Flower Of The Dragon

Flower Of The Dragon
Aquamarine



Ashia menatap pada wanita yang balik menatapnya dari dalam cermin. Sebuah batu Aquamarine berbentuk oval sepanjang sekitar 2 cm menempel di keningnya. Tangan Ashia langsung terangkat untuk menyentuh batu tersebut. Ia mencoba menggerakkannya, namun si batu menempel begitu kuat. Ashia mencoba menyusuri tepian batu tersebut dengan kuku untuk menemukan sisi yang sedikit terbuka, namun tak ada. Setelah beberapa menit berusaha, Zhouyou menarik tangannya untuk menghentikannya.


"Jangan dipaksa. Batu itu bukan ditempelkan ke keningmu, namun ia adalah bagian dari dirimu. Sama seperti hidung yang menempel di wajahmu. Kau tidak akan dapat melepaskannya dengan paksa." Kata Zhouyou.


"Bagian dari diriku? Apa maksudmu?" Tanya Ashia heran. Batu itu jelas tak pernah ada di keningnya sebelumnya. Bagaimana mungkin benda itu adalah bagian dari dirinya?


"Benar, itu adalah bagian dari dirimu. Tepatnya bagian dari sisi Nagamu. Ia muncul setelah Zorex membebaskan Naga dalam dirimu. Zorex juga punya sebuah permata berwarna merah yang terletak di dadanya yang kurang lebih sama besarnya dengan ini." Zhouyou menyentuh permata di kening Ashia lembut.


"Apa tidak terlihat aneh?" Tanya Ashia.


"Kau bercanda kan? Permata itu justru membuatmu terlihat luar biasa!" Sahut Zhouyou.


"Benarkah?" Tanya Ashia, tak yakin, membuat Zhouyou menggelengkan kepalanya. Ashia bukan seseorang yang selalu mengkhawatirkan penampilannya setiap waktu. Ia tidak pernah perduli apakah ia cantik atau tidak. Mengapa tiba-tiba sekarang ia menjadi begini?


"Kenapa? Apa kau takut terlihat jelek?" godanya.


"Aku seorang jenderal, Yang Mulia. Apakah pantas seorang Jenderal mengenakan perhiasan serupa ini layaknya gadis-gadis centil yang ingin memikat pria di pesta." ucap Ashia sedikit kesal dengan kata-kata Zhouyou. Mendengarnya Zhouyou tersenyum geli. Ia menarik Ashia kedalam pelukannya.


"Tenang saja. Sejak hari ini sebutan untukmu adalah Yang Mulia Ratu. Tak akan ada yang memanggilmu Jenderal lagi." Kata Zhouyou. Mendengarnya, Ashia mendorong Zhouyou menjauh untuk bisa melihat wajahnya.


"Aku kan belum menikahimu!" Ashia mengingatkan. Zhouyou menatap wajahnya sambil tersenyum.


"Apa kau pikir setelah menangis di depan semua orang seperti itu, tidak ada yang dapat menebak hubungan kita? Saat ini gosip pasti sudah menyebar ke seluruh penjuru Sirria bahwa Raja Langit Zhouyou sudah memiliki seorang Ratu." Mulut Ashia langsung membuka mendengarnya.


"Menangis di depan semua orang? Kau?" Herannya. Zhouyou memicingkan matanya dan memasang wajah kesal.


"Kau mati, Ashia. Mati! Apa aku harus tertawa?" Kemudian Zhouyou menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan kesal. "Saat kau tidak sadarkan diri, aku membayangkan saat kau bangun kita akan diliputi suasana romantis. Aku akan memandangi wajahmu penuh cinta, dan kau akan berurai air mata karena terharu pada cintaku." Ashia langsung tergelak mendengarnya. Membuat Zhouyou mendelik kesal. "Tapi apa ini? Aku malah dibuat merasa malu karena sudah menangis dan ditertawakan karena mengharapkan keromantisan. Kau sungguh keterlaluan!" Protes Zhouyou. mendengarnya, tawa Ashia malah bertambah keras. Matanya sampai basah karenanya. Melihatnya seperti itu, mau tak mau Zhouyou ikut tersenyum. Ia bersyukur masih diberi kesempatan untuk mendengar tawa Ashia. Ia akan selalu menyimpan momen ini dalam hati sebagai pengingat bahwa ia adalah pria yang sangat beruntung. Sehingga kelak bila mereka bertengkar, ia akan selalu berusaha untuk jadi pihak yang mengalah. Karena sekesal apapun ia pada Ashia di masa depan, ia masih sangat beruntung karena Ashia ada disisinya untuk membuatnya kesal.


Susah payah Ashia mencoba mengendalikan tawanya, terutama karena melihat ekspresi Zhouyou yang hanya tersenyum dan tidak ikut tertawa bersamanya. Tatapan pemuda itu begitu penuh cinta, membuat wajahnya yang memang tampan menjadi semakin menawan. Melihatnya seketika meredakan tawa Ashia. Ashia mengulurkan kedua tangannya untuk menarik kerah baju Zhouyou dan memaksanya mendekat. Zhouyou yang terkejut dibuat menahan nafas ketika wajah mereka menjadi begitu dekat satu sama lain. Ia bahkan bisa melihat pantulan wajahnya di bola mata Ashia.


