
Saat mereka sampai di ruang kontrol, Baozhu dan semua saudara-saudara Hanna sudah berada disana. Baozhu langsung menarik Hanna ke dalam pelukannya.
"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Baozhu. Hanna mengangguk.
"Aku tidak apa-apa, ibu."
Setelah memperoleh konfirmasi bahwa tidak ada masalah dengan anggota keluarga mereka, semua orang kembali mengalihkan perhatian keluar jendela.
"Hanna tolong bantu aku bicara dengan Daaz." Pinta Sirrian.
Hanna melepaskan diri dari pelukan Baozhu. Setelah memberikan Raagh pada Xiao Bao, Hanna mendekati Daaz yang masih berada dalam gendongan Ashia. Daaz dan Zath sudah tidak lagi terlihat linglung. Hanna meraih Daaz dari dalam pelukan Ashia dan meletakkan Daaz ke atas meja konferensi. Zath menyusul dan melompat naik ke atas meja untuk berdiri di samping Daaz. Namun apabila Zath kembali menoleh ke arah jendela, Daaz tetap mempertahankan kontak matanya dengan Hanna.
"Daaz, apa sekarang kau sudah bisa mendengarku?" Tanya Hanna. Daaz mengangguk. "Ada apa, Daaz? Apa yang terjadi dengan para Chimera?"
"Kami bisa merasakannya." Daaz berbalik dan menoleh ke jendela.
"Apa yang kalian rasakan?"
"Bahaya. Kami merasakan bahwa ada bahaya besar yang akan terjadi."
"Dimana?"
"Tidak disini."
"Apa itu bencana alam?"
"Kami bisa merasakan niatnya. Tekadnya yang kuat... hawa jahatnya yang mencekam di udara..."
"Darimana? Daaz, darimana hawa jahat itu berasal?"
"Dari dalam bumi. Ia akan melompat ke udara dan terbang bebas di langit yang tidak berbatas. Itu yang ia pikirkan dan kami bisa merasakan kebahagiaannya yang menakutkan."
Hanna menyampaikan kata-kata Daaz pada semua orang.
"Sensor menunjukan adanya pergerakan yang aktif pada sebuah gunung berapi yang berada 250 km dari Terra. Terra sudah merasakan gempa-gempa kecil sejak 1 jam yang lalu." Suara Zhouyou terdengar dari pengeras suara. Rupanya seseorang sudah menghubungi Zhouyou.
"Daaz, apakah kau sedang membicarakan tentang gunung berapi?" Tanya Hanna.
"Bukan Hanna. Gunung berapi itu adalah penjaranya. Begitu gunung berapi tersebut meletus maka ia akan bebas."
"Siapa yang kau maksud dengan dia itu, Daaz?"
"Aku tidak tahu, Hanna. Kami bisa merasakan emosinya, gairahnya, amarahnya, tapi kami tidak dapat melihat wajahnya. Yang jelas ia berasal dari waktu yang sangat jauh. Dari masa ketika kehancuran belum memporak-porandakan dunia ini dan membunuh semua yang pernah hidup diatasnya."
"Darimana kau mengetahui semua ini?"
"Kami bisa mendengar pikirannya. Ia tidak keberatan untuk menyiarkannya kemana-mana."
Apa ia terkurung dalam gunung berapi? Mahluk apa yang sampai harus dikurung dalam gunung berapi? Mahluk apa yang bisa tetap hidup dalam kurungan selama jutaan tahun? Mahluk apa yang tetap hidup ketika dunia di sekitarnya musnah? Begitu pertanyaan yang berkecamuk dalam benak semua orang.
"Daaz, menurutmu apa yang harus kita lakukan?" Tanya Sirrian.
"Mempersiapkan diri untuk yang terburuk." Jawab Daaz.
"Lihat!" Tarli menunjuk keluar jendela. Di halaman belakang, para Chimera satu-persatu berbalik meninggalkan halaman belakang dan memasuki hutan.
"Daaz, mau kemana mereka?"
"Bersembunyi."
"Apa kau akan pergi juga?"
Bukannya menjawab, Daaz menoleh ke arah pintu. Seseorang sedang mengetuk pintu yang tertutup rapat. Bao Chen Yang yang berdiri paling dekat dengan pintu, membuka tombol kunci dan membiarkan pintu otomatis tersebut terbuka sambil berjaga di depannya. Namun sesaat kemudian ia berjalan mundur dengan perlahan. Dihadapannya berdiri seekor Macka raksasa. Kucing Chimera tersebut berbulu panjang berwarna hitam pekat, dengan wajah yang garang. Mungkin beratnya mencapai 200 kg. Dibelakangnya, seekor Varu dewasa mengikutinya. Varu dewasa tersebut ukurannya hanya sedikit lebih besar dari serigala dan luar biasa tampan. Jari-jemari Ashia terasa gatal ingin menyentuhnya. Lalu di belakangnya lagi, muncul seekor Deneget'e yang sama besarnya dengan Tarli. Ketiganya memasuki ruangan dan berdiri di depan pintu, membuat semua orang menahan nafas karena terkejut. Daaz dan Zeth menuruni meja dan berjalan ke samping versi dewasa mereka. Dibelakang Deneget'e, 4 versi mininya muncul di antara kaki-kaki ayah mereka.
