
Zhouyou berbaring diatas sebuah batang pohon Chedar, memandangi langit yang biru. Pikirannya terus saja memutar ulang percakapannya dengan Baozhu.
"Jadi Zhouyou, maukah kau melindungi kami?'
Bagaimana ia dapat mengabaikan kalimat ini? Neneknya yang selama jutaan tahun enggan mencampuri urusan dunia; neneknya yang lebih suka memberikan pertanyaan sebagai jawaban dari setiap pertanyaan yang diajukan umatnya kepadanya agar mereka memilih sendiri jalan hidupnya; neneknya yang tidak pernah meminta apapun darinya; kini meminta sesuatu yang paling enggan Zhouyou berikan; kebebasannya.
"Untuk putramu, untuk Hanna, dan juga untuk seluruh dunia."
Bagaimana ia dapat menolak permintaan seperti itu? Tapi mampukah ia menerimanya? Mampukah ia menyerahkan sisa hidupnya yang masih sangat panjang kepada singgasana yang dingin
Zhouyou menarik nafas panjang. Tiba-tiba pohon tempatnya bertengger bergerak-gerak dengan kencang seolah sedang terjadi gempa. Zhouyou yang tidak berpegangan pada apapun, langsung jatuh terlempar dari batang kayu tempatnya berbaring tanpa sempat melindungi dirinya. Tubuhnya terlebih dahulu menghantam tanah yang hijau berumput, sebelum sebuah replika kasur angin muncul di bawah punggungnya dan memisahkannya dari tanah berumput sejauh 30 cm.
"Simaaaa!" keluhnya. Layar jam tangannya berkedip dan suara seorang wanita terdengar.
"Maaf, tuan. Aku sedang sleep dan merecharge bateraiku sehingga terlambat menyadarinya."
Zhouyou menghela nafas panjang dan mencoba untuk duduk. Saat itulah ia melihat Tarli dalam wujud panthernya dan Hanna sedang berdiri di hadapannya. Wajah Hanna tampak memucat karena terkejut.
"Maafkan aku, paman! Tadi aku sudah memanggilmu berkali-kali, tapi kau tidak juga menjawabku! Ja... jadi aku memberikan sedikit tenagaku pada Chedar dan memintanya untuk membangunkanmu. Tapi... tapi sepertinya aku memberikan tenagaku terlalu banyak sehingga Chedar bergerak terlalu kencang. Maaf ya..." Ucap gadis kecil itu terbata-bata. Zhouyou mengusap-usap pinggulnya yang terasa sakit.
"Jangan khawatir, Hanna. Ia tidak akan rusak semudah itu." Komentar Tarli. "Anggap saja kau sedang membalaskan dendam Xiao Bao." Membuat Zhouyou tersenyum masam.
"Tidak apa-apa, Hanna. Aku baik-baik saja." Ucap Zhouyou menenangkan, sambil bangkit berdiri. Saat ia melangkah meninggalkan kasur anginnya, kasur angin tersebut langsung diliputi cahaya berwarna biru dan menghilang secepat kemunculannya.
"Apakah punggungmu terasa sakit?" Tanya Hanna saat melihat Zhouyou mengusap-usap pinggang dan pinggulnya.
"Sedikit. Aku akan meminta Sima memijati dan mengolesi obat penghilang nyeri nanti." Jawab Zhouyou.
"Maaf." Hanna menunduk penuh penyesalan membuat Zhouyou merasa iba melihatnya. Ia membungkuk di hadapan gadis kecil itu dan mengusap-usap kepalanya.
"Hei, aku tidak apa-apa. Salahku sendiri sibuk melamun sampai tidak mendengar suaramu." Bujuknya sambil tersenyum. Hanna mengangguk.
"Aku juga bisa membantu memijatimu." Tarli menawarkan diri sambil mengangkat sebelah kaki depannya yang besar dan kuat. Zhouyou langsung menegakkan tubuh dan mengangkat kedua tangannya untuk melindungi diri.
"Itu tidak perlu, Nenek. Sungguh!" Elak Zhouyou.
"Sudah kubilang jangan memanggilku nenek!" Geram Tarli.
