Flower Of The Dragon

Flower Of The Dragon
Apakah Kau Benar Milikku?



"Hmmm… Jiuling yang menjadi co-pilot? Ckckck… apa gunanya keluar dari militer dan jadi pengusaha kaya raya dengan banyak pegawai bila pada akhirnya ia akan selalu merangkak kemari untuk bisa bertemu dengannya. Sampai rela menjadi co-pilot segala." Eh? Suara malas Adonis membuat kepala Rowena langsung berputar  kembali ke arahnya.


"Chen Jiuling kemari untuk bertemu dengan siapa?" Tanya Rowena pelan.


"Siapa lagi. Tentu saja pria yang sedang berbicara dengannya itu." Jawab Adonis santai. Rowena mengikuti arah pandangan Adonis yang mengarah kepada Chen Jiuling dan Pramugara tampan yang masih terlibat pembicaraan dengannya.


"Pramugara itu?" Tanya Rowena, setengah tidak percaya.


"Hmm…"


"Memangnya Pramugara itu siapa?"  Tak mampu menahan diri, Rowena bertanya kembali. Adonis membungkukkan tubuhnya untuk bisa berbicara lebih dekat dengan Rowena dari kursinya yang dipisahkan dengan gang yang cukup lebar. Ia tampaknya sedang diliputi minat untuk bergosip.


"Jangan lihat bahwa pria itu saat ini hanyalah seorang pramugara. Pria itu adalah cucu tunggal salah satu pria terkaya di Qu dan juga pria yang telah ditunangkan dengan Jiuling sejak mereka masih sangat belia. Sayangnya pria itu memiliki pemikiran yang sangat sederhana dan tidak tertarik untuk menjadi penerus keluarganya. Ia meninggalkan Keluarganya dan memilih untuk menjadi orang biasa, membuat keluarga Jiuling memutuskan pertunangan mereka secara sepihak." Cerita Adonis.


"Jiuling tidak pernah bertemu dengannya selama masa pertunangan mereka sehingga ia tidak mengetahui siapa pria tersebut sesungguhnya. Namun beberapa tahun yang lalu, tepat sehari setelah ia pensiun dari militer, Jiuling bertemu dengannya yang baru saja diterima sebagai salah satu pramugara pesawat pribadi Istana langit dan langsung jatuh hati setengah mati." Cerita Adonis.


"Aku ada disana hari itu dan melihat langsung untuk pertama kalinya bagaimana mantan staffku yang gagah perkasa berubah menjadi wanita yang salah tingkah karena seorang pria. Semenjak itu Jiuling terus saja menawarkan diri untuk menjadi co-pilot dalam berbagai penerbangan yang diikuti pria itu hanya agar bisa bertemu dengannya. Si bebal itu awalnya tidak berani mendekatinya secara terang-terangan dan memilih cara ini untuk melindungi harga dirinya. Namun setelah ia mengetahui bahwa pramugara itu adalah mantan tunangannya, Jiuling mulai mengejarnya dengan lebih terbuka."


"Sayangnya, pria itu sejak awal sudah tahu siapa Jiuling dan sudah memutuskan untuk  tidak melibatkan diri dengannya. Makanya sampai sekarang, tak perduli cara apapun yang digunakannya, Jiuling tidak juga berhasil memenangkan hati pria itu." Adonis menarik nafas panjang dan kembali menyandarkan dirinya di kursinya dengan malas.


"Jiuling yang malang." Cetus Adonis. "Seharusnya ia menyerah saja."


Rowena memusatkan perhatiannya kembali pada Chen Jiuling dan Pramugara tersebut. Karena telah mengamatinya sedari tadi Rowena menyadari bahwa pramugara tersebut bukannya tidak perduli pada Chen Jiuling. Rowena bisa melihat bahwa setiap kali Chen Jiuling tidak memperhatikan, Pria itu selalu memandang Chen Jiuling dengan tatapan yang begitu lembut.


Rowena merasa bodoh karena tidak dapat melihat hal itu lebih cepat. Ia terlalu dibutakan oleh kecemburuan untuk dapat menyadari bahwa ada sesuatu yang berbeda di antara kedua. Sekarang setelah ia tahu, interaksi mereka yang tidak biasa menjadi terlihat dengan sangat jelas dan Rowena yakin sekali bahwa sang pramugara juga memiliki perasaan yang khusus pada Chen Jiuling.


"Kupikir Chen Jiuling menyukaimu…" Kalimat ini seharusnya hanya diucapkannya dalam hati. Namun mulutnya yang penghianat tanpa disadarinya menyuarakan kalimat ini yang terdengar dengan jelas di telinga Adonis.


