Flower Of The Dragon

Flower Of The Dragon
Adonis Dan Cinta



"Dia bilang dia tidak menginginkanku." cerita Adonis sedih. Hanna menepuk-nepuk punggungnya dengan iba, sementara Sirrian dan Tarli yang berada di dalam layar hologram sambungan video jarak jauh, saling berpandangan sebelum kemudian gelak tawa Tarli membahana, sedangkan di sampingnya, Sirrian tampak tersenyum lebar. Di belakang Hanna, Aspixia telah terlebih dahulu tertawa tergelak sambil bergulingan di atas karpet tebal.


"Rasakan itu!" ejek Tarli dengan wajah sumringah.


"Aku tidak menyangka bahwa ia bisa bersikap sedingin itu padaku." keluh Adonis lagi, sepenuhnya mengabaikan ejekan Tarli.


"Setahuku ia memang tidak pernah bersikap hangat padamu." komentar Tarli.


"Dia bersikap layaknya malaikat pada semua orang kecuali dirimu. Anehnya mengapa kau malah tertarik padanya." Heran Sirrian.


"Dia masokis!" gelak Tarli lagi. Adonis hanya memberengut dalam diam. Ia sedang tidak mood untuk meladeni ejekan Tarli.


"Lalu, apakah kakak akan menyerah?" Tanya Hanna.


"Tentu tidak!" Tukas Adonis cepat. "Tidak ada satu wanita pun yang bisa melarikan diri dariku apabila aku benar-benar menginginkan dirinya!" Ucap Adonis penuh keyakinan.


"Ck ck ck. Bukan hanya masokis, ia ternyata juga megalomania." Tarli menggelengkan kepalanya sambil mendengus geli.


"Aku tahu bahwa ia menyukaiku! Aku bisa melihatnya dari caranya menatapku ketika ia pikir aku tidak melihatnya. Tapi sesuatu menghentikannya untuk mengekspresikan perasaannya padaku."


"Sesuatu? Apa mungkin karena ia tidak menyukai aura perayu yang melingkupi dirimu?" goda Tarli.


"Perayu? Aku?" Adonis memandang Tarli, seolah-olah ia tak memahami asal dari tuduhan tersebut.


"Mmmm. Benar kan?"Tarli mengangguk mengiyakan.


"Apa maksudmu? Aku sama sekali bukan seorang perayu. Seorang Adonis tidak perlu merayu seorang wanita untuk membuat wanita menginginkannya di atas ranjang mereka!" Bantah Adonis tidak terima.


"Cih!" dengus Tarli.


"Kau tak percaya? Dengan ketampananku, aku hanya perlu menatap wanita dalam waktu 1 menit saja, ia akan segera berlari ke hadapanku untuk menyerahkan dirinya." kata Adonis dengan jumawanya.


"Oh, aku tidak perlu mendengar ini!" ucap Hanna sambil menutupi kupingnya dengan kedua tangannya.


"Sepanjang hidupku, aku tidak kekurangan wanita yang mencoba naik ke atas ranjangku setiap harinya. Tapi tidak pernah sekalipun aku merayu atau bahkan memaksa mereka melakukannya. Sebagian wanita malah tak pernah kulihat sebelumnya." Tarli memutar kedua bola matanya mendengar ini, sementara Hanna yang melihat ekspresi terkejut di wajah Aspixia, langsung menegur adiknya.


"Aspixia, tutup telingamu!"


Dengan patuh Aspixia memasukkan ujung-ujung jari telunjuk ke lubang telinganya untuk menghalangi pendengarannya.


"Dan apakah kau menerima mereka semua?" tanya Tarli lagi.


"Tentu saja tidak!" Bantah Adonis. Tarli menaikkan sebelah alisnya dan memandang Adonis dengan curiga.


"Benarkah?"


