Flower Of The Dragon

Flower Of The Dragon
Cara Untuk Kembali



"Kakak, Hanna kenapa?" tanya Aspixia dengan panik. Saat ini mereka sudah berada di Rumah Sakit Istana Langit. Dalam kepanikannya tadi, Aspixia langsung mengirimkan panggilan SOS pada Sirrian, yang langsung datang menggunakan pesawat khusus Rumah Sakit Kerajaan Langit yang dilengkapi dengan peralatan lengkap layaknya Rumah Sakit sungguhan dan memiliki kecepatan terbang setara dengan pesawat khusus untuk Raja Langit. Begitu melihat keadaan Hanna, Sirrian langsung membawanya, beserta Aspixia dan juga ketiga Chimera mungil yang tak bersedia ditinggal, kembali ke Istana Langit. Hanna langsung dibawa ke Rumah Sakit khusus Untuk anggota Keluarga Kerajaan Langit, dimana semua peralatan telah disiapkan baginya.


Sesampainya dalam Rumah Sakit, Hanna dimasukkan ke dalam sebuah tabung besar yang berfungsi sebagai alat untuk memonitor kondisi tubuhnya. Alat ini tadinya di siapkan khusus untuk menunggu kelahiran sang Putra Mahkota, yang sengaja dibuat khusus dalam ukuran besar untuk berjaga-jaga bila sang Putra Mahkota atau mungkin sang Ratu, berubah wujud menjadi Naga ditengah proses kelahiran. Siapa sangka Hanna akan menjadi Naga pertama yang menggunakannya.


Dalam ruangan tersebut hanya ada Sirrian, Rowena, dan 2 orang anak buah Sirrian, sementara Aspixia dan yang lain-lainnya di paksa menunggu di luar ruangan. Saat itu Aspixia sedang berpegangan pada tangan Xiao Bao dengan kencang, tak menyadari bahwa kuku-kukunya yang tajam dapat melukai Xiao Bao bila ia tidak hati-hati. Dengan sabar, Xiao Bao melepaskan tangannya dari cengkeraman Aspixia, dan meletakkan sebuah bola karet berwarna pink seukuran genggaman Aspixia sebagai gantinya.


"Remas-remas ini kalau kau merasa panik." suruhnya. Xiao Bao lalu menarik Aspixia untuk duduk di atas kursi di ruang tunggu, sementara ia memilih duduk di sandaran tangan kursinya agar tubuhnya berada pada posisi yang lebih tinggi dari Aspixia yang sudah memiliki tinggi tubuh setara dengan tinggi orang dewasa. Xiao Bao kemudian mengalungkan sebelah tangannya di bahu Aspixia dan menepuk-nepuk lengan Naga merah itu untuk menenangkannya.


"Kakak, apakah Hanna akan baik-baik saja?" rengek Aspixia lagi.


"Sabarlah dulu. Kak Sirrian sedang memeriksa nya. Tunggulah sebentar lagi ya." Bujuk Xiao Bao.


"Apakah kakak tidak memperoleh firasat buruk?" tanya Aspixia lagi. Xiao Bao menggeleng.


"Tidak. Aku tidak memperoleh penglihatan apapun hari ini. Karena itu aku yakin semuanya akan baik-baik saja." Jawab Xiao Bao menenangkan. Aspixia mengangguk. Ekspresi wajahnya yang basah oleh air mata tampak terlihat menggelikan. Namun bahkan Adonis pun tak punya hati untuk mengejek Aspixia seperti yang biasa dilakukannya. Ia hanya duduk dalam diam di sebelah Aspixia. Wajahnya yang tampan terlihat cemas. Di sebelah Adonis, ketiga Chimera juga duduk dengan tenang. Di kursi yang lain, Zhouyou, Ashia dan Tarli duduk menunggu, juga tanpa suara. Ashia menggenggam erat tangan suaminya dan sibuk berdoa dalam hati untuk keselamatan Hanna.


