
"Kakak, tolonglah! Mereka akan membunuhnya!" Rengek Hanna.
"Siapa, Hanna? Siapa yang akan membunuh siapa?" Tanya Adonis.
"Pasukan paman Zhouyou akan membunuh Naga itu!"
"Tapi Hanna, mereka melakukan hal itu untuk melindungi kita semua."
"Tapi Naga itu hanya salah faham, kak. Tadinya ia berpikir bahwa ia akan berhadapan dengan orang-orang yang telah mengurungnya. Tapi sekarang ia bingung karena ia justru berhadapan dengan kita. Biarkan aku bicara padanya, kak! Dia pasti bisa mengerti!"
"Bicara padanya? Hanna, apakah kau mengerti bahasa Naga?" Tanya Adonis takjub. Hanna mengangguk. Adonis memandang Baozhu untuk meminta persetujuannya dan Baozhu mengangguk tanpa suara. Tanpa banyak bicara lagi ia bergegas membuka kunci pintu bunker. Belum lagi pintu bunker terbuka lebar, Hanna langsung menyelinap keluar dengan Jaaz dan Xiam mengikuti tepat di belakangnya. Adonis menjerit memanggil namanya, namun karena Hanna tidak melambatkan larinya, Adonis pun langsung melesat menyusul Hanna, diikuti oleh Baozhu dan Xiao Bao.
Pertempuran diatas Terra masih berlangsung dengan mencekam. Namun siapapun dapat melihat bahwa walaupun terluka, sang Naga masih lebih unggul diatas pasukan pesawat tempur milik Kerajaan Langit. Setiap kali sang Naga menyemburkan api dari mulutnya, setiap kali pula sebuah pesawat tempur jatuh atau malah meledak berkeping-keping. Zhouyou terus memberikan instruksi strategi yang harus digunakan untuk menyerang sang Naga, namun sang Naga selalu mampu menghindar dan meloloskan dirinya.
Pada suatu waktu, saat Zhouyou sedang memberikan perintah-perintahnya, tiba-tiba sang Naga menoleh ke arahnya. Lalu tanpa diduga-duga, tahu-tahu sang Naga melesat meninggalkan pesawat-pesawat tempur yang sedang mengepungnya dan terbang ke arah Istana Langit, menuju dimana Zhouyou berada. Para pengawal pribadi Zhouyou segera menggiring raja mereka untuk memasuki istana. Masih dengan memegang tangan Ashia, Zhouyou terpaksa berlari mengikuti paksaan para pengawalnya. Squadron One dan Two segera mengejar sang Naga, namun sedapat mungkin mengontrol tembakan mereka karena khawatir akan salah menyasar orang-orang yang berada disekitar Istana Langit.
Sang Naga bergerak dengan kecepatan sangat tinggi dan tahu-tahu ia sudah menghadang dihadapan Zhouyou, Ashia dan pasukan pengawal pribadi mereka. Langkah mereka terpaksa berhenti dan mereka berdiri berhadap-hadapan dengan Sang Naga. Dari dekat, mahluk itu terlihat begitu besar, membuat nyali mereka mau tidak mau menjadi menciut.
Sang Naga menatap Zhouyou dengan mata penuh kebencian. Ia mengeluarkan suara-suara seolah sedang berbicara dengan mereka namun tak seorangpun bisa memahaminya. Tak lama kemudian Squadron One dan Two sudah mengepung sang Naga kembali, namun mereka menahan tembakannya.
"Yang Mulia, kami menunggu perintahmu!" Suara kapten Squadron One terdengar nyaring dari earpiece yang terpasang di kuping Zhouyou. Namun belum sempat Zhouyou menjawab, sebuah sosok mungil berlari secepat kilat kehadapan mereka.
Hanna tahu-tahu sudah berdiri diantara Zhouyou dan sang Naga. Ia menghadap ke arah sang Naga dan merentangkan tangannya selebar-lebarnya seolah mencoba melindungi Zhouyou dari amukan sang Naga. Dari dalam tas selempang mungilnya, kepala Raagh menyembul menggemaskan. Tak lama kemudian Jaaz dan Xiam telah berlari menuju ke sisi Hanna. Mereka berdiri di sisi kiri dan kanan Hanna, layaknya 2 orang pengawal yang siap menghadapi ancaman apapun yang akan menyakiti Hanna. Namun dipandang dari sudut pandang manapun, Jaaz dan Xiam, walaupun bertubuh besar, bukanlah tandingan bagi sang Naga yang besarnya menyerupai sebuah rumah.
Zhouyou yang tertegun sesaat segera tersadar dan hampir berlari menuju ke arah Hanna untuk melindunginya, tapi para pengawalnya membuat barikade dengan tubuh mereka yang menyebabkan Zhouyou tidak dapat bergerak kemanapun.
