Flower Of The Dragon

Flower Of The Dragon
Harapan Aspixia



"Jadi kau tahu?" Tanya Rowena dengan bibir bergetar.


"Tentu saja aku tahu. Aku sudah hidup begitu lama dengan kak Adonis. Ia tidak akan bisa menyembunyikan apapun dariku." Hanna tersenyum jahil dan menusuk pelan pinggang Rowena dengan ujung jarinya. "Dan aku juga tahu bagaimana cara kau memandang kak Adonis saat kau pikir tidak ada yang melihatmu!" Tusukan pelan berubah jadi gelitikan yang kencang, membuat Rowena terpekik geli dan berusaha bangkit untuk melarikan diri. Tapi belum puas menggoda kakaknya, Hanna mengejar Rowena mengelilingi tempat tidur gantung, meninggalkan Chiko yang terbangun karena bantal hangatnya menghilang begitu saja. Setelah menguap lebar, mahluk menggemaskan itu mulai menjilati kaki depannya sambil berujar,


"Dasar anak-anak. Kapan mereka dewasa sih?" Chiko sendiri baru berusia 1 tahun, yang membuat ia tidak kalah anak-anaknya apabila diukur dengan usia Macka. Namun karakternya yang pemalas membuat ia tidak menyukai keriuhan seperti yang dihasilkan oleh Hanna dan Rowena sehingga bak nenek tua, ia mengomentari perilaku kedua gadis itu tanpa pikir panjang. Namun baru selesai ia berucap, Hanna yang mendengar kata-katanya, dengan sigap menangkap mahluk mungil itu dan mulai menggelitiknya tanpa ampun. Dengan berurai air mata Chiko berjanji untuk memastikan tidak akan berkomentar di depan Hanna lagi dan cukup mengatainya di belakang punggung gadis itu saja. Aku akan membalas dendam!!! ikrarnya sambil tertawa geli bagai kesetanan dibawah siksaan jari-jemari Hanna.


***


"Aspixia," panggil Hanna pada Aspixia yang sedang bermain dengan Chichi dan Koko di ruang tamu. "Hari itu, apakah kau menemukan tas punggungku di Hutan?" Tanya Hanna, merujuk pada tas punggung rotan berisi jamur yang ia tinggalkan begitu saat setelah bertemu dengan si peramal di Hutan pada hari itu.


"Ah, Gruzt yang menemukannya dan membawanya pulang." Sahut Aspixia. "Aku sudah menjemur isinya di teras belakang."


"Yang benar?" tanya Hanna girang. "Kau memang adikku yang paling cerdas!" Puji Hanna sebelum menghilang menuju teras belakang. Aspixia yang mendengar pujian kakaknya mengerutkan bibirnya.


"Tentu saja! Adikmu kan cuma aku, kak." komentar Aspixia sambil mencibir kesal. Memangnya tak ada pujian yang lebih meyakinkan ya? Hmph!


Sepenuhnya mengabaikan Aspixia, Hanna berjalan menuju teras belakang. Benar saja, ia menemukan beberapa tampah yang dipenuhi oleh jamur yang telah dikeringkan. Hanna tersenyum senang melihatnya. Ia lalu mengambil sebuah kotak kayu dan memindahkan semua jamur tersebut kedalam kotak dan lalu membawanya kembali memasuki ruang kerjanya.