"Apabila yang mereka lakukan hanyalah sebatas merayu, aku tidak keberatan. Toh aku juga perlu latihan untuk meningkatkan skillku." kata-kata Adonis ini membuat Aspixia yang diam-diam telah kembali mendengarkan, tak mampu menahan diri dan bertanya,


"Skill apa?" Menyadari bahwa adiknya tidak lagi menutupi telinganya dan kembali menyimak percakapan tersebut, Hanna langsung membelalakkan mata padanya. Menyadari teguran kakaknya, dengan patuh Aspixia kembali menusukkan ujung-ujung jari telunjuknya untuk menutupi kedua telinganya.


"Tapi tak ada seorangpun yang bisa memaksakan kehendaknya padaku! Apabila mereka tidak ingin pergi saat aku menyuruh mereka pergi, maka aku tidak akan segan untuk melempar mereka keluar dari kediamanku!" ucap Adonis tegas.


"Lalu, bagaimana dengan yang kau ijinkan untuk berada di atas ranjangmu sampai pagi tiba?" Kejar Tarli kembali.


"Tak ada seorangpun yang pernah berada diranjangku sampai pagi tiba." jawab Adonis yang membuat Sirrian mengernyitkan kening dan Tarli membuka mulutnya karena terkejut.


"Apakah kau langsung melemparkan mereka keluar begitu urusanmu selesai?" Selidik Tarli. Namun pertanyaan ini membuat kening Adonis berkerut heran.


"Urusan apa?" Tanyanya.


"Tidak ada wanita yang pernah memiliki urusan ranjang denganku!" Tukas Adonis dengan kesal. Membayangkan dirinya melakukan hal itu dengan wanita-wanita yang selama ini mengekorinya kemana-mana membuat Adonis bergidik. Ia tak keberatan dengan satu atau dua ciuman dan pelukan sebagai latihan, namun ia tak sudi jika mereka menginginkan yang lebih dari itu.


"Yang benar?" Tanya Hanna yang rupanya sejak tadi sudah tak lagi menutupi kupingnya.


"Adonis, jangan bilang bahwa selama ini kau tidak pernah meniduri seorang wanita?" Kejar Tarli lagi. Mendengar pertanyaan Tarli, Sirrian mendelik pada 1 gadis remaja dan 1 anak naga di samping Adonis.


"Hanna! Aspixia! Tutup kuping kalian!" Kali ini ini Sirrian yang menghardik karena melihat keduanya menurunkan tangan mereka. Dengan patuh keduanya menaikkan kembali tangan untuk menutupi kuping.


"Tidak pernah!" Sahut Adonis tegas.


"Yang benar?" Tarli mendelik tidak percaya.


"Adonis, kamu.... apakah kamu masih perjaka?" Tanya Sirrian ragu-ragu. Adonis mengangguk, membuat mata Tarli dan Sirrian nyaris melompat keluar karena terkejut.


"Aku tidak percaya! Dengan begitu banyak wanita bergelendotan di sekitarmu selama ini, bagaimana bisa kau masih perjaka?" Tanya Tarli. Adonis mengangkat bahunya dan berkata,


"Aku tidak pernah tertarik untuk meniduri mereka."


"Tidak bisakah kalian menggunakan bahasa yang lebih sopan? Ada anak-anak disini!" Hardik Sirrian sedikit kesal. Namun Hanna dan Aspixia yang lagi-lagi ternyata telah membuka telinganya, menukas kesal,


"Kami bukan anak-anak!" Tingkah keduanya membuat Sirrian memijati kepalanya yang tiba-tiba terasa sakit. Ia lalu memandang Adonis dan berkata,


"Sejak dulu aku selalu merasa bahwa klan naga memiliki kesamaan dengan Tarli. Seumur hidup mereka, mereka hanya akan memiliki 1 pasangan saja. Namun melihat perilaku Adonis selama ini, kupikir teoriku ini tidak benar. Tapi nyatanya Adonis masih perjaka. Hal ini membuktikan bahwa teoriku adalah benar."


"Apakah itu berarti kelak aku hanya akan jatuh cinta pada 1 orang saja seumur hidup kami, kak?" tanya Aspixia. Sirrian mengangguk.


