Flower Of The Dragon

Flower Of The Dragon
Permata Sang Naga



Aisha bermimpi. Ia sedang berdiri di sebuah tebing di ujung terluar pulau Istana Langit di suatu senja yang cerah. Ribuan mil dibawah kakinya adalah lautan luas yang berwarna keemasan karena memantulkan cahaya matahari senja. Ashia tersenyum. Ia merentangkan kedua tangannya dan sesaat kemudian ia melemparkan dirinya dari atas tebing.


Tubuh Ashia melayang jatuh dengan kepala terlebih dahulu. Namun bukannya ketakutan, ia malah tersenyum lebar. Suara angin terdengar begitu indah dan hembusannya di kulit Ashia terasa menyenangkan. Selama hidupnya Ashia sudah terbiasa menunggangi angin. Tapi kali ini berbeda. Daripada menjadi penunggang angin, ia merasa menyatu dengan angin. Ia adalah bagian dari angin itu sendiri.


setelah puas melayang jatuh, Ashia menggerakkan tangannya dan mengangkat kepalanya. Tubuhnya langsung terangkat tinggi kembali ke langit. Ashia merasa tubuhnya tiba-tiba membesar dan menjadi lebih bertenaga. Tangannya tak lagi sekedar merentang, namun sudah berubah menjadi sepasang sayap yang lebar dan kuat, yang mendorongnya untuk naik semakin tinggi. Dibawahnya ia melihat kaki rampingnya menghilang, berganti menjadi sebuah kaki besar yang kokoh dan berkulit tebal yang dilapisi sisik. Anehnya perubahan itu tidak membuat Ashia merasa terkejut maupun takut. Ia malah merasa sangat bersemangat.


Penasaran dengan perubahan pada penampilannya, Ashia turun dan melintasi permukaan sungai silver dengan perlahan, untuk berkaca. Matanya terbelalak lebar ketika air sungai memantulkan sosok seekor naga yang  besar. Naga tersebut seukuran sebuah rumah kecil. seluruh tubuh sang naga berwarna putih keperakan dengan sisik yang berkilau warna warni layaknya bagian dalam cangkang mutiara. Sepasang tanduk putih menghiasi kepalanya dan sebuah permata putih berwarna Aquamarine menghiasi keningnya. Aku seekor Naga! Pikir Ashia. Anehnya pemikiran ini tidak membuatnya merasa takut tapi malah membuat Ashia merasa sangat senang. Ia lalu mengangkat kepala dan mengepakkan sayapnya untuk naik kembali ke langit. Ashia berputar-putar di langit dengan bahagia. Ia merasa sangat bebas dan merdeka.


Lalu sebuah suara terdengar sayup-sayup memanggil namanya. Suara tersebut makin lama makin keras dan makin mendesak. Ashia terdiam untuk mendengarkan.


"Ashia? Ashia? Apakah kau mendengarku?" Suara paman Sirrian, pikir Ashia. Mengapa pamannya itu memanggilnya? Tapi Ashia masih belum ingin kembali. Ia masih ingin terbang sebentar lagi.


"Ashia? Ashia? Bangunlah, nak!" Panggil Sirrian lagi. Kening Ashia berkerut. Bangun? Tapi aku sudah bangun semenjak tadi. Aku malah sudah berolahraga dengan terbang kesana dan kesini seharian. Tapi kenapa paman Sirrian menyuruhku untuk bangun kembali?


Lalu sebuah tangan yang dingin terasa menyentuh kulit lengannya. Ashia terkesiap dan memandang heran pada lengannya. Tak terlihat ada sesuatu apapun yang menyentuh lengan yang saat ini sudah berubah menjadi sayap yang lebar dan kokoh, namun ia masih dapat merasakannya. Bagaimana mungkin?


"Ashia? Ashia? Ayolah, nak. Bukalah matamu." Panggil Sirrian lagi. Tiba-tiba Ashia merasa sesuatu menarik tubuhnya ke bawah. Ashia kehilangan keseimbangannya. Ia jatuh... jatuh... jatuh... lalu pemandangan di sekitarnya menghilang, ditelan oleh cahaya yang menyilaukan. Ashia menutup matanya kuat-kuat, lalu membukanya kembali dengan perlahan.


Hal pertama yang Ashia lihat adalah wajah tampan Sirrian. Pria itu tampak tersenyum lega.


"Hallo, sayang." Sapanya.


"Hallo, paman." sahut Ashia. Suaranya serak dan tenggorokannya terasa sangat kering. Memahami ketidak nyamanan Ashia, Sirrian menempelkan sepotong kecil es batu untuk membasahi bibirnya.


