Flower Of The Dragon

Flower Of The Dragon
Perintah Dari Sang Raja



Aspixia terbangun saat matahari sudah berada diatas kepala. Ia bangkit dari tempat tidur dengan heran. Tidak biasanya Hanna membiarkannya tidur sampai sesiang ini. Biasanya pagi-pagi sekali Hanna sudah membawanya berkeliling untuk mengurusi ladang sayuran bersama Chichi dan Koko. Chichi dan Koko adalah Knyn keturunan langsung dari Raagh yang yatim piatu sejak dilahirkan. Saat pindah kembali ke Pulau Bunga, Hanna membawa serta masing-masing sepasang Knyn, Deneget'e, Macka dan Varu untuk menemaninya di Pulau Bunga. Semenjak itu mereka berkembang biak dan meramaikan Pulau Bunga yang sebelumnya hanya dihuni oleh hewan-hewan biasa. Chichi dan Koko adalah generasi termuda dari Chimera-Chimera tersebut. Saat ini keduanya juga tidak tampak. Aspixia berkeliling seluruh Cottage sambil memanggil-manggil ketiganya, namun tidak ada yang menjawabnya. Akhirnya dengan khawatir, Aspixia berjalan keluar dan terbang menuju lembah ungu.


Lembah ungu adalah sebuah lembah yang nyaris seluruh dinding jurang dan permukaannya ditutupi oleh bunga-bunga berwarna ungu. Terletak tidak jauh dari Cottage, ini adalah tempat favorit Hanna, dimana Adonis telah memasang sebuah ranjang ayun yang besar untuk tempat Hanna bersantai sambil melihat bintang-bintang. Sudah beberapa hari ini Hanna menghabiskan waktunya dengan melamun di lembah ungu, membuat Aspixia merasa khawatir. Kakaknya itu adalah mahluk yang sangat ceria. Kemurungan tak cocok untuknya. Namun beberapa hari belakangan ini Hanna seringkali terlihat murung. Mengepakkan sayapnya, Aspixia membawa dirinya terbang lebih cepat menuju Lembah Ungu.


Benar saja, ketika Aspixia sampai di lembah ungu, ia menemukan Hanna sedang duduk melamun diatas sebuah batu, di bawah kerindangan sebuah pohon Cherry giok yang bunga-bunganya begitu rimbun membebani batang pohonnya, sementara Chichi dan Koko sedang asyik menikmati makan siang tidak jauh Hanna. Aspixia mendarat tepat di depan kakaknya, membuat Hanna mengangkat kepalanya dan tersenyum melihat adiknya.


"Kakak, kenapa tidak membangunkanku?" Tanya Aspixia.


"Ah, aku ingin memberimu kesempatan untuk tidur lebih lama lagi." Jawab Aspixia. "Apa tidurmu nyenyak?" Tanyanya.


"Apa kau tau sekarang sudah jam berapa?" Tanya Aspixia lagi. Hanna mengedip-ngedipkan matanya sesaat sebelum menatap langit dan menemukan matahari yang sudah berada di atas kepala.


"Ah..." Desahnya tersadar. Hanna kemudian tersenyum lebar sementara Aspixia menggelengkan kepalanya. "Apa kau lapar?" Tanya Hanna, merasa bersalah karena sudah melamun terlalu lama.


"Apa kau sudah sarapan?" Aspixia balik bertanya.


"Er..." Hanna menggeleng, masih dengan wajah penuh cengiran bersalahnya. Aspixia menggelengkan kepalanya dan menarik nafas panjang. Kakaknya selalu bisa diandalkan dalam banyak hal. Bahkan Aspixia dibesarkan oleh kedua tangannya. Tapi ada saat-saat tertentu, contohnya seperti saat ini, ketika Hanna menjadi sedikit dungu karena beban pikirannya. Kalau sudah begitu, Aspixia harus bertukar peran dengannya dan berperilaku sebagai seorang kakak yang penuh tanggung jawab.


