
Ketika di Pulau Bunga, Aspixia sedang berteriak-teriak dengan panik, milyaran kilometer jauhnya dari Planet Sirria, Hanna sedang tour keliling pesawat penjelajah Antariksa dengan ceria. Setelah memasangkan cadar baru di wajah Hanna, yang kebetulan baru dibeli Baotu di planet terakhir yang disinggahinya sebagai bagian dari oleh-oleh yang disiapkan Baotu untuk Hanna, Baotu dan Bao Youzi menemani Hanna berkeliling.
Ini bukan kali pertama bagi Hanna memasuki pesawat ini. Tapi ini kali pertama Hanna berada di dalam pesawat, saat pesawat sedang beroperasi dengan kru yang lengkap. Hanna menoleh ke kiri dan ke kanan dengan takjub, melihat banyak sekali orang mondar-mandir dari satu ruangan ke ruangan yang lain, sibuk melakukan banyak hal yang tidak dipahami oleh Hanna. Memandang wajah tercengang putrinya, Baotu tersenyum geli dan menarik hidung yang tertutup kain tipis tersebut.
"Apakah sebegitu menariknya?" Tanya Baotu. Hanna mengangguk kuat-kuat, membuat Baotu dan Bao Youzi tersenyum. Bagi Hanna yang nyaris selalu terkurung dalam Kuil Langit atau di Pulau Bunga, dunia dalam pesawat penjelajah antariksa milik ayahnya ini tentu saja sangat menarik karena berbeda dari dunia yang biasa dilihatnya.
Ketika mereka memasuki area taman, mulut Hanna terbuka lebar.
"Ini tidak tampak seperti isi sebuah pesawat! Ini lebih mirip pusat pertokoan di taman bermain!" ucap Hanna. Ia memandang hutan tropis yang ditumbuhi oleh banyak pepohonan besar yang tinggi menjulang. Diantaranya terdapat berbagai jenis tanaman hias dan bunga-bunga yang menguarkan wangi semerbak. Di sela-sela pepohonan terdapat cafe-cafe artistik yang menyajikan berbagai menu yang biasa di temukan di kafe manapun di Sirria. Setiap kafe dihubungkan dengan jalan setapak cantik yang terlihat menyerupai batu alam. Hanna berjongkok dan mengetukkan buku-buku jarinya pada salah satu batu. Jarinya terasa sedang memukul batu alam sungguhan.
"Apakah ini batu alam asli, Ayah?" tanyanya pada Baotu.
"Tentu saja tidak. Batu alam terlalu berat untuk dijadikan bahan baku pesawat. Batu itu dibuat dari bahan pengganti yang diciptakan di lab. Penampilannya memang terlihat seperti batu, namun bobotnya sangat ringan." Mendengar penjelasan ini, Hanna mengangguk dan melanjutkan langkahnya.
Di depan sebuah Bakery yang mengiklankan menu berbagai macam pastry, Hanna memandang ayahnya dengan mata berbinar-binar. Memahami makna tatapan putrinya, Baotu tersenyum penuh kasih sayang. Ia lalu menggandeng tangan Hanna dan mengajaknya memasuki Kafe. Tentu saja dengan Bao Youzi yang mengikuti di belakangnya. Hanna memandang ke daftar menu yang tersedia dan dengan lantang memesan 1 untuk semua pastry yang ada. Walhasil, ketika ordernya selesai, Hanna memperoleh sebuah kotak besar berisi 20 buah pastry beraneka rasa, membuat mata Hanna berkilauan karena girang.
"Gadis kecil, apa kau yakin bisa menghabiskan semua itu?" tanya Bao Youzi.
"Tentu saja! Ini sih tidak seberapa." sahut Hanna dengan bangga, membuat Bao Youzi berdecak heran.
"Terus terang, aku mengkhawatirkan masa depan cucu keponakanku apabila ia harus membesarkanmu. Bisa-bisa gudang harta milik Kerajaan Langit menjadi kosong melompong karena digunakan untuk membelikan makanan bagimu." goda Bao Youzi.
"Membesarkan? Apa tidak terbalik? Aku yang lebih dahulu lahir jadi akulah yang akan membesarkan dia, dan bukan sebaliknya!" sanggah Hanna. "Lagipula, cucu keponakan? Astaga! Aku lupa bahwa kau adalah pamannya paman Zhouyou. Apakah mulai sekarang aku harus mulai memanggilmu kakek?" Ucap Hanna dengan mata terbelalak yang dibuat-buat, jelas-jelas sedang mengejek Bao Youzi.