Beberapa waktu kemudian Sirrian keluar dari dalam ruangan dengan wajah serius. Melihat kemunculannya, mereka semua langsung bangkit berdiri dari kursi dan menatap Sirrian dengan cemas.


"Kak Sirrian, bagaimana keadaan Hanna?" tanya Aspixia.


"Pemeriksaannya untuk sementara telah selesai dan tidak ditemukan sesuatu yang abnormal pada tubuh Hanna. Semua bagian tubuhnya dan juga tanda-tanda vitalnya tampak baik-baik saja. Sepertinya Hanna benar-benar hanya sedang tertidur." ucap Sirrian menjelaskan.


"Kalau ia hanya tertidur, mengapa kita tidak bisa membangunkannya?" tanya Aspixia lagi.


"Maafkan aku, tapi aku masih belum menemukan jawabannya. Kita belum memiliki banyak pengetahuan tentang Naga. Pengetahuan yang ada hanya berasal darimu dan sebagian dari Zorex. Mungkin saja ini hanyalah respon alami sebuah tubuh yang untuk pertama kalinya berubah wujud menjadi Naga. Untuk sementara ini kita belum bisa memastikan apapun. Karena itu mari kita tunggu saja ya. Sambil menunggu kami akan terus memantau kondisi Hanna."


"Kalau kakak perlu melakukan eksperimen atau apapun untuk menolong Hanna, lakukan saja padaku ya, kak! Aku bersedia!" ucap Aspixia tegas. Sirrian menepuk-nepuk kepala Aspixia pelan.


"Aku tahu. Kalau memang diperlukan, aku pasti akan mencarimu. Sekarang tenangkan dirimu dan berhenti mengotori lantai Rumah Sakitku." tegur Sirrian. Aspixia menoleh ke lantai dan menjadi malu ketika melihat serpihan berwarna pink yang berasal dari bola karet dalam genggaman tangannya tampak mengotori lantai. Aspixia tidak menyadari bahwa selama menunggu, ia telah menghancurkan setidaknya 4 buah bola karet yang dengan segera di ganti oleh Xiao Bao dengan yang baru. Aspixia terlalu larut dalam pikiran nya hingga tidak menyadari perbuatannya yang mencabik-cabik sang bola tanpa ampun.


"Maaf, kak. Akan kubersihkan." Dengan linglung Aspixia menunduk, hendak mengumpulkan sampah tersebut dengan hanya menggunakan cakarnya. Namun Xiao Bao menghentikannya.


"Kau mau apa?" tanya Xiao Bao.


"Mengumpulkan sampah."


"Kak Sirrian menyuruhmu berhenti membuat sampah, bukan untuk mengumpulkannya." ucap Xiao Bao memperingatkan. Dari kejauhan mereka melihat sekelompok robot pembersih datang dan dengan sigap membersihkan sampah karet yang Aspixia buat.


"Ah, iya. Aku lupa." ucap Aspixia tersadar. Sirrian kembali menepuk kepala Aspixia dengan lembut. Tiba-tiba, suara Baozhu terdengar.


"Anak-anak, apakah kalian ingin tahu mengapa Hanna tidak juga bangun?" ucap Baozhu yang muncul dari balik dinding lobi, dengan ekspresi wajah yang agak aneh. Ketika melihat wajah-wajah muram di sekitarnya, Baozhu tersenyum. "Kalian bisa bertanya langsung pada Hanna."


Baozhu kemudian menggerakkan tangannya dan melemparkan sebuah bola mungil berwarna hitam ke atas lantai. Bola tersebut mengeluarkan cahaya yang sangat menyilaukan, sebelum kemudian meredup dan berganti menjadi cahaya yang lebih nyaman di mata. Tiba-tiba 2 sosok muncul di atas bola tersebut. Itu adalah sosok Baotu dan Hanna yang sedang berdiri bersebelahan dengan wajah penuh senyum.


"Mengapa Hanna bersama Ayah?"


"Apakah benar itu Hanna?"


"Tapi Ayah kan tidak sedang berada di sini. Bagaimana Hanna bisa berada disana?"


