
"I...itu aku?" tanya Hanna tak percaya. Saudara-saudara mengangguk.
"Bagaimana kalian bisa yakin kalau itu aku?" tanya Hanna lagi.
"Tentu saja karena bau tubuh kalian yang sama, bodoh!" sahut Aspixia.
"Kenapa aku berwarna putih? Aspixia kan merah." Ucap Hanna, masih belum mampu mempercayainya.
"Kau pasti mengikuti klan ibumu." sahut Adonis.
"Mengapa ukuran tubuhku berbeda dengan Aspixia?"
"Hmmm... Kalau itu kurasa ada yang salah dengan Aspixia." ucap Adonis sambil mengusap-usap dagunya. Matanya menatap Aspixia, terang-terangan menantang naga kecil itu untuk melawan. Namun Aspixia hanya menyeringai kesal. Sebenarnya dalam hatinya, Aspixia juga mengkhawatirkan hal yang sama. Melihat raut wajahnya yang tampak sedih, Xiao Bao menepuk bahunya lembut.
"Tidak apa-apa. Hanna menetas lebih dulu darimu, jadi wajar saja kalau ia sedikit lebih besar." ucap Xiao Bao menenangkan.
"Sama sekali tidak terlihat sedikit." komentar Adonis.
"Kak Adonis, jangan mengganggu adikku!" tegur Hanna kesal. Membuat Adonis mengangkat kedua tangannya pertanda menyerah. Hanna menggelengkan kepalanya. Hubungan antara Adonis dan Aspixia sama persis seperti hubungan antara Zhouyou dan Xiao Bao. Bahwa Aspixia lebih menyayangi Xiao Bao yang jarang ditemuinya ketimbang Adonis yang telah membesarkannya dan Hanna, pasti merupakan noda gelap yang mengganjal di hati Adonis. Sungguh kekanak-kanakan!
"Jadi ketika rohku meninggalkan tubuhku, tubuhku akan berubah wujud menjadi Naga?" tanya Hanna lagi.
"Ini sangat menarik. Kau sudah bertahun-tahun mencari cara untuk bisa berubah wujud menjadi Naga, namun tidak pernah berhasil. Mungkin hal ini akan membantumu lebih memahami bagaimana caranya agar berubah wujud menjadi Naga, lalu kembali menjadi manusia, sesuka hatimu." ucap Sirrian.
"Tapi sekarang yang paling penting adalah; bagaimana cara membuat Hanna kembali ke tubuhnya!" ucap Baozhu. "Aku tidak suka melihat roh Hanna berada di luar tubuhnya tanpa kita memiliki satupun pemahaman mengenai hal ini. Bagaimana kalau kemampuan ini berbahaya untuk Hanna? Saat ini dia hanya pergi menemui ayahnya, bagaimana kalau suatu saat nanti ia pergi ke tempat aneh yang membahayakan nyawanya?" mendengar kekhawatiran istrinya, Baotu tersenyum. Kalau ditanya siapa yang paling over-protective terhadap Hanna, jawabannya bukan Adonis, bukan pula Sirrian, tapi Baozhu. Wanita ini memiliki banyak anak, baik yang ia lahirkan sendiri, maupun yang ia adopsi selama mereka berkuasa di Sirria. Namun tidak ada satupun yang kurang dicintai atau kurang diperhatikan oleh Baozhu. Setiap dari mereka adalah permata yang terangkai di atas kalungnya yang paling berharga. 1 saja ada permata yang hilang, kalung itu akan kehilangan keindahannya.
"Jangan khawatir, istriku. Aku pikir masalah ini tidak akan menimbulkan masalah bagi Hanna. Ia akan baik-baik saja." ucap Baotu sambil mengusap kepala Hanna yang menerima ekspresi kasih sayang ayahnya dengan penuh senyum.
Tiba-tiba sebuah guncangan keras membuat pesawat seakan sedang mengalami gempa yang besar. Hanna berpegangan erat pada Ayahnya yang dengan refleks langsung menarik Hanna ke dalam pelukannya. Kejadian ini bukan saja mengejutkan Baotu dan Hanna, tapi juga keluarga mereka yang sedang berkomunikasi dengan mereka melalui sambungan video hologram.
"Huolan, ada apa?" tanya Baotu pada AI pribadinya.
"Kita sedang diserang, Yang Mulia." ucap Huolan dengan nada datar khas AI.
"Diserang? Huolan, pindahkah kami ke Anjungan!" perintah Baotu kembali. Dalam sekejap mata, pemandangan di sekitar Rainy berubah. Dari kamar tidur Baotu di masa kecil, berubah menjadi anjungan pesawat luar angkasa tempat semua komando terhadap seluruh kegiatan dalam Pesawat luar angkasa tersebut terjadi. Hanna menyadari bahwa kali ini bukan hanya sekedar mengganti background, tapi Baotu dan Hanna telah benar-benar dipindahkan secara fisik dari ruangan virtual Reality langsung ke anjungan dalam sekejap mata.
