
Ketika mereka akhirnya menginjakkan kaki di Istana Langit, hari mulai senja. Di langit yang biru, semburat warna kemerahan mulai muncul dan matahari mulai bergeser ke balik pegunungan. Di bawah cahaya kemerahan tersebut ketampanan Adonis tampak sangat menggoda. Terutama ketika ia mendedikasikan setiap usahanya untuk merayu Rowena dengan senyum manisnya, berusaha mencairkan kekesalan wanita tersebut. Namun dengan keras kepala Rowena terus mengabaikannya dan berpura-pura tidak terusik oleh Adonis. Melihat sikap dinginnya, Adonis bersungut-sungut kesal, Terutama ketika senyum Rowena mengembang indah saat berpamitan dengan Yu Yi Fan di depan pintu pesawat.
"Pengkhianat!" Maki Adonis pelan pada punggung Rowena.
Ketika Adonis melewati Yu Yi Fan, dengan sengaja ia menginjak sepatu Yu Yi Fan keras-keras, lalu berlalu dengan sikap seolah tidak ada apapun yang terjadi. Yu Yi Fan yang terlalu terkejut untuk bersuara, hanya bisa meringis dan lalu tersenyum maklum. Selama ia mengenal Adonis, baru kali ini ia melihat sang Dewa gusar dan bertingkah kekanakan seperti itu. Membuat Yu Yi Fan menyadari betapa pentingnya sosok Rowena bagi Adonis. Siapa yang bisa menduga bahwa suatu hari nanti sang Dewa Adonis akan cemburu padanya yang bukan siapa-siapa ini. Yu Yi Fan menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa tak habis pikir.
Sementara itu Rowena dan Adonis berjalan beriringan menuju pintu besar yang merupakan jalan masuk utama menuju ke dalam istana. Di depan pintu mereka disambut oleh Lu Ling Ling, asisten pribadi Ashia. Rowena mengenal Lu Ling Ling sejak saat ia dibawa oleh sang Ratu memasuki istana untuk membantu semua tugas Ashia. Wanita itu cantik, berkulit sedikit gelap dan memiliki tubuh yang luar biasa seksi. Bahkan baju formalnya yang panjang dan tertutup rapat itu tidak mampu menutupi keindahan tubuhnya. Ia adalah salah satu Qu yang dilahirkan di Sirrian dan menghabiskan masa remajanya untuk memuja Adonis. Melihat bagaimana matahari terbit di wajahnya yang cantik begitu pupil matanya menangkap sosok Adonis membuat Rowena yakin bahwa Lu Ling Ling masih sangat tergila-gila pada Adonis. Wanita itu membusungkan dadanya yang penuh dan menggoyangkan pinggulnya dengan menggoda. Membuat Rowena semakin bertambah kesal.
"Yang Mulia Dewa Adonis, Yang Mulia Dewi Rowena, selamat datang!" Sapa Lu Ling Ling riang bahkan sebelum dirinya mencapai tempat dimana Rowena dan Adonis berdiri. Mulutnya menyebut nama Rowena, namun tatapan matanya yang bagai serigala lapar hanya melewati tempat dimana Rowena berdiri untuk kemudian menancap pada wajah Adonis, membuat Rowena mengernyitkan mata dan mengutuk dalam hati. Ekspresinya ini ditangkap oleh Adonis dan membuat sudut bibir pria itu bergerak naik. Lu Ling Ling baru berhenti berjalan ketika ia telah berada tepat di hadapan Adonis. Mendapati tiba-tiba seseorang telah berdiri begitu dekat dengannya hingga melampaui batas ruang pribadinya membuat Adonis terkejut dan tanpa sadar melangkah mundur. Melihat hal ini, sekarang giliran sebelah sudut bibir Rowena yang naik membentuk senyum samar.
"Mengapa kau yang menyambut? Dimana Master Shen?" Tanya Adonis, mengingatkan bahwa setiap kali anggota keluarga kerajaan berkunjung ke Istana Langit, Kepala Urusan Rumah Tangga Kerajaan, Shen Kuo atau yang biasa disapa Master Shen adalah orang yang biasanya datang menyambut.
"Master Shen saat ini sedang sedang tidak dapat meninggalkan sisi Yang Mulia Baginda Raja sehingga saya mengajukan diri untuk menggantikan beliau." Jawab Lu Ling Ling dengan nada suara manja diikuti kerlingan yang menggoda, membuat Rowena tanpa sadar mendengus kesal lalu berbalik dan kembali melangkah menuju Istana. Adonis hanya mengangguk dan dengan segera menyusul Rowena. Lu Ling Ling mengambil posisi dan berjalan disisinya. Melihat ini, tanpa sadar kening Rowena mengernyit. Adonis yang menangkap ekspresinya, menarik nafas panjang.
