
"Penulis kita sudah habis-habisan, bukan?" Adonis tersenyum geli sementara Xiao Bao menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Dia gila." Sahut Xiao Bao.
"Antara shapeshifter, naga dan hewan yang bisa berbicara, apakah ada sesuatu yang bisa lebih tidak masuk akal lagi?" Tanya Aisha.
"Hantu?" Sahut Adonis.
"Aku benci hantu!" Rengek Hanna.
"Tenang saja Hanna, apabila kau tidak menyukainya, aku tidak akan biarkan penulis kita mempertemukanmu dengan hantu. Kau dengar itu, Miss Author?" Ancam Xiao Bao sambil mendongak ke langit.
Ehm, baiklah. Kita lihat saja nanti. (Author)
"Jadi Jaaz dan Chimera lainnya ditempatkan dalam ruang kedap udara yang disimpan di kantung antar dimensi? Jadi itulah sebabnya mengapa keberadaan mereka tidak diketahui sebelumnya?" Tanya Sirrian. Hanna mengangguk mengiyakan.
"Bagaimana dengan sisa-sisa kehidupan yang dikumpulkan oleh tuannya Jaaz? Apakah mereka binatang? Atau manusia?" Tanya Hazrat.
"Jaaz bilang ia hanya menjelaskan sesuai yang tuannya katakan. Jaaz sendiri tak pernah bertanya lebih lanjut mengenai hal tersebut sehingga ia tidak tahu jawaban atas pertanyaan kakak." Sahut Hanna menerjemahkan jawaban Jaaz.
"Dugaanku itu adalah binatang-binatang yang juga di tempatkan oleh tuannya Jaaz ke dalam ruang kedap udara yang serupa, demi menyelamatkan mereka. Ini menjelaskan asal-muasal mahluk menyerupai Chimera yang muncul sebelum Jaaz dan teman-temannya." Analisa Sirrian lagi. "Tapi bagaimana cara membedakan melalui tampilan fisik antara Chimera dan binatang asli Sirria?"
"Kristalnya. Chimera memiliki Kristal yang tertanam di tubuh mereka, sedangkan binatang-binatang asli Sirria tidak." Sahut Hanna.
"Tapi apa guna kristal tersebut?" Tanya Bao Chen Yang.
"Tebakanku, konduktor tenaga." Sahut Sirrian.
"Mereka pasti memiliki kemampuan teknologi yang lebih mumpuni dari kita." Tebak Bao Chen Yang.
"Tapi coba lihat apa hasilnya! Kehancuran seluruh peradaban." Sahut Bao Yi Rang. Mendengar kalimat ini semua orang tercenung. Apa manfaatnya teknologi mutakhir yang harus dibayar dengan seluruh peradaban? Tidak ada.
"Lalu bagaimana dengan Hanna, Hazrat dan Adonis? Jaaz bilang mereka memiliki aroma yang menyerupai tuannya." Tanya Tarli. Mereka semua memandang pada Hazrat, Adonis dan Hanna. Yang dipandangi dengan kompak mengangkat bahu. "Apa mungkin mereka juga sisa-sisa kehidupan yang dimaksud oleh tuannya Jaaz?"
"Itu mungkin saja." Memandang ketiga anak angkatnya, Baozhu mengangguk.
"Tapi mereka hanya muncul satu persatu setiap kalinya, tanpa berpakaian maupun tanpa wadah perlindungan. Adonis bahkan bermanifestasi di depan kedua mata ibu kan?" bantah Yi Rang.
"Hmmmm... benar, Adonis memang bermanifestasi di depanku. Sesaat aku berkedip, dan tahu-tahu dia ada di sana, bayi mungil yang tampan sedang tertidur nyenyak dengan jempol diantara kedua bibirnya dan dalam keadaan telanjang." Baozhu tersenyum saat mengenangnya. "Kita memang belum memiliki penjelasan yang logis mengenai hal tersebut. Tapi perasaanku mengatakan bahwa tuannya Jaaz benar-benar ada hubungannya dengan hal ini."
"Hah! Kau ternyata jauh lebih tua dariku!" Ejek Tarli pada Adonis. Adonis mengedipkan sebelah matanya dan melemparkan sebuah ciuman jauh pada Tarli.
"Bagaimana dengan mahluk dalam gunung berapi ini? Apakah ia seekor naga?" Suara Zhouyou terdengar dari pengeras suara. Membuat Ashia tersentak kaget. Ashia lupa bahwa Zhouyou juga ikut dalam pertemuan tersebut.
"Mungkin." Jawab Baozhu lagi. Baozhu menarik nafas panjang, mencoba mencerna semua hal yang baru di dengarnya. Sebagai penjelajah semesta, Baozhu merasa sudah melihat semuanya. Tapi ternyata ada saja hal baru yang tidak diketahuinya.