"Baik, nenek." Jawab Zhouyou lagi
senyum jahil menghiasi wajah tampannya. Tarli menggeram dan menerjang ke arah Zhouyou, tapi dengan gesit Zhouyou menghindar. Mereka lalu berkejaran melintasi seluruh area Kuil Langit. Sesaat mereka ada di langit terbuka, sekejap kemudian mereka berada di menara Kuil, lalu secara tiba-tiba melesat berpindah ke dalam hutan. Begitu cepatnya gerakan yang mereka lakukan sampai tak mudah terlihat dengan mata orang biasa. Suara pertengkaran mulut mereka timbul dan tenggelam disela-sela kencangnya suara angin yang dihasilkan oleh kecepatan gerakan tubuh mereka. Hanna berlarian mengikuti dengan khawatir. Lalu suatu ketika, saat Zhouyou melintasi sungai, Tarli berhasil mengejarnya lalu menabraknya dari belakang dengan menggunakan kepalanya. Zhouyou yang kehilangan keseimbangan, tercebur jatuh ke air yang dalam dan menghilang sesaat, kemudian muncul kembali dalam sebuah gelembung udara dengan tubuh yang basah kuyup.
"Simaaaa!" Zhouyou memprotes keras, sementara Tarli yang sudah mendarat di pinggir sungai tertawa terbahak-bahak.
"Maaf, tuan. Sepertinya ada sedikit masalah dengan programku. Aku akan segera memperbaikinya." Sahut AI tersebut dengan nada menyesal. Tubuh Zhouyou sesaat diliputi oleh cahaya berwarna biru, lalu ketika cahaya tersebut menghilang, ia sudah berganti pakaian. Kali ini tubuhnya dibalut piyama berbentuk sapi berwarna putih dengan sepasang sandal kamar berbentuk kelinci berwarna pink, membuat gelak tawa Tarli semakin kencang. Bahkan Hanna yang telah sampai di sisi Tarli tampak turut tertawa.
"Simaaaa, ini bukan saatnya memakaikan piyama padaku. Dan mengapa kau pasangkan piyama serta sandal seperti ini kepadaku?"
Lagi-lagi Zhouyou diliputi cahaya berwarna biru dan setelah cahaya tersebut menghilang, piyamanya sudah digantikan oleh celana jeans dan kaos oblong putih yang mencetak tubuhnya dengan indah. Sepasang sandal kulit berwarna coklat mengalasi kakinya. Zhouyou menarik nafas panjang dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Jangan menyalahkan Sima." ucap Tarli. "Sima hanya sedikit bingung karena virus yang ditanamkan Xiao Bao kepadanya." Jelasnya, membuat mulut Zhouyou terbuka karena terkejut. Akhirnya dewa peramal itu melakukan sesuatu untuk membalasnya.
"Setelah sekian lama aku menjahilinya, mengapa baru sekarang ia berpikir untuk membalasku?" Tanya Zhouyou heran.
"Itu karena ia berpikir bahwa kau berusaha menguasai adiknya. Anak malang itu tidak pernah perduli pada dirinya sendiri, tapi ia tak akan suka bila orang lain berusaha menyentuh miliknya."
Zhouyou tertawa tanpa suara. Ia lalu berjongkok di depan Hanna dan bertanya, "Hanna sayang, antara aku dan Xiao Bao, siapa yang lebih kau sukai?" Tanyanya.
Tanpa berpikir Hanna menjawab tegas "Kakak." Tawa Tarli kembali mengelegar nyaring sedangkan Zhouyou menundukkan kepala dan menekan dadanya dengan tangan kuat-kuat, kemudian ambruk ke atas rerumputan.
"Bahkan kaupun tak berpihak padaku." keluhnya.
Ia lalu menarik nafas panjang dan kembali memandangi langit yang biru sambil berpikir betapa indahnya hidupnya dan betapa damainya dunianya. Sungguh tak rela rasanya apabila negeri yang damai ini rusak hanya karena keserakahan. Zhouyou rela melakukan apapun untuk bisa melindungi dunia ini dan segala isinya; melindungi Baozhu, Hanna, Xiao Bao, bahkan Tarli yang menyebalkan itu.
"Sima, beritahu ayah bahwa aku sudah memutuskan untuk memenuhi permintaannya."
Sore itu Zhouyou kembali ke Istana Langit. Kedatangannya disambut oleh ayahnya di depan pintu gerbang dengan mata berkaca-kaca. Segera setelahnya, sang raja langsung memerintahkan agar upacara penobatan dipersiapkan. Hari-hari kemudian Zhouyou disibukkan oleh mempelajari berbagai urusan pemerintahan pada ayah dan kakeknya. Seluruh istana dibuat bingung oleh perubahannya; dari seorang pangeran yang nakal dan tidak perduli pada pemerintahan, menjadi putra mahkota yang serius dan penuh dedikasi.
