
Seperti dugaan Adonis, berkat kerja keras Rowena, keesokan harinya hormon dalam tubuh Hanna kembali seimbang seperti sediakala. Warna kembali muncul di wajahnya dan ia tampak lebih segar. Hanna masih enggan melakukan berbagai aktivitas seperti biasanya, namun ia menghabiskan waktunya dengan duduk bersama Xiao Bao sambil memperhatikan Aspixia dan para Chimera bermain dan sesekali mengomentari permainan mereka sambil tertawa.
Melihat Hanna semakin membaik, Baozhu memeluk Rowena erat-erat dan berterimakasih pada gadis itu. Tapi Rowena menepis ucapan terimakasih tersebut dan mengatakan bahwa Hanna adalah adiknya sehingga merawat dan menjaganya adalah merupakan kewajiban Rowena sebagai seorang kakak. Lagipula ia sangat menyayangi Hanna dan ingin bisa melihat gadis yang seumur hidupnya telah terkurung dalam tembok kuil langit, terisolasi dalam Shield Pulau Bunga dan tersembunyi dibalik cadar itu, hidup dengan bahagia. Mendengar jawaban Rowena, Baozhu menciumi kedua pipi gadis itu dan berkata bahwa sebagai seorang ibu, ia bersyukur karena putra-putrinya, dan juga cucu-cucunya adalah anak-anak yang membanggakannya.
Karena kondisi Hanna terus membaik, Baozhu setuju untuk pulang 2 hari kemudian. Ia dan Xiao Bao meninggalkan Pulau Bunga sementara Adonis dan Rowena tetap tinggal untuk sementara waktu. Berhubung ini adalah kali pertama Rowena berkunjung dalam waktu lama di pulau bunga, mereka kemudian menghabiskan waktu untuk pergi ke semua tempat menarik yang tersembunyi di antara bunga-bunga di seluruh penjuru pulau. Pagi-pagi sekali Hanna dan Aspixia mengajak Rowena untuk mencari tanaman obat dan jamur, siang harinya mereka berenang di danau persik dan sore harinya, Adonis mengajak Rowena untuk menuju ke suatu tempat berdua saja.
"Kenapa kita berdua ada disini?" tanya Rowena. Saat itu dirinya dan Adonis sedang duduk di dalam sebuah tenda berwarna putih di pinggir tebing, di depan sebuah meja yang penuh berisikan hidangan mewah, di suatu senja. Udara sedang hangat namun berangin kencang. Suara kain tenda yang berkibar dan dedaunan yang mendesau, ditingkahi suara burung-burung yang berkicau riang menjadi musik pengiring yang menenangkan. Suara alam. Rowena lebih menyukainya daripada suara musik yang meliuk-liuk menggoda.
Dihadapannya, sang perayu duduk dengan bangga layaknya sang Eros. Matanya berkelip menggoda dan senyum tipis menghiasi bibirnya. Rowena pernah membaca buku-buku tentang dewa-dewi Yunani kesukaan Baozhu dan Eros adalah salah satu dewa yang paling dipandang berbahaya oleh Rowena. Ia bisa menghadapi Hepaestus yang brillian, Ares yang ambisius, atau bahkan Apollo yang menyilaukan. Silau? Mudah! Ia hanya perlu memejamkan mata atau mencari tabir pelindung kan?! Tapi Eros? Berapa banyak orang yang mampu bertahan bila berhadapan dengan bujuk rayu Eros? Berapa banyak orang yang jatuh cinta kemudian kehilangan kewarasannya karena Eros? Rowena tidak mau menjadi korbannya. Oh tidak! pikir Rowena. Playboy ini mencoba mengalihkan perhatianku dari tugasku.
"Sebaiknya kita kembali ke cottage sekarang." Rowena bangkit berdiri, tapi Adonis menangkap pergelangan tangannya untuk menahannya.
"Mau kemana?"
"Kita punya tugas untuk dikerjakan! Kita tidak seharusnya duduk disini dan mengabaikannya." Jawab Rowena. Namun Adonis menarik tangannya lebih keras agar kembali duduk di kursi.
