Flower Of The Dragon

Flower Of The Dragon
Peringatan Dari Langit



Saat Lou membawa Hanna keluar dari Kuil, teman-temannya sudah menunggu mereka di teras belakang. Raagh sedang tidur dengan nyenyak di atas pangkuan Xiao Bao yang sedang duduk di atas kursi teras, Zath sedang duduk di dekat kakinya sementara Daaz sedang menguap lebar di atas meja teras. Disisi seberang kursi yang diduduki Xiao Bao, bak seorang raja yang sedang duduk di atas singgasananya, duduklah Adonis dengan tubuh bersandar santai, sebelah tangan membelai-belai Daaz dan sebelah kakinya melintang di atas kaki lainnya. Melihat mereka, Hannapun tersenyum. Ia meminta agar Lou menurunkannya. Begitu turun, ia langsung berlari untuk memeluk Adonis yang menyambutnya dengan senang. Adonis kemudian menarik Hanna keatas pangkuannya.


"Bagaimana? Apa rencanamu berhasil?" Tanya Adonis. Hanna menganggukkan kepalanya kuat-kuat.


"Tentu saja! Berkat bantuan kakak dan Lou, mereka berdua memperoleh waktu berdebar-debar yang diperlukan untuk bisa membuat Kak Ashia luluh." Sahut Hanna.


"Lalu apakah Ashia sudah luluh?" Tanya Adonis lagi. Hanna mengerutkan bibirnya mendengar pertanyaan tersebut.


"Yeee... tidak mungkin semudah itu kan! Satu atau dua momen saja tidak akan cukup untuk membuat kak Ashia menyerah. Kita harus terus memberi mereka berdua kesempatan untuk merasakan debar-debar dalam hati. Kak Ashia terlalu keras kepala." sahut Hanna lagi. Adonis menganggukkan kepala mengiyakan.


"Si bodoh Zhouyou, kenapa juga ia justru jatuh cinta pada wanita keras kepala seperti Ashia. Padahal begitu banyak wanita yang tidak akan berpikir panjang apabila menerima lamaran darinya."


"Tapi aku tidak bisa membayangkan bila paman Zhouyou menikahi orang lain. Aku tidak bisa membayangkan apabila disisi paman Zhouyou berdiri seorang perempuan genit yang melenggak-lenggok centil sambil pamer seringai kemana-mana. Hiiii! Mengerikan!" Hanna bergidik ngeri.


"Itu namanya senyum, Hanna, bukan seringai." Ralat Adonis sambil tertawa.


"Senyum itu adalah ketika bibir melengkung dengan alami tanpa banyak pikir. Tapi apabila senyum itu muncul saat dalam kepalanya ia sedang menghitung untung dan rugi, itu namanya seringai!" bantah Hanna.


"Oooh... Hanna ku sudah bisa membedakan manusia dari rubah betina." Goda Adonis.


"Itu sih mudah sekali, paman!" Sahut Hanna. "Wanita manapun yang bukan anggota keluargamu sudah bisa dipastikan sebesar 90% adalah rubah betina!" Ucap Hanna penuh percaya diri. Adonis dan Xiao Bao langsung tergelak.


"Aku mengajarinya dengan baik kan?" ucap Tarli  bangga. Ia tadi sedang berjalan mendekati mereka ketika Hanna mengutarakan pendapatnya yang 100% adalah dikutip dari kata-kata Tarli.


"Kalau begitu hati-hati agar kau tidak salah menuduh yang 10% ya. Apa kau sudah mengerti cara membedakannya?" Tanya Adonis lagi. Hanna mengerutkan bibirnya, lalu menggeleng.


"Belum."


"Wah, caranya mudah sekali. Bawa saja Tarli kepada wanita itu. Kalau Tarli tidak menggeram padanya, berarti ia masuk yang 10%." Seloroh Adonis, membuat Xiao Bao kembali terbahak dan Tarli mengerutkan keningnya. Mengapa terdengar seperti sebuah penghinaan ya? pikir Tarli.


"Tapi jangan ajak Tarli melacaknya pada saat dia sedang lapar ya. Dia akan dengan mudah disogok dengan makanan." Lanjut Adonis. Tarli sudah mengangkat sebelah tangannya untuk memukul Adonis, tapi Adonis malah berlindung dibalik tubuh Hanna.


"Eits! Disini kawasan ramah anak. Pelaku kekerasan tolong untuk menahan diri! Tidak baik apabila dicontoh oleh anak-anak!" Elak Adonis, membuat Hanna tertawa geli. Hari itu lagi-lagi kuil langit dipenuhi oleh derai tawa. Baozhu yang sedari tadi memperhatikan mereka dari jendela infirmary bersama Sirrian, tersenyum bahagia.


"Ya Tuhan," pintanya. "Ijinkan agar kebahagiaan kami tidak pernah berakhir." Namun pada kenyataannya kedamaian dan kebahagiaan itu memang tidak pernah abadi. Kehidupan adalah saatnya berbagai masalah bermunculan, baik dirimu siap maupun tidak.


Ketika masalah mulai menunjukkan sosoknya, yang pertama kali menyadarinya adalah para Chimera. Pada suatu pagi, 2 minggu setelah kelahiran Zayn, tiba-tiba para Chimera mengangkat kepala dan menatap ke langit yang mendung. Begitu juga para Chimera yang berada di dalam kuil. Daaz dan Zath berjalan mendekati jendela dan memandang ke langit dari balik kaca jendela, sementara Raagh menyelusup kedalam relung leher Hanna dengan tubuh gemetar. Hanna yang terbangun karena lehernya terasa geli akibat bulu-bulu Raagh yang menggelitik lehernya, merasa heran ketika melihat perilaku teman-temannya.