"Bangunlah!" Perintahnya. Dengan patuh Hanna bangkit dari duduknya. Dalam posisi berdiri, kepala Aspixia hanya mencapai dada Hanna. Sulit untuk tampak seperti pihak otoritas apabila dirimu lebih pendek, pikir Aspixia. Tapi mengabaikan keluhan di kepalanya pada ukuran tubuhnya yang tidak juga berkembang, Aspixia menarik tangan Hanna dan membawanya berjalan menuruni lembah.


Mereka berjalan santai menuruni lembah. Sementara itu Chichi dan Koko yang mengikuti di belakang mereka, sesekali menghilang karena tergoda oleh sesuatu yang menarik perhatian mereka. Di pintu masuk lembah, seekor Macka berbulu panjang berwarna putih polos dengan sebuah batu kristal di keningnya sedang berbaring diatas perutnya diatas batu besar bertuliskan nama lembah ungu. Ekornya diam tak bergerak pertanda mahluk kecil itu sedang tertidur nyenyak. kedua kaki depannya terentang ke atas kepala dan kedua kaki belakangnya terentang lurus kebawah, sementara kepalanya bersandar diatas dagunya dan ditahan oleh kedua kaki depannya. Wajah tidurnya sangat menggemaskan. Melihatnya membuat Hanna dan Aspixia tersenyum. Dengan jahil, Aspixia mendekat dan mulai meniup pelan ke dalam kupingnya yang lebar. Mengakibatkan kuping tersebut bergerak karena kegelian. Tapi pemiliknya masih belum bergerak. Tidak putus asa, Aspixia mencoba lagi, kali ini dengan lebih kuat. Awalnya lagi-lagi si kucing Chimera hanya menggerakkan kupingnya saja. Namun akhirnya merasa terganggu, si kucing melompat keatas 4 kakinya dan mendesis keras dengan punggung dan bulu terangkat tinggi ke udara, seolah siap menyerang siapa saja yang telah mengganggu tidurnya. Tapi begitu melihat bahwa yang mengganggunya adalah si Naga Kecil berwarna merah yang selalu dianggapnya menyebalkan, kucing tersebut langsung merilekskan kembali tubuhnya namun tak urung memasang muka sebal.


"Pengganggu!" celanya pada Aspixia yang tersenyum lebar.


"Pemalas!" Balas Aspixia, sepenuhnya lupa bahwa sebagai mahluk yang baru bangun saat matahari berada di atas kepala, ia juga tergolong pemalas. Tanpa pemberitahuan, si kucing Chimera melompat ke arah Hanna. Untungnya Hanna dengan sigap menyambutnya dalam pelukannya.


"Apa kabarmu hari ini, Chiko?" Tanya Hanna sambil mengusap kepala Chiko dengan penuh sayang.


"Lapar." rengek Chiko, si Macka. Hanna tersenyum mendengarnya.


"Kalau begitu ayo kita mencari makanan. Aku juga lapar." Ajak Hanna. Mereka kembali menuruni lembah menuju ke Istana Bunga.


Terletak di tengah-tengah pulau bunga, tepat dibawah Lembah Ungu, Istana Bunga adalah sebuah bangunan besar berwarna putih yang sebagian besar dindingnya di tutupi oleh berbagai tanaman rambat dan dan bunga-bunga berbagai warna. Dari jauh yang terlihat hanyalah menara-menaranya yang menjulang tinggi dan bagian depan Istana yang sangat megah. Taman yang luas dan indah menghiasi setiap sudut istana.