Yang disebut ruang kerja oleh Hanna adalah sebuah laboratorium mungil yang terletak di lantai dasar cottage tersebut. Laboratorium ini didominasi oleh warna putih yang memberi kesan steril, dengan berbagai lemari pendingin dan lemari penyimpanan herbal kering berjajar di salah satu sisi dindingnya, sementara di sisi yang berseberangan, terdapat sebuah meja kayu lebar dan sebuah kursi kayu berlapis bantal berwarna merah bata yang tampak sangat nyaman, memberi kesan hangat namun sedikit salah  letak. Laboratoriumnya didesain dan dibuat oleh para ahli dibawah perintah Istana Bunga, namun meja dan kursi serta semua pernak-perniknya adalah pilihan pribadi Hanna yang berjiwa hangat. Hasilnya adalah laboratorium yang sedikit miss and match, dingin namun nyaman. Hanna biasanya menghabiskan waktu di laboratorium tersebut untuk menyuling bunga-bunga dan berbagai tanaman herbal untuk keperluan Istana dan Kuil Langit. Pekerjaan ini merupakan salah satu yang sangat suka untuk dilakukannya sehingga ia bisa menghabiskan berjam-jam di dalam laboratorium tanpa ingat dengan waktu. Kali ini Hanna ingin menyuling jamur beracun yang diperoleh dari dalam hutan.


Setelah mendudukkan dirinya di atas kursi, Hanna langsung menenggelamkan diri dalam pekerjaannya. Menggunakan kemampuan spiritual naga dalam dirinya, Hanna berkonsentrasi untuk memproses jamur-jamur kering tersebut. Namun karena kali ini yang diproses olehnya adalah jamur beracun, Hanna bekerja dengan lebih hati-hati dari biasanya. 30 menit kemudian Hanna berhasil menghasilkan 10 botol 5 ml sari jamur beracun yang diletakkannya berjajar di atas mejanya. Termangu menatap hasil kerjanya, Hanna meraih salah satu botol berwarna amber tersebut dan memutar-mutarnya perlahan dalam tangannya. Ia tampak larut dalam pikirannya sesaat sebelum menarik nafas panjang dan menutup matanya.


"Kau sedang apa?" Tanya Aspixia yang tiba-tiba telah memasuki laboratorium dan berada di sisinya tanpa mengeluarkan suara. Hanna membuka mata dan menangkap ekspresi khawatir yang tergambar jelas di wajah Aspixia. Bibir Hanna langsung mengembangkan senyum riang.


"Aku sedang menyuling jamur-jamur ini untuk kak Rowena." Jelasnya. Aspixia melirik ke deretan botol diatas meja.


"Racun? Mengapa kau ingin memberikannya pada Rowena?"


"Hei, racunpun juga ada gunanya!" Sergah Hanna. "Racun jamur ini apabila dicampur dengan air, dapat menjadi pestisida alami untuk tanaman. Lalu apabila dicampur dengan ramuan herbal tertentu, ia tidak akan menyebabkan kematian, namun hanya terjatuh dalam kondisi koma dan memperlambat kerja jantung dan otak."


"Untuk apa membuat orang koma dengan sengaja?" tanya Aspixia masam. Sulit baginya untuk membayangkan alasan mengapa racun diperlukan di dunia dimana teknologi kesehatan telah membuat penghuninya nyaris immortal. Menurutnya racun adalah kabar buruk dan segala sesuatu yang buruk tidak perlu diciptakan. Lagipula entah mengapa, melihat botol amber mungil yang tampak tidak berbahaya tersebut berputar-putar dipermainkan jari-jemari lentik Hanna memberikan firasat buruk dalam hati Aspixia. Mendengar pertanyaan Aspixia, Hanna hanya tersenyum dan mengangkat bahu.


"Entahlah. Kau harus bertanya pada Kak Sirrian atau Kak Rowena soal itu. Aku juga tidak terlalu memahami." Hanna mengeluarkan sebuah kotak kayu sederhana dari dalam laci dan mulai menata botol-botol berisi sari jamur beracun tersebut di dalamnya, lalu menyisihkannya ke salah satu sudut meja. Hanna lalu bangkit dari duduknya. Ia menatap Aspixia yang matanya sedang mengamati kotak kayu tersebut dengan penuh kecurigaan. Menarik nafas panjang, Hanna menutupi garis pandangan adiknya dengan tubuhnya dan menangkupkan kedua tangannya di pipi adiknya, memaksa Aspixia memandang kearahnya.


