Flower Of The Dragon

Flower Of The Dragon
Sang Putra Mahkota dan Gadis Kecil Bercadar



100 tahun berlalu, kehidupan di Sirria yang bergerak lambat belum mengalami banyak perubahan. Er.... tapi mungkin tidak juga. Karena sebuah pergeseran kepemimpinan mulai terjadi di Kerajaan Langit.


Sang Raja Langit yang mulai merasa lelah pada rutinitasnya setelah menjadi penguasa selama 1 juta tahun, meminta Bao Zhouyou, sang Putra Mahkota untuk mengambil alih tahta. Sayangnya Bao Zhouyou tak memiliki ambisi untuk menjadi seorang Raja. Ia berargumentasi bahwa apabila Kakeknya, Bao Yang bisa bertahan memerintah selama 3 juta tahun, seharusnya sang Rajapun bisa memerintah setidaknya dalam jumlah waktu yang sama. Tapi sebagaimana sang Putra Mahkota enggan duduk di atas tahta kerajaan langit, dahulu sang Rajapun memiliki perasaan yang sama.


Saat masih seorang Pangeran, sang Raja selalu berpikir bahwa sebagai putra kedua Bao Yang, ia tidak akan perlu menduduki tahta. Tapi sayangnya di malam tepat sebelum Bao Yang mengumumkan bahwa ia akan pensiun, Putra Mahkota saat itu menghilang dengan meninggalkan sepucuk surat bagi adiknya, menjelaskan bahwa ia ingin mengikuti jejak kakek dan paman mereka untuk menjadi penjelajah semesta, dan oleh karena itu ia menitipkan ayah mereka dan seluruh Kerajaan Langit pada sang Raja.


Ketika sang Raja menginformasikan hal ini pada Bao Yang, putra sang Mahadewa tersebut menggerutu menyalahkan ayahnya karena memilih anaknya yang paling tidak ambisius untuk menjadi penggantinya, sehingga keturunannyapun memiliki sifat yang sama. Konon kabarnya Bao Yang memiliki sifat yang paling mirip dengan Baozhu. Ia pendiam, penyayang dan penuh welas asih. Bao Yang tidak memiliki keinginan untuk menjadi penguasa sebuah negeri, apalagi sebuah Planet. Namun karena ia adalah anak yang terlahir pertama kali, dan terutama karena Baotu sangat menyukai karakternya tersebut, Baotu kemudian memerintahkan Bao Yang untuk mengambil alih tahta darinya tanpa memperdulikan penolakan dari Bao Yang. Lalu sebagaimana Bao Yang tak mampu menolak titah ayahnya, maka sang Rajapun tidak boleh menolak titahnya dan segera mengambil alih tahta dari Bao Yang.


Sang Raja memiliki seorang kakak perempuan. Karena tidak berhasil membujuk ayahnya untuk memperpanjang masa jabatannya, dengan putus asa ia meminta agar ayahnya menyerahkan tahta pada kakak perempuannya saja. Apalah bedanya antara pria dan wanita? Toh Baozhu telah membuktikan bahwa wanita sama tangguhnya dengan pria. Namun mendengar kata-katanya ini, sang kakak yang berdiri tepat di belakangnya memukul kepala sang Raja dari belakang sambil bertanya, "Apa salahku hingga harus dihukum untuk menggantikanmu?"


Begitulah nyatanya, ketika para pemimpin Sirrian dan Tarli saling jatuh bangun berebut kekuasaan, pemimpin mereka, para dewa dan dewi Negeri Langit menganggap singgasana sebagai sebuah beban. Dan sekarang tibalah saatnya bagi Bao Zhouyou untuk memikul beban tersebut.


Bao Zhouyou yang merasa kesal karena permintaannya tak dipenuhi ayahnya, memutuskan untuk melarikan diri ke Kuil Langit dan mengadu pada neneknya. Sang Bijak, Baozhu hanya tersenyum mendengarkan sambil mengusap-usap kepala Bao Zhouyou di pangkuannya, saat cucunya itu menceritakan kegundahannya. Ketika Bao Zhouyou selesai bercerita dan meminta pendapatnya, Baozhu hanya menepuk sebelah pipinya dan berkata,


"Kau perlu mendinginkan kepalamu. Pergilah ke air terjun langit dan mandilah di sana. Mungkin setelah itu kau akan menemukan jawaban bagi kegundahanmu."


Maka pergilah Bao Zhouyou menuju air terjun langit. Air terjun tersebut terletak di belakang Kuil Langit. Ia merupakan bagian dari sebuah sungai kecil yang jernih yang di dasarnya hidup berbagai ikan dengan warna warni yang indah. Setelah melepaskan pakaiannya dan meninggalkan jam tangan pintarnya di atas sebuah batu, Bao Zhouyou berjalan ke bawah air terjun dan duduk di sana sambil bermeditasi.


