Flower Of The Dragon

Flower Of The Dragon
You Will Be Mine!



"Coba lihat dia, menggunakan segala cara untuk menarik simpati wanita. Apakah kau tidak punya rasa malu, Ad?" Ejek Tarli. Ia dan Sirrian muncul dari balik pintu yang terbuka di ikuti oleh Zhouyou dan Ashia.


"Bukankah kau juga sama, nek?" balas Adonis, memasang wajah kesal. Ia melotot pada Tarli dan memaki dalam hati, 'bisa tidak untuk menahan lidahmu agar tidak menghinaku di hadapan perempuan yang kucintai, dasar nenek tua bebal!'.


"Rowena, Adonis, apa kalian tidak apa-apa?" tanya Ashia. Ia tidak menyangka bahwa tantrumnya kali ini akan menyebabkan kerusakan dan bahkan menimbulkan korban terluka. Melihat luka-luka di wajah dan punggung Adonis membuat wajah Ashia berubah pias karena rasa bersalah. Dengan tergesa ia berjalan menuju tempat Adonis berdiri. Sementara itu Adonis dan Rowena yang melihat Ashia berjalan dengan tidak stabil karena membawa perut yang sangat besar, membelalakkan matanya lebar-lebar. Perut Ashia terlihat membulat seperti balon yang mengancam akan meledak kapan saja Ashia salah bergerak.


"Ashia, jangan bergerak!"


"Ashia, diam ditempat!"


Seru Rowena dan Adonis secara bersamaan. Suara keduanya mengejutkan Ashia dan membuat langkahnya tersendat. Akibatnya tubuhnya menjadi oleng ke belakang. Adonis, Rowena dan Tarli mengernyit ngeri membayangkan bahwa Ashia akan jatuh ke lantai dengan sangat menyakitkan. Hanya Sirrian saja yang tetap berdiri di tempatnya dengan tenang dan tidak terpengaruh, sementara Zhouyou dengan sigap bergerak maju dan meraih tubuh istrinya ke dalam pelukannya, membuat semua yang melihat mereka, menarik nafas lega.


Ashia yang lagi-lagi menemukan dirinya berada dalam perlindungan tangan-tangan suaminya, awalnya tercengang. Tapi kemudian mulai merasa kesal. Mengapa sih semenjak ia hamil, semua orang selalu memperlakukannya seperti sebuah gelas yang rapuh dan gampang pecah? Terutama sejak kehamilannya semakin besar. Mereka tidak pernah lagi membiarkan Aisha melakukan sesuatu sendiri. Selalu ada orang lain yang siap sedia membantu dan menemaninya, atau malah mengambil alih apa yang ingin dikerjakan Ashia. Bahkan hanya untuk berjalan pun selalu ada seseorang yang membimbing di sampingnya. Sungguh menyebalkan!


Melihat mata Ashia yang menyipit kesal, Zhouyou mengetuk keningnya pelan.


"Tolong, tahan amarahmu, istriku. Apakah kamu ingin menciptakan badai es lagi?" pinta Zhouyou dengan nada penuh kasih sayang. Ashia mengerjakan matanya pelan ketika menyadari bahwa ia kembali hampir kehilangan kendalinya. Ia baru saja menyebabkan Adonis terluka. Mereka bahkan belum sempat mengobati luka-luka tersebut. Jangan sampai ia melukai orang lain untuk kedua kalinya!


"Emosiku ini... Sigh... Beritahu aku, menurutmu bila aku menjadi Naga yang sebenarnya, apakah aku akan berperilaku sangat destruktif?" tanya Ashia dengan bibir cemberut, membuat Zhouyou merasa geli melihatnya. Ia membantu Ashia bangkit dan tak lupa merapikan roknya yang tersingkap dan kusut.


"Tapi sayang, kau kan memang Naga yang sebenarnya." elak Zhouyou.


"Kau tahu maksud pertanyaanku!" protes Ashia.


"Emm." Zhouyou mengangkat tangannya dan merapikan anak-anak rambut yang berantakan di kening Ashia. "Menurutku, kau akan menjadi Naga tercantik yang pernah aku lihat." ucapnya serius. Kata-katanya langsung membuat wajah Ashia memerah karena malu. Lagi-lagi orang ini merayunya di depan orang banyak. Dasar tidak tahu malu! Ashia memaki dalam hati namun tak urung merasa senang.


"Sirrian, mulai malam ini tak usah mencariku. Aku putuskan bahwa aku akan mengurung diri dalam kamar sampai Hanna datang! Aku sungguh tak sanggup harus melihat dua pasangan ini pamer kemesraan setiap harinya." Tarli mengerutkan wajahnya dengan ekspresi jijik. Ia berjalan keluar dari area istana pribadi Zhouyou dengan gontai, membuat Sirrian menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum. Tarli, apa perlunya pergi dengan lagak dramatis seperti itu? Yang sini dan yang sana, mengapa tak ada satupun dari saudara-saudaraku yang normal sih? Pikir Sirrian heran.


