
"Apakah kau tuan Zorex? Apakah kau Tuan Zorex, Suami tuan kami, Aspixia?" Tanya Jaaz. Mata sang Naga langsung terbuka dan ia mengangkat kepalanya.
"Siapa yang bertanya dalam kepalaku?" Tanya sang Naga dengan suara yang menggelegar.
"Aku yang bertanya!" Jawab Jaaz. Sang Naga terdiam. Perlahan ia bangkit berdiri, lalu mendekatkan kepalanya dengan perlahan pada Jaaz dan memandanginya dari balik Shield yang memisahkan sang Naga dengan dunia luar.
"Kau bukan manusia, juga bukan seekor Naga. Bagaimana kau bisa bicara dalam kepalaku?" Geram sang Naga penuh ancaman. Namun Jaaz tak gentar. Ia tetap berdiri di tempatnya dan tidak menunjukkan sikap takut sama sekali.
"Aku tidak tahu. Selama hidupku, kau adalah orang ketiga yang bisa mendengar suaraku. Bagaimana itu bisa terjadi, aku sungguh tidak tahu." Sahut Jaaz.
"Aspixia adalah tuanmu, katamu?" Tanya sang Naga ragu.
"Benar. Kami adalah hewan-hewan ciptaan tuan Aspixia." Jawab Jaaz.
"Jelaskan ciri-ciri tuanmu!" Perintah sang Naga.
"Ia seorang wanita bertubuh tinggi dan berwajah pucat. Rambutnya berwarna hitam yang lurus dan selalu tergerai panjang. Tubuhnya sangat ramping dan matanya selalu tampak sedih. Ada sebuah permata berwarna biru yang menempel di keningnya." Kenang Jaaz. Mendengarnya, ekspresi sang Naga langsung berubah.
"Benar! Benar itu Aspixiaku! Dimana dia? Apakah ia baik-baik saja?" kejarnya.
"Tuan membekukan kami dalam tabung-tabung Cryo dan membuat kami terbangun di jaman ini. Apa yang terjadi pada Tuan setelah kami dibekukan, tidak kami ketahui. Tuan tidak meninggalkan petunjuk apapun. Ia hanya berpesan agar kami bisa hidup dengan lebih baik di dunia yang lebih baik."
"Istriku, apa ia tahu aku berada dimana?" Tanya sang Naga.
"Ia hanya tahu bahwa pemerintah telah menangkap anda. Sepertinya Tuan pergi mencari anda. Ia bilang bahwa dirinya menghabiskan waktu dengan menyusuri kota demi kota yang telah hancur akibat perang, mencoba menyelamatkan kehidupan yang bisa diselamatkan dari dalam puing-puing tersebut. Lalu pada suatu hari ia pulang dalam keadaan putus asa. Sepertinya ia tahu bahwa ia tidak akan pernah lagi bertemu dengan anda. Saat itulah ia memerintahkan kami untuk masuk kembali ke dalam tabung dan kemudian membekukan kami." Jawab Jaaz panjang lebar. Mendengarnya, sang Naga meraung nyaring.
"Aspixia! Aspixia... apa yang terjadi padamu? Maafkan aku tidak mampu membawa pulang anak kita ke pangkuanmu pada waktunya." Suara sang Naga terdengar bagaikan sedang menangis. Tubuh besarnya berguncang hebat.
"Ah, lalu bagaimana dengan anakku yang lain? Ada sebuah telur lagi. Kau tau apa yang terjadi padanya?" tanya sang Naga lagi.
"Awalnya kami masih melihat sebutir telur berwarna biru yang selalu terletak di sisi tempat tidurnya Tuan. Ketika Tuan pergi mencari anda, Tuan membawa telur itu besertanya namun kami tidak melihat ia membawanya kembali. Mungkin Tuan menyembunyikan telurnya di suatu tempat, kami tidak pernah menanyakannya." Jawab Jaaz penuh penyesalan karena ia tidak mampu memberikan jawaban yang memuaskan bagi pasangan Tuannya.