"Mengapa ekspresimu seperti itu? Apa kau sedang kesal?" Tanya Hanna. Sudut-sudut bibirnya mengembang membentuk senyum lembut. Aspixia menatap kakaknya sesaat sebelum bertanya;


"Apa kau baik-baik saja?"


Mendengar pertanyaan ini, mata Hanna sedikit melebar karena heran.


"Adik kecil, coba katakan padaku, apa yang paling kau inginkan saat ini?" Tanya Hanna. Aspixia mengerutkan keningnya dibawah serangan tangan-tangan kakaknya. Cakar-cakarnya mengelilingi pergelangan tangan Hanna, mencoba menarik lepas tekanan tangan Hanna pada pipinya. Tapi dengan sengaja Hanna memperkuat tekanan telapak tangannya dengan gemas.


"Eeeer... cake?" jawab Aspixia asal-asalan.


"Bukan itu maksudku! Tentang hidupmu, apa yang paling kau inginkan bisa terjadi dalam hidupmu saat ini?" Ulang Hanna. Aspixia mengerjap-ngerjapkan matanya sambil berpikir.


"Berubah wujud menjadi manusia?" Jawab Aspixia kemudian.  Jawaban ini meredupkan senyum Hanna sesaat. Matanya mengerjap pelan, tampak agak terkejut dengan jawaban Aspixia. Hanna bukannya tidak tahu soal keinginan Aspixia ini, namun karena Hanna belum menemukan cara untuk membuat Aspixia bisa berubah wujud jadi manusia, ia agak berharap bukan itu jawaban yang akan dilontarkan adiknya. Menangkap ekspresi kakaknya, Aspixia bertanya perlahan.


"Apa itu tidak mungkin?"


Senyum Hanna kembali mengembang. Ia menciumi bakpao di wajah adiknya dengan gemas dan kemudian berkata,


"Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk mewujudkan harapanmu!" Hanna lalu melepaskan pipi adiknya dan berjalan keluar dari laboratorium.


Aspixia mengernyitkan kening dan mengusap-usap pipinya yang baru saja di aniaya Hanna. Ia memandangi Hanna yang meninggalkan ruangan. Lalu setelah gadis itu menghilang, Aspixia mengangkat smart watchnya dan mulai membuat sambungan.


"Kak Rowena?"


***


"Rowena memutuskan sambungan telepon dengan Aspixia dan mengangkat wajahnya. Ia bertatapan dengan wajah khawatir Adonis.


"Menurutmu apa yang sedang Hanna rencanakan?" Tanya Rowena dengan kening berkerut.


"Sesuatu yang tidak akan kusukai." Ramal Adonis, menyuarakan pikiran Rowena.


"Kalau begitu aku akan menyiapkan ramuan herbal yang dibutuhkan dan mengirimkannya pada Aspixia." Rowena menarik nafas panjang dan berbalik untuk berjalan menuju laboratoriumnya. Namun langkahnya terhenti ketika sepasang tangan tiba-tiba memeluknya dari belakang, membuat jantungnya nyaris berhenti berdetak.


"Lepaskan aku." Perintah Rowena, ketika nafas hangat Adonis menyentuh lehernya dan kepala pria itu bersandar diatas bahunya. Ketika Adonis menggelengkan kepalanya, Rambut ikalnya menggelitik pelan kulit sensitif di leher Rowena.


"Sebentar saja! Ijinkan sebentar saja. Aku memerlukan ini." pinta Adonis dengan suara bergetar penuh emosi. Rowena menggigit bibir bawahnya pelan dan menguatkan hatinya.


"Lepaskan aku dan biarkan aku melakukan apa yang harus aku lakukan terlebih dahulu. Setelah itu, kau bisa memelukku selama yang kau mau." Ucap Rowena pelan. Rowena dapat merasakan tangan-tangan yang mendekap pinggangnya menegang sesaat. Namun tak lama kemudian kepala yang bersandar di bahunya terangkat dan tangan-tangan yang mendekap pinggangnya perlahan terlepas. Tanpa menoleh, Rowena berjalan menjauh.


Copyright @FreyaCesare