"Daaz, Zath, ada apa?" Tanyanya. Namun tak satupun dari mereka yang menjawab.


"Raagh?" Hanna mencoba menarik Raagh keluar dari persembunyiannya di relung leher Hanna, namun Raagh malah menyelusup masuk kedalam selimut tebal untuk kemudian masuk kedalam kantong piyama Hanna. Kening Hanna menjadi berkerut melihat perilaku mereka. Ia lalu bangkit dari ranjang. Saat ia duduk di atas ranjang untuk memasang sandal, Raagh menggunakan kesempatan tersebut untuk melompat keluar dari dalam kantongnya dan berlari masuk kedalam selimut Ashia yang masih terlelap.


Hanna kemudian berjalan menuju ke Jendela tempat Daaz dan Zath berada. Hanna mencoba menemukan objek yang menjadi pusat perhatian teman-teman kecilnya, namun selain awan yang tebal menggantung di langit yang biru, ia tidak dapat menemukan apapun. Di atas ranjang suara mengantuk Ashia yang memprotes perilaku Raagh, terdengar samar-samar karena teredam oleh selimut.


"Kak Ashia!" Panggil Hanna dengan nada suara mendesak. Samar-samar ia bisa mendengar jawaban tak jelas dari tempat tidur.  "Kak Ashia bangunlah! Kau harus melihat ini!" Suara mendesak Hanna akhirnya berhasil juga menembus pendengaran Ashia. Ia langsung duduk dan lalu mengerjap-ngerjapkan matanya dengan mengantuk.


"Apa sih?" Tanyanya setengah menggerutu.


"Coba lihat!" Hanna menunjuk ke halaman belakang. Ashia yang tak dapat melihat apapun dari tempatnya duduk terpaksa bangkit dari ranjang dan berjalan menuju ke tempat Hanna berada. Keningnya langsung berkerut melihat pemandangan di halaman belakang.


Halaman yang besar tersebut kosong, namun di tepinya, Berbagai subspesies Chimera berdiri berjajar mengitari halaman belakang bagaikan pagar pelindung. Wajah mereka semua terangkat memandang langit yang berawan tebal. Namun selain awan, tak ada satu benda anehpun terlihat di langit sehingga Hanna tak bisa menebak apa yang sedang terjadi sebenarnya. Hanna sudah mencoba memanggil-manggil Daaz maupun Zath, namun tidak satupun menjawabnya atau menunjukan pertanda bahwa mereka mendengarnya.


Menoleh pada Raagh, Hanna lalu kembali ke atas ranjang. Ia mengangkat selimut tempat Raagh bersembunyi dengan hati-hati, setelah memastikan terlebih dahulu bahwa Raagh benar-benar masih berada di dalam selimut tersebut. Hanna tahu bahwa Raagh sedang ketakutan karena itu ia harus memastikan bahwa Raagh merasa aman sebelum Hanna bisa menanyainya.


"Raagh?" Tanya Hanna, hati-hati. Tangannya pelan-pelan membuka selimut yang menutupi tubuh mungil Raagh. "Raagh? Apa kau baik-baik saja?" Tubuh Raagh masih gemetar dengan hebat. Ia menyembunyikan kepalanya di dalam selimut. "Raagh, bicaralah padaku!" desak Hanna.


Ashia memerintahkan Louise, AI miliknya untuk menghubungi Sirrian.


"Ashia?" Sahut Sirrian.


"Sirrian, apa kau melihat ini?" Tanya Ashia.


"Sekarang iya." Sahut Sirrian. "Apa yang terjadi?"


"Aku tidak tahu. Saat aku terbangun ini sudah terjadi."


"Dimana Daaz dan Hanna?"


"Daaz dan Zath juga berada diluar. Mereka tampak sedang dalam keadaan linglung dan tidak merespon panggilan apapun. Hanya Raagh yang bersembunyi dalam selimut. Hanna sedang mencoba untuk menanyainya."


"Raagh bilang ada bahaya yang mengancam di udara." Hanna memberitahukan Ashia. Tangan gadis kecil itu tampak memeluk Raagh erat-erat di dadanya.


"Apa dia tahu bahaya apa itu?" Tanya Ashia. Hanna menggeleng.


"Dia bisa merasakannya dan itu membuatnya ketakutan, tapi ia tidak tahu apa penyebabnya." Jawab Hanna.


"Sirrian, kau dengar itu?" Tanya Ashia.


"Aku dengar. Ashia, ayo berkumpul di ruang kontrol. Bawa Daaz dan Hanna bersamamu!" Perintah Sirrian. Setelah itu sambungan langsung terputus. Ashia kemudian melangkah keluar melalui jendela untuk mencapai Daaz dan Zeth. Ketika ia sampai di dekat Daaz, Ashia mengangkat Daaz dan mengguncang tubuhnya pelan.


"Daaz, sadarlah! Apa kau bisa mendengarku?" Daaz berkedip pelan dan matanya berpandangan dengan Ashia. Walaupun Ashia tidak bisa memahami bahasa Chimera, tapi kontak mata yang dilakukan Daaz membuat Ashia yakin bahwa Daaz mendengarnya.


"Ayo masuk! Sirrian membutuhkanmu." Ashia menggendong Daaz dalam pelukannya lalu mengangkat Zath dengan sebelah tangannya yang lain. Ia membawa keduanya masuk kembali ke dalam kamar dimana Hanna sudah menunggunya. Mereka kemudian berlari ke ruang kontrol masih dengan membawa Chimera-Chimera tersebut dalam tangan-tangan mereka.


Copyright @FreyaCesare