Flower Of The Dragon

Flower Of The Dragon
Bangunlah, Ashia!



Zhouyou berlari secepat yang ia bisa untuk mencapai Ashia. Gadis itu terkapar tertelungkup diatas Hanna. Keduanya tampak tak sadarkan diri. Zhouyou membalik tubuh Ashia. Mata gadis itu tertutup rapat. Disebelahnya, Adonis dan Baozhu mencoba untuk membangunkan Hanna. Zhouyou memanggil-manggil namanya dan mengguncang bahu Ashia, mencoba untuk membangunkannya. Namun Ashia tetap diam tak bergerak.


"Ashia?  Ashia? Sayang, bangunlah! Buka matamu! Ashia!" Zhouyou mengangkat bagian atas tubuh Ashia dan membaringkannya diatas pangkuannya. Melihat Ashia yang tidak bergerak maupun merespon panggilannya sama sekali, darah serasa terserap habis dari tubuhnya. "Paman Sirrian!!!" Raung Zhouyou. Sirrian yang memang telah berlari kesamping Zhouyou untuk mengecek keadaan Ashia, menjawab tenang.


"Aku disini." Dengan cekatan Sirrian mengaktifkan Handheldnya dan mulai memeriksa keadaan Ashia, sementara Zhouyou menatapnya dengan cemas. Air mata tanpa terasa telah membanjiri wajahnya bersamaan dengan keringat dingin yang membasahi tubuhnya. Tapi Zhouyou tidak menyadarinya. Ia terlalu terpaku pada kondisi Ashia untuk memperhatikan perubahan dalam dirinya sendiri.


Pemeriksaan baru berlangsung selama 30 detik ketika Sirrian mengangkat wajahnya dan menatap Zhouyou dengan ekspresi tak terbaca. Saat itu Hazrat dan Bao Yue sampai disisi mereka dan keduanya langsung berlutut di sebelah putri mereka yang masih berbaring tak bergerak dalam pelukan Zhouyou.


"Apa yang terjadi?" Tanya Bao Yue. "Ashia? Ashia? Kenapa dengan putriku? Zhouyou, Ashia kenapa?" Tak menggubris pertanyaan Bao Yue, Zhouyou menghardik Sirrian.


"Katakan!" Perintahnya menggelegar. Hazrat yang melihat ekspresi Sirrian dan Zhouyou segera menyadari situasi mengerikan yang sedang mereka hadapi. Sirrian menarik nafas panjang sebelum kemudian berkata,


"Tembakan Laser tersebut langsung mengenai jantungnya. Maafkan aku Zhouyou, tapi Ashia sudah pergi." Ucapnya pelan. Mendengar hal ini, kaki Hazrat menjadi goyah dan sang Jenderal Besar tersebut terduduk di tanah, sedangkan Bao Yue menutup mulutnya dan merintih nyaring; menatap Sirrian dengan tatapan tak percaya.


"Tidak mungkin! Kau baru memeriksanya sebentar saja! Ayo periksa lagi! Kau pasti salah! Periksa lagi, Paman!" tolak Zhouyou.


"Jantung Ashia sudah habis terbakar. Tanpa jantung, mustahil ia masih bisa hidup, Zhouyou." Ucapnya pelan, mencoba menjelaskan, walaupun sangat menyadari bahwa penjelasan apapun tidak akan bisa menghentikan penyangkalan Zhouyou.


"Tidak! Aku tidak percaya! Ashia tak mungkin mati! Ia tak mungkin meninggalkanku!" Tolak Zhouyou. Tangannya mengusap-usap wajah Ashia dan menepuk-nepuk wajahnya pelan. "Ashia, bangunlah! Kau tidak boleh meninggalkanku! Kau sudah berjanji untuk menikahiku, karena itu kau tidak boleh pergi! Ashia, bangunlah!" Pinta Zhouyou mengiba. Semua yang disekitarnya hanya bisa terdiam ditempat mereka masing-masing melihat sang Raja Langit menangis dan meratap. Sebagian besar ikut menangis bersamanya.


Hazrat berusaha mengendalikan dirinya. Ia bangkit, lalu menoleh pada Sirrian dan bertanya,


"Apakah putriku benar-benar tidak dapat diselamatkan, Sirrian?" Tanyanya pada Sirrian. Suaranya walaupun terdengar serak dan penuh kesedihan, namun tetap terdengar jernih dan tenang. Sayangnya Sirrian menjawab pertanyaan tersebut dengan gelengan kepala pelan.