Sang Naga kembali meraung keras karena kemarahan, kesedihan dan rasa tidak berdaya yang bercampur menjadi satu. Walaupun selain Hanna, Jaaz dan Xiam, tak ada yang memahami bahasanya, namun tak urung semua orang bisa merasakan kepedihan dalam suaranya. Mereka semua hanya diam mendengarkan. Tak ada satupun yang mampu bergerak maupun berbicara. Tanpa disadari, air mata Hanna mengalir deras membasahi pipinya.
"Tuan, mengapa kau tidak berubah menjadi manusia agar para manusia disini bisa berbicara denganmu?" pinta Jaaz.
"Berubah menjadi manusia?" Sang Naga tampak tercengang mendengar ide tersebut lalu kepalanya terangkat ke udara dan ia mulai tertawa terbahak-bahak. Tawanya begitu menyeramkan membuat Hanna tanpa sadar berjalan mundur dan menabrak Xiao Bao yang langsung memeluknya dari belakang.
"Kenapa?" Tanya Xiao Bao namun Hanna hanya menggeleng. Wajahnya yang basah berkilauan terkena cahaya redup sang mentari senja. Xiao Bao mengusapnya dengan ujung tangan bajunya. Setelah wajahnya mengering, Hanna kembali memandang sang Naga dan hatinya merasa sangat iba. Sang Naga itu tampaknya sudah hampir kehilangan akal karena kesedihannya. Hanna memakluminya. Siapa yang tidak akan kehilangan akal bila menghadapi penderitaan serupa itu. Tapi tetap saja rasa ibanya tidak membuat sang Naga terlihat menjadi tidak berbahaya. Ia berubah dari menangis dan tertawa dalam hitungan detik. Ia lemah tidak berdaya di suatu saat dan tiba-tiba menjadi garang bertenaga juga dalam hitungan detik. Hanna hanya berharap Shield itu mampu menahannya, karena Hanna tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan seekor Naga yang tidak waras dengan tubuh sebesar itu.
"Keinginan untuk berubah menyerupai manusialah yang telah menghancurkan bangsaku. Sekarang lihatlah apa yang telah terjadi pada mereka! Punah! Bangsaku telah musnah bersama ambisi mereka. Membunuh kekasihku, menelantarkan anak-anakku dan merebut kebebasanku. Mengapa aku harus merubah wujudku menjadi manusia seperti mereka? Tidak akan! Aku tidak Sudi!" ucap sang Naga dengan marah. Lalu suaranya kembali berubah lemah dan sedih... "Aku lahir sebagai Naga, hidup sebagai Naga dan matipun hanya sebagai Naga." Sang Naga roboh di tanah dengan suara berdentam keras. Tanah bergoncang sejenak dibawah hantaman tubuhnya.
Hanna berjalan mendekati Shield kembali. Ia mengamati sang Naga dan mendapati bahwa sang Naga sudah kembali tak sadarkan diri.
"Jaaz," Tanyanya. "Apa dia akan baik-baik saja?"
"Entahlah, Hanna. Tapi mungkin dia hanya kelelahan." Sahut Jaaz. Hanna menarik nafas panjang, lalu menatap Jaaz.
"Jadi apakah dia benar-benar suami tuan kalian yang menghilang?" Tanya Hanna. Jaaz dan Xiam mengangguk.
"Tuan pasti tidak pernah menduga bahwa suami yang dirindukannya terkurung dalam gunung berapi selama berjuta-juta tahun." ucap Xiam sedih.
"Terkurung berjuta-juta tahun... dan dipisahkan dari keluarganya...," Hanna mendesah. "Aku tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya."
Tahu-tahu Zhouyou dan Ashia telah berdiri di belakang Hanna.
"Hanna sayang, bisakah kau menceritakan apa yang baru saja terjadi?" Pinta Zhouyou. Hanna mengangguk pelan. Hanna membiarkan dirinya diangkat ke dalam gendongan Zhouyou dan diam-diam menangis kembali diatas bahunya saat Zhouyou membawanya memasuki Istana.
