Flower Of The Dragon

Flower Of The Dragon
Penantian



Zhouyou membaringkan Ashia ke atas tempat tidur di infirmary. Sirrian dan Rowena langsung berkerja untuk menyambungkan berbagai kabel monitor dan IV ke tubuh gadis itu. Secara ajaib, suara detak jantung Ashia tampak terdengar kembali walaupun pelan dan memiliki ritme yang sangat berbeda. Di bawah scanning Handheldnya, Sirrian menemukan bahwa jantung Ashia yang tadinya telah hancur mulai terbentuk kembali dengan perlahan-lahan. Dalam hati Sirrian terus memburu si jantung untuk pulih lebih cepat, berpikir bahwa begitu jantungnya kembali normal, Sirrian bisa memberikan pengobatan bagi luka-luka lainnya dengan lebih leluasa. Namun mengingat bahwa saat itu ia sedang berurusan dengan entitas asing yang tidak diketahuinya, Sirrian merasa ragu dan berpikir mungkin lebih baik apabila ia membiarkan Tubuh Ashia memperbaiki dirinya sendiri.


Saat Sirrian sibuk dengan pekerjaannya, Zhouyou hanya duduk diam di sisi tempat tidur Ashia. Tubuhnya masih tegang dan pikirannya terasa begitu hampa. Benar, Sirrian telah memberitahunya bahwa jantung Ashia secara ajaib telah pulih kembali. Ia pun bisa merasakan detak  jantung tersebut bila ia menekankan ujung jari tangannya pada pergelangan tangan Ashia. Tapi sampai Ashia membuka mata, Zhouyou belum akan merasa tenang. Ia merasa bahwa kapan saja, Ashia mungkin bisa direnggut kembali dari sisinya. Dan perasaan serta pemikiran ini sangat mengganggunya.


Zhouyou mendekatkan tubuhnya pada Ashia dan membelai kepalanya penuh rasa sayang. Zhouyou menunduk dan mencium kening Ashia.


"Ashia, jangan tinggalkan aku sendiri." bisiknya . Matanya kembali berkaca-kaca. Sirrian mendekat dan menepuk-nepuk bahunya pelan.


"Jangan khawatir. Ashia akan baik-baik saja." hibur Sirrian. Zhouyou mengangkat kepalanya dan memandang pada Sirrian.


"Bagaimana keadaannya?" Tanya Zhouyou.


"Keadaannya terus membaik. Jantungnya belum terbentuk sempurna, namun anehnya berdetak dengan baik. Dengan kecepatan regenerasi yang ditunjukkannya, dalam beberapa jam lagi jantungnya akan pulih. Begitu jantungnya sudah sempurna, aku akan langsung memberikan pengobatan yang diperlukan dan setelah itu dalam beberapa jam kemudian, ia akan sehat sempurna." Jawab Sirrian. Mendengarnya Zhouyou menarik nafas lega. Ashia akan baik-baik saja! Syukurlah! Zhouyou mengusap wajahnya dengan tangan kanannya dan menyandarkan diri ke punggung kursi. Wajahnya tampak luar biasa lelah.


"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Sirrian. Zhouyou mengangguk.


"Kalau kau lelah, kembalilah ke kamarmu dan beristirahatlah. Biar aku yang menjaga Ashia disini." suruh Sirrian. Tapi Zhouyou menggeleng.


"Tidak, paman. Aku akan tetap disini sampai Ashia membuka matanya." tolak Zhouyou. Sirrian hanya mengangguk mendengarnya. Sirrian lalu menepuk-nepuk bahu Zhouyou sesaat sebelum kemudian meninggalkan pria itu.


