Flower Of The Dragon

Flower Of The Dragon
Sandaran Hati



Rowena memandang keluar jendela Shuttle. Ia tak ingat kapan terakhir kali berada di atas Shuttle dan berpergian. Sudah lama sekali. Saudara-saudaranya terbiasa menghilang sekali dalam seminggu untuk menghirup udara di luar Kuil Langit, tapi Rowena tak pernah memiliki keinginan seperti itu. Baginya laboratorium sudah lebih dari cukup untuk membuatnya merasa bergairah dan hidup walaupun orang lain tak berpikiran sama dengannya. Tapi hari ini ia terpaksa meninggalkan laboratoriumnya yang nyaman karena adik bungsu mereka memerlukan dirinya.


Terakhir kali Rowena menginjakkan kaki ke Pulau Langit adalah pada waktu Dewi Bunga yang lama, Bao Jinxiu, sedang berada dalam keadaan yang kritis. Bao Jinxiu adalah putri bungsu Bao Yi Rang. Terlahir dengan fisik lemah akibat kelainan degeneratif yang belum diketemukan obatnya, Jinxiu kehilangan kesempatan hidup abadinya. Namun Rowena merasa bukan penyakitnya yang telah memendekkan umur Jinxiu, melainkan perasaan cintanya.


Jinxiu menghabiskan masa mudanya di dalam Laboratorium, sama seperti Rowena. Usia mereka yang sepantaran, karakter kepribadian mereka yang introvert dan kesukaan mereka yang sama, membuat Jinxiu dan Rowena menjadi sahabat karib sejak belia. Siapa sangka begitu mereka remaja, merekapun menyukai seorang pria yang sama.


Apabila Rowena dan Jinxiu sering menyebut diri mereka sendiri sebagai sepasang kelinci yang lemah dan penakut, maka pria itu adalah matahari. Bukan cuma karena ia luar biasa tampan dan menyilaukan, ia juga seseorang yang tak seharusnya mereka pandang maupun sentuh.


"Kau bisa buta bila mencoba melihat langsung matahari. Kau akan terpanggang bila kau mencoba menyentuh matahari. Tundukkan pandanganmu dan sempurnakanlah hidupmu dengan mencintai ketidak sempurnaan, daripada merindukan matahari yang bahkan tidak bisa menemukanmu diantara banyak sekali orang!" Begitu selalu mereka saling mengingatkan. Namun begitu mereka tumbuh dewasa, saat Rowena menyerah pada cintanya, perasaan Jinxiu justru bertumbuh semakin dalam. Sayangnya di saat yang sama, sang matahari, bukannya meredup, namun malah menjadi semakin bersinar.


Pria itu haus akan pemujaan. Ia membiarkan dirinya menjadi obsesi banyak wanita, memberi mereka perhatian dan kasih sayang, namun tak pernah memilih satupun dari mereka. Ia berpindah dari satu wanita ke wanita yang lain hanya untuk bersenang-senang. Membagi mulut manisnya pada semua orang dan menghujani kasih sayang pada siapapun yang kebetulan singgah dalam pandangannya, namun tidak pernah memberikan hatinya. Mungkin baginya hidup akan lebih indah bila cinta hanya sebuah permainan tanpa ikatan. Setelah melihat perilaku serupa ini selama 10.000 tahun, Rowena berhasil menumbuhkan rasa benci dalam hatinya. Sayangnya Jinxiu malah semakin mencintainya.


Jinxiu mengejarnya. Mengerahkan semua kewanitaannya untuk memikat hati si pria, bahkan menawarkan dirinya walau hanya untuk semalam saja. Menurut Jinxiu, walau hanya semalam, kenangan itu sudah cukup untuk Jinxiu kenang sampai akhir hayatnya. Sayangnya pria itu hanya tersenyum dan berkata bahwa ia tidak ingin memperumit keadaan dengan melibatkan diri dalam cinta satu malam dengan Jinxiu. Rowena mengerti alasannya, pria itu hanya tidak ingin Jinxiu terkurung pada rasa cinta yang ia tak bisa membalasnya. Namun Jinxiu tak mampu menghadapi penolakan tersebut. Jinxiu lalu meminta ijin Baozhu untuk membangun kehidupannya sendiri di Pulau Bunga, terpisah jauh dari Kuil Langit tempat sang Pria berada dan membentuk klan bunga pertamanya. Sejak hari si pria  menolaknya, sampai akhir hayatnya, mereka berdua tidak pernah bertemu kembali.