Keesokan paginya saat Hanna menemui sang Naga, Sirrian sudah lebih dahulu berada disana dan tampak sibuk memeriksa keadaan sang Naga dari luar shieldnya. Hanna menyalami Sirrian dengan sebuah kecupan di pipinya.
"Selamat pagi, Hanna sayang." Sapa Sirrian.
"Gadis kecil," Panggilnya. Suaranya serak dan terdengar lemah.
"Zorex." Jawab Hanna.
"Katakan padaku apa yang terjadi pada planet ini setelah bangsaku musnah." Perintah Zorex tanpa basa-basi. Hanna menarik nafas panjang.
"Apabila Shield ini dibuka, apakah kau akan membahayakan kami?" Tanya Hanna. Mendengarnya sang Naga kembali terkekeh.
"Percayalah padaku bahwa bila aku sehat, Shield yang kalian pasang di sekitarku ini hanyalah selembar kaca tipis bagiku." ucap sang Naga pelan. Hanna mengangguk mengerti.
"Kakak, bisakah kau melepaskan shieldnya?" pintanya pada Sirrian. Sirrian memandangnya sesaat sebelum kemudian kembali memandang pada handheldnya. Setelah berkonsultasi pada shieldnya, Sirrian tampaknya berpikir bahwa sang Naga sudah tidak lagi bisa memberikan bahaya apapun, karena itu ia pun melepaskan Shield yang terpasang melingkupi sang Naga. Berterimakasih pada Sirrian, Hanna lalu mendekati kepala sang Naga dan duduk di depan wajahnya. Ia berada sangat dekat dengan sang Naga, sehingga bila ia mengulurkan tangannya, Hanna bisa menyentuh wajahnya. Dengan waspada, Sirrian langsung berjalan ke sisinya dan mencoba menarik Hanna menjauh. Namun gadis tersebut menggeleng dan tersenyum menenangkan. Ia lalu duduk bersila di depan mata sang Naga berada. Mata besar berwarna merah menyala itu mengikuti gerak-geriknya. Tubuh sang Naga sama sekali tidak bergerak, begitu juga kepalanya. Hanya matanya yang menunjukkan bahwa ia masih hidup.
"Apa kau akan mati?" Tanya Hanna.
"Seperti yang kau lihat." sahut Zorex pelan.
"Apa kau tahu apa penyakitmu?" Tanya Hanna lagi.
"Apapun itu, apa perlunya untuk tahu? Yang terpenting adalah bahwa ia akan memberiku kematian. Maka aku akan menerimanya dengan senang." sahut Zorex lagi. Hanna memandangnya dalam diam. Lalu setelah beberapa saat ia kembali menarik nafas panjang. Lalu tanpa diminta kembali, Hanna mulai bercerita tentang kisah kedatangan bangsa Qu ke Sirria, sebagaimana yang pernah dikisahkan oleh Baozhu dahulu padanya. Sang Naga mendengarkan dalam kebisuan. Hanya matanya yang terus mengamati gerak-gerik Hanna. Mata yang semakin lama semakin terlihat redup. Melihatnya membuat Hanna merasa ingin menangis. Sementara itu Baozhu dan keluarga Hanna yang lain, termasuk Ashia dan Zhouyou tampak keluar dari istana dan mendekati Hanna serta sang Naga. Zhouyou berusaha memanggil Hanna, namun Sirrian mencegahnya dan mendorong Zhouyou menjauh untuk memberikan waktu bagi Hanna berbicara dengan sang Naga. Semua orang menatap Hanna dengan cemas, namun Sirrian menenangkan mereka dengan menjelaskan bahwa sang Naga bukan lagi ancaman bagi siapapun.
Setelah Hanna selesai bercerita, sang Naga mengedipkan matanya pelan.
"Tahukah kau, ketika seekor Naga kehilangan sisi Naganya, tenaga yang tersimpan dalam dirinya akan beralih memperkuat kemampuan supernaturalnya." Hanna hanya diam mendengarkan. Tak dapat membaca kemana arah pembicaraan sang Naga.