"Kalau itu benar Hanna, lalu yang berbaring di dalam itu siapa?"


Berbagai pertanyaan diucapkan secara bersamanya. Sehingga membuat ruangan terdengar ramai. Hanna mengangkat kedua tangannya, mencoba menghentikan keributan yang dibuat oleh saudara-saudaranya. Namun tak ada satupun yang memperdulikan upayanya. Well, berada milyaran KM jauhnya dari Sirrian membuat suaranya sepenuhnya diabaikan.


"Guys, please! Bisakah kalian diam sebentar dan dengarkan aku?" tanya Hanna keras. Untungnya ucapannya ini sukses membuat kericuhan mereka berkurang. Tak lama kemudian, Aspixia melangkah ke hadapan hologram Hanna dan bertanya,


"Hanna, apa yang terjadi padamu? Mengapa kau bisa bersama Ayah?"


Hanna kemudian menceritakan apa telah terjadi padanya. Ceritanya terdengar begitu tak masuk akal hingga membuat keluarganya tercengang.


"Roh terpisah dari tubuh dan melakukan perjalanan melintasi jarak dengan sekejap mata?" ulang Zhouyou,. "Curaaaang!"


"Setuju. Bagaimana bisa ada kemampuan yang curang begitu!" protes Adonis. Hanna hanya mengangkat bahu dan menjulurkan lidahnya sambil tersenyum. Sesungguhnya Hanna sendiri belum memahami mengenai kemampuannya ini.


"Aku pernah mendengar sesuatu yang mirip seperti ini. Katanya ada orang yang memiliki kemampuan untuk melipat ruang untuk bisa memendekkan jarak. Beberapa malah mampu berjalan melintasi waktu. Namun mereka tidak melakukannya dalam keadaan tidur." cerita Ashia.


"Setiap kali tertidur, malah melakukan perjalanan ke tempat yang jauh. Nanti saat terbangun apa tidak bertambah lelah ya?" tanya Tarli.


"Seharusnya sih tidak. Karena roh tidak membutuhkan istirahat. Sedangkan tubuhnya sudah memperoleh lebih dari cukup istirahat saat sedang ditinggal pergi oleh roh." Jawab Sirrian.


"Kemampuanmu ini sungguh mengkhawatirkan. Kemampuan untuk mengendalikan tumbuhan, kemampuan untuk memahami bahasa apapun dan sekarang kemampuan untuk melakukan proyeksi astral. Kemampuan yang ini dan yang itu, mengapa tidak satupun yang memiliki sifat defensif apalagi opensif? Padahal kan, kau bisa saja tersangkut entah dimana, dalam salah satu proyeksi astral. Kalau sudah begitu, bagaimana kami dapat menolongmu?" tanya Adonis dengan khawatir. Membuat bibir hanna berkerut kesal. Well, kalimat Adonis tidak salah sih, namun tak perlu harus mengucapkannya keras-keras di hadapan orang banyak juga kan? Membuat kebanggaan karena memiliki kemampuan baru yang unik menghilang begitu saja. Dasar Adonis yang menyebalkan!


"Kalau begitu, kenapa tidak menghubungi kami untuk memberitahukan bahwa kau tidak apa-apa? Dasar gadis nakal! Aspixia sudah hampir pingsan karena khawatir!" Omel Xiao Bao dengan kesal.


"Maafkan aku." Ucap Hanna penuh penyesalan. "Aku lupa. Maafkan aku, Aspixia."


"Lalu kapan kamu akan kembali kemari, Hanna?" tanya Aspixia. Ia tak punya energi untuk memarahi Hanna. Saat ini yang ia inginkan hanyalah memeluk kakaknya tersebut erat-erat. Rasa takut kehilangan yang tadi dirasakannya benar-benar membuatnya sekarang merasa sangat lelah.


"Kalau soal itu... Aku juga tidak tahu." jawab Hanna sambil mengerutkan bibirnya. "Aku tidak tahu caranya untuk kembali."


"Hah?"


Copyright @FreyaCesare