"Terimakasih sudah menangis untukku. Terimakasih sudah mencintaiku. Dan terimakasih sudah membuatku merasa menjadi wanita yang paling beruntung di dunia ini." Bisik Ashia lembut. Zhouyou tersenyum mendengarnya. Ia mengulurkan kedua tangan dan memeluk tubuh Ashia sehingga menempel dengan tubuhnya dan indranya dipenuhi oleh aroma gadis itu. Matanya tertumbuk pada bibir lembut milik Ashia. Zhouyou lalu mendekatkan wajahnya untuk mencium gadis itu sementara Ashia memejamkan kedua matanya, menunggu.  Bibir mereka hampir bersentuhan ketika pintu Infirmary terbuka lebar dan Hanna berlari masuk sambil menangis kencang. Dengan reflek, Ashia langsung mendorong Zhouyou menjauh.


"Kakaaaak!" panggil Hanna diantara tangisnya. Ia langsung berlari ke sisi Ashia dan memeluk gadis itu erat, sementara Zhouyou harus menggeser dirinya dari sisi Ashia guna menghindari tabrakan dengan tubuh mungil Hanna. Hanna memeluk Ashia erat sambil menangis keras. "Kakak, aku takut sekali! Kukira kau tidak akan Bangun lagi!" tangis Hanna. Ashia menepuk-nepuk punggungnya sambil tersenyum.


"Maaf sudah membuatmu takut, Hanna. Tapi aku baik-baik saja sekarang." Hibur Ashia, masih menepuk-nepuk punggung Hanna. Ia bertatapan dengan Zhouyou yang tampak kesal karena seseorang menginterupsi momen mesra mereka, namun tidak bisa berbuat apa-apa karena yang melakukannya adalah gadis kecil kesayangan mereka. Ashia menjulurkan lidahnya pada Zhouyou dan tersenyum geli. Sementara Hanna yang tidak menyadari apa yang telah dilakukannya, masih terus memeluk Ashia sambil menangis. Merasa tak sabar karena tangisan Hanna yang tidak kunjung berhenti, Zhouyou menarik bahu Hanna dan menjauhkannya dengan paksa dari Ashia.


"Hanna sayang, sudah menangisnya ya. Ashia kan sudah bilang bahwa ia sekarang baik-baik saja. Sekarang yang Ashia butuhkan adalah beristirahat. Tapi ia tidak akan bisa melakukannya bila kau terus memeluknya sambil menangis." Bujuk Zhouyou.


"Apa kak Ashia benar-benar sudah tidak apa-apa?" Tanya Hanna sanksi. Ashia tersenyum dan mengangguk.


"Benar, sayang. Aku sudah sembuh sekarang. Hanya perlu beristirahat saja. Jadi jangan khawatir ya." Sahut Ashia.


"Maafkan aku karena sudah mencelakakan kakak." Hanna membungkukkan tubuhnya untuk memohon maaf. Namun Ashia menggeleng dan memaksanya untuk menegakkan tubuhnya kembali.


"Itu bukan salahmu. Yang salah adalah orang yang menembakku."


"Aku sudah mendengarnya. Sayang sekali aku tidak memiliki kesempatan untuk berterima kasih pada Zorex."


"Jangan khawatir, Kak Ashia. Zorex pasti mengerti." hibur Hanna. Ashia mengangguk.


"Nah, karena kau sudah berbicara dengan Ashia, sekarang waktunya Ashia untuk beristirahat." Zhouyou memegang kedua bahu Hanna dan mendorongnya dari belakang untuk berjalan menuju pintu. "Pergi dan beristirahatlah. Kau juga pasti sangat lelah kan?!" suruh Zhouyou.


"Tapi aku ingin menemani kak Ashia! Ia pasti bosan karena harus berada di tempat tidur saja." tolak Hanna, mencoba untuk melepaskan diri dari Zhouyou. Tapi Zhouyou mempererat cengkeramnya pada bahu Hanna dan menghentikannya untuk kembali ke sisi Ashia. Melihat ini Ashia tersenyum geli.


"Aku yang akan menemaninya. Kau pergilah untuk beristirahat!" Zhouyou mendorong Hanna keluar dari pintu. Pintu tersebut kemudian menutup sendiri di depan wajah Hanna yang tercengang karena menyadari bahwa dirinya telah diusir keluar.


Zhouyou segera kembali ke sisi Ashia. Ia duduk di ranjang Ashia dan kembali menarik tubuh gadis itu mendekat. Sebelah tangan Zhouyou merapikan rambut di kening Ashia yang sedikit berantakan sementara tangan lainnya memeluk pinggang Ashia. Ashia mendongakkan kepalanya untuk menatap Zhouyou, bibirnya menyunggingkan senyum menggoda.