Setelah bermeditasi selama 30 menit, ia bisa merasakan otot-otot tubuhnya mulai rileks dan sakit kepala yang terus mengganggunya mulai berkurang. Tersenyum karena kebahagiaan kecilnya tersebut, Bao Zhouyou memutuskan untuk meneruskan meditasinya lebih lama lagi, berharap air dapat pula menenangkan hati dan jiwanya. Namun sebuah suara kekanak-kanakan terdengar di hadapannya.


"Kenapa paman tersenyum?" Pertanyaan itu secara otomatis menyebabkan mata Bao Zhouyou terbuka karena terkejut.  Di hadapannya, berjongkok di atas batu karang basah yang sama yang sedang didudukinya, seorang anak perempuan mungil memandanginya. Wajahnya; dari atas hidung sampai ke dagu tidak terlihat jelas karena tertutup dengan cadar tipis. Sedangkan matanya yang bulat besar, dengan bola mata berwarna ungu dan dinaungi oleh bulu mata yang lentik dan tebal, sedang memusatkan seluruh perhatiannya pada Bao Zhouyou. Jauh di balik punggung si anak kecil, di atas sebuah batang pohon di pinggir sungai, sang Dewa Peramal, Xiao Bao sedang duduk bertengger dengan santainya.


"Aku sudah sering melihat orang meditasi di sekitar sini, tapi tidak ada yang sambil senyum-senyum seperti paman. Apa paman sedang membayangkan sesuatu yang lucu?" Tanya gadis kecil itu lagi.


Bao Zhouyou bertanya-tanya sejak kapan ada anak kecil di Kuil Langit? Sepengetahuannya, selama ini hanya Xiao Baolah satu-satunya anak kecil yang ada di Kuil Langit. Lalu siapa gadis kecil ini?


"Kenapa kau menutupi wajahmu?" Entah mengapa malah pertanyaan itulah yang terlontar dari mulut Bao Zhouyou. Anak kecil itu menyentuh cadarnya untuk menunjukkannya pada Bao Zhouyou.


"Ah ini? Ibuku bilang hanya keluarga dekat dan orang yang kucintai sajalah kelak yang boleh melihat wajahku." Jelasnya sambil mengangkat bahu.


"Kenapa?" tanya Bao Zhouyou lagi. Namun gadis kecil itu hanya mengangkat bahunya.


"Siapa namamu?"


"Hanna."


"Siapa ibumu?"


"Baozhu." Jawab Hanna.


"Kalau kau putri Baozhu, maka aku adalah cucumu." Goda Bao Zhouyou.


"Haha! Lucu sekali!" Sahut Hanna dengan wajah berkerut kesal. "Aku putri yang tercipta dari ketiadaan, sedangkan paman kan keturunan langsung Baozhu. Itu berarti garis darah kita tidak berkaitan dan kau tidak punya hubungan apa-apa denganku." Hanna bangkit dari posisi berjongkoknya dan mulai berjalan melintasi bebatuan menuju ke sungai. Bao Zhouyou yang turut bangkit dari duduknya untuk mengikuti Hanna, memandang terpesona pada bayangan kuntum-kuntum kecil bunga mawar yang muncul sesaat di atas jejak-jejak telapak kaki Hanna, sebelum kembali menghilang tanpa bekas.


"Hei! Aku ini seorang Putra Mahkota. Dan aku juga sangat tampan. Mengapa kau tidak menginginkan aku menjadi cucumu?" Goda Bao Zhouyou lagi.


"Kau sudah tua dan aku masih anak kecil, masa aku punya cucu di usia semuda ini? Itu sungguh sangat memalukan!"


"Memangnya berapa usiamu?"


"100 tahun."


"Itu adalah usia dimana seorang seorang Sirrian mencapai usia nenek-nenek."


"Aku tahu itu."


"Kalau sudah tahu ya jangan dibandingkan donk!". Hanna menjejakkan kakinya keras-keras ke atas batu, kemudian melompat jauh. Dengan sekejap ia sudah berada di pinggir sungai, tepat di sisi pohon dimana Xiao Bao bertengger. Bao Zhouyou segera mengikutinya.


Saat Bao Zhouyou sampai di pinggir sungai, Xiao Bao sudah berada di samping  Hanna dan sedang memperbaiki cadarnya. Bao zhouyou tersenyum jahil lalu membungkuk memberi hormat pada Xiao Bao yang hanya dibalas dengan anggukan. Walaupun Bao Zhouyou berusia ratusan ribu tahun lebih tua dari Xiao Bao, namun karena Xiao Bao adalah putra angkat nenek buyutnya, maka Xiao Bao memiliki posisi yang lebih senior daripada Bao Zhouyou di dalam keluarga. Tapi sebenarnya alasan utama mengapa Bao Zhouyou menunjukan sikap hormat yang berlebihan pada Xiao Bao bukan karena hal ini, tetapi karena sikapnya itu membuat Xiao Bao kesal.


"Kakak, aku tidak mau jadi nenek-nenek." Keluh  Hanna pada Xiao Bao, membuat Bao Zhouyou tersenyum geli.


