
Hari itu Zhouyou terbangun pagi sekali. Ketika membuka mata, untuk sesaat ia berbaring diam memandang langit-langit kamarnya dan berpikir, mengapa ia terbangun dengan perasaan bahagia? Lalu 30 detik kemudian ia teringat pada permintaan spontan Ashia kemarin yang meminta Zhouyou untuk menikahinya. Senyum Zhouyou langsung mengembang lebar. Zhouyou menutupi wajahnya dengan bantal dan tertawa-tawa sendiri mengenang momen tersebut. Sesaat kemudian Zhouyou bangkit dari ranjang dan berlari ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menyikat giginya. 15 menit kemudian, ia sudah berada di depan kamar Ashia.
Butuh waktu bagi Ashia untuk membuka pintu. Saat akhirnya pintu itu terbuka, Zhouyou disuguhi pemandangan wajah bengkak karena baru bangun dari tidur dan mata yang masih setengah tertutup yang anehnya di mata Zhouyou terlihat sangat menggemaskan sehingga senyumnya langsung melebar. Ashia yang tak menduga bahwa yang mengetuk pintunya sepagi itu adalah Zhouyou, langsung berusaha menutup kembali pintu kamarnya. Namun Zhouyou menahannya dengan tubuhnya. Melihat tingkahnya, Ashia merengek kesal.
"Zhouyou! Ini masih terlalu pagi untuk mengerjaiku!!!" Protes Ashia kesal.
"Ish, Gadis pemalas! Ayo cepat bangun dan temani aku jogging!" perintah Zhouyou.
"Pergi sendiri sana! Aku masih mengantuk!" Tolak Ashia. Ia berjalan kembali menuju tempat tidurnya dan melemparkan diri kesana tanpa memperdulikan Zhouyou. Zhouyou yang mengikutinya memasuki kamar sambil tersenyum geli. Ia kemudian ikut naik ke atas ranjang Ashia dan berbaring miring menghadap Ashia dengan menopangkan kepalanya keatas tangan kirinya, sementara sebelah tangan kanannya asyik menjahili wajah gadis itu. Ia mulai dengan memukul-mukul lembut ujung hidung Ashia dengan ujung jarinya tapi Ashia hanya mengerutkan wajahnya saja. Zhouyou lalu membelai-belai bibir Ashia dengan ujung jarinya. Bukannya membuka mata, Ashia malah membuka mulutnya dan menggigit jari Zhouyou lumayan kuat, membuat Zhouyou tertawa geli. Zhouyou lalu mencubit sebelah pipi Ashia kuat-kuat. Ashia merengek pelan, menepis tangan Zhouyou, lalu makin membenamkan wajahnya ke bantal.
Gagal membangunkan gadis itu dengan menjahili wajahnya, Zhouyou menggerakkan tangannya ke pinggang Ashia. Lalu dengan gerakan tiba-tiba ia menggerakkan jari-jemari tangannya untuk menggelitik pinggang gadis itu. Ashia langsung menjerit, menggelinjang dan berusaha melepaskan diri. Ia tertawa geli dan matanya terbuka lebar. Apalagi ketika tangan kiri Zhouyou ikut menyerang sisi pinggang yang sebelahnya lagi.
"Zhouyou, hentikan! Sudah! Hentikan!" Pinta Ashia sambil tertawa.
"Bangun tidak? Aku akan terus mengelitikimu sampai kau benar-benar bangun dan siap berolahraga denganku!" Tegas Zhouyou, masih terus menyiksa Ashia dengan tarian jari-jemarinya.
"Iya! Iya! Aku bangun! Tolong hentikan!" Ashia terus memohon disela-sela tawanya. Puas mendengar janji gadis itu, Zhouyou menghentikan jari-jemarinya. Sebagai gantinya jemari tersebut beristirahat di pinggang Ashia sementara tubuhnya menindih tubuh gadis itu. Saat Ashia membuka mata, ia menemukan wajah tersenyum Zhouyou berada sangat dekat dengan wajahnya.
"Selamat pagi, Yang Mulia Ratu." Bisik Zhouyou lembut sambil menarik ujung hidung Ashia penuh rasa sayang. Ashia tersenyum geli mendengar panggilan itu.
"Tidak bisakah aku tetap mengenakan gelar Jenderal?" Tanyanya.
