Flower Of The Dragon

Flower Of The Dragon
Demi Ashia



Minggu-minggu berikutnya berlalu dalam dalam damai. Pelan-pelan penghuni Kuil Langit menjadi terbiasa dengan kehadiran Chimera dalam keseharian mereka. Sekarang bukanlah hal yang aneh melihat seseorang duduk di kursi taman di sebelah Daaz yang sedang tidur nyenyak sambil mandi matahari, atau melihat Zeth sedang mengekori salah seorang pelayan dapur untuk meminta makanan. Para Chimera itu masuk dengan tiba-tiba dalam hidup mereka dan sepertinya tidak pernah berniat untuk pergi. Seluruh penghuni Kuil dipaksa untuk beradaptasi dan kehidupan kuil yang cenderung tenang itu, sekarang menjadi lebih ramai berkat keberadaan tamu-tamu kecil mereka tersebut.


Yang paling berbahagia dengan keadaan itu tentu saja adalah Hanna. Dahulu ia hanya memiliki Xiao Bao sebagai temannya bermain. Sekarang setiap hari ia bisa membuat kericuhan bersama Zath, Daaz, Spoutfire dan Raagh. Semua orang bersyukur bahwa tampaknya hanya anak-anak Chimera yang bersedia untuk berinteraksi secara aktif dengan Hanna. Entah bagaimana jadinya bila Chimera dewasa mulai ikut mengunjungi gadis kecil itu. Mungkin mereka harus berhadapan dengan banyak kerusakan setiap harinya.


20 hari setelah kedatangan Hazrat sekeluarga di Kuil Langit, Bao Yue melahirkan seorang bayi laki-laki yang diberi nama Zayn. Melihat Zayn yang merupakan duplikat ayahnya, Baozhu segera menyarankan agar Hazrat membawa keluarganya pindah jauh dari keramaian. Baozhu tak dapat membayangkan apa yang akan terjadi bila Zayn kecil benar-benar merupakan duplikat sang ayah; sehingga sampai mewarisi kekuatan supranaturalnya juga. Bisa-bisa seluruh isi kota harus mengalami gempuran angin tornado setiap hari. Mendengar hal tersebut Hazrat menyetujuinya namun dengan cepat menambahkan bahwa ia sudah memutuskan untuk kembali tinggal bersama Baozhu di Kuil Langit. Baozhu hanya bisa tertawa mendengarnya, lalu segera memerintahkan untuk membangun sebuah villa di dalam hutan bagi Hazrat dan keluarganya, berdalih bahwa ia ingin memberikan villa itu sebagai hadiah bagi kelahiran Zayn. Padahal yang sesungguhnya adalah Baozhu tak sanggup membayangkan bahwa ia harus kembali mengalami keadaan di masa kecil Hazrat dahulu. Oh, tidak! Sekali sudah lebih dari cukup! Pikir Baozhu sambil bergidik ngeri.


Sehari setelah kelahiran Zayn, sang Raja Langit, Bao Zhouyou muncul di Kuil Langit. Ia membawa setumpuk hadiah yang dibawa oleh 20 orang pelayan istana, dan didampingi oleh 20 orang pengawal pribadi raja. Xiao Bao mencela "Dasar tukang pamer!" dalam bisikan yang hanya dapat didengar oleh Ashia yang berdiri disebelahnya saat rombongan tersebut lewat di depan mereka. Ashia mengangguk mengiyakan.


"Tukang pamer!" tiru Ashia, sedikit lebih keras.


"Hei, dia seorang raja. Tak ada salahnya untuk pamer sedikit di depan calon ayah mertuanya kan?" Goda Adonis pada Ashia, membuat mata Ashia langsung terbelalak.


"Calon mertua?" tanyanya. Adonis mengangguk.


"Siapa? Ayahku?" Adonis mengangguk lagi.


"Tapi adikku kan laki-laki. Tak mungkin untuk jadi permaisurinya." sahut Ashia, membuat Adonis menggelengkan kepala melihat penyangkalan gadis itu. Ia mengetuk kening Ashia pelan dengan ujung-ujung jarinya.


"Gadis bodoh, siapa yang bilang dia datang untuk melamar adikmu. Satu-satunya wanita yang ingin dia lamar kan adalah dirimu." Jawab Adonis.


"Hah?" Ashia terpana. Tersenyum penuh arti, Adonis mengangguk.  Melihatnya, Ashia langsung berlari ke Aula tempat rombongan Zhouyou bertemu dengan ayahnya. Namun disana ia hanya menemukan rombongan yang dibawa oleh Zhouyou sedang sibuk menata berbagai macam hadiah di tengah ruangan, sementara pemuda itu entah berada dimana. Ashia berlari ke kamar ayahnya. Benar saja, Zhouyou, Hazrat dan Bao Yue yang sedang menggendong Zayn; sedang duduk di ruang keluarga pribadi yang terhubung dengan kamar Hazrat.


Sepenuhnya mengabaikan tata krama, Ashia mendorong pintu terbuka lebar,


"Jangan diterima, Ayah!" Serunya, membuat semua orang dalam ruangan tersebut menoleh. Untung adiknya tampak tidak terganggu dan tetap tidur dengan nyenyak dalam tangan-tangan ibunya.


"Ashia, ada apa?" Tanya Hazrat.


"Kumohon jangan menerimanya, Ayah!" Pinta Ashia. Hazrat mengerutkan kening lalu kemudian menggelengkan kepalanya.


"Bagaimana mungkin aku menolak keinginan sang Raja Langit, Ashia. Itu tidak sopan." Jawab Hazrat. Ashia menatap kesal pada Zhouyou yang mengangkat sebelah alisnya dengan heran.