"Kau hanya seorang anak kecil, Hanna. Anak saja kau belum punya, bagaimana kau bisa menjadi seorang nenek?" Sahut Xiao Bao.


"Tapi dia menyebutku sebagai neneknya!" Tuding Hanna pada Bao Zhouyou yang cengirannya menjadi semakin lebar.


"Jangan perdulikan dia. Saat masih kecil aku sering memukuli kepalanya dengan tongkat kayu. Itu sebabnya ia menjadi sedikit bodoh." Kata Xiao Bao. Matanya menyipit kesal pada Bao Zhouyou.


"Kenapa kau memukulinya?" Tanya Hanna heran.


"Karena ia memanggilku kakek." Jawab Xiao Bao. Tawa Bao Zhouyou langsung meledak geli mendengarnya. Karena anak tunggal, Bao zhouyou tak pernah merasakan kesenangan memiliki seorang saudara. Namun semenjak kedatangan Xiao Bao di Kuil Langit, Bao Zhouyou yang menganggap Xiao Bao sebagai pengganti seorang adik, mendedikasikan waktu berkunjungnya ke Kuil Langit untuk menjahili Xiao Bao. Terutama karena ia menyukai perilaku Xiao Bao yang sok dingin dan sok gagah, padahal mudah dibuat kesal dan takut oleh hal-hal sederhana, contohnya seperti saat dipanggil kakek atau saat Bao Zhoyou meletakkan seekor ular mungil di atas ranjang Xiao Bao, yang kemudian tidur melingkar dengan nyaman di atas bantal kesayangannya.


"Apakah aku harus memukulnya juga?" Tanya Hanna. Ia menatap Bao Zhouyou dengan seksama, tampak menimbang-nimbang baik atau buruk idenya itu. Mendengarnya, Bao Zhouyou langsung mengangkat kedua tangannya, menunjukan tanda menyerah.


"Kau tidak boleh melakukannya." Sahut Xiao Bao.


"Kenapa tidak boleh?" Tanya Hanna lagi.


"Karena ia akan menjadi ayah mertuamu."


Jawaban terakhir Xiao Bao bukan hanya membuat Hanna melongo heran, namun juga mengagetkan Bao Zhouyou. Ia melipat kedua tangannya di dada dan memandangi lagi dengan lebih seksama gadis kecil yang ada di hadapannya, menimbang-nimbang.


Namanya Hanna. Pikir Bao Zhouyou. Melihat dari residu jejak kakinya, ia pasti Dewi Bunga yang baru dilahirkan. Keluarga kerajaan memang sempat diberitahu bahwa dewi bunga yang baru telah lahir, namun tidak seorangpun pernah melihat wajahnya. Lalu mengapa nenek buyut memerintahkan Hanna untuk memakai cadar guna menutupi wajahnya? Apakah ia sangat jelek? Tapi tak pernah ada satupun klan bunga yang berwajah buruk rupa. Lalu mengapa Xiao Bao mengatakan bahwa Hanna akan menjadi menantunya padahal istripun ia belum punya? Pertanyaan ini menggelitik rasa ingin tahu Bao Zhouyou.


Saat Xiao Bao menarik tangan Hanna dan membawanya pergi, Bao Zhouyou segera mengambil jam tangannya yang tergeletak di atas sebuah batu dan berkata,


"Sima, tolong jubah mandiku." Tubuh Bao Zhouyou seketika diselimuti oleh cahaya berwarna biru. Setelah beberapa detik, cahaya tersebut menghilang dan pakaian basahnya telah tergantikan dengan sebuah jubah mandi tebal berwarna coklat keemasan dan mengenakan sepasang sandal kamar berbahan bulu berwarna senada. Lalu


sambil bersiul riang, Bao Zhouyou mengikuti Xiao Bao dan Hanna.


Menyadari bahwa Bao Zhoyou mengikuti mereka Xiao Bao mempercepat langkahnya. Hanna yang tangannya masih digenggam Xiao Bao menjadi setengah terseret karenanya. Ketika Hanna menoleh ke belakang, Bao Zhouyou tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya kepadanya. Namun bukannya balas tersenyum, Hanna malah mengerutkan keningnya seolah sedang berpikir keras.


"Kakak," panggilnya pada Xiao Bao. "Kau mau membawaku kemana?"


"Menjauhinya."


"Tapi ia masih terus mengikuti kita."


Xiao Bao menoleh dan memberikan tatapan paling jahatnya pada Bao Zhouyou. Namun hal itu malah membuat cengiran Bao Zhouyou bertambah lebar. Lagi-lagi ia mengedipkan sebelah matanya pada mereka.


"Kakak, mengapa kita menjauhinya?" Tanya Hanna lagi.


"Karena ia menyebalkan." Sahut Xiao Bao. Gelak tawa berderai Bao Zhouyou langsung membahana nyaring mendengar jawaban Xiao Bao.


Copyright @FreyaCesare