"Paman..." sapa Rowena pada Sirrian. "Luka Adonis..." Sirrian menoleh pada Rowena dan tersenyum senang. Setidaknya diantara mereka semua, masih ada 1 yang pemalu seperti Rowena.


Sirrian berjalan mendekati Adonis untuk memeriksa luka-lukanya. Sebenarnya walaupun saat ini terlihat mengerikan, luka-luka Adonis sama sekali tidak berbahaya. Klan Naga adalah adalah klan yang bukan hanya memiliki rentang kehidupan yang sangat panjang sama seperti bangsa Qu, namun mereka juga memiliki kemampuan untuk menyembuhkan diri-sendiri yang luar biasa. Dahulu, apabila bukan karena telah menghabiskan sari kehidupannya untuk melindungi dirinya dan Aspixia yang saat itu masih berupa telur, ketika terkurung dalam kawah gunung berapi selama berjuta-juta tahun, Zorex tidak akan semudah itu kehilangan nyawanya. Namun untuk luka sebatas kulit seperti yang dialami Adonis saat ini, dalam hitungan menit, luka tersebut akan kembali tertutup dan menghilang tanpa bekas, seolah-olah sama sekali tidak pernah terjadi. Hanya saja dalam setiap luka yang ada di tubuh Adonis masih terdapat serpihan kaca yang menancap sehingga menghentikan proses penyembuhannya. Yang perlu dilakukan Sirrian hanyalah mengambil serpihan tersebut satu demi satu sampai tak bersisa.


Sirrian menyuruh Adonis untuk masuk ke dalam Istana pribadi milik Zhouyou dan duduk di sofa yang ajaibnya masih utuh dan kering setelah diterpa badai es tadi. Ia lalu mengambil 2 buah pinset dan 2 pasang sarung tangan dari kotak alat kesehatannya. Sirrian menyerahkan sepasang sarung tangan dan sebuah pinset pada Rowena. Maksudnya sangat jelas. Ia meminta Rowena membantunya mengambil serpihan-serpihan kaca dari tubuh Adonis.


"Tidak adakah cara yang lebih cepat dan mudah daripada mengambil satu-persatu?" tanya Rowena ragu-ragu. Ia memandang luka-luka terbuka di punggung Adonis dengan kening berkerut. Walaupun tidak akan mengambil nyawa Adonis, luka-luka tersebut pasti terasa menyakitkan. Rowena takut ketidak ahliannya sebagai perawat dadakan hanya akan membuat rasa sakitnya menjadi bertambah buruk.


"Tentu saja ada. Kita bisa mengirim Adonis pulang ke Kuil Langit dan menyuruh Tucson untuk memasukkannya ke dalam tabung penyembuhan. Dalam hitungan detik, semua serpihan ini akan keluar semua. Tapi perjalanan pulang akan memakan waktu lebih lama daripada bila ini dikerjakan secara manual, sehingga pilihan tersebut sangat tidak efektif." Jawab Sirrian tenang. Tangannya mulai sibuk mengambil serpihan kaca dari punggung Adonis. Mendengar jawaban Sirrian, Rowena mengerutkan bibirnya dengan sedih. Sirrian benar, tak ada jalan lain bagi Rowena kecuali mengulurkan pinset dan mulai bekerja dengan hati-hati.


Sepanjang percakapan tersebut Adonis hanya diam dan mendengarkan. Bibirnya menyunggingkan seulas senyum, menggambarkan hatinya yang senang. Kekhawatiran Rowena pada dirinya membuat Adonis sangat bahagia. Ia merasa usahanya selama ini untuk mendapatkan hati Rowena, pelan tapi pasti mulai membuahkan hasil. Adonis merasa tidak keberatan terluka bila itu bisa memberinya point tambahan di hati Rowena. Baby, soon you will be mine! Janjinya dalam hati.


Copyright @FreyaCesare


Author Note:


Guys, chapter ini telah di schedule untuk up pada tanggal 20/06/2022, pukul 21.00 wib. Chapter-chapter lainnya juga di schedule untuk selalu up setiap jam 21.00 wib, kecuali untuk beberapa case khusus.. Tapi belakangan ini entah mengapa, walaupun telah di schedule, upnya selalu saja jadi terlambat. Saya masih belum tahu sebabnya mengapa proses review berjalan begitu lama, namun saya mohon kesabarannya ya. Insya Allah, mudah-mudahan hal ini gak terus-menerus terulang.


Terimakasih.


Freya