"Anak asuh kita sedang menyembunyikan kepalanya diantara buku-buku di perpustakaan istana bunga dan Aspixia ada bersamanya. Tenanglah." Beritahu Adonis. Rowena memandang Adonis sesaat. Lalu setelah menarik nafas panjang, ia kembali duduk.
"Sedang apa kita disini?" tanyanya lagi, terang-terangan menunjukan perasaan tak senang.
"Makan malam tentu saja." Sahut Adonis. Ia menyandarkan tubuhnya ke punggung kursi dan mendekatkan gelasnya ke bibir, menyesapnya sedikit.
"Disini?" Rowena memandang berkeliling setengah tak percaya. Tenda mereka berada hanya sekitar 5 meter dari pinggir tebing. Apabila angin yang sangat kencang meniup mereka sedikit saja, maka mereka akan terlempar dari tebing jurang menuju daratan, er... tidak, lebih tepatnya menuju samudra luas karena pulau bunga melayang 10.000 kaki diatas samudra.
"Jangan khawatir. Kita akan baik-baik saja."
"Aku tidak tahu caranya berenang. Dan apabila jatuh dari tempat setinggi ini," Rowena bergidik ngeri. "Sepatuku hanya memiliki kemampuan membawaku mengambang setinggi 10 meter. Bukan setinggi itu." Rowena menunjuk kearah tebing. Sepatu yang dikenakan Rowena, atau yang dikenakan oleh kebanyakan penduduk kerajaan langit lainnya adalah sepatu yang dibuat khusus untuk bisa membawa pemakaiannya mengambang di udara setinggi 10 meter. Sangat berguna ketika harus berurusan dengan para Tarli yang berukuran raksasa.
"Jangan khawatir! Aku ada disini bersamamu." ucap Adonis sambil tersenyum. "Apabila mungkin kau sampai terjatuh dari tebing itu, kau akan aman berada dalam pelukanku."
"Memangnya terjatuh saat berada dalam pelukanmu akan melindungi nyawaku?" tukas Rowena. Adonis mengangguk.
"Tentu saja! Aku adalah Adonis! Aku akan melakukan apapun untuk melindungi wanita yang kusukai."
Rowena terpaku mendengar kata-kata Adonis. Untuk sesaat, matanya berkedip-kedip karena bingung. ekspresinya terlihat sangat menggemaskan, membuat Adonis ingin sekali mencubit kedua pipinya, namun karena tak ingin merusak suasana, Adonis menahan diri.
"Wanita yang kau sukai?" ulang Rowena.
"Benar. Wanita yang kusukai." Adonis memandang Rowena lekat-lekat dan mengangguk. Senyumnya mengembang malas, membuat Rowena memicingkan matanya dengan curiga.
"Kalau begitu ajak saja dia untuk menemanimu makan malam di tempat ini. Aku sibuk!" Rowena kembali berdiri dari kursinya, namun Adonis sigap berdiri dan mendorongnya lembut untuk duduk kembali ke kursi.
"Gadis bodoh, itu sebabnya aku mengajakmu kan!" omel Adonis, membuat Rowena terpaku ditempatnya. Melihat wajah terkejut Rowena, Adonis kembali tersenyum.
"Kau... kau... menyukaiku?" Tanya Rowena terbata-bata.
Adonis mengangguk sambil menatap Rowena lekat-lekat.
"Apakah kepalamu terbentur sesuatu?" celetuk Rowena, setengah linglung karena ia masih tak mampu memproses informasi yang baru diterimanya. Adonis menyukaiku? Apakah ia sedang berusaha mengerjaiku lagi? pikir Rowena.
Kali ini Adonis menggelengkan kepalanya, gemas pada respon Rowena yang tampak diluar dugaan.
"Adonis, coba lihat aku baik-baik." pinta Rowena.
"Kau tahu aku siapa?" Tanya Rowena kemudian.
