
Begitu sang Naga tak sadarkan diri, ketegangan di tubuh semua orang melonggar. Zhouyou dan Ashia yang pertama sampai ke sisi Hanna. Ashia langsung berlutut disisinya dan mengecek kondisi gadis kecil itu.
"Hanna, apa kau baik-baik saja? Apa ada yang luka?" Desaknya. Hanna tersenyum menenangkan dan menggeleng.
"Aku baik-baik saja, kak." Jawabnya.
"Kau ini! Tidak seharusnya kau melakukan hal itu! Bagaimana kalau kau terluka?" Bentak Zhouyou marah. Hanna hanya menganggukkan kepalanya, memaklumi kemarahan Zhouyou. Saat itu Baozhu dan yang lainnya telah sampai disisi Hanna. Baozhu menarik Hanna dan memeluknya erat, sampai Hanna merasa sulit untuk bernafas.
"Ibu... Kau... Mencekikkuuuu!" Keluh Hanna. Dengan enggan Baozhu melepaskan Hanna. Ia lalu mendongakkan wajah Hanna dan memaksanya untuk menatap matanya.
"Jangan pernah melakukan hal ini lagi! Kau harus berjanji padaku! Jangan pernah membahayakan dirimu lagi!" Perintahnya tegas. Matanya Hazelnya berubah menjadi hijau. Mata seorang Dewi yang marah. Hanna hanya bisa mengangguk mengiyakan walaupun dalam hati ia menyadari bahwa janji tersebut lebih mudah untuk dikatakan ketimbang untuk dilakukan. Namun demi ketenangan hati ibunya terkasih, Hanna akan menyetujuinya.
"Apakah ia telah mati?" Tanya Hazrat pada Bao Chen Yang dan beberapa pengawal Zhouyou yang mencoba memeriksa keadaan sang Naga. Bao Chen Yang menggeleng.
"Tidak. Sepertinya dia masih hidup. Hanya saja lukanya cukup parah." Sahut Bao Chen Yang.
"Apa yang harus kita lakukan pada mahluk ini, Yang Mulia?" Tanya pengawal pribadi Zhouyou. Namun belum juga Zhouyou membuka mulut untuk bicara, Hanna sudah berseru keras.
"Jangan sakiti dia!" Hanna lalu memegang tangan Zhouyou dan memohon. "Paman, jangan sakiti dia! Kumohon!"
"Tapi Hanna, ia sangat berbahaya. Dia telah menyebabkan kematian beberapa temanku." Dari 30 pesawat 1 awak yang terlibat pertempuran melawan sang Naga, 12 meledak dan jatuh, menandai gugurnya 12 orang prajurit terbaik Kerajaan Langit.
"Itu karena ia tidak tahu bahwa kita bukan bangsa Naga yang telah mengurungnya di dalam gunung tersebut. Dan.. dan ketika ia bebas, ia harus berhadapan dengan puluhan pesawat tempur yang terus menyerang dan memojokkannya. Bagaimana ia tidak melawannya? Coba... Cobalah pikirkan hal itu!" Pinta Hanna. Semua orang termangu mendengarnya. Memang benar bahwa semuanya terjadi karena kesalah pahaman. Namun tetap saja hal itu tidak menghilangkan kenyataan bahwa 12 orang telah kehilangan nyawanya karena sang Naga.
"Tak perlu khawatir." Suara Sirrian terdengar dari sisi dimana sang Naga berada. Mereka semua menoleh dan memandang Sirrian, Rowena dan Tarli sedang berdiri berdampingan di dekat sang Naga. Sirrian sedang memegang handheld yang selalu digunakannya untuk memeriksa dan mengobati pasiennya. "Luka di tubuh Naga ini mungkin bisa kusembuhkan, namun ia tidak akan hidup lama."
"Apa sebabnya?" Tanya Zhouyou.
"Dia sedang sakit. Dan penyakitnya sudah menggerogoti seluruh tubuhnya. Ia sulit untuk sembuh kembali. Umurnya mungkin hanya ada dalam hitungan hari." Jawab Sirrian.
"Apa kau tidak dapat menyembuhkannya, kak?" Tanya Hanna.
"Aku tidak memiliki pengetahuan tentang Naga sebelumnya. Ini adalah Naga pertama yang kutemui sepanjang hidupku. Apa yang tidak kuketahui, bagaimana aku dapat menyembuhkannya?" Mendengar jawaban Sirrian, Hanna menunduk sedih. Air mata berlinang di wajahnya, membuat cadar yang menutupi wajahnya menjadi basah. Baozhu menarik Hanna dalam pelukannya. Ia memahami perasaan Hanna, namun ia juga memahami sentimen yang dirasakan oleh setiap orang yang ada disitu. Nasi telah menjadi bubur. Keadaan memaksa mereka untuk berseteru dengan sang Naga. Namun setidaknya mereka tidak harus menghabisi nyawa sang Naga, karena sang maut sudah mengintai sang Naga bahkan tanpa campur tangan mereka.
"Aku tidak akan membunuh Naga ini. Tapi aku juga tidak bisa membiarkannya bebas begitu saja. Karena itu kita lihat saja nanti apa yang akan terjadi bila ia sudah sadarkan diri." Zhouyou memutuskan.
