Flower Of The Dragon

Flower Of The Dragon
Kemarahan Baozhu



Hanna berjalan gontai meninggalkan hutan. Tas rotannya ditinggalkan begitu saja sementara ia seolah tidak dapat mendengar suara Chichi dan Koko yang mencoba mengingatkannya.


Kata-kata sang peramal terus berputar ulang di kepalanya.


"Kau akan menjadi penyebab kematian jutaan orang! Kau akan menjadi penyebab kematian jutaan orang! Kau akan menjadi penyebab kematian jutaan orang!" hanya itu saja yang terus terngiang di kepalanya. Hanna serasa hampir gila karenanya.  Tak tahan lagi, Hanna berlari menyusuri ladang menuju ke Istana Bunga. Tujuannya hanya 1; gudang Istana Bunga.


Dibesarkan di sebelah Xiao Bao, Hanna sangat tahu bahwa setiap kali Xiao Bao meramalkan sesuatu, sebuah bola kristal kecil akan muncul dari dalam diri Xiao Bao. Bola kristal ini berisikan rekaman mengenai ramalan yang baru saja di ungkapkan agar kelak dapat diperdengarkan pada si pemilik ramalan bila saatnya tiba.


Apabila meninjau dari reaksi Baozhu, Hanna yakin bahwa ramalan yang di dengarnya dari wanita itu adalah benar adanya. Hanna juga yakin bahwa tidak mungkin Xiao Bao yang dibesarkan bersamanya tidak mengeluarkan ramalan tentang diri Hanna. Xiao Bao mungkin malah menjadi orang pertama yang memperingatkan Baozhu mengenai ramalan tersebut sehingga mendorong Baozhu mengeluarkan perintah untuk mengisolasi Hanna. Sekarang apabila Hanna ingin mengetahui kejelasan mengenai ramalan tentang dirinya, selain menanyakannya secara langsung pada Xiao Bao, maka satu-satunya yang bisa Hanna lakukan adalah menemukan bola kristal tersebut yang mungkin saja disimpan di Istana Bunga.


Sebagai Dewi Bunga, Hanna memiliki akses untuk menuju ke bagian mana saja dari Istana Bunga. Namun dari semua ruangan yang ada di istana bunga, ada 1 tempat yang tidak pernah dimasukinya. Tempat itu adalah gudang Istana Bunga. Sebenarnya tidak pernah ada larangan baginya untuk memasuki gudang tersebut, namun setiap kali ia mencoba memasukinya, selalu ada orang yang melarangnya dengan alasan bahwa tempat itu berdebu dan sangat kotor sehingga tak layak untuk di datangi oleh seorang Dewi. Selama ini Hanna selalu bersyukur bahwa bibi-bibinya sangat mencintainya sehingga ia tidak diijinkan melakukan kerja kasar serta memasuki tempat yang kotor. Namun kalau dipikir-pikir sekarang, Hanna menjadi yakin bahwa bibi-bibinya telah menyembunyikan sesuatu di dalam gudang tersebut. Itulah sebabnya saat ini gudang itu menjadi tujuan utama Hanna untuk menemukan batu kristal tersebut.


Tanpa suara, Hanna menyelinap masuk ke dalam Istana bunga. Dengan mudah ia menghindari orang-orang yang berlarian sambil memanggil-manggil namanya dan masuk lebih jauh lagi ke bagian belakang Istana. Tak memakan waktu lama ia sudah berada di depan gudang yang ditujunya. Tanpa menunggu seseorang untuk menghentikannya, Hannapun memasuki gudang.


***


Ketika Shuttle yang dikendarai Adonis akhirnya berada di atas Pulau Bunga, Baozhu, Xiao Bao dan Adonis dapat melihat kericuhan yang terjadi dari jendela Shuttle.  Para penghuni Pulau Bunga tampak berlarian ke segala arah. Melihat pemandangan tersebut Baozu menyadari bahwa pasti saat itu tak ada seorangpun yang melihat keberadaan Hanna dan pencarian besar-besaran sedang dilakukan. Jantung Baozhu terasa bagai dicengkeram oleh rasa takut.


