
"Jadi," sebuah suara terdengar begitu dekat, berbisik di telinganya. "Apakah itu berarti kau berharap bahwa aku benar-benar datang untuk melamarmu?" Jantung Ashia serasa berhenti berdetak karena terkejut. Ia langsung berbalik dan menjauhkan diri dari Zhouyou yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakangnya. Wajah Ashia lagi-lagi merah membara Melihat wajah Zhouyou yang sedang tersenyum penuh arti padanya. Ashia langsung berbalik dan berjalan cepat meninggalkan ruang makan namun Zhouyou malah mengikutinya. Melihat hal itu, Ashia menoleh dan menghardiknya.
"Jangan mengikutiku!" Protes Ashia, sambil terus berjalan. Namun Zhouyou tetap saja mengikutinya.
"Ayolah, Ashia. Berhentilah berjalan dan beri aku waktu untuk mengobrol denganmu. Kapan lagi aku punya waktu untuk datang kemari dan mengunjungimu." Bujuk Zhouyou.
"Pergi sana!" Usir Ashia, masih terus berjalan. Zhouyou menggelengkan kepalanya geli. Terkadang Ashia bisa bertingkah sama kekanakannya seperti Xiao Bao.
"Tidak mau! Aku akan terus mengikutimu sampai kau berhenti dan memberikan waktu bagiku untuk bicara!" Tolak Zhouyou bersikeras.
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan!"
"Tentu saja ada! Misalnya kita perlu membicarakan mengenai alasan mengapa kau melarikan diri dariku sekarang ini." Ashia berbelok ke kiri, memasuki sayap bangunan tempatnya dan Hanna tinggal, yang merupakan deretan kamar berjajar disisi koridor yang sangat panjang dan berbelok-belok. Sebelum sampai di ujung koridor, sambil terus berjalan cepat, ia menoleh pada Zhouyou.
"Aku tidak mau bicara denganmu!" tolak Ashia tegas. Namun saat ia menghadap kembali ke depan, ia bertubrukan dengan sesuatu yang empuk namun kokoh. Ashia langsung terjerembab ke belakang dan masuk ke dalam kedua tangan-tangan Zhouyou yang sudah siap menunggunya. Ashia membeku dalam pelukan tangan-tangan Zhouyou. Apalagi ketika kemudian saat menoleh, ia menemukan wajah Zhouyou yang berada sangat dekat dengan wajahnya. Nafas Ashia tercekat di tenggorokan. Zhouyou yang menyukai keberadaan gadis itu dalam pelukannya, tersenyum manis, mengakibatkan jantung Ashia berdegup sangat kencang. Mereka diam tak bergerak, tak kuasa untuk mengalihkan pandangan dari satu sama lain, sesaat terbius oleh pesona yang dibawa oleh orang yang berada di hadapannya.
"Ah, Kak Ashia! Apa kau tidak apa-apa?" Sebuah suara membuyarkan momen tersebut dengan tiba-tiba. Ashia dan Zhouyou menoleh ke arah suara tersebut yang berasal dari depan mereka. Betapa terkejutnya keduanya ketika mereka melihat apa yang sedang berdiri di hadapan mereka.
Tepat di hadapan mereka, seekor Chimera berbentuk seperti seekor beruang kutub yang sangat besar dan gemuk, sedang berdiri tegak dengan Hanna menumpang di bahunya.
"Kak Ashia, apa kau tidak apa-apa?" Hanna mengulang pertanyaannya. Masih bersandar dalam pelukan Zhouyou, Ashia bicara terbata-bata.
"Kau... itu..." Ashia menunjukkan jarinya pada si Chimera.
"Ah, ini Lou, si Binda." Hanna menjelaskan sambil menepuk-nepuk sebelah pipi si Chimera. "Ia baru saja sampai disini tadi pagi. Bukankah ia lucu?"
Zhouyou mengerutkan keningnya melihat ukuran Chimera tersebut. Rasa khawatir menguasai hatinya melihat bagaimana Hanna bisa begitu percayanya pada mahluk yang baru dikenalnya pagi tadi. Tanpa sadar Zhouyou mengeratkan pelukannya pada tubuh Ashia. Ashia yang bisa merasakan ketegangan pada tubuh Zhouyou, memutuskan untuk menstabilkan posisi berdirinya namun tetap diam dalam pelukan Zhouyou.
"Mengapa kau berada di bahunya, nak? Turunlah. Kau pasti sangat berat baginya." suruh Zhouyou pada Hanna. Kekhawatiran terdengar dalam suaranya. Namun baik Zhouyou maupun Ashia melongo heran ketika kepala si Binda menggeleng, sambil menyeringai lebar. Mungkin ia bermaksud untuk tersenyum, pikir Zhouyou. Mungkin senyum tersebut akan terlihat indah seandainya saja penampilannya tidak terlihat begitu mengancam.
"Jangan khawatir, paman. Lou memintamu untuk tidak merasa khawatir karena ia tidak suka menyakiti siapapun. Lagipula ia baru berusia 10 tahun. Masih anak-anak. Ia tidak punya nyali untuk berbuat kejahatan." Ucap Hanna menjelaskan.