Karena tahu tidak ada penjara yang mampu menampung dan cukup kuat untuk menahan sang Naga, Zhouyou kemudian memerintahkan agar pengawalnya memasangkan sebuah Shield pelindung diatas tubuh sang Naga yang masuk sampai 1 meter di dalam tanah. Shield ini akan menghalangi sang Naga untuk bisa melarikan diri. Ketika sadar nanti, Ia akan tertahan dan terkurung di dalam shield. Semoga ia tidak dapat melepaskannya. Mengingat bahwa sang Naga telah selamat setelah berada dalam lava gunung berapi, Zhouyou tidak yakin bahwa shield tersebut dapat menahannya. Namun setidaknya mereka sudah berusaha.
Di dalam istana, Hanna masih menangis dalam pelukan Baozhu, yang menepuk-nepuk kepalanya penuh rasa sayang. Hanna tak mengerti mengapa ia merasa begitu sedih. Padahal ia baru saja bertemu dengan sang Naga. Komunikasi diantara merekapun hanya berlangsung sebentar. Namun kemungkinan bahwa sang Naga akan mati membuat Hanna tak bisa menghentikan air matanya. Matanya sampai membengkak dan cadarnya basah kuyup. Baozhu membuka cadar Hanna dan mengusap wajahnya yang basah.
"Wajahmu terlihat sangat menggelikan." Goda Baozhu. Xiao Bao yang duduk di samping mereka terkekeh geli. Hanna menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan menangis makin keras, membuat Baozhu dan Xiao Bao tersenyum geli melihatnya.
"Bayi berusia 100 tahun." ejek Adonis yang lewat disamping mereka. Tangannya yang indah mampir di kepala Hanna dan mengacak-ngacak rambutnya dengan gemas. Mendengarnya, Hanna mengangkat wajah dan mengulurkan lidahnya pada Adonis dengan kesal. Melihatnya Adonis terkekeh geli. Ia berjongkok di hadapan Hanna dan mencubit kedua pipinya pelan.
"Ternyata tak perduli seberapapun cantiknya dirimu, apabila menangis, bisa jadi jelek juga ya." Ledeknya. Hanna memicingkan matanya kesal dan mencoba menggigit jari-jemari Adonis. Adonis berkelit tangkas dan ganti menarik hidung Hanna.
"Jangan selalu menyelesaikan masalah dengan gigitan, gadis cengeng! Kau kan bukan Tarli." tegur Adonis. Baru selesai ia berucap, sebuah tangan sudah mampir memukul keras kepalanya. Adonis menoleh keatas dan bertatapan dengan Tarli yang sedang melotot kesal.
"Jangan selalu membawa-bawa aku dalam tiap ejekanmu!" Protesnya. Bukannya meminta maaf, Adonis malah memamerkan senyum malasnya. Ia bangkit berdiri dan mengikuti Tarli yang berjalan menuju Sofa di seberang Baozhu. Ketika Tarli duduk di sofa tersebut, Adonis turut duduk di sampingnya. Adonis lalu menyandarkan kepalanya pada bahu kakak angkatnya dengan lagak manja.
"Itu karena aku mencintaimu, Tarli. Kau tahu itu kan?" Rayunya. Tarli mengangguk-angguk dengan bibir mencibir tak percaya.
"Ya ya. Terserah apa katamu saja." sahutnya setengah hati, membuat Adonis mengangkat kepalanya dan menatap Tarli dengan wajah menyiratkan kekecewaan yang tentu saja dilebih-lebihkan.
"Apa kau tidak percaya? Tapi aku sungguh-sungguh lho!" tegas Adonis.
"Hanya orang bodoh yang mau percaya pada mulut manismu itu, dasar tukang bohong!" Bantah Tarli. Adonis merespon kata-katanya dengan wajah sangat sedih. Ia meremas sebelah dadanya, menundukkan kepalanya dalam-dalam dan melemaskan bahunya. Lagaknya bagaikan pecinta yang sedang patah hati.
"Kau tidak tahu betapa kata-katamu itu sangat melukai hatiku." keluhnya memelas, lagi-lagi dengan sangat berlebihan.
"Riiiiight. Memang apa perduliku." sahut Tarli bersikeras.
"Kau harus perduli! Aku kan adik paling tampan yang kau miliki!" Suara Adonis kembali meninggi, membuat Tarli memandangnya dengan tatapan geli.
"Dasar orang gila." maki Tarli.
Sepanjang drama pertengkaran kecil tersebut, Hanna sudah melupakan tangisnya dan asyik memperhatikan kedua kakaknya bertukar kalimat ejekan demi ejekan. Air mata di pipinya sudah mengering dan matanya mengerjap-ngerjap karena sedikit perih akibat banyak menangis. Ia bersandar tenang di dada Baozhu dan menikmati satu lagi saat ketika kedua kakak kesayangannya sedang asyik meributkan entah apa. Sadar sepenuhnya bahwa mereka berdua melakukan hal tersebut untuknya. Untuk mengalihkan perhatian Hanna dari penyebab tangisannya. Untuk itu, Hanna sangat bersyukur pada keduanya.
Dengan menarik nafas panjang, Hanna memutuskan untuk melepaskan kesedihannya dan sekali lagi membiarkan dirinya dimanjakan seperti seorang bayi; berbaring diatas pangkuan Baozhu dan dihibur oleh keantikan Adonis dan Tarli. Setidaknya sampai sang Naga kembali membuka matanya.
Copyright @FreyaCesare