Sore itu setelah sibuk seharian, Zhouyou berbaring di atas ranjangnya, mencoba untuk memejamkan mata sesaat, sebelum ia kembali menenggelamkan diri diantara buku-buku dan laporan-laporan yang sedang dipelajarinya.
"Tuan, ada video call dari Kuil Langit." ucap Sima.
Zhouyou membuka matanya. Bibirnya langsung menyunggingkan senyum lebar dan duduk tegak.
"Sambungkan, Sima."
Tak lama kemudian sebuah layar hologram muncul di hadapan Zhouyou. Wajah tersenyum Tarli muncul di dalam layar.
"Selamat atas penobatanmu, Putra Mahkota."
"Terimakasih, nenek. Senang sekali aku bisa menerima restumu." balas Zhouyou, tersenyum mengejek.
"Grrr." Tarli menggeram marah.
"Wow, kau bahkan bisa menggeram dalam wujud Sirrian. Luar biasa!" Goda Zhouyou. Tarli menyeringai garang pada kamera, namun sesaat kemudian wajah Sirrian muncul di dalam layar.
"Berhenti menggoda Tarli, Zhouyou. Coba lihat masalah apa yang sudah kau tinggalkan disini." Kata Sirrian. Lalu wajah Sirrian menghilang dari kamera, berganti sosok Baozhu yang sedang duduk di sofa dengan Hanna yang kepalanya berada diatas pangkuan Baozhu. Di sisinya, Xiao Bao duduk bertengger di tangan kursi.
"Hallo, nenek." Sapa Zhouyou.
"Hallo, Zhouyou. Kau terlihat lelah, nak."
"Itu karena Ayah dan kakek begitu kejam, nek. Mereka memberiku banyak sekali bacaan yang harus kupelajari." Keluh Zhouyou.
"Kau akan baik-baik saja. Kapanpun kau merasa lelah, datanglah kemari untuk bermain dengan Hanna." Baozhu menunduk, memandang gadis di pangkuannya. "Coba lihat, Zhouyou. Kau sudah membuat menantumu menangis." Fokus kamera lalu berpindah pada Hanna yang sedang menangis di atas pangkuan Baozhu.
"Hei, gadis kecil, ada apa denganmu? Mengapa engkau menangis?" Tanya Zhouyou. Hanna mengangkat kepalanya dan menatap ke layar. Matanya yang besar tampak bengkak dan memerah.
"Paman, apakah... apakah engkau marah padaku?" Tanya Hanna sesenggukan.
"Aku marah padamu? Mengapa aku harus marah padamu?" Tanya Zhouyou.
"Lalu setelah itu... kau langsung pergi tanpa berkata apa-apa padaku. Apa... apa itu karena kau marah padaku?" tanya Hanna terbata-bata.
"Tidak, Hanna. Aku pulang karena banyak hal yang harus aku kerjakan. Maaf aku pergi tanpa berpamitan padamu. Aku mencoba untuk menemuimu tapi saat itu kau sedang tidur. Maafkan aku ya." Bujuk Zhouyou, dalam hati merasa geli. 10 tahun atau 100 tahun anak kecil tetap saja anak kecil.
"Jadi kau bukan pergi karena marah padaku?" Tanya Hanna lagi.
"Tentu saja tidak, sayang. Ayolah, berhentilah menangis. Kau kan sudah berusia 100 tahun. Gadis-gadis lain seusiamu sudah mahir memasak dan membesarkan 4 atau 5 orang anak, bahkan juga 10 orang cucu. Tapi mengapa kau masih menangis seperti itu?" Goda Zhouyou.
"Aku bukan nenek-nenek! Aku hanya gadis kecil dan gadis kecil boleh menangis sesuka hati!" Sahut Hanna kesal. Zhouyou tergelak geli.
"Begitu donk. Hannaku tidak cocok dengan wajah menangis seperti itu. Hannaku harus selalu tersenyum dengan gembira dan berdebat dengan siapapun yang berani mengganggunya." Kata Zhouyou. Hanna mengangguk dan mengusap air matanya dengan punggung tangannya.
"Paman, kapan kau akan kemari lagi?" Tanya Hanna.
"Aku sedang sangat sibuk, nak. Nanti begitu aku ada waktu, aku akan mengunjungimu."