"Tentu saja tidak bisa! Jenderal bisa siapa saja, tapi hanya kau yang berhak menerima gelar sebagai Ratuku. Wanita milikku!" Tegas Zhouyou.
"Aku kan belum menjadi Ratumu." Bantah Ashia yang dijawab Zhouyou dengan gelengan.
"Itu hanya masalah waktu! Hari ini juga aku akan bicara dengan Paman Hazrat dan Nenek untuk menentukan hari pernikahan kita." Tegas Zhouyou lagi. Jari-jemarinya merapikan rambut di kening Ashia.
"Hari pernikahan kita? Bukannya membicarakan lamaranmu pada Ayah terlebih dahulu?" Heran Ashia.
"Aku kan sudah melamarmu pada ayahmu beberapa waktu yang lalu." Sahut Zhouyou jumawa sambil tersenyum lebar.
"Hah?" Ashia melongo bingung.
"Kau ingat sehari setelah adikmu lahir dan aku datang ke Kuil Langit bersama rombongan istana untuk mengantarkan hadiah?" Zhouyou mencoba mengingatkan. Ashia mengangguk.
"Nah sebenarnya hadiah untuk adikmu hanya ada 1." Cerita Zhouyou.
"Eh, tapi bukankah waktu itu kau membawa begitu banyak hadiah?" Heran Ashia.
"Benar. Tapi seluruh hadiah itu sesungguhnya adalah mas kawin pernikahan dariku untuk dirimu." Jelas Zhouyou, membuat mulut Ashia melongo heran.
"Apa? Kau bercanda kan?" Tanya Ashia serius tapi Zhouyou menggeleng. Senyum jahil mengusai bibirnya.
"Tentu saja tidak!"
"Lalu apa kata ayahku?"
"Ia merasa sangat beruntung karena engkau bisa berjodoh denganku." Mendengarnya membuat Ashia terperangah heran sekaligus geli. Bagaimana bisa ayahnya berkhianat padanya. Sungguh sulit dipercaya. Berarti hari itu Adonis sama sekali tidak berbohong ketika mengatakan bahwa rombongan Zhouyou datang untuk melamarnya.
"Kau berani merencanakan semua itu tanpa bertanya padaku dulu?" sergah Ashia. Zhouyou tersenyum geli. Ia menatap Ashia lekat-lekat, membuat jantung gadis itu berdetak lebih kencang.
"Apakah kau mau menikah denganku?" tanya Zhouyou lembut. Tapi Ashia malah mencibirkan bibirnya.
"Aku mau jogging!" jawabnya sambil bangkit dari ranjang. Zhouyou yang dikejutkan oleh reaksi gadis itu yang diluar harapan, langsung protes.
"Hei!" Langkah Ashia terhenti. Ia menoleh kearah Zhouyou dan menjulurkan lidahnya sambil tersenyum geli, lalu kembali berjalan ke ruang ganti. Meninggalkan Zhouyou yang masih berbaring di atas ranjang yang baru ditidurinya. Zhouyou tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Ia lalu menyurukkan wajah kedalam selimut yang tadi digunakan Ashia, menghirup wangi tubuhnya yang tertinggal disana. Hatinya mengembang oleh rasa bahagia.
Hari masih sangat pagi ketika mereka sampai di jogging track. Udara pagi masih lembab oleh embun dan matahari masih tertutupi awan serta kabut tipis. Karena mengambang jauh di atas daratan, pulau Istana Langit adalah sebuah pulau diatas awan. Apabila orang lain di daratan sana, saat melihat awan hanya bisa bertanya-tanya seperti apa rasanya memegang awan, maka di seluruh penjuru Negeri Langit, pemandangan seseorang berjalan memasuki awan adalah hal yang sangat biasa. Jogging Track Istana Langit berada di salah satu sudut halaman Istana yang pagi itu ditutupi oleh awan. Hal ini membuat kencan pagi Zhouyou dan Ashia tersembunyi dari banyak mata. Maka tanpa segan Zhouyou terus saja mencuri kecupan-kecupan kecil dari bibir Ashia, disela-sela larinya, membuat Ashia tersenyum geli melihat tingkahnya.
