
Ketika Sirrian memasuki gua, langkahnya langsung terhenti sesaat di depan pintu gua. Jantungnya nyaris melompat keluar ketika melihat bahwa keempat penjuru dinding dipenuhi oleh Chimera dalam berbagai bentuk dan ukuran. Semua Chimera tersebut diam, tak bergerak dan tak bersuara, namun seluruh mata chimera tersebut terarah pada Sirrian dan Tarli, terang-terangan mengawasi segala gerak-gerik mereka. Seluruh insting Serrian memerintahkannya untuk berbalik dan melarikan diri dari tempat tersebut dan suara geraman Tarli di belakangnya memberi tahu Sirrian bahwa Tarli juga merasakan hal yang serupa. Namun suara mendesak Hanna yang memanggil namanya menyadarkan Sirrian.
Sirrian segera mendekati Hanna yang berjongkok di lantai, di sebelah Spoutfire, dimana sesosok chimera dewasa terbaring di lantai gua. Begitu matanya menemukan pasiennya, Sirrian segera mengeluarkan handheldnya, lalu berjongkok di sisi induk Spoutfire dan mulai melakukan scanning. Saat scanningnya mencapai salah satu bagian punggungnya, Sirrian mengulurkan tangan dan mencari-cari sesuatu diantara bulu tebal induk Spoutfire. Ia kemudian menemukan sebuah peluru tranqualizer masih menancap di punggung Chimera tersebut. Sirrian mengaktifkan sebuah kompartemen tersembunyi pada handheldnya dan menaruh peluru tersebut di sana. Handheld tersebut mengeluarkan bunyi bip dan kompartemennya kembali tertutup.
"Tucson, dapatkah kau menganalisa isi peluru ini?"
"Sedang dilakukan." Suara robotic Tucson menggema di ruangan yang sunyi. Serrian membaca keterangan yang muncul pada layar handheld.
Spesies : Chimera
Sub spesies : tidak diketahui
Nama : Electricitea
Asal : Tidak diketahui
spesifikasi : pemakan listrik, menyerang dengan menyetrum lawannya
Level Bahaya : Level 3
Level bahaya Chimera yang paling tinggi yang pernah ditemukan adalah level 5.
Jenis kelamin : Betina
Usia : Tidak diketahui
Karakter : Tidak diketahui
Vital : 50 %
Peringatan : zat beracun menyebar dalam tubuh sebanyak 50 %.
Suara bip kembali terdengar dan keterangan baru muncul di layar.
Jenis : Tranqualizer Bullet
Blackdust adalah racun yang baru saja ditemukan diperjual belikan secara ilegal di pasar gelap di Terra. Asalnya tidak diketahui, untungnya antidotnya baru saja selesai dikembangkan oleh Rowena, namun kemungkinan apakah obat itu akan bisa digunakan oleh Chimera atau tidak sama sekali tidak diketahui.
Awanya Sirrian memandang Hanna yang balas memandangnya dengan kedua mata besarnya yang penuh rasa percaya, namun kemudian Sirrian mengalihkan pandangannya pada Spoutfire.
"Hanna, bantu aku menjelaskan pada spoutfire." pintanya. Hanna mengangguk. "Spoutfire, ibumu terkena peluru berisi racun bernama blackdust. Aku memiliki antidotnya disini," Sirrian menepuk-nepuk tasnya. "Tapi karena aku tidak pernah merawat Chimera sebelumnya, aku tidak bisa memastikan apakah antidot ini akan berguna atau malah berbahaya bagi ibumu. Karena itu sekarang hanya kau yang bisa mengambil keputusan; apakah aku akan menyuntikkan antidotnya pada ibumu atau tidak."
Hanna dan Spoutfire saling berpandangan sesaat.
"Spoutfire bertanya apa yang akan terjadi bila kita tidak menyuntikan antidotnya?" Tanya Hanna. Sirrian menarik nafas panjang dan menggeleng.
"Blackdust sangat fatal bagi Tarli dan Sirrian. Tapi tak ada yang tahu bagaimana efeknya bagi Chimera. Hanya saja kalau melihat kondisi ibunya saat ini, kita harus bersiap untuk yang terburuk." Jawab Sirrian. "Maafkan aku, Spoutfire." ucap Sirrian penuh rasa iba. Spoutfire masih terlalu kecil untuk mengambil keputusan atas hidup dan mati ibunya. Namun sebagai satu-satunya keluarganya, tanggung jawab itupun terpaksa jatuh di bahu Spoutfire.
Spoutfire menunduk sesaat. Lalu ia mengangkat kepala dan menoleh pada salah satu dinding seolah sedang meminta pertimbangan dari Chimera yang ada disana. Tak ada suara yang terdengar dari komunikasi mereka. Di dalam gelap, ekspresi merekapun tidak terlihat. Lalu Spoutfire memandang Hanna, dan Hanna memandang Sirrian.