Di anjungan, Bao Youzi sedang duduk di kursi komando, menggantikan Baotu. Melihat Baotu muncul bersama Hanna, Youzi langsung bangkit dan kembali ke kursinya yang sesungguhnya. Saat itu, pesawat yang sedang mereka tumpangi terus menerus mendapatkan serangan dari luar. Walaupun getaran yang dihasilkannya cukup luar biasa, karena pesawat terlindung dalam perisai deflektor, tidak ada satupun bagian pesawat yang mengalami kerusakan.
"Mereka sepertinya menemukan cara untuk menyembunyikan keberadaan mereka, Yang Mulia. Sensor sama sekali tidak menangkap keberadaan mereka sampai saat mereka melakukan serangan." Sahut Bao Youzi.
"Siapa yang menyerang kita?" tanya Baotu
"Bao Luotao, Yang Mulia." mendengar ini Hanna memasang kupingnya dengan tertarik. Mereka di serang oleh salah satu anggota keluarga Bao? Apakah itu hanya sebuah nama yang sama, ataukah terdapat permusuhan dalam keluarga Bao? Bao Luotao? Nama itu asing di telinga Hanna. Hanna hendak bertanya pada Ibunya, namun kemudian menyadari bahwa koneksi antara mereka dengan Sirria sudah terputus sejak mereka meninggalkan ruangan Virtual Reality.
"Yang Mulia, Bao Luotao mencoba menghubungi kita." ucap Bao Youzi.
"Terima." sahut Baotu pendek.
Sebuah layar hologram besar muncul dan mengambang di hadapan mereka. Tak lama kemudian, seorang pria muncul di dalam layar. Pria tersebut duduk diatas kursi komando besar di tengah-tengah anjungan pesawat ruang angkasa. Ia adalah pria yang tampan dan terdapat sedikit kemiripan pada wajah itu dengan wajah Baotu, yang membuat Hanna terkejut. Namun bila Baotu adalah pria tampan bertubuh atletis yang tidak berlebihan, Bao Luotao terbentuk dari kumpulan otot keras, yang membuat tubuhnya tampak besar. Rambutnya dipangkas pendek dan ia memakai pakaian berbahan kulit berwarna hitam yang membuatnya tampak seperti berandalan, ketimbang seorang kapten pesawat angkasa luar. Ayah, apakah itu saudara kandungmu? Tanya Hanna dalam hati.
"Tu, sudah lama sejak terakhir kita bertemu. Kau masih terlihat selemah biasanya." sapa Bao Luotao.
"Dan kau masih terlihat sejahat biasanya." Sahut Baotu dengan dingin. Ah, ayah. Ternyata kau bisa bersikap dingin juga! Cetus Hanna dalam hati. Sebagai salah satu anak kesayangan Baotu, Baotu selalu bersikap lembut dan penuh kasih sayang pada Hanna. Hanna mengira bahwa ini adalah karakteristik sang mahadewa. Siapa sangka bahwa Ayahnya juga mampu bersikap sebaliknya.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Baotu tanpa basa-basi.
"Wah, adik kecil! Bisakah kau bersikap ramah pada kakakmu ini?" seloroh Bao Luotao.
"Aku tidak punya waktu untuk bermain-main denganmu." sahut Baotu. "Mengapa kau menyerangku?"
"Hmm? Orang-orangku baru saja menciptakan stealth shield jadi aku ingin mencobanya. Kebetulan pesawat kita berpapasan, jadi aku menggunakannya padamu." seloroh Bao Luotao. Tidak bersedia mengakui bahwa kali ini ia telah menghabiskan 1000 tahun khusus untuk melacak keberadaan Baotu, sejak pertemuan mereka yang terakhir.
"Bagaimana kabarmu, adikku?" tanya Bao Luotao, membuat Hanna membuka matanya lebar-lebar. Adik? Jadi pria menyeramkan itu benar-benar pamannya?
"Dimana Baozhu? Mengapa aku tak pernah melihatnya?" tanya Bao Luotao lagi.
"Istriku tak sudi melihatmu. Jadi berhenti memimpikannya." sahut Baotu datar. Nada suaranya yang begitu dingin membuat Hanna menggigil.
"Jangan pernah engkau lupakan bahwa sebelum menjadi istrimu, ia adalah tunanganku!" balas Bao Luotao dengan senyum mengejek. Kali ini Dagu Hanna nyaris menyentuh lantai karena terkejut. Hah? Tunangan ibu?
Copyright @FreyaCesare