
"Na... Na... Naga?" Bisik Aspixia terbata, takut ia akan membangunkan sang Naga yang tampak sedang tidur dengan nyenyaknya. Dimana Hanna? Mengapa Hanna menghilang tapi malah seekor Naga yang berbaring di tempatnya? Aspixia menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari sosok Hanna, namun tak berhasil menemukannya. Aspixia kembali menatap Naga yang terbaring di hadapnnya tersebut dengan serius.
Naga tersebut berwarna putih, yang merupakan warna ciri khas Naga Air. Tubuhnya 2 kali lebih besar dari tubuh Aspixia, sisiknya yang berwarna putih seperti warna mutiara, berkilauan dalam gradasi warna biru dan tosca. Mirip kilau warna air di bawah sinar matahari di pagi hari. Tubuhnya ramping dan panjang, dengan sayap yang mengembang menutupi tubuhnya. Kedua cakarnya tampak menopang dagunya dengan anggun. Itu adalah naga tercantik yang pernah dilihat Aspixia. Well, Aspixia belum pernah melihat Naga lain selain dirinya sendiri, tapi secara naluriah ia bisa merasakan kecantikan Naga di hadapannya ini.
Saat memandang ke bagian leher sang Naga putih, Aspixia nyaris memekik karena terkejut. Untungnya Aspixia dengan segera menutup moncongnya dengan kedua cakarnya. Ia memandang ngeri pada Chichi dan Koko yang tampak bergelung nyaman dalam lekuk leher sang Naga, tertidur pulas tanpa perduli pada dunia di sekitarnya. Sungguh berani! Apa dua Raagh ini tidak punya rasa takut sama sekali sehingga dengan santai tidur di sisi Naga yang asing. Padahal dirinya yang seekor Naga saja, saat ini merasa begitu ketakutan.
"Hmmm... Tapi... bukankah ini wangi tubuh Hanna?" Aspixia mengendus-endus dengan penasaran. Tubuh Naga tersebut mengeluarkan wangi yang sangat akrab dengan hidungnya. Tanpa disadari, Aspixia yang terus mengendus-endus, berjalan semakin dekat. Wangi ini... Tiba-tiba sebuah pemikiran muncul dalam kepalanya.
"Apa mungkin...??? Hanna? Tidak salah lagi, ini wangi tubuh Hanna!" Mata Aspixia langsung berkilat dan ujung-ujung bibirnya terangkat naik. Tanpa bisa menahan diri, ia melemparkan tubuhnya ke tubuh Naga putih tersebut, memeluknya dengan girang dan mencoba membangunkannya.
"Hanna! Hanna! Hanna!" Pekiknya girang. Keributan yang dibuatnya secara otomatis membangunkan Chiko, Chichi dan Koko. Ketiganya bersungut-sungut dengan kesal.
"Aspixiaaaaa!!! Kenapa ribut sekali siiiih? Dasar Naga liar!" omel Chiko yang berbaring di atas batu besar, tepat di atas kepala sang Naga Putih. Ia menguap dengan mengantuk, merasa kesal karena mimpi indahnya telah disudahi dengan kasar oleh keberisikan yang dibuat Aspixia. Chiko membuka kedua matanya dengan susah payah dan mengintip ke arah sang Naga putih dengan wajah kesal. Namun begitu matanya menangkap sosok sang Naga putih, mata Chiko langsung membesar. Ia melompat mundur dengan kaget. Bulu-bulu di tubuh dan ekornya yang panjang serta tebal menjadi tegak berdiri karena terkejut.
"As... Aspixia... Bagaimana kau bisa berubah warna seperti itu? Lalu... Lalu bagaimana bisa kau tumbuh besar begitu cepat? Apakah aku sudah tertidur selama 1 juta tahun?" Ucap Chiko dengan suara gemetar. Mulut Aspixia berkedut dan kekesalan langsung memenuhi kepalanya.
"Apa maksudmu tertidur selama 1 juta tahun? Apakah kau pikir aku memerlukan waktu 1 juta tahun baru bisa tumbuh sebesar itu?" geram Aspixia. Ketika mendengar suaranya, Chiko langsung menoleh padanya. Melihat Aspixia, Chiko mendesah lega dan ketegangan di seluruh tubuhnya langsung mengendur.
"Ah, ternyata kau ada disana. Masih semerah, sekecil dan sejelek yang kuingat. Untuk sesaat kau hampir saja memberiku serangan jantung." ucap Chiko menggelengkan kepala dan mengusap-usap dadanya dengan sebelah kaki depannya. Tapi tak lama kemudian ia kembali mengangkat kepalanya dan menatap sang Naga putih dengan tercengang.