Sirrian sedang berjalan untuk menuju ke kamarnya setelah meminta Rowena untuk menggantikannya mengawasi keadaan Ashia, ketika menemukan Hanna yang sedang duduk di ruang tunggu infirmary. Gadis itu sudah membersihkan diri dan berganti pakaian. Lututnya terbalut perban akibat luka-luka luar yg disebabkan oleh batu-batuan saat ia bersimpuh di depan Ashia dan Zorex tadi pagi. Rambutnya tergelung rapi dan dibuat sedemikian rupa sehingga menopang posisi tali cadarnya. Kepalanya tertunduk dan hanya duduk diam. Sirrian mendekat dan berjongkok di hadapannya.


"Hanna, apa kau lakukan disini?" Tanyanya. Gadis kecil itu mengangkat kepalanya untuk menatap Sirrian. Hanna tidak sedang menangis, namun matanya berkaca-kaca.


"Apa kau khawatir pada keadaan Ashia?" Tanya Sirrian lagi. Hanna mengangguk pelan.


"Kalau begitu mengapa kau tidak masuk ke dalam dan menjenguknya?" tanya sirrian. Namun Hanna hanya menggeleng.


"Bagaimana keadaan kak Ashia?" Tanyanya dengan suara bergetar menahan tangis.


"Ashia masih dalam proses penyembuhan. Tapi ia akan segera bangun dan sehat kembali. Jangan khawatir."  Ucap Sirrian menenangkan. Setetes air mata menetes di mata Hanna.


"Benarkah?" Tanya Hanna ragu. Sirrian mengangguk.


"Kapan aku pernah berbohong padamu?" Tanyanya sambil tersenyum. "Ashia akan baik-baik saja. Percayalah!" Hanna mengangguk kuat-kuat.


"Kalau kau ingin melihatnya, masuklah." Suruh Sirrian sambil menunjuk ke arah pintu Infirmary. Namun lagi-lagi Hanna menggeleng dan menundukkan kepalanya dengan sedih.


"Kenapa? Apa karena Zhouyou?" Tanya Sirrian.  Hanna mengangguk sesaat, namun kemudian menggeleng. Membuat kening Sirrian yang melihatnya berkerut heran.


"Iya atau tidak, yang mana yang benar?" Tanya Sirrian. Hanna menarik nafas sesaat sebelum kemudian menjelaskan.


"Aku tidak ingin mengganggu kakak dan paman."


"Baiklah, sayang. Terserah kau saja. Tapi sebaiknya jangan menyiksa dirimu dengan pikiran yang tidak perlu ya?" Hanna mengangguk. Sirrian mengusap-ngusap kepala Hanna sejenak, kemudian bangkit dan berjalan kembali menuju kamarnya. Sampai di dalam kamar, ia mengangkat jam tangan pintarnya dan menghubungi Zhouyou.


"Zhouyou, bisakah kau bangun sebentar dan menjenguk ruang tunggu? Ada seseorang yang sangat memerlukan bantuan mu disana." Ucapnya.


Mendengar permintaan Sirrian, kening Zhouyou berkerut heran. Namun dengan patuh ia bangkit dan berjalan menuju pintu keluar. Ketika pintu terbuka ia menemukan bahwa ruang tunggu sedang dalam keadaan kosong. Tak ada siapapun disana kecuali seorang gadis kecil bercadar yang duduk diam tak bergerak, dengan kepala menunduk dan bahu turun. Hanna terlihat sungguh sangat menyedihkan.


Zhouyou menarik nafas panjang, kemudian  tanpa suara, ia berjalan mendekat. Saat sampai di dekat Hanna, Zhouyou kemudian duduk di kursi, tepat di sebelahnya. Membuat Hanna menoleh padanya. Melihat ekspresi dan wajah Hanna yang basah oleh air mata, Zhouyou jadi merasa bersalah. Dalam kedukaannya ia telah melupakan Hanna, padahal seperti juga dirinya, Hanna sangat mencintai Ashia. Terlebih lagi Ashia terluka karena melindunginya. Gadis kecil itu pasti merasa sangat bersalah.


Zhouyou tersenyum menatapnya lalu membuka kedua tangannya.