"Gift yang dimiliki Aspixia adalah melipat waktu. Naga es biasanya menggunakan kemampuan ini untuk melihat masa depan. Tapi pada Aspixia, kemampuan ini berkembang lebih jauh. Aspixia, sebagaimana Naga-Naga es yang lainnya, tidak bisa melompat melalui lipatan waktu tersebut, tapi ia bisa melemparkan sesuatu melewatinya." Hanna tak memahami maksud dari kata-katanya, tapi ia enggan menyela. Jadi Hannapun tetap diam dan mendengarkan.
"Mengenal sifatnya, aku membayangkan bahwa sisa-sisa kehidupan yang Aspixia selamatkan dari reruntuhan itu adalah telur-telur yang tidak bertuan. Ia mungkin melemparkan mereka melewati lipatan waktu, 1 setiap kalinya, untuk memastikan bahwa bila 1 jatuh ditempat yang salah, yang lain akan tetap memiliki kemungkinan untuk selamat. Mungkin itu pulalah yang ia lakukan pada telur kami. Mungkin di suatu tempat di jaman ini, anak kami hidup dengan selamat dan bahagia." Lanjut Zorex lirih. "Membayangkannya membuatku merasa bahagia."
"Telur?" Ulang Hanna bingung.
"Benar. Telur. Seekor Naga berasal dari sebutir telur, Hanna." Zorex kembali terkekeh.
"Aku adalah anak Naga. Apakah itu berarti maksudmu aku menetas dari sebuah telur?" Tebak Hanna.
"Apa terlalu sulit untuk menerima bahwa kau adalah seorang Naga?" Tanya Zorex. Hanna mengangguk. Membuat Zorex kembali terkekeh. "Tenang saja. Kau tidak akan berubah jadi reptil bersayap seperti diriku." Mendengar kata-katanya entah mengapa membuat Hanna merasa sedih. Sesungguhnya Hanna belum dapat memahami fakta bahwa ia adalah perwujudan manusia dari seekor Naga. Ketika berkaca ia melihat Hanna yang manusia, dengan 2 kaki dan 2 tangan, serta kulit semulus kelopak mawar. Ia tidak bisa membayangkan dirinya sebagai seekor naga yang besar, bersayap dan menyeramkan. Hanna memandangi Zorex, mencoba menilai penampilannya. Kulitnya berwarna merah berkilau, namun kasar. Moncongnya panjang dan anggun. Matanya yang bola matanya juga berwarna merah, dihiasi garis hitam mirip eyeliner seorang wanita. Sepasang tanduk yang juga berwarna merah menghiasi kepalanya dan ujung-ujungnya sayapnya. Sayapnya yang lebar tampak kokoh. Kaki dan tangannya berkuku tajam dan kuat. Memandanginya Hanna menyadari bahwa Zorex adalah Naga yang indah. Naga yang indah tersebut sekarang tampak lemah dan tidak berdaya.
"Apa kau akan mati, Zorex?" Tanya Hanna tiba-tiba.
"Gadis kecil, kau sudah menanyakan pertanyaan yang sama tadi." Zorex mengingatkan lemah.
"Aku tidak mau kau mati." cetus Hanna, membuat Zorex terkekeh pelan.
"Mati dan hidupnya seseorang tidak menunggu persetujuanmu, nak." Jawabnya.
Mereka terdiam, larut dalam pikiran masing-masing.
"Hanna?" panggil Zorex, membuat Hanna memandangnya heran. Ini adalah pertama kalinya sang Naga memanggilnya dengan namanya.
"Apa?" jawab Hanna ragu-ragu.
"Bila aku mati, maukah kau melakukan sesuatu untukku?" Tanya Zorex.
"Apa itu?"
"Anakku..." Suara sang Naga terhenti ketika sebuah keributan terdengar dari salah satu sisi halaman terbuka di belakang Hanna. Hanna menoleh kebelakang dan matanya langsung terbelalak lebar. Sekitar 10 meter dihadapannya, seorang pria berseragam militer yang membawa sebuah senjata laser, sedang membidikkan laras senjatanya ke arah Hanna dan Zorex, dan tanpa menunggu respon dari Hanna, senjata tersebut ditembakkan.
Copyright @FreyaCesare