"Hah! Satu-satunya yang dicintai Jiuling dariku adalah kemampuan membunuhku yang tiada bandingannya! Dia selalu bilang bahwa aku adalah seekor merak yang congkak. Selalu mengembangkan ekorku ke segala arah tanpa pilih-pilih betina yang akan menjadi sasaran. Kurang ajar benar dia; mengatai atasannya seperti itu!"


"Tapi dia benar." Sahut Rowena pelan. Mendengar ini Adonis segera mengulurkan tangannya dan mencubit sebelah pipi Rowena dengan kuat, membuat wanita itu terpekik pelan.


"Satu-satunya wanita yang kuinginkan untuk melihat ke arahku hanyalah dirimu saja! Camkan ini di kepalamu yang cantik itu!" Bantah Adonis tegas, membuat Rowena tertegun. Pipinya langsung memerah dan jantungnya kembali berdegup kencang. Ia memandang Adonis lekat-lekat, berharap bisa membuka kepala pria itu dan melihat isinya agar ia bisa menetapkan apakah mulut manis pria itu adalah sebuah ketulusan atau hanya permainan saja. Mungkin dengan begitu Rowena tidak lagi perlu merasa bimbang pada seluruh kisah cinta yang enggan ia mulai tapi tak mampu ia akhiri ini. Adonis, Apakah kau memang benar diperuntukan bagiku?  Tanya Rowena dalam hati. Sayangnya mulutnya yang pemalu enggan untuk bersuara sementara Adonis yang dipandangi sedemikian rupa menjadi gelisah oleh tatapan merana Rowena. Adonis yang malang. Entah kapan ia akan bisa memenangkan pujaan hatinya.


Perjalanan menuju Istana Langit berlangsung dengan lancar. Waktu perjalanan yang singkat dihabiskan Adonis untuk memaksa Rowena menghabiskan makanan yang dibawakannya. Walaupun bersyukur pada perhatian Adonis yang membawakan makanan baginya bahkan ketika Rowena tidak perduli pada dirinya sendiri, tak urung Rowena mengomel dalam hati karena dipaksa menghabiskan porsi makanan yang 2 kali lebih besar dari yang biasa dimakannya. Kalau saja ia tidak merasa bersalah karena telah mencurigai Adonis dan Chen Jiuling, ingin rasanya Rowena menjejalkan kotak makanan tersebut ke dalam tempat sampah. Sayangnya rasa bersalahnya terlalu mengganggu sehingga Rowena terpaksa menahan rasa sesak dalam perutnya dan memaksa diri untuk menghabiskan makanan yang telah disiapkan Adonis dengan sepenuh hati.


Setelah menyelesaikan suapan terakhirnya, Rowena bersandar di kursi dengan wajah pucat pasi, sekuat tenaga menahan diri untuk tidak memuntahkan makanan yang terasa berputar dalam perutnya. Di kursi di sebelah gangnya, Adonis merapikan kotak makanan yang telah kosong dengan tatapan takjub.


"Siapa yang mengira tubuh sekurus dirimu ternyata makannya banyak juga ya!" Cetusnya riang.


Rowena yang sudah pucat pasi menjadi terkejut mendengar kalimat ini dan tiba-tiba kehilangan kendali pada lambungnya. Dengan segera ia bangkit dan berlari menuju toilet. Rowena memuntahkan seluruh isi perutnya di toilet sambil terus saja mengutuki Adonis dalam hati.  Memangnya salah siapa aku  jadi menghabiskan semua makanan tersebut? Dasar Adonis bodoh!


Rowena memandang wajahnya yang pucat pasi. Gelombang rasa mual sudah berkurang setelah muntah, namun belum sepenuhnya menghilang. Setelah menarik nafas panjang, Rowena membuka pintu toilet dan menyeret tubuhnya keluar dari ruangan super sempit tersebut. Di depan toilet Rowena berhadapan dengan sang Pramugara yang rupanya sudah menunggu dengan wajah khawatir.


"Dewi, apa anda baik-baik saja?" Tanyanya pelan. Namun belum sempat Rowena menjawabnya, Adonis sudah muncul di belakang si Pramugara.


"Itu pasti karena kau terlambat makan tadi. Kasihan kau. Makanya seberapa kesalnya pun kau padaku, kau tidak boleh menunda waktu makanmu karena aku. Akhirnya kau jadi sakit kan!" Dasar merak berbulu serigala! Memangnya kau pikir semuanya selalu tentang dirimu? Maki Rowena dalam hati.