Istana bunga sesungguhnya adalah tempat kediaman Dewi Bunga. Namun karena Hanna lebih menyukai kehidupan yang bebas tanpa pengawasan dari banyak mata, Hanna memilih untuk tetap tinggal di cottage lamanya bersama Aspixia. Lady Dahlia mengijinkannya karena untuk sementara tugas-tugas utama Dewi Bunga masih dibebankan kepada Lady Dahlia akibat pembatasan yang diperintah Baozhu di masa lalu. Lagipula mengetahui bahwa Hanna akan berjodoh dengan sang putra mahkota yang belum dilahirkan membuat klan menyadari bahwa selamanya Hanna tidak akan bisa bertugas secara maksimal sebagai penguasa klan bunga sehingga daripada menghabiskan waktu untuk melatih Hanna untuk menjadi pemimpin klan bunga, akan lebih mudah untuk mengajari Hanna berbagai keahlian yang diperlukannya sebagai Ratu Kerajaan Langit. Oleh sebab itulah Hanna terbebas dari sebagian besar beban tugas dan bisa bermain sepuas hatinya.


Mereka berjalan memasuki Istana Bunga dan langsung menuju ruang makan. Karena saat itu sedang jam makan siang, ruang makan istana dipenuhi oleh banyak orang. Beberapa ekor Chimera juga tampak sedang makan dengan lahap di salah satu sudut ruangan. Mereka mengangkat kepala dari mangkuk makanannya ketika melihat Hanna memasuki ruangan dan menyapa dengan riang. Hanna membalas sapaan mereka dengan manis sebelum berjalan menuju meja saji dan mengambil buah-buahan untuk Chiko, Chichi dan Koko. Setelah menyerahkan makanan pada ketiga Chimera tersebut, Hanna mengambil makanan untuknya sendiri dan duduk di samping Aspixia untuk makan. Baru saja Hanna akan melakukan suapan pertamanya, sebuah suara menyapanya dekat sekali di kupingnya.


"Hallo, Babies." Hanna dan Aspixia sama-sama terlonjak karena terkejut. Memegangi dadanya yang berdegup kencang, Hanna menoleh dan menemukan wajah tersenyum Adonis terletak di antara wajahnya dan Aspixia. Tak lama kemudian Aspixia melonjak kegirangan dan bangkit dari kursinya untuk melemparkan diri ke dalam pelukan tangan-tangan Xiao Bao yang tanpa disadari Hanna telah berdiri di hadapan mereka. Untung saja ukuran Xiao Bao masih lebih besar dari pada Naga memalukan tersebut, kalau tidak keduanya mungkin sudah terjengkang ke atas lantai karena Xiao Bao tidak mampu menahan berat tubuh Aspixia. Sambil menggelengkan kepala melihat tingkah adiknya, Hanna bangkit dan memeluk Adonis.


"Hallo, kakak." Ia mengecup sebelah pipi Adonis. Sudah sebulan berlalu sejak Adonis dan Xiao Bao terakhir mengunjungi mereka.


"Bagaimana kabarmu?" Tanya Adonis.


"Aku merindukan Ibu." keluh Hanna. Sudah setahun ia tidak pernah bertemu dengan Baozhu.


"Ah." Adonis mengangguk. "Ibu juga sangat merindukanmu "


"Apakah semuanya baik-baik saja?" Tanya Hanna.


"Tentu saja. Semua sehat dan bosan, seperti biasa." sahut Adonis, sambil mengarahkan Hanna untuk kembali duduk ke atas kursinya. Ia menarik piring Aspixia mendekat ke arahnya dan mulai menyantap makanan dari piring yang memang belum tersentuh tersebut, tak perduli pada protes Aspixia yang baru hendak kembali ke atas kursinya.


"Siapa suruh kau hanya perduli pada Xiao Bao saja padahal akulah yang lebih dulu menyapamu!" omelnya membuat Hanna tersenyum geli.


"Bully!" Cela Hanna yang hanya dijawab Adonis dengan kedipan mata.


Hanna memeluk Xiao Bao dan mengecup pipinya dengan penuh rasa sayang. Kakaknya itu sekarang bertubuh jauh lebih pendek dan terlihat lebih muda darinya.


"Tidak adil!" Protes Hanna. "Kakak, kau bertambah tampan saja." protes Hanna. Xiao Bao tersenyum.