Akibat keberadaan medan pelindung yang dipasang untuk mengisolasi Pulau Bunga dari dunia luar, maka tidak memungkinkan bagi Shuttle untuk mendarat langsung di halaman Istana Bunga.  Adonis kemudian memutuskan untuk mendaratkan Shuttlenya sedekat mungkin dengan pintu gerbang Pulau Bunga. Segera begitu pintu shuttle terbuka, Baozhu dan Xiao Bao langsung berjalan cepat melewati pintu gerbang Pulau Bunga tanpa bicara sepatah katapun. Adonis berjalan menyusul di belakangnya beberapa saat kemudian. Para prajurit penjaga pintu gerbang langsung membungkuk memberikan hormat.


Mereka bertiga sudah menempuh setengah jarak menuju Istana Bunga ketika mereka melihat Lady Dahlia dan beberapa saudarinya berjalan tergesa untuk menyambut kedatangan mereka. Begitu sampai di hadapan Baozhu, mereka semua berlutut untuk memohon pengampunan. Sepenuhnya mengabaikan kata-kata mereka, Baozhu bertanya,


"Dimana putriku?" Suaranya terdengar dingin dan penuh kegeraman.


"Kami belum berhasil menemukan Dewi Hanna, yang mulia." Sahut Lady Dahlia. Suaranya terdengar tenang dan kuat, hasil dari tempaan beratus-ratus ribu tahun mendampingi Dewi Bunga memimpin Klan Bunga.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Baozhu lagi.


"Ampuni hamba, yang Mulia. Tapi hamba sendiri belum mendapatkan kejelasan secara pasti mengenai apa yang sesungguhnya telah terjadi."  Jawab Lady Dahlia. Ia dan saudari-saudarinya masih berlutut di atas tanah karena belum dipersilahkan untuk bangun oleh Baozhu.


"Siapa yang telah berani membuka mulutnya pada putriku?" Bentak Baozhu. Suaranya yang geram membuat beberapa anggota klan bunga menjadi gemetar karena ketakutan.


"2 orang tamu dari Biro Kepegawaian Jiuling datang berkunjung beberapa jam yang lalu. Hamba menduga salah satu dari mereka mengatakan sesuatu mengenai hal ini pada Dewi Hanna."  Jawab Lady Dahlia.


"Bagaimana bisa? Bagaimana bisa orang luar mengetahui mengenai masalah ini padahal aku berpesan bahwa tak seorangpun dari kalian boleh membuka mulutnya dan menceritakannya pada orang lain!" bentak Baozhu.


"Hamba menduga, orang yang melakukannya adalah seorang yang memiliki kemampuan untuk meramal, yang mulia." Jawab Lady Dahlia.


"Mengapa kau biarkan seorang peramal memasuki Pulau Bunga?" hardik Baozhu semakin murka.


"Tamu ini datang sebagai pegawai Biro yang akan mengurus masalah bisnis dengan kami. Kami tidak menyadari bahwa salah satu dari mereka memiliki kemampuan ini. Tolong ampuni kami, yang mulia!" Lady Dahlia membungkuk dan menghantamkan keningnya ke tanah yang diikuti oleh saudari-saudarinya yang lain.


"Panggil dia kemari!" Geram Baozhu lagi.


"Hanna..." rintih Lady Dahlia dalam hati.


"Ada apa?" tanyanya pada prajurit yang sedang tersengal-sengal tersebut.


"Diluar... di depan pintu gerbang, ada sepasang wanita yang mengaku berasal dari Biro Kepegawaian Jiuling... bernama Lang Yuxiu dan San Tzi." kata si prajurit di antara tarikan nafasnya. Kening Lady Dahlia langsung berkerut heran. Untuk apa kedua wanita itu kembali lagi? Tapi syukurlah karena Yang Agung Baozhu menginginkan mereka untuk muncul ke hadapannya.


"Cepat bawa mereka kemari!" perintah Lady Dahlia.


"Tapi, Lady..." si prajurit berbicara ragu-ragu.


"Apa?" kejar Lady Dahlia.


"Kedua wanita ini dan kedua wanita yang datang tadi pagi... adalah orang yang sama sekali berbeda." jawab si prajurit takut-takut.


***


Beberapa waktu kemudian mereka semua sudah berada di Aula dalam Istana Bunga. Baozhu sedang duduk diatas singgasana Dewi Bunga dengan Xiao Bao berdiri di sebelah kirinya, sementara klan Bunga dan Adonis berdiri di hadapannya.