"Ayah Daaz, Jaaz. Ibu Zeth, Zunith, dan Ayahnya Nix, Xiam." Hanna memperkenalkan ketiganya pada keluarganya. Xiam menggeram ketika namanya disebut. Terdorong instingnya yang merasa terancam oleh kehadiran 3 Chimera yang tampak luar biasa tersebut dan juga oleh geraman Xiam, Tarli langsung berubah kembali ke wujud aslinya. Suara geramannya memenuhi ruangan, membuat Sirrian harus memeluk lehernya untuk menahannya.
"Tenanglah, Tarli! Tenanglah!" bisiknya, menarik kencang kulit di sekitar tengkuk Tarli. Baozhu mendekati Tarli, mengelus kepalanya penuh sayang, lalu memposisikan diri di hadapan Tarli. Gestur ini merupakan perintah tidak langsung dari Baozhu agar Tarli tidak mencoba menyerang tamu-tamu baru mereka. Baozhu membungkuk kehadapan mereka, dan secara mengejutkan ketiganya membalas dengan melipat sebelah kaki dan menundukkan kepala mereka ke arah Baozhu.
"Jaaz bilang, semua Chimera sedang dalam perjalanan pulang ke rumah mereka. Namun mempertimbangkan kebaikan kita pada anak-anak mereka selama beberapa Minggu ini, mereka bersedia untuk tinggal dan membantu menghadapi masalah yang akan datang." Ucap Hanna.
"Rumah? Dimana rumah mereka?" Tanya Ashia. Hanna menoleh pada Jaaz lalu menjawab,
"Di tempat yang aman dari gangguan siapapun." Yah, jawaban itu agak ambigu namun tak ada satupun yang berniat untuk mencari tahu lebih jauh.
"Saya dan keluarga saya sangat menghargai niat dari Chimera semua untuk membantu kami. Sayang sekali, hanya Hannalah yang bisa berkomunikasi dengan anda semua." Kembali Baozhu membungkukkan tubuhnya memberi hormat untuk mengucapkan terimakasih, yang diikuti oleh anak-anaknya.
"Apakah Tuan Jaaz mengetahui bahaya apa yang sedang mengancam kita?" Tanya Baozhu kembali. Jaaz memandang pada Hanna, sementara semua orang memandang dengan takjub komunikasi yang terjalin diantara mereka. Tak ada satupun yang memahami mengapa hanya Hanna yang bisa berkomunikasi dengan para Chimera.
"Jaaz menyebutnya Jiwa yang tua. Entitas tersebut adalah mahluk yang telah hidup begitu lama, jauh sebelum Sirria lama hancur. Tak satupun dari Chimera pernah bertemu dengannya, namun Jaaz pernah mendengar cerita tentang kekejaman entitas ini dahulu kala, saat ia masih kecil. Jaaz bilang entitas ini pernah menimbulkan kerusakan yang sangat besar sehingga penduduk Sirria kuno, karena tak bisa membunuhnya, memutuskan untuk mengurungnya agar tidak menyebabkan kehancuran lebih jauh lagi. Siapa sangka bahwa penjaranya justru menyelamatkannya saat seluruh peradaban lama hancur." Semua orang terpana mendengar cerita ini. Ini adalah pertama kalinya mereka menemukan seseorang yang mengetahui cerita tentang Sirria sebelum kedatangan Qu's.
"Bagaimana Jaaz bisa mengetahui mengenai hal ini padahal bahkan setelah 10 juta tahun, kami tidak berhasil menemukan sedikit petunjuk pun yang bisa menggambarkan bagaimana kehidupan pada masa Sirria kuno." Tanya Sirrian.
"Itu karena Jaaz dilahirkan beberapa bulan sebelum bencana yang menghancurkan peradaban Sirria terjadi."
"Eh, apa Chimera bisa hidup selama itu?" Tanya Sirrian heran. Karena berdasarkan cerita yang dikumpulkannya dari para Chimera sebelumnya, usia Chimera hanya berada di rentang 100 sampai 500 tahun.
"Tidak. Rentang usia Macka hanya sekitar 500 tahun. Jaaz baru berusia 300 tahun."
"Tapi tadi dia bilang dia lahir pada masa Sirria. kuno?"
"Bisakah kita semua duduk sebelum menjawab itu? Jaaz bilang ceritanya sangat panjang." keluh Hanna.
Copyright @FreyaCesare