"Dasar perayu!" omel Xiao Bao. "Duduklah. Aku akan mengambil makan siang untukku dulu." Lalu Xiao Bao berjalan menyusul Aspixia ke meja Buffet.


"Ambilkan buah untukku!" perintah Adonis pada punggung Xiao Bao. Pemuda itu hanya melambaikan tangannya tanpa menoleh.


"Anak ini benar-benar hanya makan daging dan lauk pauk lainnya saja. Sungguh sesuai dengan seleraku." Adonis memeriksa isi piring Aspixia sambil tersenyum. Mendengarnya, Hanna memindahkan sepotong terong goreng tepung dari piringnya ke atas piring Aspixia.


"Makanlah yang banyak, Kakak. Kalau kau tidak menghabiskannya, aku akan mengadukanmu pada ibu." Hanna mengingatkan Adonis betapa Baozhu sangat membenci mereka yang suka menghamburkan makanan dan membuat Adonis mendengus geli. Adonis yang benci pada sayur-sayuran seringkali ditegur oleh Baozhu karena menyisihkan sayuran dari makanannya.


"Berapa usiaku masih dimarahi karena tidak mau makan sayuran." komentarnya geli. Hanna mengulurkan 3 jarinya ke hadapan Adonis.


"Tiga tahun?" selorohnya, membuat Adonis tertawa.


"Kenapa kak Tarli tidak ikut bersama kalian?" Tanya Hanna.


"Nenek tua itu pergi menemani Sirrian ke Istana Langit atas panggilan Zhouyou." Jawab Adonis. "Apa kau sudah mendengar tentang kehamilan Ashia?"


"Tentu saja! Paman sendiri yang menghubungiku untuk memberi kabar itu." Jawab Hanna.


"Zhouyou sungguh berlebihan. Ia meminta Sirrian tinggal di Istana Langit selama Ashia mengandung. Katanya dia ingin Ashia dijaga oleh dokter terbaik yang dimiliki Sirria." Adonis berdecak tak setuju. "Tunggu saja sampai semua dokter di Istana Langit angkat kaki dari sana karena kesal." Hanna tersenyum geli mendengarnya.


Aspixia dan Xiao Bao kembali dari meja Buffet dengan segunung makanan di atas piring lebar mereka. Xiao Bao meletakkan sebuah piring penuh berisi buah-buahan ke tengah meja, disambut senyum bahagia Adonis.


"Oh iya, Zhouyou minta kau dan Aspixia juga mendampingi Ashia ketika ia melahirkan kelak." ucap Adonis.


"Aku?" Tanya Aspixia heran. "Kenapa?"


"Karena bayi yang akan lahir kemungkinan dapat lahir dalam wujud seekor naga. Zhouyou ingin kalian berdua, yang paling memahami Naga diantara kita semua, berada disana untuk berjaga-jaga bila ada masalah tidak terduga."


"Kakak, aku memang Naga. Tapi aku juga tak pernah melihat Naga melahirkan..." Aspixia terhenti sejenak, sebelum kemudian bertanya, "Kau yakin bayinya akan dilahirkan? Apakah bukannya menetas?" Naga lahir dari sebuah telur, itulah pengetahuan umum yang dipahami orang-orang walaupun belum ada yang bisa menjawab dari mana Hazrat, Adonis, Rowena dan Hanna lahir. Yang jelas Ashia dilahirkan langsung oleh ibunya.


"Hmmm... kalau itu yang terjadi, Ashia akan sangat terkejut." sahut Xiao Bao.


"Apa paman Zhouyou belum memberitahukan masalah efek samping ini pada kak Ashia?" Tanya Hanna yang dijawab Adonis dengan gelengan.


"Oh." Hanna saling berpandangan dengan Aspixia.


"Sang Ratu akan mengamuk." komentar Aspixia.


"Tentu saja." Sahut Adonis riang.


Copyright @FreyaCesare