"Pasti perutmu sekarang kosong kembali ya? Duduklah." Adonis mendorong Rowena untuk duduk di kursi tepat di sebelah kursi yang di tempatinya. Setelah Rowena duduk, Adonis kembali duduk di kursinya sendiri. Ia lalu meraih tangan Rowena dan mulai memijati titik akupuntur di tangan kirinya.


"Babyku yang malang! Jangan khawatir. Aku telah memesankan makanan untuk mengisi perutmu yang kosong itu." Hah? Dengan ngeri Rowena  melambaikan sebelah tangannya yang bebas untuk menolak tapi Adonis malah menangkap tangan itu dan mulai memijatinya juga.


"Tak boleh menolak! Apa yang kupesankan harus kau makan semuanya sampai habis. Mengerti?!" Tegas Adonis.


Rowena menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Wajahnya yang masih pucat pasi tertekuk ngeri tapi mulutnya tak mampu berkata-kata karena masih dipenuhi oleh rasa mual yang mengancam. Orang gila ini! Maki Rowena dalam hati. Apakah dia berniat membunuhku atau membuatku gemuk agar punya cukup banyak daging untuk dijadikan menu makan malamnya? Belum sempat Rowena menyuarakan penolakannya, Adonis menoleh ke balik punggung Rowena dan tersenyum senang.


"Nah, makananmu sudah datang!" Cetusnya. Dengan ngeri Rowena menoleh dan melihat Sang Pramugara mendekat dengan membawa sebuah nampan berisi mangkuk yang cukup besar untuk memuat 1 porsi makanan. Rowena sudah bersiap untuk kabur ketika kemudian melihat bahwa yang dibawa oleh sang pramugara  hanyalah semangkuk cairan bening kecoklatan yang masih mengepulkan uap hangat.


"Eh? Mana makanannya?" Heran Adonis. Mendengar ini sang pramugara tersenyum. Lesung yang indah muncul menghiasi wajah tampannya, membuat Rowena jadi ingin tersenyum juga. Entah karena wajah tampannya atau karena pembawaannya yang tenang dan kalem, Rowena langsung menyukainya. Adonis yang melihat ekspresi terpukau Rowena, mengerutkan keningnya.


"Dewi baru saja muntah jadi saat ini pasti belum mampu untuk makan. Ini adalah air jahe. Sangat baik untuk menenangkan perut yang bermasalah. Dan ini…" Sang Pramugara menyodorkan sebuah sachet berisi sirup obat untuk lambung pada Rowena.


"Mungkin anda memerlukan ini." Ucapnya penuh hormat.  Masih dengan setengah terpukau, Rowena balik tersenyum pada sang pramugara dan mengangguk mengiyakan.


"Terimakasih. Anda sangat penuh pengertian." Pujinya. Mendengar ini sebelah alis Adonis langsung naik ke dahinya.


"Boleh saya tahu nama anda?" Tanya Rowena. Kali ini mulut Adonis membuka. Mendengarnya pertanyaannya, sang pramugara sedikit membungkukkan punggung dan kepalanya dengan hormat.


"Saya Yi Fan dari keluarga Yu." Jawabnya.


"Yu Yi Fan? Apakah kau adalah putra bibi Yu Fan Fan?"


"Benar, Dewi."


"Oh wow! Ibuku adalah teman akrab bibi Fan Fan!" Cetus Rowena. Mendengar ini, Yu Yi Fan tersenyum.


"Benar, Dewi." Sahutnya sopan.


"Kenapa aku tidak pernah bertemu denganmu sebelumnya?" Tanya Rowena heran.


"Sejak kecil Kakek selalu membawa saya berkeliling Sirrian. Saat saya akhirnya kembali ke rumah, Dewi telah pindah ke Kuil Langit."


"Ah. Sayang sekali." Cetus Rowena lagi. Kali ini ekspresi Adonis menggelap.


"Minum air jahenya!" perintah Adonis, dengan sengaja berusaha memutuskan percakapan Rowena dan Yu Yi Fan. Yu Yi Fan  yang pandai membaca situasi, segera berpamitan dan mengundurkan diri ke pantry. Rowena yang tidak menyadari adanya perubahan dalam ekspresi Adonis, menyesap air jahenya perlahan dengan patuh dibawah pengawasan Adonis.


"Apa Yu Yi Fan begitu tampan?" Tanyanya tiba-tiba.


Copyright @FreyaCesare