"Tolong lakukan yang bisa kau lakukan untuk menyelamatkannya, Kak Sirrian." kata Hanna. Sirrian mengangguk mengerti. Ia lalu membongkar isi tasnya dan mengeluarkan kotak berisi antidot blackdust yang memang sudah beberapa bulan ini menjadi koleksi wajib dalam tasnya. Setelah terlebih dahulu mengecek ulang hasil scanning tubuhnya pada handheld dan mengkonsultasikan lokasi yang paling tepat bagi injeksi obat pada Tucson, Sirrian menyuntikkan obat penangkal racun tersebut pada induk Spoutfire. Setelah selesai, ia duduk bersila di samping induk Spoutfire sambil terus mengamati handheldnya. Hanna mengambil tempat di sisinya.
"Lalu sekarang bagaimana, kak?" Tanya Hanna.
"Sekarang kita hanya bisa menunggu, Hanna." Jawab Sirrian.
Hanna meraih Spoutfire ke atas pangkuannya dan kemudian bersandar pada Sirrian. Malam sudah begitu larut. Baik Hanna maupun Spoutfire sudah kelelahan. Tak lama kemudian keduanya tertidur dalam posisi tersebut, sementara Sirrian terus berjaga di sisi pasiennya dan Tarli berjaga di belakang Hanna dan Sirrian, bersiap menjadi tameng apabila salah satu dari chimera-chimera tersebut memiliki ide yang buruk. Di sekitar mereka, satu persatu Chimera tampak mengambil posisi untuk beristirahat. Pada akhirnya hanya Sirrian dan Tarli yang terus berjaga sepanjang malam. Itu adalah malam yang paling aneh dan paling menegangkan di sepanjang hidup mereka.
Waktu berlalu begitu lambat, begitu juga kondisi perbaikan yang dialami induk Spoutfire. Walaupun tanda-tanda vitalnya menunjukan angka yang terus meningkat, namun pergerakannya yang lambat membuat Serrian merasa khawatir. Bagi Tarli dengan ukuran sebesar Lady Tarli hanya dibutuhkan waktu 5 jam untuk racun menghilang sepenuhnya dari sistem tubuh, namun rupanya hal ini tidak berlaku bagi Chimera. Sirrian terdorong untuk meningkatkan dosis antidot yang telah diberikannya, namun ia tidak berani mengambil resiko. Pada akhirnya, saat pagi tiba dan kondisi perbaikan baru mencapai 10%, Serrian menghubungi Rowena dan memintanya untuk membantu.
Rowena datang bersama Ashia dan Adonis dengan membawa makanan untuk Sirrian, Tarli dan Hanna, juga buah-buahan dan daging serta ikan mentah untuk para Chimera. Mereka meletakkan makanan tersebut di depan pintu gua, berharap untuk tidak membuat para chimera merasa gusar karena bertambahnya mahluk berkaki dua yang datang. Awalnya para Chimera tampak ragu menerima persembahan damai tersebut. Namun ketika kucing putih yang kemarin menjemput Hanna di kuil melenggang keluar dari gua dan mulai makan dengan lahap, para chimera lainpun mengikutinya. Ashia dan Adonis memperhatikan mereka dengan tercengang, sementara Rowena memasuki gua untuk membantu Serrian.
Rowena adalah wanita bertubuh mungil, dengan rambut panjang bergelombang berwarna merah dan wajah berbentuk hati yang menarik. Ia memakai jumpsuit berwarna biru terang dan sepatu olahraga tanpa kaus kaki. Rowena adalah gadis kecil yang terjebak di tubuh orang dewasa. Ia polos, lurus dan sangat naif. Namun tidak ada yang berani meremehkan Rowena, karena ia adalah ahli obat-obatan terbaik di seluruh Sirria.
Rowena adalah putri dari dari Bao Xin Ye, anak ke 7 dan putri kedua Baozhu yang menikah dengan Zen, salah satu anak angkat Baozhu yang tercipta dari ketiadaan. Rowena mewarisi eidetik memory dari ibunya dan kemampuan untuk mengendalikan proses biokimia dari ayahnya, yang memiliki kemampuan untuk mengendalikan molekul. Sirrian berharap Rowena bisa membantunya untuk mencari cara mempercepat perbaikan fisik induk Spoutfire dengan menggunakan kemampuan supernaturalnya.
Benar saja, dibawah campur tangannya, proses perbaikan kesehatan induk spoutfire berjalan dengan lebih cepat. Dalam beberapa jam saja, tanda-tanda vitalnya membaik. Ketika senja tiba, akhirnya induk Spoutfire membuka matanya. Hanna dan Spoutfire begitu girang. Hanna mulai menciumi semua orang yang ada disana sebelum akhirnya menangis di bahu Adonis. Sebuah tangisan penuh rasa syukur dan lega.
Copyright @FreyaCesare