"Janji ya, paman."
"Aku janji."
Sayangnya setelah penobatannya sebagai raja langit, tak mudah bagi Zhouyou untuk bisa sering-sering menepati janjinya. Kesibukannya memimpin negeri langit membuat kakinya lebih sering terbelenggu di singgasana kerajaan. Bila sudah begitu mereka hanya bisa mengobrol lewat video call saja.
"Jadi paman," kata Hanna di salah satu video call mereka, "Kapan kau akan menikah?" Zhouyou yang sedang menyeruput segelas tes es, hampir tersedak karenanya.
"Eeeer...." Zhouyou tak tahu harus menjawab apa. Ia begitu sibuk menyesuaikan diri dengan pekerjaan barunya sehingga lupa pada satu hal yang menurut Hanna sangat penting tersebut. Melihat respon Zhouyou, Hanna menghela nafas panjang.
"Paman, kau kan tahu bahwa aku hanya bisa melihat dunia luar setelah aku menikah. Bagaimana aku bisa menikah kalau mertuaku; Yang Mulia Raja Langit, tidak juga menemukan istri bagi dirinya sendiri?" Hanna mendongakkan kepalanya ke atas dan menangkupkan tangannya untuk berdoa, "Ya Tuhan, mengapa kau jodohkan aku dengan putranya? Apakah kau menginginkan aku untuk terkurung selama jutaan tahun lamanya?" Zhouyou tersenyum geli melihat perilaku Hanna yang dimatanya tampak sangat menggemaskan.
"Eh, apa kau sedang menyumpahiku untuk tidak memiliki putra selama jutaan tahun ke depan?" tegurnya.
"Memangnya paman punya rencana untuk menikah?" balas Hanna.
"Tentu saja! Seorang raja harus menikah untuk mempertahankan kelangsungan garis keturunan kerajaan." Ucap Zhouyou. "Tapi Hanna, hal seperti ini tidak bisa diburu-buru. Aku harus memilih dengan hati-hati calon yang paling tepat untukku. Bukan hanya itu, aku juga tidak mau menikah dan menjadikannya keluargaku apabila aku tidak mencintainya."
"Apakah kau tidak punya seseorang yang kau cintai?" Tanya Hanna. Bayangan wajah seorang gadis berkelebat dalam ingatan Zhouyou, namun mengabaikannya, ia hanya menggeleng.
"Paman, apa kau mencintaiku?" Tanya Hanna. Zhouyou mengangguk.
"Kau menganggapku sebagai anggota keluargamu kan?" Tanya Hanna lagi.
"Tentu saja!"
"Lalu apa susahnya mencari cinta? Kau kan hanya bertemu sekali saja denganku, tapi langsung menjadikan aku sebagai keluargamu." Logika sederhana Hanna membuat Zhouyou tertawa geli.
"Bukan cinta yang seperti itu!" Hah, pikir Zhouyou. Apabila ada yang mendengar ini mereka akan berpikir bahwa Raja mereka sudah gila karena berdebat tentang cinta dengan seorang gadis kecil. "Dengar Hanna, cinta yang kita miliki adalah cinta seorang ayah kepada putrinya. Bagi seorang ayah setiap kali ia melihat putrinya yang muncul adalah perasaan gemas dan juga keinginan untuk melindunginya."
"Gemas?"
"Tapi cinta antara suami dan istri itu sangat berbeda. Ia masih memberikan rasa ingin melindungi, tapi dibandingkan dengan rasa gemas yang membuatnya ingin mencubit dan menjahili putrinya," Zhouyou mengedipkan sebelah matanya, Di dalam layar Hanna tampak meradang. "yang ada adalah rasa ingin... ahem" Zhouyou berdehem. "Aku pikir anak kecil belum saatnya untuk tahu."
"Eh?" Hanna meninggikan suaranya dengan kesal. "Paman, kau sedang bersikap tidak masuk akal!" Zhouyou tergelak geli.
"Tidak, nak. Justru menghentikanmu dari mengetahui hal yang anak kecil tak perlu tahu adalah perbuatan yang paling masuk akal." tegas Zhouyou.
"Aku sudah 100 tahun! Aku ini sebaya dengan nenek-nenek Sirrian!" Debat Hanna.Zhouyou berdecak dan menggelengkan kepalanya.
"ck ck ck. iya, iya. Kau selalu memutar balikkan masalah usiamu sesuai dengan kebutuhanmu. Jangan gunakan trik itu lagi ya! Sudah tak mempan padaku."