Bibir Bao Youzi berkedut. Ini memang kacau. Berdasarkan pangkat, Bao Youzi harusnya memanggil Hanna dengan sebutan bibi. Namun Hanna 1,5 juta tahun lebih muda dari dirinya. Hanna juga adalah tunangan cucu keponakannya. Sungguh memusingkan. Untungnya sejak awal Baotu telah memberitahunya untuk tidak terlalu memandang pangkat Hanna sebagai senior. Berhubung usia Hanna yang jauh lebih muda, maka akan lebih mudah bagi mereka untuk menyapa Hanna dengan namanya saja dan memperlakukan gadis itu sebagai junior. Dengan cara ini, bukan saja Hanna tidak perlu merasa canggung ketika berinteraksi dengan anggota keluarganya yang berstatus juniornya, Hanna juga jadi memperoleh lebih banyak kasih sayang dari keluarganya karena mereka justru menganggap Hanna sebagai junior mereka.
"Tidak perlu. Jangan membuatku bosan dengan panggilan yang tidak menarik itu. Bagaimana bisa aku yang tampan ini dipanggil kakek? Hiiii! Aku jadi bergidik mendengarnya." Tolak Bao Youzi. Saat itu mereka sedang duduk di kursi taman yang terletak tidak jauh dari Kafe dan sedang memilih-milih pastry yang ingin mereka makan.
"Tampan?" Hanna memandang Bao Youzi dari atas kebawah dengan provokatif. "Sebelah mananya?" tanyanya kemudian. Bao Youzi menyipitkan matanya ke arah Hanna dengan kesal.
"Malas bicara denganmu!" sahutnya akhirnya sambil menggigit pastry di tangannya dengan kesal, membuat Hanna menjulurkan lidahnya dengan senang.
"Ada apa?" tanya Baotu.
"Hanna mengulurkan pastry nya ke depan hidung Baotu.
" Ayah, coba cium ini." suruh Hanna. Dengan patuh Baotu mengikuti permintaan putrinya dan mendekatkan hidungnya pada pastry tersebut. Wangi mentega dan manis mocca bercampur menjadi satu, membuat Baotu yang membenci makanan bercita rasa manis, mengerutkan wajahnya.
"Apakah Ayah bisa mencium baunya?" tanya Hanna. Baotu mengangguk.
"Ini bau apa, Ayah?"
"Mentega dan Mocca."
"Benarkah?" Hanna memasukkan pastry tersebut kembali ke dalam kotak dan mengambil pastry lainnya. Ia mengendusnya sesaat, lalu kembali menyodorkannya kepada Baotu.
"Bagaimana dengan ini?" tanya Hanna. Dengan patuh Baotu mendekatkan hidungnya pada pastry tersebut.
"Vanilla." jawab Baotu, lagi-lagi mengerutkan wajahnya.
"Benarkah?" tanya Hanna lagi. Ia meletakan kembali pastry tersebut di hidungnya dan mengendus dalam-dalam. "Mengapa aku tidak bisa mencium apapun?" keluh Hanna dengan heran.
"Tidak bisa mencium apapun?" heran Bao Youzi. Hanna mengangguk. Ia mencoba mengendus semua pastry yang ada dalam kotak tersebut satu persatu. Ia bahkan mengambil pastry yang ada di tangan Bao Youzi dan mengendusnya kuat-kuat. Namun tak ada satu baupun yang tercium olehnya.
"Coba makanlah." Suruh Baotu, menyodorkan sebuah pastry ke depan mulut Hanna. Hanna membuka mulutnya dan menggigit pastry tersebut dengan hati-hati. Tak lama kemudian mata burung Phoenix milik Hanna menjadi berkaca-kaca.
"Aku tidak bisa merasakan apapun!" rengeknya pada Baotu dengan panik. Sang Dewi Bunga tiba-tiba kehilangan indra perasa dan indra penciumannya. Itu berarti ia kehilangan kemampuan untuk menikmati makanan enak. Ya Tuhan semesta alam, apa yang sedang terjadi? Apakah kehilangan kemampuan untuk mencium dan merasa ini akan berlangsung selamanya? Membayangkannya saja sudah membuat mata Hanna berkaca-kaca.
"Ayah, aku kenapa?"
Copyright @FreyaCesare