Flower Of The Dragon

Flower Of The Dragon
Sahabat Kecil Hanna



"Itu seekor Chimera kan?" Tanya Ashia.


"Bukan hanya sekedar seekor Chimera, tapi itu adalah seekor Chimera listrik." Sahut Tarli.


"Ibunya membuat beberapa penjaga keamanan harus dirawat di infirmary semalam." Sirrian menambahkan. "Luka bakar grade 2."


"Itu artinya sebuah keberuntungan. Biasanya korbannya selalu menderita luka bakar grade 4." Hazrat menambahkan.


"Sejak semalam Kak Yi Rang dan Kak Chen Yang membawa pasukannya untuk terus berpatroli menyusuri gunung. Coba bayangkan bagaimana reaksi mereka apabila melihat Spoutfire." kata Sirrian.


"Dia menggemaskan." Komentar Adonis.


"Kau sudah gila!" cela Tarli.


Mereka semua memandang was-was pada mahluk mungil berbulu di atas pangkuan Hanna yang sedang asyik menggigiti ujung ikat pinggang Hanna.


"Hanna, apa tidak sebaiknya kau antar Spoutfire pulang?" Tanya Sirrian. "Kak Yi Rang dan Kak Chen Yang akan sangat marah kalau melihatnya. Kau ingat kan berapa banyak anak buah mereka terluka karena kemarahan Ibunya Spoutfire?" Hanna mengerjap-ngerjapkan matanya, berpikir.


"Hanna, dia sudah disini sejak semalam. Mungkin saja dia sudah lapar dan memerlukan ibunya." Bujuk Sirrian lagi.


"Kemarin Spoutfire sudah makan banyak sekali. Setidaknya baru seminggu lagi ia akan membutuhkan makanan." Jawab Hanna.


"Apa Spoutfire bilang begitu?" Tanya Tarli. Hanna mengangguk.


"Enaknya. Andai tubuhku sepintar itu." cetus Ashia. Hazrat mendengus geli mendengarnya.


"Kalau kau hanya makan seminggu sekali, rumahku pasti bisa lebih besar dari sekarang. Biaya makanmu selama sebulan cukup untuk menghidupi 1 keluarga Sirrian selama setahun." goda Hazrat, membuat Aisha mengerutkan bibirnya kesal.


"Lagipula ibunya belum kembali. Daripada sendirian di sarangnya, Spoutfire akan lebih aman berada disini." Ucap Hanna lagi. Sirrian mendesah dan mulai memijati keningnya yang tiba-tiba terasa sakit.


Hanna lalu membelai lembut kepala Spoutfire yang mendengkur senang karenanya. Tiba-tiba Spoutfire menghentikan permainannya dan menatap Hanna dengan kedua matanya yang menggemaskan. Selama beberapa menit Hanna dan Spoutfire saling berpandangan, membuat semua orang yang memperhatikan mereka berdua; menahan nafas karena khawatir. Tak ada satupun dari mereka yang paham mengenai Chimera dan ketidak mengertian ini membuat kontak Hanna dengan Chimera terasa begitu mengkhawatirkan. Namun kemudian Hanna mengulurkan tangannya pada Spoutfire.  Mahluk mungil itu lalu berdiri di atas 2 kaki belakangnya dan merentangkan kedua kaki depannya, membiarkan dirinya diangkat ke dalam pelukan Hanna. Hanna berbalik menghadap keluarganya.


"Spoutfire sudah siap untuk pulang." Ucapnya. Semua orang tampak bingung sekaligus lega mendengar kalimat Hanna ini.


"Apa dia bilang begitu?" Tanya Sirrian cepat. "Baiklah. Kalau begitu siapa yang akan mengantarkannya pulang?"


Hanna membawa Spoutfire  berjalan keluar melalui pintu di ruang makan. Ia lalu melangkah melintasi teras menuju halaman belakang. Begitu menginjak halaman belakang, Hanna berbalik untuk berbicara dengan keluarganya.


"Aku akan pergi sendiri. Tolong, jangan ikuti aku." Pintanya. Walaupun khawatir, keluarganya menuruti permintaan Hanna. Tak ada kesempatan untuk memperingatkan Bao Chen Yang dan Bao Yi Rang mengenai hal ini. Semoga mereka tidak langsung bertindak begitu menyadari kedatangan si ibu Chimera.