"Baiklah." sahut Hanna. Tiba-tiba suaranya menjadi sangat tenang seolah kekesalan yang ditunjukannya barusan tak pernah terjadi. Zhouyou mengangkat sebelah alisnya dan tersenyum geli.
"Rupanya Hannaku sudah besar ya. Ia pandai berpura-pura." komentarnya.
"Itu bukan berpura-pura, paman. Itu namanya bertindak masuk akal. Untuk apa aku terus merengek bila sudah jelas tidak akan berguna." Ucap Hanna membela diri, membuat Zhouyou mengangguk-anggukan kepalanya dengan gemas. Kau akan membuat putraku gila, nak! pikirnya.
"Hanna, kau ingin suami yang seperti apa?" Tanya Zhouyou. Tapi Hanna hanya memandangnya sambil mengedip-ngedipkan matanya, sepenuh tak mengerti harus menjawab apa.
"Apa kau ingin suami yang seperti aku?" Hanna mengerutkan bibirnya lalu menggeleng.
"Tidak!" Jawabnya tegas.
"Mengapa tidak? Aku kan tampan, gagah, cerdas dan menyenangkan! Dan aku juga seorang raja. mengapa kau tidak menginginkan suami seperti aku?" tanya
Zhouyou.
"Kak Xiao Bao bilang suami adalah dengan siapa aku akan menghabiskan hidup selama-lamanya. Aku akan bersamanya setiap hari, dari pagi sampai pagi lagi. Aku juga harus tidur di atas satu ranjang dengannya." Diam-diam Zhouyou memuji kecerdasan Xiao Bao dalam memberikan penjelasan pada Hanna. "Sedangkan kau; kau sangat cerewet, paman. Kau selalu mengejekku ini dan itu. Kau juga sangat suka berdebat denganku. Sebagai seorang ayah, kau ayah yang hebat, tapi apabila harus mendengarkan kecerewetanmu setiap hari, dari pagi sampai pagi lagi, aku bisa gila!" Keluh Hanna, lagi-lagi membuat Zhouyou tertawa.
"Lalu," tanya Zhouyou lagi setelah tawanya reda. "Kau ingin suami yang seperti siapa?"
"Seperti kak Xiao Bao." Sahut Hanna.
"Xiao Bao? Memangnya apa kelebihan Xiao Bao yang aku tidak punya?"
"Bersama kakak selalu membuatku tenang. Ia selalu menyemangatiku dan mengajariku banyak hal dengan sabar. Ia tidak pernah mengusiliku dan selalu memberikan apapun yang aku inginkan. Apabila aku sedih, ia akan memelukku dan membiarkan aku menangis sampai aku puas. Ia juga tidak pernah marah ketika ingusku mengotori bajunya. Dan yang terpenting lagi, ia tidak suka berdebat denganku!" Walau tidak terlihat, Zhouyou yakin Hanna sedang menjulurkan lidahnya kearah Zhouyou.
"Hmmm... itu masalah besar." Zhouyou menggaruk-garuk dagunya seolah-olah sedang berpikir keras.
"Masalah besar?"
"Kemungkinan besar putraku pasti akan mirip seperti diriku. Kalau kau tidak menyukainya, bagaimana kau bisa jadi menantuku?"
"Begitu ya? hmmm... kalau begitu bagaimana kalau paman mencari istri yang sifatnya mirip seperti kakak?" Usul Hanna. Hah? Istri seperti Xiao Bao? Entah mengapa yang terbayang di kepalanya adalah Xiao Bao dengan rambut panjang dan mengenakan pakaian wanita, sedang melotot padanya. Zhouyou bergidik ngeri.
"Hanna, kakakmu itu kan menyeramkan." Keluhnya.
"Itu kan karena engkau selalu mengganggunya. Begini saja, aku akan meminta bantuan nenek dan kakak untuk mencarikan istri bagimu. Paman tunggu saja ya. Dah paman!" tanpa menunggu jawaban Zhouyou, transmisi video dari seberang sana langsung dimatikan. Zhouyou tersenyum geli membayangkan ide apalagi yang sedang direncanakan calon menantu kecilnya itu.
"Ah, putraku, seperti apapun dirimu, kuharap bagi Hanna kau akan jadi pria yang lebih hebat dibandingkan Xiao Bao."
Copyright @FreyaCesare