"Dimana saudara-saudaraku?" Tanya Adonis dengan nada suara yang dingin.
"Lord Sirrian dan Lady Tarli sedang bersama Yang Mulia Baginda Raja dan Ratu di ruangan pribadi mereka." Jawab Lu Ling Ling.
"Apakah ada sesuatu yang terjadi?"
"Er… saya tidak tahu pasti karena master Shen melarang kami untuk masuk kedalam kediaman pribadi baginda Raja. Namun bisa dipastikan bahwa sesuatu sedang terjadi."
Mendengar hal ini, Rowena mempercepat langkahnya sementara Adonis bergegas mengikutinya, meninggalkan Lu Ling Ling yang tidak mampu mengikuti kecepatan langkah klan Naga yang diimbuhi oleh kemampuan super. Hanya dalam sepersekian detik, Adonis dan Rowena telah mencapai istana pribadi tempat Sang Raja dan Ratu tinggal. Di halaman mereka bertemu dengan Master Shen yang tampak berdiri gelisah. Master Shen Kuo bertubuh kurus dan tinggi, dengan hidung tinggi yang angkuh dan pembawaan layaknya seorang bangsawan dari abad pertengahan. Ia mengatur dan mengawasi semua pegawai serta membagikan semua pekerjaan rumah tangga Istana. Ia juga bertugas memastikan bahwa seluruh kegiatan di Istana dapat berlangsung sebagaimana mestinya.
Master Shen sendiri adalah salah seorang keturunan bangsa Qu yang bermigrasi ke Sirria pada tahun-tahun awal Sirria mulai berkembang. Master Shen lahir dan dibesarkan di Sirria, sehingga daripada seorang Qu, ia lebih merasa bahwa dirinya adalah seorang Sirria yang sejati. Selama berabad-abad, Master Shen mengabdikan dirinya bagi keberlangsungan kehidupan di Istana, sehingga bagi semua orang, Master Shen telah menjadi sebuah bagian yang tidak bisa dilepaskan dari Istana. Ia layaknya salah satu menara yang menjulang tinggi di ke empat sudut Istana Langit. Tanpa dirinya, Istana langit mungkin akan terlihat berbeda dan tidak sempurna.
Saat ini, Pria yang selalu tampak terkendali di setiap keadaan itu terlihat cemas dan khawatir. Ia berdiri di halaman istana pribadi Zhouyou, tampak memandang ke jendela kaca yang gelap dengan kening berkerut dan bibir yang membentuk garis lurus. Tubuhnya yang kurus tampak membungkuk, menyebarkan aura kekhawatiran ke segala penjuru. Sungguh pemandangan yang tidak biasa di mata Adonis dan Rowena. Begitu tenggelamnya Master Shen dengan pikirannya sendiri, ia sampai tidak menyadari kedatangan Adonis dan Rowena.
"Master Shen?" Sapa Adonis.
"Ah, Yang Mulia Adonis! Yang Mulia Rowena!" Panggil Master Shen, tampak terharu melihat mereka berdua. Ia langsung tergopoh-gopoh berjalan mendekat dengan mata berkaca-kaca.
"Master Shen, ada apa? Mengapa terlihat khawatir begitu?" Tanya Adonis, terheran-heran pada sambutan Master Shen yang sedikit terlalu emosional. Apakah sesuatu telah terjadi sehingga Master Shen yang selalu penuh pengendalian diri menjadi kehilangan akalnya hari ini?
"Master Shen, apa yang sedang terjadi?" Tanya Rowena.
"Eh, itu… sejak hamil, emosi Yang Mulia Ratu jadi sedikit tidak stabil…" jawab Master Shen dengan hati-hati.
"Hmm? Apakah maksud anda, itu…" Kening Rowena berkerut. Ia menunjuk pada jendela dan pintu yang bergetar hebat dengan perasaan tidak percaya. "adalah perbuatan Ratu?"
"Benar, Yang Mulia." Sahut Master Shen sambil menunduk dalam-dalam. Adonis dan Rowena saling berpandangan kembali dengan terkejut.
"Apakah kekuatan Ashia semakin berkembang setelah sisi Naganya bangun?" Bisik Rowena pada Adonis.
