Flower Of The Dragon

Flower Of The Dragon
Kisah Xiao Bao



Hanna hampir terlelap diatas pangkuan Baozhu ketika terdengar suara ketukan di pintu kamar. Saat itu mereka semua sedang berada di kamar Baozhu. Sambil mengerjap-ngerjapkan matanya dengan mengantuk, Hanna membiarkan tubuhnya ditegakkan dan Xiao Bao memasangkan cadar bersih untuk menutupi wajahnya sementara Tarli bangkit dari sofa untuk membukakan pintu. Tak lama kemudian ia kembali dan memberitahukan bahwa mereka semua diminta untuk berkumpul di ruang rapat Istana.


Ruang rapat Istana, sesuai namanya, adalah sebuah ruang yang biasa digunakan oleh Zhouyou dan staffnya untuk rapat. Di dalam ruangan yang tidak terlalu besar itu terdapat sebuah meja oval yang dikelilingi oleh kursi-kursi putar berjumlah sekitar 25 buah. selain itu kursi-kursi tambahan juga terpasang di sepanjang dinding. Di seberang kursi yang disiapkan bagi sang Raja, terdapat proyektor besar yang digunakan untuk keperluan rapat. Saat Hanna dan yang lainnya memasuki ruangan, hanya tinggal 5 kursi yang tersedia untuk mereka di sisi meja bundar. Sementara kursi-kursi yang lain sudah diisi oleh anak cucu Baozhu; termasuk para raja terdahulu, staff utama istana dan para jendral. Zhouyou yang duduk di kepala meja tampak sangat tampan dan mengesankan dengan seragam militernya yang berwarna putih bersih dan dipenuhi oleh mendali serta insignia.


Ketika melihat Baozhu, Hanna dan yang lainnya memasuki ruangan, Zhouyou langsung bangkit berdiri diikuti oleh semua orang yang ada disana. Ini adalah bentuk penghormatan mereka pada Baozhu, sang Ratu pertama yang pernah dan masih sangat mereka cintai. Saat Baozhu berhenti melangkah disisi meja bundar, semua orang membungkuk memberikan hormat dan baru menegakkan tubuh kembali ketika Baozhu memintanya.


Zhouyou mendekati neneknya dan mencium pipinya penuh rasa sayang. Lalu ia membungkuk di hadapan Hanna dan memandangi wajah sembab gadis kecil tersebut sambil tersenyum.


"Apakah kau habis menangis? Matamu sampai bengkak begitu." godanya sambil mencubit pelan pipi Hanna. Hanna mengangguk pelan, membuat Zhouyou menarik nafas panjang.


"Hanna, aku tahu bahwa engkau pasti sudah lelah. Tapi maukah engkau menceritakan tentang apa yang terjadi antara kau dan Naga tadi? Kami semua disini perlu mendengarnya." Tanya Zhouyou yang kembali di sambut Hanna dengan anggukan.


"Baiklah. Kalau begitu duduklah disini." Zhouyou mengangkat Hanna dan mendudukkannya diatas sebuah kursi, tak jauh dari kursinya berada. Setelah Zhoyou kembali duduk di atas kursinya, ia meminta pada Hanna,


"Hanna, bisakah kau menceritakan pada kami apa yang terjadi antara kau dan Naga tersebut hari ini?"


"Hanna berbicara padanya." Jawab Hanna, sedikit takut-takut karena tak tahu apa yang diharapkan di dengar oleh semua orang yang ada disana darinya. Zhouyou tersenyum menyemangati.


"Kau bicara padanya. Hanna, apakah kau mengerti bahasa Naga?" Tanya Zhouyou lagi. Pertanyaan ini telah dilontarkan oleh Baozhu tadi sehingga Hanna mengetahui jawaban apa yang harus ia berikan.


"Hanna tidak tahu soal itu sebab saat berbicara dengan Naga, Hanna merasa sedang berbicara dengan bahasa yang sekarang  Hanna gunakan saat berbicara dengan dirimu, paman. Hanna sama sekali tidak menyadari bahwa semua orang mendengar bahwa Hanna sedang berbicara dengan bahasa yang asing." Jawab Hanna.


"Jadi kau tidak merasa telah berbicara dalam bahasa yang sama sekali asing?" Ulang Zhouyou. Hanna mengangguk.


"Lalu apa yang kalian bicarakan?"


Hanna membeberkan isi pembicaraannya dengan sang Naga. Ia menjelaskan alasan mengapa sang Naga awalnya merasa murka, lalu menjadi bingung, kemudian terdesak. Hanna juga menceritakan permintaan terakhir sang Naga agar ia jangan dibunuh terlebih dahulu karena ada hal-hal yang masih ingin ia ketahui.