"Hisaplah ini perlahan. Jangan langsung ditelan ya. Ini mengandung obat uang akan melembabkan bibir dan menyamankan tenggorokanku." perintah Sirrian. Dengan patuh Ashia membiarkan es batu tersebut mencair lambat diatas lidahnya. Benar saja, tak lama kemudian bibirnya menjadi terasa lebih nyaman dan tenggorokannya menjadi lebih lega.


"Bagaimana perasaanmu?" Tanya Sirrian lagi. Perasaanku? pikir Ashia. Ia merasa luar biasa. Tubuhnya terasa lebih kuat, lebih bertenaga. Tapi... itu adalah rasa tubuhnya tadi saat ia berterbangan di langit luas. Tapi entah kenapa sekarang terasa sangat berbeda.


"Remuk. tubuhku terasa remuk." keluhnya heran.


"Itu wajar. Sebentar lagi kau akan merasa lebih segar." ucap Sirrian menanggapi. Kemudian Sirrian berbalik dan berbicara dengan orang-orang yang berada di sampingnya. Zhouyou sedang berdiri disisi tempat tidurnya, bersama dengan ibu dan ayahnya.


"Semua hasil tesnya normal. Dia sudah tidak apa-apa. Aku akan memberinya vitamin dan sebentar lagi ia akan merasa luar biasa." Ucap Sirrian. Kening Ashia berkerut heran. Ashia menyadari dengan terlambat bahwa ia sedang berbaring di atas ranjang di Infirmary. seluruh tubuhnya di tempeli dengan berbagai alat medis ultra modern dan ia hanya mengenakan sebuah gaun rumah sakit berwarna putih. Apakah ia tadi hanya bermimpi? Tapi mimpi tersebut terasa begitu nyata. Dan anehnya, Ashia tidak merasa berkeberatan berubah wujud Menjadi seekor naga. Ia malah merasa sangat luar biasa. Mimpi? Sungguh sayang sekali.


"Ashia?" Ashia menoleh ke arah suara itu dan mendapati ibunya telah berada di sampingnya. Wajah cantiknya terlihat sedih dan cemas. Air mata masih berlinang di wajahnya. Ashia tersenyum, mencoba untuk menenangkan.


"Ibu, aku baik-baik saja." ucapnya, meskipun sungguh ia masih belum yakin apa yang telah terjadi pada dirinya. Namun pelan-pelan ingatannya kembali padanya. Hanna, Naga dan pria yang memegang senapan yang ditodongkan ke arah Hanna.


"Apa ada yang sakit?" Tanya ibunya lagi, mengalihkan pemikiran Ashia. Ashia menggeleng.


"Hanya pegal-pegal. Tak ada yang tidak bisa diselesaikan oleh berendam dalam air hangat." ucapnya. Kata-katanya membuat Bao Yue tersenyum. Bao Yue menghapus air matanya dari wajahnya dengan sehelai sapu tangan dan berkata.


"Aku tak yakin Sirrian akan mengijinkanmu untuk berendam dalam air panas malam ini."


"Benarkah?"


Mendengar namanya disebut, Sirrian menoleh dan tersenyum.


"Kau tidak boleh melakukan apapun dan pergi kemanapun malam ini. Aku masih perlu untuk memonitor keadaanmu setidaknya sampai 24 jam ke depan." Ucap Sirrian.


"Tiran." cela Ashia yang disambut oleh Sirrian dengan tertawa. Di sebelahnya, Hazrat dan Zhouyou tersenyum.


"Gadis nakal, aku yakin kalau kau sudah bisa mengatai orang lain seperti itu berarti kau sudah sehat." Komentar Hazrat. Ashia mengangguk.


"Aku tidak apa-apa. Ayah Ibu sudah tak perlu khawatir lagi. Kalian berdua beristirahatlah. Aku akan menurut pada Sirrian dan tidak melakukan apapun sampai 24 jam ke depan."


"Hmmm... aku mengerti. Kami yang tua ini sudah tidak diperlukan lagi karena ada kekasihmu disisimu." Ucap Hazrat dengan tatapan penuh arti. Wajah Ashia langsung bersemu merah.


"Ayah! Bukan itu maksudku!" keluhnya gerah, membuat semua orang yang ada di ruangan itu tertawa.


"Kau ini!" Cetus ibunya. "Diluar sana selalu terlihat gagah perkasa. Tapi mengapa selalu tampak seperti bayi bila sedang berada bersama aku dan ayahmu?" Goda Bao Yue.


"Baiklah. Sekarang karena kau sudah bangun dan sehat, aku dan ayahmu bisa merasa tenang. Kami akan pergi sehingga kau punya waktu untuk berduaan dengan Zhouyou." Kata Bao Yue sambil mencubit lembut pipi Ashia. Bao Yue menunduk dan mencium kening Ashia. Ia lalu berjalan menuju suaminya yang sudah mengulurkan tangan untuk menggandeng mesra istrinya yang jelita. Hazrat menepuk bahu Zhouyou perlahan, lalu menggandeng Bao Yue untuk meninggalkan Infirmary setelah terlebih dahulu berpamitan pada Sirrian.


