Flower Of The Dragon

Flower Of The Dragon
Cerita Jaaz



Hal pertama yang dilihat Jaaz ketika membuka mata untuk pertama kalinya dalam hidupnya adalah wajah keibuan tuannya. Tuannya adalah seorang wanita yang tidak banyak berbicara, namun sangat penyayang. Rambutnya lurus dan berwarna hitam legam, kulitnya pucat karena terlalu banyak berada di laboratorium dan ia selalu tampak murung. Namun setiap kali ia bertatapan dengan Jaaz, senyum selalu mengembang dengan mudah di wajahnya yang cantik.  Semenjak lahir sampai hari akhir tuannya, Jaaz praktis dibesarkan di atas pangkuannya. Jaaz juga ingat bahwa selain tuannya, tak ada seorangpun yang sejenis tuannya tinggal di sana. Hanya ada para Chimera dan tuannya saja.


Jaaz ingat ia terlahir dari dalam sebuah pod, di sebuah laboratorium bawah tanah yang besar. Dan ia tidak sendirian. Di sebelah pod nya, ada banyak pod-pod lain berisi berbagai jenis binatang, 2 ekor setiap jenisnya. Mereka bukanlah hewan yang dikembang-biakan secara alami, namun mereka adalah hasil rekayasa genetik. Ia dan teman-temannya didesain untuk menjadi lebih kuat, lebih cerdas dan lebih panjang umur dari mahluk aslinya.


Ia pernah bertanya mengapa tuannya menciptakan dirinya dan teman-temannya. Saat mendengar pertanyaan tersebut, tuannya tampak tercenung sesaat sebelum kemudian menjelaskan.


"Dunia ini sudah mencapai batasnya. Binatang-binatang tak lagi memiliki kemampuan untuk hidup di tengah kerusakan yang kami sebabkan. Sebentar lagi semua yang ada di atas dunia ini akan musnah, tapi kelak setelah jutaan tahun, selama planet ini tidak hancur berkeping-keping, ia akan memperbaiki diri dan hijau kembali. Kalian diciptakan untuk bisa hidup pada masa itu. Kalian harus lebih kuat untuk menghadapi berbagai masalah, serta lebih cerdas untuk bisa melindungi diri, baik dari alam, maupun dari keserakahan mahluk lain."


"Tapi kami hanya binatang, tuan. Apa kami mampu?"


"Kalian bukan binatang. Kalian adalah anak-anakku. Kalian memiliki semua yang kalian perlukan untuk hidup dan berkembang biak. Aku akan memastikan hal tersebut." Jawab tuannya dengan mata berkerlip. Itu adalah saat-saat yang sangat jarang terjadi. Biasanya mata tuannya selalu sendu dan tampak nyaris mati. Berbeda dengan impiannya akan kehidupan bagi Chimera, tuannya tampaknya sudah tidak memiliki impian bagi hidupnya sendiri.


Untuk mereka, tuannya membangun sebuah Solarium besar dimana ia menciptakan ruang yang menyerupai habitat aslinya, sehingga mereka bisa berlarian dengan bebas dan merasakan seolah hidup di alam liar, jauh dari polusi udara yang merajalela dan terlindung dari hujan asam yang mematikan.


Jaaz ingat bahwa mereka sempat tinggal di sana sampai ia berusia 6 bulan. Dari dalam Solarium ia melihat bagaimana perang berkecamuk di langit. Mesin-mesin saling beradu dengan  sesama mesin atau dengan mahluk-mahluk besar bersayap. Namun Jaaz ingat bahwa ia tak pernah merasa takut karena tuannya sudah memastikan bahwa Solarium tersebut terlindung dari mata-mata mahluk asing. Kalau sudah begitu biasanya mereka semua akan turun ke basemen dan tinggal disana sampai kericuhan di angkasa berhenti. Lalu mereka biasanya menghabiskan waktu dengan mendengar tuannya bercerita tentang berbagai kisah dari dunia manusia yang tidak pernah Chimera lihat sebelumnya.


Salah satu kisah yang paling Jaaz ingat adalah kisah tentang kehidupan masa lalu tuannya bersama seorang pria yang bisa berubah menjadi seekor naga. Sang pria adalah salah satu orang mempelopori berdirinya negeri tersebut. Ia pernah menjadi sumber dari banyak kehidupan dan menjadi guru bagi banyak figur di dunia.  Namun ketika dunia bergerak kearah kehancuran, ia melepaskan semua prestise dan kemudahan yang selama itu selalu ia nikmati dan berbalik untuk menyuarakan dengan keras tentangan terhadap eksploitasi teknologi dan sumber daya planet tersebut. Namun tidak seorangpun yang memperdulikannya. Pria itu lalu melakukan berbagai hal untuk menyabotase semua proyek pemerintah yang dianggapnya berbahaya. Namun tak satupun upayanya mampu menghentikan determinasi pemerintah untuk mewujudkan semua ambisi mereka.