"Mungkin kau akan merasa tertarik pada beberapa orang, namun ketika kau akhirnya menemukan orang yang engkau cintai, seumur hidupmu, ia akan menjadi satu-satunya pria untukmu. Kau bisa saja menikah dengan orang lain, tapi bukan atas didasari oleh cinta."


"Aku suka itu." Hanna tersenyum senang.


"Aku tidak!" bantah Aspixia. "Bagaimana bila orang yang kucintai tidak balik mencintaiku?"


"Mmmm..."


"Kak Xiao Bao hanya mencintai Ibu saja. Kalau aku tidak bisa jatuh cinta pada orang lain, maka seumur hidup aku akan merana karena kak Xiao Bao tidak mencintaiku! Waaaaaa!!!" Aspixia menangis keras, membuat saudara-saudaranya saling berpandangan dengan bingung. Aspixia, tak perduli sekeras apapun kau menolak bahwa kau bukan anak kecil, tapi kau memang masih kecil. Mana bisa kau samakan cinta seorang anak pada ibunya, dengan cinta seorang pria pada wanita?  Lagipula, siapa suruh kau jatuh cinta pada Xiao Bao yang sudah memutuskan untuk selamanya menjadi anak kecil?


"Aspixia, kecuali ia tumbuh dewasa, seumur hidupnya, Xiao Bao tidak akan pernah perduli dengan cinta. Ini adalah pilihan yang disadarinya saat ia memutuskan untuk tetap memiliki kemampuannya. Harusnya kau tidak menaruh harapan padanya." Tegur Sirrian pelan.


"Mana.... mana aku bisa memilih.... siapa yang boleh dan tidak boleh aku cintai! Hatiku kan.... tidak minta ijin terlebih dahulu


... waktu memutuskan untuk jatuh cinta!" Sanggah Aspixia diantara tangisnya. Hanna menepuk-nepuk bahu adiknya penuh rasa sayang. Diam-diam ia ingin tersenyum geli, namun karena menyadari betapa seriusnya situasi ini di mata Aspixia, Hanna menahan senyumnya.


"Aspixia, kurasa apa yang kau rasakan pada kak Xiao Bao bukanlah cinta. Kau masih terlalu muda untuk jatuh cinta." Ucap Hanna. Namun Aspixia menggelengkan kepalanya keras-keras.


"Kalau bukan cinta lalu apa? Setiap hari aku selalu merindukan Kak Xiao Bao. Apabila melihatnya dadaku berdebar kencang dan otakku jadi tidak bisa digunakan." Keluh Aspixia.


"Bukannya otakmu memang jarang kau gunakan?" Ejek Tarli pelan. Adonis mengangguk setuju.


"Aku tidak pernah tertarik pada pria manapun kecuali kak Xiao Bao. Kalau bukan cinta lalu itu apa namanya? Waaaaaa!" Hanna menggaruk-garukkan kepalanya yang tidak gatal karena bingung harus bagaimana untuk bisa menghibur adiknya. Ia kemudian menoleh pada Adonis untuk mencari pertolongan. Namun siapa sangka ketika ia menoleh pada Adonis, ia menemukan bahwa wajah kakaknya itu telah basah oleh air mata.


"Naga kecil yang malang! Aku tahu perasaanmu!" Adonis kemudian menarik Aspixia dalam pelukannya dan ikut menangis bersamanya.


"Menangislah! Menangislah! Kakakmu ini akan menemanimu! Kita sungguh tidak beruntung karena jatuh cinta pada mereka! Sungguh tidak beruntung!" ucap Adonis.


Di balik layar hologram, Sirrian tampak terpana sedangkan Tarli sedang tertawa geli sampai wajahnya memerah dan air mata menitik karena begitu gelinya. Di sisi dua mahluk yang sedang menangis itu, Hanna menggelengkan kepalanya.  Kak Adonis, apa kau tidak takut aku mengadukan perilakumu ini pada kak Rowena?


Copyright@FreyaCesare