"Aku tidak percaya kau baru saja mengusir gadis kesayanganmu keluar dari sini." Goda Ashia.


"Dia gadis kesayangan nomor 2. Gadis kesayangan nomor 1 ku ada disini dan aku sedang ingin berduaan saja dengannya." Tukas Zhouyou, membuat senyum Ashia mengembang makin lebar. Zhouyou memandang Ashia lekat-lekat. Hatinya dipenuhi oleh kebahagiaan. Zhouyou kembali mendekatkan wajahnya pada wajah Ashia untuk mencium bibirnya. Namun suara berdehem keras menghentikan gerakannya. Zhouyou menarik nafas panjang dan menoleh sementara Ashia menyembunyikan wajahnya di bahu Zhouyou. Tubuhnya bergetar hebat karena tertawa geli.


"Kalian tahu bahwa banyak sekali kamera yang di pasang di ruangan ini kan?" Sirrian bertanya dengan usil. Ia menatap Zhouyou dengan penuh arti. Bibirnya mengulum senyum yang tertahan.


"Dan seingatku, tadi aku memintamu untuk membiarkannya beristirahat." Ucap Sirrian sambil sibuk memeriksa kondisi vital Ashia dari monitor yang terpasang di kaki ranjang, sementara Ashia akhirnya menegakkan tubuhnya setelah berhasil mengendalikan tawanya.


"Benar. Aku membiarkannya beristirahat kok." kilah Zhouyou yang kini telah berdiri disamping tempat tidur. kedua tangannya disatukan di depan tubuhnya dengan sopan.


"Oh, benarkah?" goda Sirrian. Ia mengedipkan sebelah matanya pada Ashia yang dibalas Ashia dengan senyum lebar. "Bagaimana perasaanmu?" Tanyanya pada Aisha.


"Lebih baik, paman. Aku merasa sudah siap melompat dan berlari." sahut Ashia bersemangat.


"Baguslah. Tapi turutilah aku dan tetaplah duduk atau berbaring dengan santai sampai 24 jam ke depan." Perintah Sirrian. Ashia mengangguk. Sirrian berbalik dan menatap Zhouyou yang sedang berdiri di belakangnya.


"Kau boleh membawanya pulang ke kamarnya. Tapi ia tidak boleh berjalan sendiri kesana. Gunakan kursi roda atau kau bisa menggendongnya sampai ke kamarnya." ucap Sirrian.


"Aku akan menggendong..."


"Aku akan menendangmu sampai ke Terra kalau kau berani!!!" Ancam Aisha garang, membuat Zhouyou tak melanjutkan kata-katanya.  Sirrian yang melihatnya terkekeh geli. Dengan patuh Zhouyou mengambil kursi roda dan membawanya ke sisi ranjang tempat Ashia berbaring. Setelah itu Zhouyou meletakkan tangannya ke bawah kedua kaki dan ke punggung Ashia, bersiap untuk mengangkatnya. Ashia mengalungkan kedua tangannya ke leher Zhouyou dan membiarkan dirinya diangkat. Aroma tubuh gadis itu langsung melingkupi Zhouyou dan membuatnya merasa mabuk kepayang. Zhouyou berdiri diam dengan Ashia dalam tangan-tangannya. Mata keduanya saling bertatapan dan lagi-lagi dunia seakan berhenti berputar. Namun Sirrian yang berdehem di belakangnya, menyadarkan keduanya. Zhouyou langsung mengalihkan tatapan dan dengan hati-hati meletakkan Ashia ke atas kursi roda. Setelah Ashia duduk dengan aman diatas kursi roda, Zhouyou memandang Sirrian dan berkata,


"Terimakasih, paman. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan bila kau tidak ada."


"Yang kulakukan hanyalah berlagak sebagai seorang dokter karena semua pekerjaan berat telah dikerjakan oleh Zorex. Maka berterimakasih lah padanya." Ucap Sirrian sambil tersenyum. "Sekarang segera bawa wajah kasmaran kalian itu keluar dari ruanganku! Dasar manusia-manusia tidak berperasaan! Berani sekali kalian bermesraan di hadapan pria tua single sepertiku!" Omel Sirrian, membuat Zhouyou dan Ashia tertawa. Dengan hati ringan, Zhouyou mendorong kursi roda Ashia menuju pintu keluar, berpikir bahwa sebentar lagi ia akan bisa berduaan dengan bebas dalam kamar Ashia. Membayangkan hal itu membuat senyum Zhouyou bertambah lebar.


Saat mereka mencapai pintu, pintu lalu terbuka secara otomatis. Langkah Zhouyou yang tadinya begitu ringan, langsung terhenti. Di depan pintu, Adonis, Bao Chen Yang dan Tarli  sudah menunggunya. Memandang wajah-wajah penuh senyum mereka tak urung membuat Zhouyou memaki dalam hati. Mengapa tak seorangpun mau memberinya kesempatan untuk berduaan dengan Ashia? Mengapa???


Copyright @FreyaCesare