Mereka berlari mengelilingi lapangan sebanyak 10 putaran. Yang tadinya dimaksudkan untuk menjadi lari-lari kecil, berubah menjadi kompetisi lari jarak pendek yang dilakukan sambil tertawa. Zhouyou yang kompetitif tidak membiarkan Ashia memenangkan pertandingan kecil mereka. Ia berlari kencang dan meninggalkan Ashia jauh di belakangnya. Begitu sampai di garis finish, dengan jumawa, Zhouyou melipat kedua tangannya dan menunggu Ashia mencapai garis finish sambil tersenyum jahil. Membuat Ashia mencibir kesal saat melihatnya. Bahkan saat sedang mencibir seperti itu, Dimata Zhouyou Ashia terlihat sangat imut.
Dengan gemas ia menarik gadis itu dalam pelukannya dan mencium bibirnya kuat-kuat. Tak lama kemudian apa yang tadinya dimaksudkan sebagai ungkapan rasa gemas, berubah menjadi ciuman yang dalam dan panas. Ashia mengalungkan kedua tangan ke leher Zhouyou dan menarik kepala pria itu semakin dekat yang dibalas Zhouyou dengan memperdalam ciumannya. Dari pinggang Ashia, tangan Zhouyou berpindah memeluk seluruh tubuhnya dan menarik tubuh gadis itu hingga menempel dengan tubuh Zhouyou. Ia menciumi seluruh sisi bibir Ashia sampai gadis itu tersengal kehabisan nafas. Lalu Zhouyou berpindah menciumi hidungnya, lalu pipinya, lalu kedua matanya, lalu keningnya, dan lalu turun kembali untuk menyandera bibir Ashia dalam pagutan bibirnya. Zhouyou mencium Ashia seolah ia ingin menghapus kenangan menyakitkan selama 1000 tahun saat gadis itu tak ada di sisinya. Tak akan lagi! Tekad Zhouyou. Tak akan lagi ia mengijinkan Ashia meninggalkannya! Apapun taruhannya!
"Aku mencintaimu, Ashia." Bisik Zhouyou. "Aku mencintaimu."
Setelah berolahraga, mereka kembali ke kamar masing-masing untuk membersihkan diri. 30 menit kemudian, Zhouyou sudah kembali mengetuk pintu kamar Ashia. Gadis itu membukanya masih dengan memakai jubah mandi dan wajah tanpa riasan. Mata Ashia memicing kesal.
"Aku belum siap. Kenapa kau sudah ada disini?" Tanyanya. Zhouyou mengangkat bahu. Ia mendorong Ashia untuk kembali memasuki kamar sambil mencuri sebuah kecupan ringan di bibir lembab gadis itu. 1 kecupan, berlanjut menjadi 2 kecupan dan seterusnya.
"Aku sudah selesai, jadi aku putuskan untuk menunggumu disini." ucap Zhouyou diantara kecupan-kecupannya. "Hmmm... rasa Rasberry." Cetus Zhouyou, merujuk pada lipbalm yang baru dikenakan Ashia. Ashia tersenyum geli dan mendorong pemuda itu menjauh.
"Tunggu disini." perintahnya. Ashia lalu menghilang ke dalam ruang ganti. Saat kembali beberapa menit kemudian, ia sudah mengenakan seragam Jenderalnya yang membuat Zhouyou berdecak menggoda.
"Aku tidak pernah melihat seorang Jenderal secantik dirimu." pujinya, tak urung membuat pipi sang Jenderal bersemu merah. Zhouyou terkekeh senang melihatnya. Ia lalu mendorong Ashia untuk duduk di depan meja rias dan mulai menyisir rambut gadis itu. Dengan terampil Zhouyou menyatukan rambut panjang Ashia dalam ekor kuda yang terletak tinggi di atas kepala.
"Kalau begini aku tidak akan bisa mengenakan topiku." protes Ashia.
"Hari ini kau tidak memerlukan topimu!" Tegas Zhouyou, membuat Ashia lagi-lagi mencibir kesal.
"Tiran!" ejeknya. Namun Zhouyou hanya tersenyum sambil mengagumi hasil karyanya. Ashia kemudian menggaris matanya dengan eyeliner berwarna coklat, memaskarai bulu matanya dan mengulaskan lipstik berwarna nude keatas bibirnya. Setelah ia selesai, Ashia mematut dirinya dihadapan Zhouyou yang disambut pria itu dengan acungan jempol. Setelahnya mereka berjalan keluar kamar dan menuju ke ruang makan sambil bergandengan tangan.