"Tapi ayah, aku tidak ingin menikah!" ucap Ashia. Kerut di kening Hazrat bertambah dalam sementara senyum langsung terukir di bibir Zhouyou ketika mendengarnya.


"Ashia, apabila kau tak ingin menikah, aku tak akan pernah memaksamu. Tapi apa hubungannya rencana pernikahanmu dengan hadiah untuk adikmu?" Tanya Hazrat.


"Hadiah untuk...." Darah serasa naik ke kepala Ashia begitu otaknya mencerna kalimat ayahnya. Senyum Zhouyou bertambah lebar, membuat wajah Ashia mulai terasakan memanas.


"Kau... datang untuk..." Ucapnya terbata-bata, masih mencoba untuk mencerna situasi yang sedang dihadapinya.


"Mengantarkan hadiah resmi dari Raja Langit untuk putra Dewa Angin yang baru saja dilahirkan." Sahut Zhouyou sambil memamerkan sebuah mainan bayi di tangan kanannya. Ingin rasanya Ashia berlari untuk menyembunyikan dirinya, namun sebagai seorang jenderal, Ashia memutuskan bahwa ia harus selalu bisa mengendalikan reaksinya. Menarik nafas panjang, Ashia berusaha keras mengendalikan diri.


"Ada apa, Ashia? Sebenarnya kau pikir kami sedang melakukan apa?" Tanya Hazrat heran.


"Tidak apa-apa, ayah. Hanya sedikit salah paham kecil. Sungguh, maafkan aku." Mundur selangkah, Ashia kembali membungkuk pada keduanya. "Kalau begitu, putrimu ini memohon diri, ayah, Yang Mulia." Kemudian tanpa menunggu jawaban, ia berbalik dan berlari keluar ruangan.


Zhouyou memandang punggung gadis itu sampai menghilang ke balik pintu yang menutup di belakangnya. Bibir Zhouyou menyunggingkan senyum geli.


"Setiap kali ia mengenakan persona jenderalnya, aku selalu lupa bahwa ia masih sangat muda dan terkadang bisa luar biasa polos." Hazrat menggelengkan kepalanya.


"Setua apapun Ashia, aku yakin, apabila sudah menyangkut Zhouyou, ia pasti akan kehilangan kedewasaannya, suamiku." Sahut Yue, tersenyum geli. "Anak itu sedang berusaha melawan perasaannya sendiri. Kita lihat saja berapa lama ia bisa bertahan."


"Bagaimana dengan kau, nak?" Tanya Hazrat pada Zhouyou. "Apakah kau akan bisa bertahan untuk menunggunya berubah pikiran?" Zhouyou tersenyum dan mengangguk.


"Tentu saja, paman. Aku sudah menunggunya begitu lama. Aku tak keberatan bila harus menunggu lebih lama lagi. Apapun akan kulakukan apabila itu demi untuk memenangkan Ashia." Jawab Zhouyou membuat Hazrat tersenyum mendengarnya.


"Bagus sekali!" Ucapnya sambil menepuk bahu Zhouyou. "Berusahalah untuk memenangkan hatinya. Aku akan memastikan untuk menolak semua lamaran lain yang ditujukan pada Ashia." Ucap Hazrat, memberikan persetujuannya pada keinginan Zhouyou. Zhouyou yang lama sebelum Ashia menerobos memasuki ruangan tadi, sebenarnya memang telah menyatakan niatnya menikahi Ashia pada Hazrat, merasa bahagia karena ia sudah memperoleh restu Hazrat.


"Hanya saja, ada seorang gadis kecil yang sedang menunggu dengan tidak sabar." Ucap Zhouyou, menoleh ke arah sofa dimana Bao Yue berada. "Benar tidak, Hanna?" Dari balik punggung sofa yang diduduki oleh Bao Yue, kepala Hanna menyembul. Melihatnya membuat senyum Zhouyou bertambah lebar.


"Maaf ya, sayang. Kau harus menunggu lebih lama lagi." ucap Zhouyou.


"Kau payah, paman!" Cela Hanna sambil melipat tangannya di depan dada, membuat Zhouyou tergelak. sementara Hazrat dan Yue tersenyum geli. "Tidak bisa dibiarkan! Aku harus melakukan sesuatu!" Putus Hanna. Ia membungkukkan tubuhnya pada Hazrat, Yue lalu Zhouyou untuk memberi hormat, lalu kemudian berlari keluar ruangan, diikuti oleh Raagh yang melompat-lompat di belakangnya.


Di ruang makan, Hanna menemukan Ashia sedang memarahi Adonis, sementara Adonis bukannya merasa bersalah, malah tertawa terbahak-bahak.


"Paman, kau sungguh keterlaluan!" Cela Ashia.


"Ashia sayang, memangnya apa yang sudah aku lakukan?" Tanya Adonis, tersenyum geli.


"Paman bilang dia datang untuk melamarku!"


"Eits, yang benar aku mengatakan bahwa ia bukan datang untuk melamar adikmu, karena satu-satunya wanita yang ingin Zhouyou lamar adalah dirimu. Kapan aku pernah mengatakan bahwa Zhouyou sedang melamarmu pada ayahmu saat itu juga?" Papar Adonis, mengingatkan. Ashia menggigit bibirnya bawahnya kesal, menyadari bahwa ia telah jatuh ke dalam salah satu trik jahil Adonis. Pamannya yang satu ini selalu punya cara untuk berbuat kejahilan dan meloloskan diri setelahnya. Benar-benar menyebalkan!


"Paman sengaja kan? Paman ingin membuatku merasa malu kan? Sungguh keterlaluan!" Protesnya lagi.


"Jadi," sebuah suara terdengar begitu dekat, berbisik di telinganya. "Apakah itu berarti kau berharap bahwa aku benar-benar datang untuk melamarmu?"


Copyright @FreyaCesare