"Apa yang ingin ia ketahui, Hanna?" Tanya Zhouyou.


"Ia tidak sempat mengatakannya, namun tebakan Jaaz adalah bahwa ia ingin tahu tentang keadaan Sirria sekarang ini dan alasan dari kehancuran bangsanya."


"Akupun ingin tahu mengenai hal yang terakhir itu." guman Zhouyou. "Lalu apakah Jaaz mengetahui alasan mengapa kau bisa berbicara dalam  bahasa Naga?"


"Sang Naga menyebut Hanna sebagai anak Naga. Ia juga menuding ke arah kak Hazrat dan Adonis dan menyebut mereka sebagai Naga." Bisik-bisik langsung bergema di seantero ruangan mendengar kata-kata Hanna ini. Anak-anak yang datang dari ketiadaan sesungguhnya adalah bangsa Naga? Tapi tak seorangpun pernah berubah wujud menjadi Naga. Bukankah hal itu aneh sekali.


"Tapi aku tidak mengerti sama sekali apa yang sedang dikatakan oleh Naga tersebut." Sanggah Adonis.


"Awalnya Hanna pikir itu sebabnya Hanna bisa berbicara dengan sang Naga. Namun Jaaz bilang menjadi klan Naga bukan berarti bisa berbahasa Naga, karena tak ada satu orangpun yang mengajarkan bahasa tersebut pada klan Naga di masa sekarang ini. Alasan mengapa Hanna bisa berbicara bahasa Naga adalah karena itulah gift yang Hanna miliki. Seperti Kak Hazrat dengan angin atau Kak Adonis dengan Hormon, Hanna bisa memahami banyak bahasa tanpa perlu berusaha. Gift Hanna bukanlah mengendalikan tumbuh-tumbuhan seperti yang selama ini kita kira. Tapi gift Hanna adalah memahami bahasa mereka sehingga Hanna bisa bicara dengan mereka dan meminta mereka melakukan hal-hal yang bisa mereka lakukan untuk membantu Hanna." Ucap Hanna menjelaskan membuat semua orang terpukau mendengarnya. Seseorang dengan kemampuan untuk berkomunikasi bukan hanya dengan mahluk yang bisa bicara, namun juga dengan mahluk yang tidak berbicara? Tak ada teknologi yang mampu melakukan hal ini. Sungguh luar biasa! Bayangkan apa yang bisa Hanna lakukan dengan kemampuan ini. Ia akan menjadi mediator bagi semua species sehingga mempermudah eksistensi mereka saat hidup dalam habitat yang sama.


"Baiklah. Kurasa penjelasan yang diberikan Hanna sudah lebih dari cukup. Hanna, kau boleh pergi dan beristirahat terlebih dahulu sedangkan kami masih akan membahas hal lainnya." kata Zhouyou. Hanna mengangguk. Ia bangkit dari duduknya, membungkuk memberikan hormat pada Zhouyou, para raja terdahulu dan ibunya, lalu berjalan keluar ruang rapat diikuti oleh Xiao Bao yang berjalan dibelakangnya tanpa suara.


"Ada." sahut sebuah suara di belakangnya. Hanna menoleh dan melihat Xiao Bao sedang berdiri di belakangnya dengan wajah muram. "Ada kehidupan yang lebih menyedihkan. Apa kau ingin mendengarnya?" tanya Xiao Bao. Hanna terdiam sesaat dan hanya memandang wajah kakaknya yang muram.


"Apakah aku tanpa sadar menyuarakan pikiranku lagi?" Tanya Hanna yang dijawab Xiao Bao dengan anggukan. Hanna menarik nafas panjang dan mengganti posisi kakinya dari berjongkok menjadi bersila di atas rumput yang hijau, bersiap mendengarkan cerita Xiao Bao. Ia lalu menopangkan sebelah pipinya diatas telapak tangan yang sikutnya bertumpu pada lututnya dan menatap Xiao Bao.


"Ceritakanlah padaku, kak."


Xiao Bao kemudian turut duduk bersila disebelah Hanna.


"Di sebuah planet, terdapat sebuah suku yang sepanjang keberadaannya selalu diburu untuk dikoleksi ataupun dibunuh."


"Dikoleksi?"


"Benar. Dikoleksi layak boneka atau binatang peliharaan. Dipaksa melakukan ini itu sesuai keinginan majikannya."


"Kenapa begitu?"


"Kenapa begitu? Karena manusia itu serakah, penakut dan pengecut."


"Eh? Maksudnya bagaimana?"


"Suku ini terlahir dengan sebuah gift yang istimewa. Atau sebuah kutukan, begitu sebagian dari mereka berpikir. Mereka dikaruniai kemampuan untuk melihat takdir seseorang melalui mata ketiganya." Mata Hanna tertumbuk pada mata ketiga Xiao Bao yang tersembunyi di balik ikat kepalanya. Xiao Bao balas menatapnya dan tahu bahwa Hanna memahami arah ceritanya.