"Bolehkah aku minta sebuah pelukan?" Tanya Zhouyou. Mendengarnya, air mata Hanna mengalir makin deras. Ia langsung bangkit dan  melemparkan dirinya dalam pelukan Zhouyou.


Lama Hanna menangis dalam pelukan Zhouyou. Zhouyou mengangkat gadis kecil itu ke atas pangkuannya dan membiarkannya menangis sampai puas. Tangannya menepuk-nepuk punggung Hanna pelan, Sementara matanya sendiri mulai kembali berkaca-kaca. Zhouyou berpikir andai ia juga masih anak-anak sehingga ia bisa mencurahkan semua kesedihan dan rasa frustasinya dengan menangis sekeras-kerasnya seperti yang dilakukan oleh Hanna, mungkin hatinya akan lebih mudah untuk kembali menjadi tenang. Namun karena ia adalah orang dewasa, maka hari ini saja ia akan membiarkan Hanna yang menangis untuknya.


Ketika akhirnya Isak tangisnya mereda, Hanna mengangkat kepala dan memandang pada Zhouyou dengan takut-takut.


"Paman... maukah kau memaafkanku? Aku telah mencelakakan kak Ashia." Pintanya.


"Permintaan macam apa ini? Tak ada yang perlu dimaafkan, Hanna. Apa yang terjadi pada Ashia bukanlah salahmu!" sahut Zhouyou.


"Tapi andai aku tidak meminta Shield untuk diturunkan, maka tidak akan ada yang berusaha untuk membunuh Zorex karena hal itu tidak bisa dilakukan. Andai aku tidak berusaha melindungi Zorex, kak Ashia pasti tidak merasa perlu untuk menghadang tembakan tersebut dengan tubuhnya. Ini salahku, Paman! Aku yang salah!"


"Hanna, dengar; apabila bukan Ashia yang melindungimu hari ini, maka pasti aku yang akan melakukannya. Kami melakukan hal tersebut karena kami sangat menyayangimu dan tidak ingin apapun terjadi padamu. Melindungimu adalah keinginan kami dan kami siap dengan semua resikonya." Kata Zhouyou, mencoba menjelaskan.


"Pengorbanan Ashia adalah wujud dari kasih sayangnya padamu. Oleh karena itu, jangan pernah mengecilkan kasih sayang tersebut dengan menghakimi dirimu sendiri. Kami adalah orang dewasa, Hanna. Aku dan Ashia tahu konsekuensi dari apa yang kami lakukan. Karena itu terimalah kasih sayang yang kami berikan dan bersyukurlah. Mengerti?"


"Tapi kak Ashia Sampai harus kehilangan nyawanya..."


"Tapi ia hidup lagi kan?! Dan Ia akan segera sehat kembali seperti sedia kala!  Dan semua itu bisa terjadi karena adanya dirimu. Tanpa engkau yang menghubungkan kami dengan Zorex, maka Ashia tidak mungkin diselamatkan!" sergah Zhouyou. "Karena itu, Hanna, berhenti merasa bersalah dan bersyukurlah. Bisa kan?" Hanna mengangguk pelan.


"Apa kau tidak marah padaku, paman?" Tanya Hanna lagi. Zhouyou mencubit hidung yang tersembunyi di balik cadar itu kuat-kuat.


"Aku marah! Tentu saja aku marah karena kau menuduh aku sedang marah padamu tanpa bukti yang jelas!"


"Maaf, paman." Bisik Hanna lirih. Zhouyou mengangguk. Ia mengusap air mata Hanna dengan ujung jarinya, kemudian ia menurunkan Hanna dari pangkuannya dan bangkit berdiri.


"Ayo, kau harus menemui Ashia. Ia pasti sangat cemas pada keadaanmu. Beritahu pada Ashia bahwa kau baik-baik saja sehingga ia bisa berhenti cemas dan hanya fokus pada kesembuhannya."


Hanna mengangguk. Zhouyou lalu menggandeng Hanna memasuki Infirmary.


Copyright @FreyaCesare