
Apa paman Zhouyou belum memberitahukan masalah efek samping ini pada kak Ashia?" Tanya Hanna yang dijawab Adonis dengan gelengan.
"Oh." Hanna saling berpandangan dengan Aspixia.
"Sang Ratu akan mengamuk." komentar Aspixia.
"Tentu saja." Sahut Adonis riang.
"Rasakan saja akibatnya." Xiao Bao tersenyum puas. Hanna dan Aspixia sampai menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kekejaman keduanya.
"Saat ini mood Ashia sedang sangat buruk. Dia tampak siap meledak kapan saja. Itu sebabnya Tarli harus menemani Sirrian ke Istana Langit karena sepertinya Ashia tampak lebih tenang bila bersama Tarli." Cerita Adonis. "Aku tidak mengerti, sebelah mananya sih dari si nenek itu yang membuat Ashia begitu menyukainya?"
"Dia cute." sahut Hanna dan Aspixia berbarengan. Mata Adonis langsung terbelalak lebar dan wajahnya menunjukkan ekspresi tidak percaya.
"Kalian para Naga sungguh punya selera yang aneh!" Celanya.
"Kata Naga besar pada Naga yang lebih kecil." ejek Xiao Bao.
"Aku Naga dengan selera yang elegan!" Bantah Adonis. Mendengarnya, Hanna, Aspixia dan Xiao Bao mendengus mengejek secara bersamaan.
"Hei! Mana ada bujangan setampan dan semenarik diriku di seluruh Kerajaan Langit!" Ucap Adonis dengan tidak tahu malu.
"Apa guna setampan dan semenarik dirimu, apabila mendapatkan hati Rowena saja kau tidak mampu." ejek Xiao Bao disela-sela suapannya dengan acuh tak acuh. Kuping Hanna dan Aspixia, serta kuping beberapa anggota klan bunga yang berada tidak jauh dari mereka duduk, langsung tegak layaknya kuping Knyn saat sedang memburu mangsa.
"Xiao Bao!" Hardik Adonis dengan wajah memerah. Seumur hidupnya baru kali ini Hanna melihat wajah Adonis memerah.
"Eh, kakak, apakah kau menyukai kak Rowena? Bukannya dulu kau selalu saja merasa kesal padanya dan tidak segan untuk mengganggunya?" Goda Hanna usil.
"Ternyata kak Adonis seperti anak kecil yang senang sekali mengganggu orang yang disukainya ya." cetus Aspixia.
"Itu tidak benar! Jangan percaya pada Xiao Bao!" Bantah Adonis.
"Aku tak pernah bisa untuk tidak mempercayai kak Xiao Bao." tegas Aspixia. Hanna mengangguk setuju. Adonis mendengus kesal sementara Xiao Bao tersenyum jumawa.
"Kemarin dia mengirimi Rowena 1 set bed sheet, mungkin berpikir bahwa Rowena akan menerimanya dengan bahagia. Dengan lihainya Adonis menyuruh para pelayan memasangkannya ke atas ranjang Rowena." Lanjut Xiao Bao.
"Tutup mulutmu, peramal kecil!" tegur Adonis.
"Tapi Rowena melepaskan bed sheet tersebut dan memerintahkan para pelayan untuk memasangnya langsung ke atas ranjang Adonis disertai sebuah pesan yang harus dibacakan dengan keras dihadapan Adonis, pada saat makan siang di ruang makan." Di depan umum? Hebat!
"Apa katanya?" Kejar Aspixia.
"Xiao Bao!" Adonis menggeram.
"Aku tidak berniat menjadi teman tidurmu, jadi tidak usah berbaik hati untuk merapikan ranjangku." lanjut Xiao Bao.
"Ouch!" Hanna bergidik ngeri.
"Kakak, orang lain mengejar wanita dengan seikat bunga, mengapa kau memberinya bed sheet?" tanya Hanna.
"Aku tidak bermaksud apa-apa. Seseorang menghadiahkan bed sheet itu untuk kugunakan dan ternyata sangat nyaman dipakai. Karena aku ingin ia juga bisa tidur dengan nyaman seperti yang kurasakan makanya aku menghadiahkan bed sheet yang sama untuknya." kilah Adonis beralasan.
"Bed sheetnya terbuat dari Sutra." cerita Xiao Bao. Hanna dan Aspixia membuka mulut mereka dan memasang ekspresi terkejut. "Dan berwarna merah." Lanjut Xiao Bao. Aspixia dan Hanna langsung mengeluarkan suara terkejut yang berlebihan. Entah siapa yang memulai, tapi dalam budaya Sirrian, bed sheet sutra berwarna merah diberikan oleh seorang pria pada pengantinnya untuk digunakan pada malam pengantin mereka
"Kakak, kau mesum!" Cela Aspixia.
