Flower Of The Dragon

Flower Of The Dragon
Di Dalam Gelembung



"Hallo, darling. Kau tampak buruk rupa di bawah cahaya matahari. Apakah kau menginap di dalam Laboratorium lagi?" Tanya Adonis. Tanpa menjawabnya, Rowena berjalan melewati Adonis untuk menuju pintu gerbang Istana, sementara Adonis berusaha mengimbangi langkahnya.


"Bagaimana keadaan Hanna?" Tanya Rowena tanpa basa-basi. Wajah Adonis yang tadinya dihiasi senyum menggoda, berubah redup. Ia menarik nafas panjang sebelum berbicara.


"Tidak terlihat baik di mataku. Ia terlihat bagai boneka tidak bernyawa, rapuh dan kehilangan semangat hidup." Keluhnya.  "Bisakah kau bayangkan Hanna seperti itu?"


Tidak. Rowena tidak bisa membayangkannya. Hanna yang dikenalnya adalah gadis yang serupa dengan angin ****** beliung milik Hazrat, selalu berenergi, selalu bergerak, selalu meninggalkan kekacauan dimana-mana. Hanna juga mirip bunga matahari yang selalu tegak menentang cahaya dan menari dibawah hembusan angin yang menggoda. Dan Hanna mirip seorang bidadari yang meninggalkan senyuman di hati semua orang yang melihat keceriaannya. Merasa kecemasannya semakin memuncak, Rowena mempercepat langkahnya dan meninggalkan Adonis yang sepertinya berniat untuk berjalan santai sambil mengagumi keindahan pulau bunga. Melihat gadis itu telah berada jauh di depannya tanpa disadarinya, Adonis segera berlari mengejarnya.


***


Hanna sedang duduk diatas ranjangnya dengan Chichi diatas pangkuannya. Entah kapan Knyn mungil itu memanjat naik ke atas pangkuannya, Hanna tidak menyadarinya. Hanna hanya tahu bahwa ketika ia menundukkan kepala, ia menemukan Chichi sudah berada disana. Hanna mengedipkan matanya perlahan. Tangannya terulur pelan dan menyentuh lembut kepala Chichi yang disambut Chichi dengan mengusapkan kepalanya ke telapak tangan Hanna. Biasanya perilaku semacam itu akan mengundang senyum di bibir Hanna, namun Hanna tidak tersenyum. Ia bahkan tidak menyadari bahwa Chichi sedang mencoba berkomunikasi dengannya. Hanna menutup dirinya; pikiran dan emosinya. Ia mengunci keduanya rapat-rapat agar ia tidak perlu berpikir dan tidak perlu merasa. Hening, Hanna suka bila semuanya hening.


Seseorang mendekat dan duduk di sampingnya. Hanna tak merasakan dorongan untuk mengangkat kepalanya dan mencari tahu siapa yang mencoba mengganggu keheningannya. Namun beberapa saat kemudian sepasang tangan memegang dagunya dan memaksa Hanna untuk mendongak. Hanna kemudian bertatapan dengan seorang wanita cantik berwajah mungil dan berambut Pixie. Hanna tahu bahwa ia mengenal wanita tersebut. Tapi ia tidak merasa perlu untuk mengingat siapakah dia. Jangan ingatkan. Jangan pikirkan. Biarkan dunia hening.


Wanita tersebut tampaknya sedang berbicara karena Hanna melihat mulutnya bergerak-gerak. Tapi Hanna tidak dapat mendengar suaranya... atau lebih tepatnya ia memilih untuk tidak mendengar suaranya. Biarkan saja! Nanti juga wanita itu akan menyerah sendiri untuk mencoba berbicara padanya. Ibunya juga tadi sudah mencobanya. Beliau terus saja mengajak Hanna berbicara, namun Hanna tak mampu memaksa dirinya untuk merespon kata-kata ibunya. Hanna bahkan tak mampu mendengar suaranya.


Dunianya hening. Hanna merasa seolah ia berada di dalam sebuah gelembung yang memisahkannya dari dunia luar. Dunia di sekitar gelembungnya begitu ramai dan sibuk, sementara dunia di dalam gelembungnya begitu tenang dan hening. Aaaah... Hanna ingin memejamkan mata dan tidur untuk waktu yang lama. Tubuhnya terasa begitu lelah dan kepalanya terasa sangat berat. Biarkan aku tidur. pinta Hanna dalam diamnya. Biarkan aku tidur...


***


Rowena membantu membaringkan tubuh Hanna. Begitu kepalanya menyentuh bantal, Hanna langsung menutup matanya. Rowena menyelimuti Hanna sementara Chichi, diikuti Koko dan Chiko yang menyusul naik ke atas ranjang, duduk berjajar di samping Hanna layaknya pengawal yang siap melindungi Hanna dari siapapun yang berani mengganggu gadis itu.