"Tembakan itu mengenai langsung ke jantung dan merusaknya. Ia meninggal seketika sehingga aku tidak punya kesempatan untuk melakukan sesuatu." sahut Sirrian. Mendengarnya membuat Hazrat tertegun dalam diamnya. Putriku yang malang, pikirnya. Zhouyou yang malang, pikirnya saat mengangkat kepala dan memandang Zhouyou yang saat itu sedang menangis tersedu-sedu sambil memeluk kepala Ashia. Dibutuhkan 1000 tahun bagi mereka untuk bisa bersama. Sekarang disaat pernikahan mereka akan menjadi kenyataan, impian itu terenggut begitu saja tanpa ada yang bisa menebaknya. Bahkan di tengah komunitas dimana usia tua dan penyakit bukan pembawa maut yang perlu diperhatikan, putri kesayangannya tetap tidak terselamatkan. Lalu sekarang bagaimana cara Zhouyou untuk hidup? Bagaimana cara Hazrat dan Bao Yue untuk hidup? Cahaya kehidupan mereka telah pergi meninggalkan mereka. Hazrat merintih pedih dalam hati.


Hanna terbangun karena mendengar suara Baozhu yang terus memanggil-manggil namanya. Saat ia membuka mata, ia menemukan bahwa dirinya masih terkapar di tanah, sementara Baozhu, Adonis, Tarli dan Xiao Bao mengerubunginya. Sesaat Hanna merasa bingung, namun Kemudian ingatannya tentang saat sebelum ia tidak sadarkan diri menerpa bagai air bah. Ia ingat seseorang menembakkan senapan kearahnya. Ia juga ingat seseorang lainnya kemudian menabraknya hingga terjatuh ke tanah.


"Hanna," panggil Baozhu. "Apa kau baik-baik saja?" tanpa menjawab pertanyaan ibunya, Hanna mencoba bangkit dan duduk. Setelah duduk, pandangannya langsung tertumbuk pada Zhouyou yang sedang menangis sambil memeluk erat tubuh seseorang.


"Kak Ashia?" Guman Hanna saat memandang tubuh yang sedang dipeluk Zhouyou. Ia langsung mencoba berdiri. Awalnya nyaris terjatuh karena kakinya gemetar, namun Xiao Bao dan Baozhu menahannya dengan cara memegang lengannya dari sisi kiri dan kanan. Sesaat setelah kakinya terasa cukup kuat, Hanna melepaskan diri dari topangan kakak dan ibunya untuk mendekati Ashia.


Hanna jatuh berlutut di samping Ashia dan memandangi Ashia yang sebagian tubuhnya berada dalam pelukan Zhouyou. Diatas kepala Ashia, Hazrat yang sudah menarik istrinya untuk berdiri, sedang memandang putrinya dengan penuh kedukaan sambil memeluk istrinya, Bao Yue yang tersedu-sedu di dadanya. Wajah Ashia masih berwarna merah muda. Matanya terpejam rapat dan bibirnya sedikit terbuka. Ia hanya tampak seperti sedang tidur.


Hanna memandang Zhouyou yang sedang mendekap kepala Ashia dalam pelukannya sambil terus memanggil-manggil nama Ashia dengan suara serak dan penuh kesedihan. Wajah Zhouyou basah oleh air mata. Melihatnya membuat Hanna menjadi ketakutan. Tubuhnya gemetar hebat.


"Paman, kak Ashia kenapa? Kenapa ia diam saja?" Tanya Hanna pada Zhouyou dengan bibir bergetar. Namun Zhouyou tidak menjawabnya. Di belakang Hanna, Baozhu meraih tubuh Hanna untuk bersandar  ke arah tubuhnya.


"Ibu, kak Ashia kenapa, Bu? Tolong beritahu aku!" Pinta Hanna memelas.


"Ashia... dia... telah tiada, Hanna." Sahut Baozhu, terbata-bata diantara tangisnya sendiri.


"Hah? Tidak! Tidak! Ibu bohong kan, Bu? Kak Ashia cuma pingsan kan? Iya kan, Bu?" Rengek Hanna. Suara tangisannya bagai sembilu yang menancap ke hati semua orang yang mendengarnya dan membuat mereka yang sudah terlebih dahulu menitikkan air mata, menangis semakin keras. Baozhu tidak mampu menjawab pertanyaan Hanna. Ia hanya bisa mempererat pelukannya dan menangis bersama putri bungsunya.