Dalam perjalanan menuju ruang makan itulah, saat melintasi sebuah jendela panorama yang sangat besar, mereka melihat Sirrian dan Hanna sedang bersama sang Naga, tanpa Shield untuk memisahkan mereka.
Sedikit panik, mereka langsung berjalan keluar istana, bersamaan dengan Baozhu, Adonis dan Xiao Bao yang rupanya juga baru melihat adegan diluar sana tersebut. Di tengah jalan langkah mereka dihentikan Sirrian yang menghalangi mereka dan menjelaskan bahwa sang Naga tidak lagi dapat membahayakan siapapun karena ia sudah tidak lagi memiliki kekuatan bahkan untuk mengangkat kepalanya. Maka Zhouyou dan Ashia, bersama Baozhu, Adonis dan Xiao Bao hanya bisa berdiri sekitar 5 meter dari tempat Hanna berada, dan memperhatikan dengan seksama perilaku Hanna dan Sang Naga.
Gadis kecil itu tidak pernah berhenti membuat Zhouyou merasa takjub sekaligus cemas. Hanna terbukti mudah sekali percaya dan tidak segan untuk melibatkan diri dengan mahluk-mahluk misterius yang diberi label berbahaya oleh semua orang. Dan walaupun berkali-kali pula Hanna berhasil membuktikan bahwa penilaian yang dibuatnya tidak pernah salah, Zhouyou tetap tidak bisa berhenti merasa cemas. Meskipun sekarang jati diri Hanna yang sesungguhnya telah terungkap, itu tidak dapat menghilangkan kasih sayang yang dimiliki Zhouyou pada gadis kecil itu. Ia ingin agar Hanna selalu terlindungi dan tidak melakukan hal-hal yang berbahaya. Saat pikiran Zhouyou sedang dipenuhi berbagai hal mengenai Hanna itulah, sebuah keributan di sebelah kirinya, membuat kepala Zhouyou langsung menoleh.
Sekitar 10 meter di sebelah kirinya, Seorang pria memakai pakaian pengawal istana tiba-tiba mengeluarkan senjata laser dan mengarahkannya kepada sang Naga. Hanna yang juga menoleh karena keributan yang sama langsung bangkit berdiri diatas kaki kecilnya dan berbalik menghadap sang pembunuh dengan merentangkan kedua tangannya, mencoba melindungi sang Naga. Para pengawal yang menyadari keberadaan sang pembunuh langsung bergerak untuk meringkusnya, sementara Ashia yang tadinya berdiri di sisi Zhouyou, dengan menggunakan kekuatan anginnya, melesat ke depan untuk menyelamatkan Hanna.
Saat sang pembunuh menembak, Ashia sudah berhasil mencapai Hanna. Ia menundukkan tubuhnya ke tubuh Hanna dan sebagai akibatnya tembakan laser tersebut justru mengenai punggungnya. Ashia dan Hanna langsung jatuh tersungkur ke tanah. Di belakang mereka sang Naga meraung dan mengangkat kepalanya dengan sangat cepat. Api langsung menyembur dari mulutnya dan menghantam tubuh sang pembunuh, sebelum para pengawal Zhouyou sempat meringkusnya. Dalam sekejap, tubuh itu membara lalu kemudian berubah menjadi serpihan debu. Saat semua orang terpaku di tempatnya karena terkejut, Kepala sang Naga kembali terjatuh dengan suara keras ke tanah. Suara tersebut membangunkan Zhouyou dari keterkejutannya. Ia segera berlari menuju Ashia dan Hanna, menjeritkan ketidak percayaan dalam kepalanya.
Zhouyou berlari secepat yang ia bisa untuk mencapai Ashia. Gadis itu terkapar tertelungkup diatas Hanna. Keduanya tampak tak sadarkan diri. Zhouyou membalik tubuh Ashia. Mata gadis itu tertutup rapat. Disebelahnya, Adonis dan Baozhu mencoba untuk membangunkan Hanna. Zhouyou memanggil-manggil namanya dan mengguncang bahu Ashia, mencoba untuk membangunkannya. Namun Ashia tetap diam tak bergerak.
"Ashia? Ashia? Sayang, bangunlah! Buka matamu! Ashia!"
Copyright @FreyaCesare