Pada malam kematian Jinxiu, sebelum ia menarik nafasnya yang terakhir, Jinxiu sempat berkata bahwa ia tidak pernah menyesal karena sudah mencintai pria itu. Karena dengan mencintainya, Jinxiu bisa merasakan dan mengalami berbagai emosi yang membuat hidupnya tampak lebih berwarna. Rowena tidak dapat memahami apa enaknya merasakan emosi dari cinta yang tidak terbalas? Namun dirinya bukan Jinxiu, sehingga mungkin sampai akhir jaman, ia tak akan pernah memahaminya. Hanya saja ada 1 hal yang Rowena pahami dari pengalaman Jinxiu; bahwa satu-satunya cara bagi dirinya; Rowena, agar bisa menjalani kehidupan yang tenang sepanjang usianya, adalah dengan sepenuhnya melupakan cintanya pada pria tersebut.


Sekarang menemukan pria itu sedang berdiri menunggunya ketika sang pilot sedang mendaratkan shuttle, Rowena memanggil kembali semua kenangan tentang penderitaan Jinxiu untuk menjadi tameng bagi emosinya.


***


Hati Adonis dipenuhi rasa khawatir dan Adonis benci merasa khawatir. Ia khawatir pada keadaan Hanna yang tampak linglung dan kehilangan jiwanya, ia khawatir pada Baozhu yang tidak biasanya bisa dipenuhi oleh rasa takut dan kemarahan, dan ia juga khawatir pada dirinya sendiri yang tidak bisa berhenti merasa khawatir.


Seumur hidupnya, Adonis membenci emosi negatif. Ia membenci kemarahan dan obsesi yang berlebihan. Ia membenci keserakahan dan kecemburuan. Ia membenci rengekan dan airmata, walaupun ia selalu menganggap rengekan dan air mata Hanna justru membuatnya terlihat sangat cute, namun ia tidak pernah tertarik mendengar rengekan dan air mata orang lain. Hidup terlalu menarik untuk di habiskan dengan merengek dan menangis! Begitu selalu prinsipnya. Namun hari ini ia dipaksa untuk merasakan emosi negatif memenuhi hatinya dan menyebabkan dadanya sesak.


Adonis memerlukan Rowena! Adonis memerlukan sandaran hatinya. Saat ia berpikir seperti itulah, Shuttle yang membawa Rowena muncul di kejauhan. Adonis menarik nafas panjang karena lega. Karena Rowena sudah ada bersamanya maka ia akan baik-baik saja! Senyum langsung mengembang di bibir Adonis.


ibunya, seorang Mahadewi dengan hati seluas samudra. Dunia boleh berubah di setiap musimnya, bahkan di setiap perputaran waktunya, tapi Baozhu adalah layaknya sebuah pohon rindang diatas tanah yang subur; menaungi dunia dengan dahannya yang lebar dan daunnya lebat. Baozhu tak pernah berubah. Cintanya tak lekang dimakan jaman atau aus digerus usia. Seorang ibu bagi seluruh Sirria, dan terutama satu-satunya ibu yang dikenal Adonis, yang Adonis tahu akan terus mencintainya bahkan ketika Adonis melakukan sesuatu yang buruk sekalipun. Ibu yang tiada bandingannya. Itulah sebabnya Adonis tahu bahwa ia selalu bisa menyandarkan hatinya pada ibunya.


Sementara itu Hanna adalah adik yang Adonis besarkan dengan kedua tangannya sendiri, layaknya seorang anak. Hanna tampak imun pada daya tariknya sebagai seorang pria dan memperlakukan Adonis sebagai Kakaknya yang sangat disayangi namun tak segan dicela karena kenakalannya. Kasih sayang Hanna padanya murni kasih sayang seorang adik, sehingga Adonis merasa aman untuk mencintai Hanna dan menyandarkan hati padanya.