Rowena memandangi wajah pucat Hanna dan menarik nafas panjang. Ia telah memberi Hanna obat penenang agar ia dapat tidur dengan tenang tanpa dihantui pikiran yang terus berkecamuk, setidaknya sampai tubuhnya cukup kuat untuk menghadapi kenyataan kembali. Hanna adalah gadis yang tegar sehingga Rowena yakin keadaan ini hanya sementara saja. Beberapa hari lagi Hanna pasti akan segera pulih dan kembali seperti sedia kala. Dan saat itu terjadi, mereka semua pasti akan diseret oleh Hanna untuk terlibat dalam misi untuk menghalangi ramalan takdirnya menjadi kenyataan. Rowena sangat mengenal adik bungsunya itu dan apabila ditinjau dari kebiasaannya, hal itulah yang akan Hanna lakukan.


Akhirnya setelah mengulurkan tangan dan merapikan anak-anak rambut di kening Hanna, Rowena bangkit dari duduknya dan berbalik. Ia menemukan Adonis sedang berdiri begitu dekat, tepat di belakangnya. Wajah pria itu dikuasai kekhawatiran.


"Bagaimana keadaannya?" Tanyanya. Rowena menggelengkan kepalanya. Ia memegang bahu Adonis dan memutar tubuh pria itu untuk menghadap ke arah pintu, lalu mendorongnya keluar kamar. Rowena meminta Aspixia yang berdiri tidak jauh dari mereka untuk menjaga Hanna, lalu ia menutup pintu di belakangnya.  Setelah menutup pintu, Rowena menggenggam tangan Adonis dan menariknya menuju ruang duduk.


Di ruang duduk, Baozhu dan Xiao Bao duduk menunggu di sofa sementara Grutz berbaring di dekat kaki Xiao Bao. Rowena mendorong Adonis untuk duduk diatas sofa di samping Xiao Bao, sementara dirinya mengambil tempat di sisi Baozhu. Rowena mengulurkan tangannya pada Baozhu yang langsung di genggam Baozhu erat.


"Bagaimana keadaannya?" Tanya Baozhu. Suaranya dipenuhi dengan kekhawatiran. Saat ini Baozhu bukanlah seorang Mahadewi. Ia hanyalah seorang ibu yang khawatir tentang keadaan putrinya.


"Kau juga harus beristirahat, ibu. Kerutan ini tak baik bagi kecantikanmu." Tegur Rowena.


"Aku tidak apa-apa, nak. Aku baik-baik saja." ucap Baozhu menenangkan.


"Mengenai kejadian hari ini, apa tidak sebaiknya kita melaporkannya pada Zhouyou, ibu?" Tanya Xiao Bao


"Benar, Ibu. Orang-orang itu sudah dengan sengaja datang kemari untuk mengganggu Hanna. Kita harus mengetahui motif dibalik hal ini." Tambah Adonis.


"Orang-orang? Siapa yang kalian maksud?" Tanya Rowena tak mengerti. Informasi yang ia peroleh sejauh ini hanyalah bahwa Hanna tanpa sengaja menemukan kristal ramalannya dan mengalami shock akibat mendengar isi ramalan tersebut. Adonis kemudian menceritakan semua yang terjadi pada Rowena. Kening Rowena langsung berkerut keheranan.


"Bukankah tidak ada yang mengetahui mengenai ramalan yang dibuat Xiao Bao tentang Hanna kecuali para penghuni Kuil Langit? Lalu bagaimana bisa ada yang mengetahuinya?" Tanya Rowena.


"Benar. Hari itu Ibu telah memerintahkan bahwa tidak seorangpun boleh mengungkapkan ramalan tersebut pada siapapun. Sehingga seharusnya tidak ada yang mengetahuinya." Jawab Adonis.


"Bila seorang peramal bertemu langsung dengan Hanna, ia akan bisa memperoleh informasi yang sama dengan melakukan face reading." Xiao Bao kembali mengulang informasi yang sama yang telah dibagikannya sebelumnya.


"Ini berbeda, Xiao Bao. Ini bukan tentang seorang peramal datang berkunjung dan tanpa sengaja  bertemu dengan Hanna. Tapi mereka dengan sengaja telah datang kemari dan menyamar menjadi pegawainya Jiuling, lalu melakukan ramalan pada Hanna. Untuk apa mereka melakukan itu kalau bukan memang ingin menjadikan Hanna sebagai target mereka." bantah Adonis.


"Tapi kenapa?" Tanya Rowena.


"Aku juga sedari tadi tidak mampu menemukan jawaban atas pertanyaan tersebut." sahut Adonis kesal. Ia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya, terlihat begitu kalut, begitu kelelahan dan begitu... tampan. Rowena mengerjapkan matanya dan mengalihkan tatapannya pada Ibunya. Kening Rowena langsung berkerut melihat ibunya yang tampak begitu serius berpikir dalam diamnya.


"Ada apa, ibu? Apakah kau menemukan pentunjuk mengenai masalah ini?" tanya Rowena. Baozhu langsung mengangkat kepalanya dan menatap Rowena.


"Apakah Zhouyou sudah mengumumkan atau setidaknya pernah mengungkit mengenai pertunangan Hanna dengan Putra Mahkota?" Tanya Baozhu. Rowena, Adonis dan Xiao Bao saling berpandangan.


"Akan kutanyakan." Sahut Adonis.


Copyright @FreyaCesare