Hanna berbalik kembali dan melanjutkan langkahnya melintasi halaman belakang. Halaman belakang bersebelahan langsung dengan hutan yang menutupi area pegunungan tersebut. Hutan itu sendiri dihuni oleh banyak hewan, termasuk juga Chimera. Namun biasanya Chimera tidak pernah menampakkan diri di sekitar pemukiman. Walaupun tergolong mahluk buas, chimera adalah mahluk yang sangat pemalu. Begitu sampai di pinggir hutan, Hanna berhenti melangkah. Ia berdiri tenang menghadap hutan, masih dengan memeluk Spoutfire.


Tak lama kemudian seekor Chimera raksasa keluar dari rerimbunan semak-semak di pinggir hutan. Ia adalah seekor hewan berkaki empat dengan perawakan mirip singa betina namun dengan ukuran 2 kali lebih besar. Ia juga memiliki sebuah tanduk lurus di kening, mata merah dan bulu yang berwarna semerah api yang menyala. Semua orang menahan nafas ketika Chimera tersebut berjalan mendekati Hanna, namun Hanna tidak nampak khawatir sama sekali. Ia tersenyum pada induk Chimera, membungkukkan tubuhnya untuk menghormatinya sekali, lalu berjalan mendekatinya. Hanna mencium wajah Spoutfire penuh rasa sayang, lalu meletakkannya di atas kepala induknya. Spoutfire berpegangan pada tanduk induknya dengan kedua kaki depannya. Induk Spoutfire mendekatkan wajahnya pada Hanna dan menjilati wajahnya beberapa kali, membuat gadis kecil itu tertawa geli, sementara saudara-saudaranya menahan nafas tegang. Kemudian induk Spoutfire menoleh pada saudara-saudara Hanna dan meraung sekali kepada mereka, seolah memberikan peringatan, lalu kemudian berbalik dan berjalan kembali memasuki hutan. Di belakangnya, Hanna melambaikan tangan dengan ceria.


Saat Bao Yi Rang dan Bao Chen Yang sampai di teras belakang setelah dikejutkan oleh raungan induk Chimera tersebut, Spoutfire dan ibunya telah menghilang ke dalam hutan. Hanna kemudian berbalik untuk kembali menuju Kuil. Ketika ia melihat Bao Chen Yang, senyumnya langsung mengembang lebar. Dengan merentangkan tangannya, Hanna berlari kearah Bao Chen Yang yang menyambutnya dengan senyum yang tak kalah lebarnya. Hanna langsung berlari masuk ke dalam pelukannya.


"Gadis kecil, kudengar kau kedatangan tamu yang luar biasa?" Tanyanya. Hanna mengangguk.


"Tapi kakak sudah terlambat. Spoutfire sudah dijemput ibunya untuk pulang." jawab Hanna.


"Benarkah? Sayang sekali aku tidak sempat bertemu dengannya."


"Oh, tenang saja. Kakak bisa bertemu dengannya nanti."


"Nanti?"


"Iya. Spoutfire sudah berjanji akan mampir bila ibunya harus pergi lagi. Dan dia akan mengajak teman-temannya."


Semua orang yang mendengar percakapan tersebut saling berpandang-pandangan. Datang lagi? Dan bersama teman-temannya? Ya, ampun!  Bao Yi Rang yang tak tahu apa-apa memandang mereka dengan heran.


"Ada apa? Siapa tamu yang Hanna maksud? mengapa aku tidak tahu kalau ada tamu? Kapan mereka datang?" Tanyanya. Adonis menggeleng-gelengkan kepalanya dan menepuk bahu kakaknya dengan penuh simpati.


"While you were sleeping, big brother. While you were sleeping." Jawabnya.


Bao Chen Yang mengangkat Hanna dan mendudukkannya di atas bahunya. Lalu mereka semua berjalan memasuki Kuil sambil bersenda gurau ramai, tak menyadari bahwa ada beberapa pasang mata yang sedang memperhatikan dari dalam hutan yang lebat.


Copyright @FreyaCesare