"Karena kemampuan mereka, para penguasa dan orang berduit dari penjuru planet datang untuk meminta ramalan dari mereka. Awalnya mereka hanya meminta. Lalu sebagian merasa bahwa kemampuan ini sangat berguna dan menyuruh sang peramal untuk tinggal bersama mereka. Tapi tidak mudah bagi anggota suku peramal untuk tinggal dalam masyarakat normal. Penampilannya sangat berbeda dari yang lainnya dan kemampuannya membuat sebagian orang merasa takut. Oleh karena hal ini tak banyak yang bersedia untuk tinggal dan mengabdi pada orang yang memperkerjakannya."


"Para penguasa tersebut tak biasa ditolak karena itu kemudian mereka merampas paksa kebebasannya. Para peramal di belenggu dan dijadikan tontonan dalam acara-acara pesta dimana sang penguasa menghadiahkan ramalan dengan gratis pada tamunya."


"Dilain pihak ada penguasa yang tidak suka dengan hasil ramalannya. Oleh karena itu untuk menutupi hasil buruk tersebut dari pendengaran semua orang, penguasa ini mulai membunuhi setiap anggota suku peramal yang berhasil ditemukannya."


"Begitulah, sepanjang keberadaan mereka di planet tersebut, suku ini menjadi sumber eksploitasi dan kekerasan. Mereka tidak pernah hidup dengan tenang dan selama jutaan tahun harus selalu hidup dalam persembunyian. Jangankan kehidupan kehidupan yang layak, bahkan anggota keluarga yang lengkap pun belum tentu bisa dimiliki dalam suku ini. Selalu ada saja perpisahan dan kematian yang membayangi setiap saat. Bahkan ada orangtua yang lebih rela membunuh anak-anaknya ketimbang membiarkan mereka diculik dan dieksploitasi oleh suku lain."


"Saat Baotu menemukanku dalam salah satu penjelajahannya, aku sedang berada dalam pelukan ibuku. Namun ibuku sudah kehilangan nyawanya. Baotu harus melawan pasukan bersenjata yang berusaha menguasaiku sebelum akhirnya mengambilku dari dalam pelukan tangan-tangan ibuku dan membawaku pulang ke Sirria. Waktu itu aku baru berusia 1 bulan. Seharusnya aku tak dapat mengingat kenangan apapun dari masa itu. Tapi selama bertahun-tahun, sesekali aku dihantui mimpi buruk." Xiao Bao terdiam sesaat untuk menarik nafas panjang, lalu melanjutkan ceritanya.


"Dalam mimpi tersebut aku sedang berada dalam pelukan seorang wanita yang sedang berlari. Aku bisa merasakan kehangatan tubuhnya, mendengarkan nafasnya yang tersengal-sengal, dan melihat wajah cantiknya yang pucat pasi dan ketakutan. Sampai kemudian sebuah panah menusuk dari belakang kepala, menembus mata kirinya.  Setelah itu aku selalu terbangun sambil berteriak." Xiao Bao memandang pada sang Naga yang masih belum juga bergerak di hadapan mereka.


"Aku tidak tahu bagaimana kisah hidup Naga ini, tapi semua orang punya kisah sedihnya masing-masing. Itu tidak memberinya hak untuk bersikap kejam, brutal dan menyakiti mahluk lain. Pada saat itu ia memang terdesak sehingga ia melawan. Tapi andaikan ia tidak menyemburkan api yang menghancurkan 1 pesawat, Zhouyou dan awak pesawat yang lain mungkin tidak akan menyerangnya. Untuk kekuatan sebesar yang ia miliki, bersikap ceroboh dan tidak hati-hati dalam semua tindakan sangat tidak boleh dilakukan. Apa kau mengerti maksudku?" tanya Xiao Bao pada Hanna. Hanna mengangguk. Ia bangkit berdiri dan lalu memeluk kepala Xiao Bao. Dalam diamnya ia berjanji tak akan pernah membiarkan Xiao Bao mengalami penderitaan lagi.


Dalam pelukan tangan-tangan Hanna, Xiao Bao tersenyum. Ia sudah lama berdamai dengan masa lalunya dan sangat bersyukur dengan kehidupannya saat ini. Baginya Hanna adalah salah satu kebahagiaan yang tidak akan ditukarnya dengan apapun. Seseorang yang bisa dipanggilnya adik dan dicintainya bagai darah dagingnya sendiri. Semoga ibunya di langit sana berbahagia melihat kebahagiaan Xiao Bao sekarang.


Copyright @FreyaCesare