"Sepertinya begitu." Sahut Adonis, balas berbisik. Memandang kabut tebal yang menutupi bagian dalam kaca jendela dan hawa dingin yang mulai terpancar dari dalam membuat kening Adonis dan Rowena semakin berkerut karena khawatir. "Tapi aku tak mendengar ada yang mengatakan apapun tentang hal ini."
Mereka memandang kabut yang menutupi bagian dalam kaca jendela. Kabut tersebut sangat tebal dan tampak semakin menebal di setiap detiknya sehingga menutupi pandangan ke dalam ruangan. Tak lama kemudian serpihan-serpihan salju nampak mulai terbentuk di kisi-kisi jendela, membentuk pigura tak beraturan pada jendela yang berubah warna semakin keruh akibat suhu yang sangat rendah.
"Aku tahu kalau Ashia bisa mengendalikan tornado. Tapi sejak kapan ia mampu mengeluarkan badai es?" Tanya Adonis terheran-heran.
Rowena berjalan mendekat dan mengulurkan jemarinya, hendak menyentuh jendela. Namun belum sempat tangannya menyentuh jendela, garis-garis retakan kecil yang terlihat bagaikan jaring laba-laba menyebar dengan cepat di jendela bersama deru suara angin yang makin kencang. Mata Rowena terbelalak lebar mengikuti gerakan retakan yang terus menyebar cepat ke seluruh bagian jendela. Adonis yang berdiri tepat di belakang Rowena, segera mengulurkan tangan untuk meraih Rowena menjauhi jendela. Namun belum sempat ia menarik Rowena menjauh, seluruh jendela kaca meledak dengan suara kencang, menyebarkan seluruh pecahannya ke segala penjuru, termasuk ke arah Rowena yang berdiri paling dekat dengan jendela.
"Rowi!" Tanpa berpikir, Adonis bergerak secepat kilat dan berdiri di antara Rowena dan jendela kaca yang meledak berkeping-keping. Tubuhnya membungkuk dalam di atas tubuh Rowena, membuat wanita tersebut tersembunyi dengan aman sementara tubuhnya sendiri menjadi perisai yang menyelubungi Rowena.
Rowena terpaku masih dalam posisi membungkuk dengan kedua mata tertutup rapat. Nafasnya tercekat di tenggorokan dan jantungnya berdetak sangat kencang. Ia membayangkan bahwa ratusan titik pada tubuhnya akan dihujam oleh rasa sakit akibat terkena pecahan kaca, namun rasa sakit itu tak kunjung datang. Ia malah merasakan kehangatan melingkupi tubuhnya, sepasang tangan melingkari dadanya dan nafas membara menggelitik telinganya.
"Rowi, apakah kau tidak apa-apa?" suara bariton Adonis yang bergetar penuh emosi, terdengar begitu dekat di telinganya. Rowena menarik nafas panjang, mencoba untuk menenangkan gemuruh di dadanya. Perlahan ia menegakkan tubuh dan memandang linglung pada pria yang sedang memeluknya tersebut. Wajah Adonis tampak cemas dan sebuah luka panjang dan dalam yang mengalirkan cukup banyak darah menghiasi pipinya, membuat mata Rowena membesar karena terkejut.
"Kau terluka!" ucap Rowena, menunjukan jarinya pada luka tersebut. Adonis mengusap pipinya yang terluka dengan ujung jari tangannya dan ketika ia melihat darah menodai ujung jarinya, Ia hanya mengerutkan bibir.
"Hanya luka kecil. Tidak apa-apa." Ucapnya. Tapi Rowena menariknya untuk berbalik, mencoba untuk melihat punggungnya yang tadi digunakan sebagai perisai bagi mereka berdua. Begitu matanya menangkap keadaan punggung Adonis, Rowena terkesiap kaget dengan mata membelalakkan lebar. Serpihan kaca tampak menancap di atas permukaan punggung Adonis. Tak terhitung jumlahnya. Darah mengalir dari luka-luka menganga yang disebabkan oleh pecahan-pecahan kaca yang tajam tersebut. Terlihat sangat mengerikan dan menyakitkan. Mata Rowena langsung memerah dan terasa panas, sementara bibirnya bergetar, tampak tak kuasa menahan tangis. Melihatnya, Adonis jatuh iba. Namun belum sempat ia melakukan apapun untuk menenangkan Rowena, sebuah suara mengejek datang dari arah pintu istana, mengalihkan perhatian mereka.
Copyright @FreyaCesare