Sedangkan Rowena, alasan mengapa gadis itu menjadi sandaran hatinya sedikit berbeda dengan Baozhu dan Hanna. Sejak pertama berjumpa, Adonis tidak pernah menganggap Rowena sebagai saudarinya. Bagi Adonis Rowena terlihat seperti seorang wanita dan Adonis memiliki banyak perasaan negatif apabila menyangkut wanita.


Adonis sudah biasa dipuja, entah karena wajahnya, entah karena suaranya yang indah, entah karena kecerdasannya atau juga karena kekuatan super naturalnya. Ia terbiasa melihat wanita memandangnya dengan tatapan memuja, bahkan ketika ia berperilaku dan berkata buruk pada mereka. Ia terbiasa memperoleh anggukan persetujuan tanpa perdebatan untuk apapun yang ia inginkan dari wanita manapun.


Adonis ingin bisa berbicara dengan normal dengan seorang wanita tanpa mereka memasang ekspresi layaknya orang yang sedang high karena narkoba. Adonis ingin bisa berdebat dan bertukar pikiran dengan wanita secara normal, namun setiap kali ia bicara dengan wanita, mereka berlagak layaknya orang dungu yang hanya bisa mengiyakan dan setuju dengan semua yang Adonis katakan. Membuat Adonis berpikir apakah ada wanita yang sungguh-sungguh menyukainya? Lama-kelamaan Adonis merasa seperti seekor daging yang dilambai-lambaikan di hadapan binatang-binatang kelaparan dan Adonis membenci perasaan tersebut. Itu sebabnya Adonis tidak pernah benar-benar merasa tertarik dengan wanita manapun. Ia bersenang-senang dengan mereka, namun hanya sebatas itu saja.


Adonis dan Rowena dibesarkan sebagai saudara angkat namun baru bertemu ketika Rowena hampir menginjak usia remaja, sementara Adonis sudah terlibat dalam berbagai pertempuran antar bangsa. Mungkin itu sebabnya perasaan sebagai saudara tidak tumbuh dalam hati Adonis. Sejak saat Adonis memandang wajah dingin Rowena dan menerima tatapan mata Rowena yang tampak bosan padanya, Adonis merasa bagai ditiup oleh angin segar.


Sebagai pria yang digilai oleh banyak wanita, Adonis sudah terbiasa menerima pujian atau sekedar tatapan penuh kekaguman. Namun baru kali itu seseorang memandangnya dengan tatapan bosan dan bersikap seolah-olah ia tidak menarik. Sikap dan cara pandang Rowena padanya, bahkan setelah ratusan ribu tahun, tidak pernah mengalami perubahan, atau malah menjadi semakin buruk. Setiap kali bertemu dengan Adonis, Rowena selalu menunjukkan ekspresi seolah ia sepasang kaos kaki kotor yang bahkan tidak layak untuk di dekati, dan sikapnya ini membuat Adonis merasa lebih santai saat bersamanya.


Diantara semua wanita yang dikenalnya, hanya Rowena yang tidak pernah berubah, bahkan sampai ke potongan rambut Pixienya yang kontroversial. Di hadapan Rowena, Adonis merasa bisa melonggarkan kewaspadaannya dan bersikap santai serta apa adanya, karena Rowena tidak akan tiba-tiba memeluk dan mencoba menciumnya dengan paksa. Eeeer... walaupun belakangan ini, Adonis merasa tidak keberatan apabila Rowena ingin memeluk dan menciumnya sih.


Entah sejak kapan, saat melihat bibir mungil Rowena yang terkatup rapat, Adonis ingin menciumnya dan membuat bibir tersebut terbuka sepenuhnya hanya untuknya. Entah sejak kapan, setiap kali melihat lehernya yang jenjang, Adonis ingin menempelkan hidungnya pada nadi di leher tersebut untuk mencium wangi tubuhnya. Adonis menginginkan Rowena lebih dari ia menginginkan wanita lain sebelumnya dan Adonis menyukai perasaan itu.


Untuk pertama kalinya dalam hidupnya Adonis menyadari bahwa ada seorang wanita yang membuat Adonis menginginkannya dan wanita itu saat ini sedang menatapnya dengan ekspresi dingin dan bosan. Matahari langsung bersinar dengan kekuatan penuh di wajah Adonis saat ia tersenyum menyambut kedatangan Rowena, membuat Rowena memaki di dalam hati.


Copyright @FreyaCesare