"Jaaz, apakah engkau tahu cara menghadapi naga?" Tanya Hazrat yang dijawab Jaaz dengan gelengan.
"Ibu, apa yang harus kita lakukan?" Tanya Bao Yi Rang.
"Zhouyou, kau adalah raja kami. Maka putuskanlah; apa yang kau ingin kami lakukan?" Ucap Baozhu.
Jawaban Zhouyou terdengar dengan jelas dan tegas. "Aku ingin semua orang berada di sini, termasuk Hanna dan para Chimera."
"Apakah itu termasuk aku?" Tanya Baozhu.
"Terutama engkau, nek!" Jawab Zhouyou tegas. "Apabila sesuatu yang buruk akan terjadi, aku ingin kau dan Hanna berada di tempat yang paling aman, yaitu di Istanaku."
Walaupun Zhouyou memerintahkan agar semua orang berangkat ke kerajaan langit, Bao Yi Rang memutuskan untuk tetap tinggal di Kuil Langit demi menjaga keamanan kuil, sementara yang lainnya, termasuk Jaaz dan Xiam, berangkat ke Kuil Langit, diiringi protes Zeth yang enggan berpisah dengan Ashia dan Daaz yang tidak terima dijauhkan dari pusat keriuhan dan aksi.
Ini adalah kali pertama bagi Hanna untuk melakukan perjalanan keluar dari pulau bunga atau Kuil Langit, dan ia merasa sangat bersemangat. Zhouyou mempersiapkan sebuah pesawat penumpang khusus milik keluarga kerajaan agar mereka bisa segera mencapai istana secepat yang dimungkinkan. Bersandar pada kursi pesawat yang nyaman di sebelah Ashia dan Xiao Bao, Hanna meletakkan tas bawaannya keatas pangkuannya dan memandang keluar jendela untuk menikmati pemandangan dari langit. Dari ketinggian ia bisa melihat pepohonan yang hijau dan aliran sungai silver yang sesuai namanya, berwarna keperakan; berkilauan dibawah cahaya matahari. Pada suatu saat, mereka melewati pulau bunga yang berwarna-warni oleh bunga yang bermekaran. Hanna tersenyum bangga pada keindahan pulau tempatnya dibesarkan.
Tiba-tiba tas di atas pangkuannya bergerak-gerak. Tak lama kemudian sebuah kepala berbulu putih dan berkuping panjang muncul dari dalam tas.
"Raagh???" Pekik Hanna keras, membuat semua orang menoleh ke arahnya. "Apa yang kau lakukan didalam situ?"
"Aku sangat takut tadi, jadi bersembunyi disini. Lalu aku tertidur dan tahu-tahu waktu terbangun..." Raagh menoleh ke kiri dan ke kanan, tersadar bahwa ia sedang berada di tempat yang asing. "eeeer... dimana kita? Ini bukan di rumah."
"Kita sedang berada di dalam pesawat yang akan mengantarkan kita ke Istana Langit." Sahut Hanna. Dari balik punggungnya, Xiam terlihat berjalan mendekat.
"Mengapa kita pergi ke istana langit?" Tanya Raagh lagi.
"Seharusnya bukan kita karena kau seharusnya tetap tinggal bersama anak-anakku dan yang lainnya. Mengapa kau malah bersembunyi dalam tas tersebut?" tukas Xiam yang telah berdiri di gang sisi tempat Xiao Bao berada.
"Aku tidak tahu. Tak ada yang memberitahuku!" rengek Raagh. Hanna mengelus kepalanya dengan penuh rasa sayang.
"Tidak apa-apa, Raagh. Aku akan melindungimu." Janji Hanna. Mendengarnya, Xiam menggelengkan kepalanya penuh dengan ketidak setujuan.
"Seorang bayi sedang bicara soal melindungi bayi lainnya. Sungguh lucu! Ingat Raagh, apapun yang terjadi kau tidak boleh mengeluarkan gasmu yang beracun itu ya! Kau hanya boleh mengeluarkannya ketika kau sedang sendirian dan berhadapan dengan bahaya, atau ketika di sekitarmu tak ada lagi yang selamat sementara musuh siap menyerangmu, Atau saat kami memintamu melakukannya. Kau mengerti?" Raagh mengangguk takut-takut, hampir menyembunyikan dirinya kembali dalam tas Hanna.
"Hanna, minta mereka untuk melengkapi setiap orang dengan masker pelindung. Kita tidak tahu kapan buntalan bulu ini akan merasa sakit perut lalu buang gas sembarangan." Perintah Xiam. Mendengarnya, Raagh langsung mengeluarkan kepalanya kembali dan berseru keras,
"Tidak akan!"
Xiam hanya menyeringai mendengarnya dan kembali ke tempatnya duduk di sisi Jaaz.
Copyright @FreyaCesare