"Hanna, apa yang kau lakukan?" Jerit Zhouyou ketakutan. Ashia yang berada tepat disampingnya juga turut berteriak memanggil-manggil nama Hanna. Namun Hanna tidak bergeming. Tak lama kemudian Adonis, Xiao Bao dan Baozhu muncul dan mencoba mendekati Hanna, namun Bao Chen Yang dan Hazrat segera menahan dan menghalangi mereka.
Semua orang memandang ketakutan pada gadis kecil kesayangan mereka yang tampak begitu mungil berada dihadapan Naga yang seorang diri, telah menghancurkan dan membunuh begitu banyak pesawat tempur dan awaknya. Hanna, apa yang sedang kau lakukan?
Hanna merentangkan tangan selebar-lebarnya. Ia memandang sang Naga dengan berani. Dagunya terangkat tinggi dan ekspresi wajahnya penuh tantangan. Melihatnya, sang Naga memiringkan kepalanya, tampaknya merasa geli dengan perilaku gadis kecil di hadapannya tersebut.
"Anak Naga. Akhirnya!" Kata sang Naga bernada senang. Hanna menelan ludahnya. Kata-kata sang Naga mengkonfirmasi apa yang selama ini telah mereka duga, bahwa ia adalah anggota Klan Naga yang telah punah berjuta-juta tahun yang lalu.
"Katakan padaku, gadis kecil; mengapa hanya ada sedikit sekali bangsa Naga disini? Dan siapa mahluk-mahluk yang sudah berani menyerangku ini?" Tanya sang Naga kembali.
"Mereka adalah bangsa Qu yang berasal dari tempat yang jauh. Sekarang merekalah pemilik Planet ini karena saat mereka sampai disini, bangsa Naga dan peradabannya sudah lama musnah." Jawab Hanna. Lama sang Naga terdiam mendengar jawaban Hanna. Ia tampak tidak mengetahui apakah harus percaya atau tidak pada gadis kecil tersebut.
"Tapi begitulah kenyataannya! Tak ada satupun yang tahu pasti penyebabnya. Tapi Planet ini sudah rata dengan tanah ketika bangsa Qu menemukannya." Jawab Hanna lagi. Suara kekanakannya nyaris tertutupi oleh suara letusan-letusan kecil gunung berapi yang tampaknya belum akan berhenti.
"Apabila itu benar bahwa bangsaku telah musnah, lalu mengapa sekarang kau ada disini? Dan disana aku melihat 2 naga lainnya." Sang Naga memandang ke arah Hazrat dan Adonis.
"Kamipun tidak tahu bagaimana kami bisa ada di jaman ini. Kami muncul tiba-tiba di beberapa tempat yang berbeda-beda dan dibesarkan tanpa mengetahui asal-usul kami. Tak sekalipun kami pernah menduga bahwa kami adalah anggota klan Naga yang telah lama musnah." Jawab Hanna lagi.
"Apakah kau bicara dengan jujur?" Curiga Sang Naga.
"Apakah kau tak bisa mencium kejujuranku?" Tantang Hanna.
Sang Naga mengeluarkan suara seperti sedang terkekeh.
"Gadis kecil, kau mengingatkanku pada seseorang. Dia sangat bodoh, namun juga sangat pemberani." Kata-kata sang naga tersebut membuat Hanna kesal.
"Enak saja! Aku tidak bodoh!" bantahnya keras.
"Hehehe... tentu saja itu juga jawaban yang ia teriakan padaku ketika aku memanggilnya bodoh." jawab sang Naga.
"Kau pasti orang yang sangat menyebalkan!"
"Begitulah. Kalau tidak mereka tentu tidak akan mengurungku sekian lamanya kan?!" Seloroh sang Naga. Ia meletakkan tubuhnya ke atas tanah dengan lebih santai. Darah tampak mengalir dari luka besar di sayap dan perutnya.
"Kau terluka." Kata Hanna.
"Apakah kau baru melihatnya?" cela sang Naga.
"Apakah kau akan baik-baik saja?" Tanya Hanna lagi.
"Apakah kau sedang khawatir padaku?" Sang Naga mengangkat sebelah alisnya, eeer, lebih tepatnya sebuah cekungan di atas matanya yang menyerupai alis.
"Apakah aku perlu merasa khawatir?" tanya Hanna.
"Hehe... gadis kecil, aku suka gayamu!" Sang Naga menurunkan kepalanya ke tanah. "Kalau kau bisa, minta mereka agar jangan membunuhku dulu. Aku masih ingin mendengar banyak hal tentang planet ini, tapi tubuhku sudah tidak mampu." setelah mengatakan hal tersebut, sang Naga rebah di tanah dan tak sadarkan diri.
Copyright @FreyaCesare