"Apakah kak Ashia terluka?" Tanya Hanna lagi, mengamati Ashia yang masih berada dalam perlindungan tangan-tangan Zhouyou. Ashia tersenyum pada Hanna dan dengan perlahan, menepis tangan-tangan Zhouyou dari tubuhnya.
"Aku baik-baik saja, Hanna." Ucapnya, menenangkan Hanna. Mendengar hal itu, Hanna mengangguk. Matanya melengkung menunjukan bahwa ia sedang tersenyum dari balik cadarnya.
"Kalau begitu aku akan kembali mengantar Lou untuk tour keliling kuil. Kalian bicaralah dengan tenang dan jangan berlarian di koridor ya." Ucap Hanna menggoda keduanya. Lou kemudian berbalik pergi dengan Hanna yang masih duduk di atas bahunya.
"Apakah kita perlu merasa khawatir?" tanya Ashia pada Zhouyou, saat memandangi punggung Lou dan Hanna sampai mereka menghilang di koridor yang lain. Sesaat Ashia sepertinya terlupa akan masalahnya dengan Zhouyou, karena kekhawatirannya pada Hanna.
"Pemeriksaan tidak ada salahnya untuk dilakukan. Lebih baik berhati-hati daripada harus terus berhadapan dengan ketidak Tahuan. Aku akan bicara dengan para peneliti mengenai hal ini. Tapi sungguh," Lanjut Zhouyou. "Chimera bisa keluar masuk Kuil Langit dengan bebas, apalagi yang sebesar itu, sungguh membuatku tidak nyaman memikirkan bahaya yang bisa mereka timbulkan."
"Jangan sampai Hanna mendengarmu. Ia pasti akan memarahimu habis-habisan. Baginya mereka adalah sahabatnya yang berharga. Tidak kalah berartinya dengan kau, aku maupun Xiao Bao. Chimera-chimera tersebut bahkan tidur bersama kami setiap malam." cerita Ashia.
"Setiap malam?" Zhouyou terheran-heran.
"Jangan khawatir. Yang tidur bersama kami hanyalah anak-anak Chimera dalam ukuran yang mungil. Mereka tidak berbahaya. Yah, walaupun kata paman Serrian, Raagh bisa melepaskan gas beracun bila ia ketakutan dan merasa terancam. Namun bila melihat bagaimana ia tidur di atas punggungnya semalam, Raagh sepertinya tidak punya rasa takut maupun khawatir sama sekali." Cerita Ashia.
Zhouyou mendengarkan dengan ngeri. Mengapa tidak ada seorangpun yang melarang Hanna dan Ashia untuk tidur bersama mahluk yang bisa menyemburkan gas beracun? Apa semua orang sudah gila? Melihat ekspresi Zhouyou, Ashia menepuk-nepuk pipinya lembut.
"Jangan terlalu khawatir. Raagh sangat manis. Ia tidak mungkin akan melukai Hanna maupun diriku. Tunggu sampai kau bertemu dengannya. Mungkin kau akan meminta untuk membawa Raagh pulang." Ucap Ashia menenangkan. Mendengar kata-kata Ashia, senyum menggoda Zhouyou Kembali ke bibirnya.
"Aku inginnya kau yang ikut aku pulang." ucapnya tiba-tiba. Ashia langsung terdiam. Hanya matanya yang mengedip-ngedip karena bingung. Responnya persis reaksi Hanna setiap kali ia merasa bingung. Kedipan-kedipan mata tersebut menandakan bahwa ia sedang berpikir keras untuk mencari respon yang tepat atas pernyataan yang disampaikan padanya. Zhouyou mendekatkan wajahnya pada Ashia, membuat kedua mata gadis itu terbuka lebar karena terkejut.
"Bukankah dahulu kau pernah berjanji bahwa kau akan menjadi kepala pengawal pribadiku bila aku menjadi raja?" Ucap Zhouyou, mengingatkan. Suaranya pelan dan menggoda, membuat Ashia lagi-lagi kehilangan kemampuan untuk berpikir. "Sekarang aku sudah menduduki tahta. Lalu kapan kau akan memenuhi janjimu padaku?" Zhouyou bergerak maju, membuat Ashia secara otomatis melangkah mundur. Tiba-tiba ia sudah tidak bisa mundur lagi karena punggungnya sudah menempel pada tembok yang dingin. Sekarang wajah Zhouyou sudah berada sangat dekat dengan wajahnya. Hanya dalam beberapa senti saja, maka hidung mereka akan saling bersentuhan. Ashia lagi-lagi kehilangan kemampuan untuk bernafas. kedekatan mereka membuatnya merasa sesak. Lalu pada suatu saat, ketika ia tidak tahan lagi pada kedekatan pria tersebut dengannya, Ashia memilih untuk menghantamkan kepalanya ke wajah Zhouyou.
"Aduh!" Zhouyou langsung mundur sambil menjerit. Kepala gadis itu tepat menghantam hidungnya. Saat ia mengangkat kepalanya kembali, Ashia telah berlari cepat dan meninggalkannya, mencoba membuat jarak sejauh-jauhnya di antara mereka.
Copyright @FreyaCesare