Setelah orangtuanya pergi, Zhouyou segera berjalan ke sisi ranjang Ashia. Namun ia tidak berbicara sepatah katapun sementara Sirrian kembali memeriksa tanda-tanda vital Ashia melalui Handheldnya. Setelah merasa puas dengan hasil yang dilihatnya, Sirrian mengangguk dan berkata,


"Semuanya terlihat normal. Kondisimu semakin membaik. Kalau begitu aku rasa aku bisa pergi dan tidur sebentar karena aku merasa lelah sekali. Kalau kau memerlukan apa-apa, minta Zhouyou untuk melakukannya ya." Katanya. Ashia mengangguk. Mereka lalu memandangi Sirrian yang berjalan santai menuju pintu keluar Infirmary.


Begitu pintu tersebut menutup kembali di belakangnya, Zhouyou dan Ashia saling berpandangan. Sejuta perasaan yang tak terucapkan mengalir melalui tatapan mata diantara mereka. Rasa cinta, rasa syukur dan rasa bahagia menguasai hati karena setelah apa yang terjadi mereka masih bisa bersama. Zhouyou menundukkan kepala dan mendekatkan wajahnya pada wajah Ashia, tapi gadis itu meletakkan telapak tangannya di bahu Zhouyou dan menahannya.


"Bagaimana dengan Hanna?" Tanyanya.


"Dia baik-baik saja." Sahut Zhouyou.


"Syukurlah. Aku takut sekali kalau sesuatu terjadi padanya." ucap Ashia.


"Tapi aku juga takut apabila sesuatu terjadi padamu."


"Toh aku baik-baik saja kan." Zhouyou menggelengkan kepalanya.


"Gadis gila! Kau mati, tahu tidak?"


"Hah?"


"Iya, kau mati! Jantungmu berhenti berdetak. Bukan, jantungmu hancur berkeping-keping!"


"Benarkah? Tapi aku hidup hidup kan?"


"Benar. Jantung telah diperbaharui."


"Diperbaharui? Kalian memasangkan jantung baru untukku?" Ashia tercengang. Zhouyou mengangguk. Zhouyou lalu menceritakan mengenai apa yang terjadi pada Ashia dan bagaimana Zorex telah membangunkan Naga milik Ashia yang kemudian membangkitkan Ashia kembali.


"Nagaku? Maksudmu aku punya seekor Naga dalam diriku?"


"Bukan dalam dirimu, tapi Naga itu adalah engkau. Hanya saja engkau tidak pernah menyadari bahwa engkau adalah seekor Naga."


"Tadi aku bermimpi. Aku bermimpi berubah menjadi seekor Naga dan terbang bebas di langit yang luas. Aku merasa sangat bahagia karenanya." Cerita Ashia setengah melamun. Ia menjadi yakin sekarang bahwa mimpi tersebut adalah mimpi yang dibangkitkan oleh sisi Naganya yang merindukan kebebasan diatas langit luas.


"Benarkah? Bagaimana rupanya?" Tanya Zhouyou. Mengingat penampilan sang Naga yang pantulannya terlihat dari permukaan sungai membuat Ashia tersenyum.


"Ia sangat cantik. Seluruh tubuhnya berwarna putih keperakan, dengan sisik yang warnanya mirip dengan bagian dalam cangkang mutiara yang berkilauan warna warni. Ia punya sepasang sayap yang besar dan lebar serta sepasang tanduk putih di kepalanya. Matanya sewarna dengan mataku dan di keningnya ada sebuah permata besar berbentuk oval berwarna Aquamarine."


"Permata berbentuk oval berwarna Aquamarine?" Ulang Zhouyou. Ashia mengangguk. Zhouyou kemudian membuka laci meja di dekatnya dan mengeluarkan sebuah cermin kecil dari dalam tas tangan Ashia yang telah dipersiapkan oleh Bao Yue untuk berjaga-jaga apabila Ashia membutuhkannya.  Zhouyou lalu mengulurkan cermin tersebut pada Ashia yang menerimanya dengan heran. Ia memandang Zhouyou bertanya-tanya, namun Zhouyou hanya tersenyum.


"Berkacalah." Perintahnya. Walaupun tak mengerti mengapa tiba-tiba ia disuruh untuk bercermin, Ashia menurut. Ia lalu mengangkat cermin tersebut ke depan wajahnya dan menatap ke arah pantulannya. Saat itulah ia terkesiap karena terkejut. wajahnya dalam pantulan cermin itu memiliki sebuah permata berbentuk oval berwarna Aquamarine yang menempel di keningnya.


Copyright @FreyaCesare