Salahku! Ini salahku! Andai aku tidak meminta agar shield tersebut dibuka, hal ini tidak akan terjadi! Maki Hanna pada dirinya sendiri. Ia berpegangan pada Baozhu dan menangis keras.


Sirrian menjauh dari sisi Ashia untuk memberikan ruang yang lebih luas bagi Hazrat, Bao Yue dan Zhouyou. Ia kemudian berjalan ke sisi Bao Chen Yang.


"Kak Chen Yang, apa kau tahu siapa pelakunya?" Tanya Sirrian pada Bao Chen Yang. Bao Chen Yang menoleh padanya dan berkata;


"Pelakunya adalah salah satu orangtua korban pesawat tempur yang jatuh kemarin.  Tujuannya adalah untuk membunuh sang Naga."


"Naga itu... ia telah membawa banyak kehancuran..." Suara Hazrat menggeram pelan. Rupanya sedari tadi ia mendengarkan percakapan antara Sirrian dan Bao Chen Yang, dan sekarang mengalihkan perhatiannya pada sang Naga.


"Ia pun sedang menunggu nafas terakhirnya, Hazrat. Jangan kotori tanganmu karena amarahmu." Ucap Sirrian, mencoba menenangkan Hazrat. Hazrat menarik nafas panjang. Namun wajahnya masih terlihat geram.


"Bagaimana dengan orang yang melakukan penembakan?" Tanya Hazrat lagi. Sirrian menggerakkan kepalanya untuk memandang ke atas tumpukan abu yang tadinya berwujud manusia. Hazrat dan Chen Yang mengikuti arah pandangannya.


"Sang Naga sudah membakarnya sampai hanya tinggal abunya yang tersisa."  Jawab Sirrian.


"Aku senang." Ucap Hazrat pelan. Untuk sesaat, sebelah ujung bibir Hazrat naik membentuk senyum yang langsung menghilang secepat datangnya. Tiba-tiba sebuah angin ****** beliung yang sangat mungil datang entah dari mana dan menghamburkan tumpukan Abu tersebut ke udara sampai tak lagi bersisa. Sekarang, apabila keluarganya mencarinya, maka tak ada lagi bagian dari si pembunuh yang tersisa untuk dibawa pulang dan dimakamkan.


Untuk nyawa anaknya yang meninggal dalam tugas, sang ayah telah menyebabkan hilangnya nyawa orang lain yang sama tidak berdosanya. Terlebih lagi nyawa itu adalah nyawa calon Ratu mereka. Untuk kesalahan sebesar itu, maka hukuman kematian saja tak akan cukup baginya. Keluarga si pembunuh harus bersyukur bahwa Hazrat hanya menyingkirkan abu tersebut. Tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Zhouyou. Ia mungkin akan membunuh semua orang dalam keluarga tersebut apabila kelak ia terlalu murka akibat kesedihan yang berlebihan. Keluarga Kerajaan Langit adalah manusia-manusia yang penuh welas asih, namun kami juga penuntut balas yang paling kejam dalam sejarah Sirria modern. Pikir Sirrian sambil memandangi punggung Hazrat yang telah kembali ke sisi istrinya dan putri mereka.


Dari sudut matanya, Sirrian melihat Jaaz dan Xiam berlari menuju sang Naga. Keduanya nampak sedang berkomunikasi dengan sang Naga yang sedari tadi sama sekali tidak bergerak. Matanya masih tertutup rapat dan menilai dari hasil Scanning yang Sirrian lakukan, sang Naga nampaknya telah mencapai saat-saat terakhirnya. Atau mungkinkah bahwa perkiraan ini tidak benar?


Dari hadapan sang Naga, Jaaz menoleh dan berjalan mendekati Hanna yang masih menangis tersedu-sedu dalam pelukan Baozhu.


"Hanna!" Panggil Jaaz. Hanna mendengarnya, tapi ia memilih mengabaikannya. Ia tidak mau berbicara dengan siapapun saat ini. Ia hanya ingin menangis dan menangis sampai rasa sakitnya tidak terasa lagi.


"Hanna!" Suara panggilan Jaaz dalam kepalanya terdengar makin mendesak. "Hanna, dengar aku! Masih ada kesempatan. Ashia masih bisa diselamatkan!" Seru Jaaz. Mendengarnya, Hanna langsung mengangkat kepalanya.


Copyright @FreyaCesare