangkannya. Mulut Adonis sampai terbuka karena terkejut akan sikap membangkang yang ditunjukan Rowena. Adonis kira, setelah mereka saling menyepakati secara tidak langsung bahwa ada sesuatu yang istimewa antara mereka, Rowena akan berhenti menantang dan melawannya. Namun sikap Rowena saat ini membuat ia menyadari bahwa wanita itu tidak memiliki niat untuk merubah caranya memperlakukan Adonis. Rowena masih penuh kewaspadaan dan kecurigaan padanya. Bodoh! Apa kau pikir kau bisa selalu menghindar dariku? Mimpi!
Adonis yang bebal hanya perduli pada kebutuhannya untuk selalu berdekatan dengan Rowena dan sama sekali tidak mempertimbangkan bahwa perilakunya yang kurang terkontrol di ruang publik itu telah mempermalukan Rowena yang sangat tidak suka apabila dirinya menjadi pusat perhatian orang lain. Jadi saat Adonis sedang sibuk berpikir bagaimana caranya agar ia bisa segera mendapatkan Rowena kembali dalam pelukannya, ia tidak pernah menduga bahwa Rowena justru sedang memikirkan cara agar ia tidak perlu lagi berurusan dengan Adonis di ruang publik. Kulit wajah Rowena sangat tipis, ia takut ia akan mati karena malu apabila ia membiarkan Adonis bersikap sekehendaknya. Well, Rowena sudah menghabiskan hampir seluruh hidupnya untuk menghindari Adonis sehingga perhatian Adonis baginya tak begitu saja bisa membuat Rowena lupa daratan dan melepaskan kewaspadaannya.
Jadi begitulah, dua orang yang saling bertolak belakang itupun duduk berhadap-hadapan dan saling menatap dengan sengit. Kalau sudah begini entah kapan mereka akan bisa merayakan kisah cinta mereka. Sepertinya masih akan membutuhkan waktu lebih lama lagi.
Copyright @FreyaCesare