"Ini sesuatu yang direncanakan." ucap Adonis. "Seseorang tampaknya telah dengan sengaja membawa seorang peramal untuk bertemu dengan Hanna."


"Tapi kenapa? Tidak seorangpun disini pernah menceritakan tentang Ramalan Hanna pada siapapun!" tanya Lady Dahlia.


"Ramalan yang sama bisa diungkapkan oleh peramal yang berbeda. Jadi walaupun ramalan yang kubuat tidak pernah diungkapkan kepada siapapun, masih ada kemungkinan bahwa orang lain akan memiliki informasi yang sama begitu bertemu langsung dengan Hanna." Jawab Xiao Bao.


"Apa motifnya? Apa maunya?" tiba-tiba Adonis menendang meja yang ada di hadapannya dengan keras. Klan Bunga terlonjak kaget. Melihat kemarahan di wajah Adonis, tubuh mereka menjadi gemetaran karena ketakutan. Siapa yang tidak tahu betapa seramnya Dewa Adonis ketika ia murka. Sementara itu di atas singgasana di hadapan mereka, wajah sang Mahadewi Agung sudah sejak tadi memerah hitam karena amarah. Padahal siapapun tahu bahwa mahadewi yang agung, Baozhu, adalah pribadi yang bijak, welas asih dan tidak pernah menunjukkan kemarahan sebelumnya. Itu sebabnya klan bunga gemetar hebat di bawah tekanan kemarahannya. Melihat klannya yang memucat akibat rasa takut, Lady Dahlia menarik nafas panjang.


"Hanna, dimana dirimu, nak?" tanyanya dalam hati.


***


Hanna berjalan memasuki gudang dengan perlahan. Tempat itu begitu gelap. Meraba-raba dinding, Hanna mencoba menemukan saklar lampu. Ketika telapak tangannya berhasil menemukan sebuah tonjolan di dinding, Hanna langsung menekannya. Dalam sekejap, gudang tersebut langsung diterangi oleh cahaya lampu yang berpijar lemah dari langit-langit. Hanna memandang ke penjuru ruangan. Disana-sini berdiri rak-rak kayu besar berwarna gelap yang penuh di isi oleh berbagai benda dalam berbagai ukuran. Debu dan sarang laba-laba memenuhi setiap sudut ruangan dan di atas permukaan semua benda yang tidak tertutup.


Sesaat Hanna terdiam. Ia tidak tahu apa yang harus di carinya dan kemana ia harus mencarinya. Dalam gudang sebesar itu dan dengan barang sebanyak itu, bahkan walau mencari setahun lamanya pun, ia mungkin tak akan bisa menemukannya. Terpaku di tempatnya berdiri, Hanna memejamkan matanya untuk berpikir.


Lama Hanna terdiam dalam posisi tersebut, sampai kemudian tiba-tiba matanya kembali terbuka. Hanna kemudian melangkah mendekati sebuah rak yang berada paling dekat dengannya. Begitu ia telah berdiri di sebelah rak tersebut, Hanna menempelkan sebelah tangannya ke salah satu sisi rak dan berdiri diam, menunggu. 1 menit kemudian, seluruh rak-rak besar dalam ruangan tersebut tiba-tiba mulai bergerak dengan kencang, seolah sedang terjadi gempa, padahal lantai tak bergeser 1 inchi pun. Gerakan itu terus berlangsung selama 2 menit; menjatuhkan sebagian benda yang tertata di atasnya. Lalu dengan tiba-tiba pula, rak-rak tersebut berhenti bergerak. Ruangan yang baru saja ramai oleh suara derak kayu dan benda berjatuhan, kembali menjadi senyap.


Hanna mengedipkan matanya. Di satu sisi gudang, terdengar suara benda terlempar jatuh yang berdenting lemah, kemudian diikuti oleh suara benda yang menggelinding di atas lantai kayu. Tak lama kemudian sebuah benda bundar berwarna putih bening menggelinding ke arah Hanna dan berhenti tepat setelah menabrak sepatu kanannya. Hanna membungkuk untuk mengambilnya. Saat ia menegakkan kembali tubuhnya, sebuah bola kristal mungil sudah terjepit di antara kedua jarinya.


Dari luar gudang, suara Aspixia terdengar ramai memanggil-manggil namanya.


Copyright @FreyaCesare