"Rowenaku." Sahut Adonis. Suaranya terdengar begitu manis dan merayu.
kening Rowena berkerut. Rowenaku? Matanya menyipit karena kesal.
"Kau siapa? Dimana kau sembunyikan kakakku?" Tanya Rowena dingin.
"Tahu tidak, sejak pertama kali kita bertemu, tidak pernah sekalipun aku menganggap kau sebagai adikku." Sahut Adonis tenang.
"Apa?"
"Kau bukan adikku." Tegas Adonis.
"Kejamnya..."
Adonis menggeleng.
"Kau tidak mengerti. Bagaimana aku bisa menganggapmu adikku bila aku, sejak pertama kali melihat wajahmu; tertarik padamu seperti seorang pria tertarik pada seorang wanita."
"...."
"Apa aku membuatmu terkejut?" Pertanyaan Adonis hanya dijawab Rowena dengan kerjapan mata yang mengingatkan Adonis pada Hanna. Kenapa gadis-gadis ini selalu berubah imut setiap kali kebingungan?
"Hanna mengatakan bahwa caraku yang blak-blakan ini terlalu berlebihan. Itu mungkin akan berhasil bila ditujukan pada gadis-gadis yang menganggap keterusterangan sebagai daya tarikku. Tapi untuk wanita yang tidak menyukainya, aku harus melakukannya pelan-pelan." Cerita Adonis. "Misalnya... dimulai dengan makan malam seperti ini. Tapi yah, kebiasaan sulit untuk dihentikan." Lanjut Adonis. Sesaat Rowena terdiam. Ia memandang Adonis seolah sebuah tanduk baru saja tumbuh di keningnya. Untuk sesaat Rowena kesulitan untuk memahami isi pembicaraan Adonis sampai kemudian sebuah pemikiran menyadarkannya. Rowena mendengus geli.
"Gadis kecil itu tidak tahu apa-apa soal cinta tapi kau tetap memilih untuk mendengarkan sarannya?" ejek Rowena. Mata Adonis langsung berkedip dan senyum malas perlahan menghiasi bibirnya. Adonis memajukan tubuhnya lalu menopangkan dagunya dengan sebelah tangan yang bersandar di atas meja.
"Cinta?" Tanya Adonis. Mata Rowena terbelalak sesaat dan wajahnya langsung memerah.
"Kau baru saja bilang bahwa kau menyukaiku seperti pria menyukai wanita." kata Rowena. Adonis mengangguk.
"Benar." Jawabnya dengan senyum malas menghiasi bibir.
"Apakah itu bukan berarti kau bicara tentang asmara? Er.... percintaan? Romansa?" Tanya Rowena Ragu-ragu. Apakah aku berpikir terlalu jauh? Kalau dipikir-pikir lagi suka berbeda dengan cinta. Sebagai saudara angkat, Rowena tidak pernah ragu bahwa Adonis menyukainya. Tapi cinta? Hah!
"Percintaan? Siapa? Kita?" Dengus Rowena kembali, berupaya bersikap seolah ia tidak perduli. "Pasti bukan itu kan?"
"Hmmm... Apakah kau akan menyukainya apabila aku benar-benar bicara tentang cinta?" Tanya Adonis lagi, masih dengan senyum menggoda menghiasi wajahnya. Mendengarnya, Rowena kembali memicingkan matanya dan menatap Adonis penuh kecurigaan.
"Sebenarnya apa yang engkau inginkan?"
"Kau."
"..."
"Apakah seseorang mencuri lidahmu?" Goda Adonis. Rowena menarik nafas panjang dan menguatkan diri. Ingatlah pada penderitaan yang dialami Jinxiu. Apa kau mau merasakannya juga? Tegurnya pada diri sendiri. Pria di depannya ini adalah impian berjalan semua wanita. Adonis mungkin saat ini merasa tertarik pada dirinya namun bila pria itu sudah bosan, maka dirinya akan ditinggalkan dengan hati yang patah dan hidup yang porak-poranda. Tidak!
"Maaf, tapi aku tidak menginginkan dirimu."
Copyright @FreyaCesare