"Apa kau menerima bed sheet itu dari seorang wanita?" Tanya Hanna.
"Tentu saja. Mana ada pria yang mau memberinya hadiah." tukas Xiao Bao.
"Kakak, apa kau tidak bisa memahami maksud hati pemberi bed sheet tersebut? Jelas-jelas ia memiliki keinginan tidak pantas padamu!" Tanya Aspixia.
Adonis menarik nafas panjang. ia menutup matanya sesaat dengan kesal. Sebagai orang yang anti pernikahan, Adonis tidak pernah memperhatikan budaya tentang pernikahan secara khusus. Pengetahuannya tentang pernikahan hanyalah sebatas bahwa sepasang pria dan wanita yang bertukar sumpah setia di hadapan keluarga dan negara sudah sah menjadi suami istri. Mana ia tahu bahwa bed sheet sutra berwarna merah memiliki makna seperti itu. Ia memang menyukai Rowena, namun kesalahannya kali ini murni ketidaksengajaan. Dan tentang pemberi Bed Sheet tersebut, ia sudah terang-terangan menolak cintanya.
"Anak-anak, berbaik hatilah padaku. Aku sudah cukup mendengar banyak ejekan mengenai hal ini selama seminggu ini." Pinta Adonis memelas. Hanna dan Aspixia tertawa geli sementara Xiao Bao tersenyum simpul.
"Apakah kau perlu bantuanku, kak?" Tanya Hanna pada Adonis. Adonis langsung melambaikan tangannya untuk menolak ide tawaran Hanna tersebut.
"Hei, kau lupa siapa aku? Aku Adonis, sang Dewa yang memberikan inspirasi bagi para penulis sastra dan drama! Wanita tergila-gila padaku..."
"Kecuali kak Rowena." Potong Aspixia.
"Hmmm... dia? Yah, kurasa dia hanya tidak mau mengakuinya saja." bantah Adonis.
"Segeralah turun dari kursi tinggimu, kakak. Kalau tidak saat kau jatuh nanti, rasanya pasti sakit sekali." sindir Xiao Bao.
"Masalah dengan kak Adonis adalah bahwa ia telah terbiasa dikejar wanita, namun tidak pernah mengejar wanita. Hal ini menyebabkan skill merayunya sangat rendah karena sepanjang hidupnya, bukan ia yang merayu, tapi ia yang dirayu." analisa Aspixia. Adonis tersenyum dengan jumawa.
"Walaupun aku tidak setuju saat kau katakan bahwa skill merayuku sangat rendah, tapi hal lainnya sungguh tepat sekali. Mungkin di seluruh Sirria hanya aku satu-satunya pria yang membuat wanita tak menunggu untuk segera merayuku, bahkan dalam pertemuan pertama kami." Ucap Adonis jumawa. Mendengar kata-katanya, Hanna, Aspixia dan Xiao Bao saling berpandangan, lalu sejurus kemudian tergelak secara bersamaan.
"Tak tahu malu!" cela Xiao Bao.
"Sepertinya sayang sekali kalau menyerahkan kak Rowena pada laki-laki model begini." Aspixia menggelengkan kepalanya. Tapi berbeda dengan kedua saudaranya, Hanna hanya memandangnya sambil tersenyum. Tatapannya dipenuhi rasa sayang yang melembutkan hati Adonis.
"Aku tahu, aku tahu." ucap Adonis, menjawab kalimat tanpa suara yang mengalir dari ekspresi Hanna. "Aku juga menyayangimu, baby." Lanjutnya dengan bahagia. "Memang hanya kaulah yang selalu mendukung semua yang kuinginkan."
"Masalahnya, bahkan kau sendiri tidak memahami apa yang kau inginkan kan?" cetus Aspixia sambil tersenyum mengejek.
"Tentu saja aku tahu!" Bantah Adonis. "Saat ini yang kuinginkan adalah menghapus cengiran dari wajahmu itu!" Adonis tiba-tiba sudah menghilang dari kursinya dan telah berada di belakang Aspixia. Kedua tangannya berada di pinggang Naga Aspixia dan mulai menggelitikannya tanpa ampun, membuat Naga merah tersebut menggelinjang kegelian. Xiao Bao yang duduk disampingnya, dengan santai bangkit dari duduknya dan pindah ke kursi yang tadi diduduki Adonis, tepat di sisi Hanna. Sambil terus makan, keduanya menonton penyiksaan yang dilakukan Adonis dengan hati yang ringan.
Walaupun jauh dari Ibunya, walaupun terkurung di Pulau Bunga, walaupun ia masih harus menunggu kebebasannya 10.000 tahun lagi, Hanna menyadari bahwa ia sangat bahagia. Jadi menunggupun tidak apa-apa. Toh selalu ada mereka semua yang menghiburnya.
Copyright @FreyaCesare