Pria itu sedang berada di ambang kehancuran karena kegagalannya dan kekecewaannya pada pemerintah, ketika mereka, sang tuan dan lelaki itu bertemu. Tuannya bukanlah seorang wanita yang memiliki ketertarikan pada hal-hal yang bersifat duniawi dan ini membuat sang pria menganggapnya istimewa. Di dunia dimana manusia begitu malas dan manja, wanita seperti tuannya rupanya sangatlah berbeda. Mereka kemudian hidup bersama. pria itu mengajari tuannya tentang teknologi, sedangkan tuannya mengajari pria itu tentang bagaimana caranya mencintai kehidupan.


Dalam kesedihannya, tuan mereka berjalan menyusuri kota-kota yang hancur, mencoba menemukan jejak-jejak kehidupan dibawah puing-puing bangunan, dan mengumpulkan mereka di tempat yang aman. Lalu setelah tuannya merasa lelah, berbekal teknologi yang dipelajarinya dari kekasihnya, ia kemudian mulai membangun Solarium di atas puing-puing rumahnya dan menyibukkan diri untuk menciptakan Chimera.


Pada suatu hari, tuannya memanggil Jaaz dan teman-temannya untuk berkumpul. Ia lalu menyampaikan pada mereka bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi diluar sana, yang akan berakibat sangat buruk bagi seluruh planet. Tuannya mengatakan bahwa ia tidak akan membiarkan hal itu terus berlanjut. Ia akan memastikan bahwa anak-anaknya akan bisa hidup di dunia yang aman dan ia sudah mempersiapkan semuanya. Tuannya menyampaikan bahwa sekarang sudah tiba saatnya bagi Jaaz dan semua Chimera yang ada di sana untuk tidur dan menunggu masa depan mereka tiba. Lalu mereka diperintahkan untuk masuk kembali ke dalam pod-pod, seperti saat mereka baru diciptakan. Tuannya meyakinkan mereka bahwa di dalam sana mereka akan baik-baik saja dan lalu saat mereka membuka mata, dunia pasti sudah berubah menjadi tempat yang lebih layak untuk didiami.


Berbeda dengan Pod berisikan cairan protein yang mereka tempati saat diciptakan, Pod baru yang akan mereka tempati adalah Pod cryonic yang dibuat khusus sesuai dengan ukuran tubuh mereka. Pod-pod itu diletakkan dalam sebuah kamar kedap udara dan didukung oleh sistem AI yang telah disiapkan agar dapat bekerja selama jutaan tahun dan memiliki kemampuan untuk memperbaiki diri sendiri. Demi melindungi kemungkinan dari kehancuran planet, begitu mereka sudah berada dalam pod, kamar kedap udara yang mereka tempati akan dipindahkan ke kantung-kantung antar dimensi, sehingga begitu planet hancur berkeping-keping, mereka akan pindah ke dimensi lain atau mungkin juga planet lain yang lingkungannya paling mirip dengan planet mereka, tergantung bagaimana nasib membawa mereka.


Maka masuklah mereka ke dalam pod-pod tersebut dimana mereka dibekukan selama jutaan tahun. Hingga pada suatu hari, setelah bekerja begitu lama, AI yang menjaga mereka akhirnya menyerah. Saat Jaaz membuka mata, seluruh pod telah terbuka, begitu pula kunci kamar kedap suara tersebut.


Dibutuhkan waktu selama sehari penuh sebelum Jaaz dan teman-temannya menemukan cara untuk membuka pintu. Lalu saat akhirnya pintu terbuka, mereka telah berada di dalam hutan di kawasan Kuil Langit. Jaaz tak dapat memastikan berapa lama mereka semua telah tertidur. Namun semenjak itu mereka hidup dan berkembang biak dengan tetap menyembunyikan diri di hutan tersebut.


Mereka telah hidup selama 150 tahun di hutan itu. Sebagian dari mereka telah mati dan dikuburkan disitu. Beberapa yang bisa terbang, memberanikan diri untuk berkelana keluar dari area kuil langit. Mereka kemudian menemukan bahwa masih terdapat binatang pendahulu mereka yang  tersisa di seantero Sirria, dan bahwa mereka tidak bisa berkomunikasi dengan manusia sebagaimana mereka bisa berkomunikasi dengan tuan mereka dahulu.


Lalu pada suatu hari, Spoutfire bertemu dengan Hanna yang bisa mendengar suaranya. Selanjutnya seperti yang sudah diketahui oleh semuanya, tiba-tiba saja Chimera menjadi bagian dari kehidupan di Kuil Langit, sebagian besar karena Jaaz dan teman-temannya merasa penasaran dengan mahluk-mahluk berkaki dua (dan 1 yang terkadang berkaki 4) yang tampaknya memiliki banyak kemiripan dengan tuannya namun memiliki bau yang sangat berbeda. Kecuali Hanna! Hanna, dan juga Adonis, serta  Hazrat adalah orang-orang yang memiliki aroma yang serupa dengan tuan mereka. Sayangnya hanya Hanna satu-satunya yang bisa berbicara dengan mereka.


Copyright @FreyaCesare