"Eeeh, terus ini siapa???" jeritnya kaget. Belum sempat Aspixia menjawab, suara protes terdengar dari arah sang Naga putih. Chichi dan Koko membuka matanya yang mengantuk sambil mengomel.
"Dasar Macka gila. Bisa tidak kalau tidak membuat keributan selama kami yang menggemaskan ini sedang tidur." omel Koko, sepenuhnya tidak menyadari bahwa ia sedang bersandar pada tubuh yang asing. Di saat yang sama Chichi malah hanya membuka sebelah matanya, lalu menutupnya kembali dan menyurukkan tubuhnya makin dalam ke lekuk leher sang Naga. Bibir Aspixia sekarang menyunggingkan senyum geli. Walau sang Naga putih tidak juga bangun dan memperkenalkan diri, namun Aspixia sangat yakin bahwa ia adalah wujud Naga dari Hanna. Tapi Chimera-chimera bodoh ini kan tidak tahu! Aspixia ingin lihat apakah reaksi Chichi dan Koko akan seheboh reaksi Chiko.
Koko yang telah terlanjur terbangun, bangkit dan menggeliatkan tubuhnya sambil menguap lebar. Koko kemudian menggosok-gosok wajahnya dengan kedua kaki depannya dengan menggemaskan. Saat akhirnya Koko mengangkat kepalanya, ia bertatapan dengan Aspixia yang memandangnya dengan tatapan aneh, seolah-olah Aspixia sedang menantikan sesuatu terjadi.
"Apa?" tanyanya heran. Aspixia mengangkat tangannya dan menunjuk ke sang Naga putih dengan sebuah cakarnya. Koko menoleh ke arah yang di tunjuk Aspixia. Lalu saat matanya menangkap sosok sang Naga yang saat ini masih disandari oleh saudaranya dengan sangat nyaman, bulu-bulu di tubuh Koko langsung tegak berdiri. Koko terlihat seperti sebuah pom-pom besar berwarna putih, dengan 2 bola mata bundar yang mengintip di antara bulu-bulu panjang dan tebal.
"Chichi..." panggil Koko dengan suara gemetar. Tapi Chichi yang masih tertidur nyenyak, tidak dapat mendengarnya.
"Apa siiiih?" Chichi menyahut dengan suara mengantuk. Raagh yang menggemaskan itu membuka kedua matanya dengan kesal. Mengapa makhluk-makhluk ini bergantian mengganggu tidurnya sih? Gerutu Chichi dalam hati.
"Chichi... lihat ke belakang." suruh Koko.
"Apa sih, Ko?" Masih dengan mengantuk, Chichi menoleh. Awalnya pandangannya tertumbuk pada permukaan sesuatu yang berwarna putih dan dilapisi oleh sisik yang berkilauan. Eh? Apa ini? Tanya Chichi dalam hati. Dengan heran ia mengangkat wajah dan melangkah mundur, mencoba mencari posisi yang lebih baik. Ketika akhirnya ia menyadari apa yang sedang dilihatnya, dengan gesit Chichi langsung menyeret Koko untuk berlari menjauh dan bersembunyi di belakang punggung Aspixia.
"Itu siapa?" tanya Chichi. Aspixia tersenyum senang.
"Coba tebak." tantang Aspixia.
"Tidak tahu." jawab Chichi. Sementara Koko hanya menggelengkan kepalanya.
"Aku belum sempat memastikan, tapi sepertinya itu saudaraku." jawab Aspixia dengan bangga.
"Hah? Itu Hanna?" pekik Chiko, Chichi dan Koko berbarengan.
"Coba cium bau tubuhnya. Tidakkah kalian mengenalinya?" suruh Aspixia. Dengan patuh ketiganya langsung mengendus-endus. Setelah itu mata ketiganya langsung terbuka lebar.
"Benar! Ini wangi tubuh Hanna!" pekik Chiko girang.
"Iya! Memang wangi tubuhnya Hanna!" ucap Koko membenarkan.
"Hore!!! Hanna akhirnya berhasil berubah menjadi Naga!" sorak Chichi riang. Ketiganya langsung berlari mendekati sang Naga putih dan melemparkan tubuhnya ke lekuk leher Hanna. Chiko bertindak lebih jauh dengan melompat-lompat di atas punggung Naga tersebut. Namun keriuhan mereka perlahan-lahan surut ketika mereka menyadari bahwa tak perduli seribut apapun suara yang mereka hasilkan, sang Naga putih tak menunjukan tanda-tanda kalau ia terbangun. Aspixia yang hanya melihat pun mulai merasa cemas. Ia berjalan mendekati sang Naga Putih dan mulai mengguncang-guncang tubuhnya.
"Hanna! Hanna, Bangun! Hanna, Bangunlah! Hanna!"
Copyright @FreyaCesare