Flower Of The Dragon

Flower Of The Dragon
Kegelisahan Cinta



Butuh waktu 2 jam bagi Rowena untuk menyelesaikan proses pembuatan obat yang Aspixia butuhkan. Setelah selesai, Rowena segera mengemasnya dan memerintahkan kurir Kuil Langit untuk segera mengirimkannya ke Pulau Bunga.


Setelah semuanya selesai, Rowena duduk diam. Pikirannya kembali pada kejadian beberapa jam sebelumnya; saat ia berada dalam pelukan tangan-tangan kokoh  milik Adonis. Rowena masih bisa merasakan kehangatan tubuh Adonis yang melingkupi dirinya saat itu, atau hembusan nafasnya yang menggoda di tengkuknya; membuat bulu kuduknya meremang. Dan dengan ngeri Rowena menyadari bahwa ia menginginkannya. Pelukan itu, kehangatan itu, ia ingin kembali merasakannya!


Rowena menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mencoba mengusir keinginan yang membara dalam hatinya. Memalukan! Makinya pada diri sendiri. Apakah aku sudah gila? Mengapa menginginkan hal yang memalukan seperti itu sih?! Kalau sudah begitu apa bedanya diriku dengan wanita-wanita mainan Adonis itu? Kecamnya lagi.


Tapi Adonis menginginkannya! Bantah suara lain dalam dirinya. Bukan aku yang menginginkan pelukan itu, tapi Adonis yang menginginkannya! Rowena mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Tapi siapa sesungguhnya yang coba dibohonginya?


Rowena tahu walaupun ia sangat enggan mengakui; bahwa ia ingin berada dalam rengkuhan tangan-tangan Adonis kembali. Ia enggan mengakui bahwa kegelisahannya saat ini tidak ada hubungannya dengan pelukan berikutnya yang telah dijanjikannya pada Adonis. Rowena sudah menjanjikan sebuah pelukan selama yang Adonis inginkan. Tapi bagaimana cara menawarkannya?


Eeer... yang benar saja! Mengapa ia harus menawarkannya? Biarkan saja Adonis datang dan mengambilnya sendiri! Yang begitu akan lebih aman bagi harga diri Rowena. Tapi... tapi... wajah seperti apa yang harus ia pasang ketika bertemu dengan Adonis?


Memikirkannya saja sudah membuat wajah Rowena memerah. Ia menepuk-nepuk kedua pipinya dan menutup matanya rapat-rapat. Gadis bodoh, kontrol dirimu! Tegurnya pada diri sendiri.


Suara dengung pintu otomatis membuat Rowena menoleh ke arah pintu dengan kedua tangan yang masih menempel di pipinya. Sosok tampan Adonis muncul di balik pintu yang terbuka. Rambut ikalnya tampak sedikit berantakan dan seulas senyum penuh rasa percaya diri, seperti biasa, terukir di wajahnya.


Begitu melihatnya, nafas Rowena langsung tercekat di tenggorokan. Saat ini tiba-tiba Rowena merasa agak kesal padanya karena Adonis tampak begitu santai dan yakin pada diri sendiri. Mengapa dia begitu tenang? Apa hanya aku saja yang merasa gugup dan tidak karuan? Dia sungguh-sungguh menyukaiku tidak sih? Tanya Rowena dalam hati.


Melihat ekspresi Rowena, Adonis menaikkan sebelah alisnya dan tersenyum menggoda. Gadis itu tampak seperti seseorang yang tertangkap basah sedang melakukan sesuatu yang rahasia. Wajahnya memerah, sementara matanya sedikit terbelalak dan bibirnya terbuka.


"Kau sedang apa?" Tanya Adonis. Rowena cepat-cepat menurunkan tangannya dan meletakkannya dengan rapi diatas pangkuannya, serta berusaha sedapat mungkin mengatur ekspresi wajahnya.


"Tidak ada!" sahut Rowena. Namun suaranya yang sedikit melengking membocorkan rahasianya. Kening Adonis sedikit berkerut melihat tingkah mencurigakan Rowena, namun ia tak mengejar lebih jauh.


"Apa sudah selesai?" Tanya Adonis, mengacu pada herbal yang tadi dibuat oleh Rowena. Rowena mengangguk kuat-kuat.


"Kurir sudah membawanya." Sahutnya Rowena menegaskan.


"Syukurlah." Adonis berdiri di depan meja kerja Rowena dan menaruh sebuah keranjang piknik keatas meja tersebut. Rowena memandang heran kearah keranjang tersebut, lalu mengangkat pandangannya kearah Adonis. Bulu matanya yang tebal dan panjang bagai tirai yang menaungi tatapannya, membuatnya tampak menggemaskan dalam pandangan Adonis.


"Apa ini?" Tanya Rowena ingin tahu.


"Makan siang." Sahut Adonis, membuat mata bulat Rowena membesar karena senang.


"Kau membawakanku makan siang untuk dimakan disini?"


"Dapur sudah tutup karena jam makan siang sudah lama lewat. Aku tahu kau belum makan, karena itu aku meminta koki kepala untuk menyiapkan ini buat kita."


"Kita?" Sebelah alis Rowena terangkat mendengar kata tersebut. Dirinya dan Adonis menjadi 'kita'? Entah mengapa kata itu terasa intim di telinga Rowena. Tanpa sadar semburat merah mewarnai pipinya ketika menyadari arah pikirannya yang melantur.


"Apa kau lebih suka makan sendiri?"


"Kau juga belum makan?"


Adonis hanya mengangguk walaupun dalam hati ia berkata bahwa ia terlalu bahagia tadi sehingga tak merasakan lapar sama sekali.


Rowena berdehem untuk menutupi salah tingkahnya dan dengan sengaja mencoba mengalihkan pembicaraan. Ia mengamati keranjang yang dibawa Adonis dan bertanya,


"Kau bawa apa?"


Adonis membuka keranjangnya dan mengeluarkan isinya satu demi satu.


"Salad untukmu." Adonis meletakkan piring pertama yang dikeluarkannya tepat di depan Rowena, lalu meletakkan piring berikutnya di depannya.


"Venison Steak untukku." Piring berikutnya berisi beberapa potong sandwich buah dan meat burger.


"Kau tahu yang mana milikmu dan yang mana untukku kan?" tanya Adonis pada Rowena yang dijawab Rowena dengan cengiran.


"Dan dessert," Adonis mengeluarkan sebuah kotak dari dalam keranjang.


"Hazelnut Choco Ice cream."


"Hanya 1?" tanya Rowena sedikit kecewa.


"Aku mulai dari yang ini!" Putus Rowena.


"Rowi, mana ada orang makan dimulai dari dessert terlebih dahulu." tegur Adonis.


Rowena menggeleng, dalam hati merasa senang mendengar cara Adonis memanggil namanya. Tak ada yang pernah memanggilnya Rowi. Hanya Adonis yang melakukannya. Itu adalah nama kesayangan yang diberikan Adonis padanya sejak mereka masih belia, namun begitu beranjak dewasa, Rowena jarang mendengar Adonis memanggilnya dengan nama itu.


"Kau sudah bertemu satu orang yang melakukannya; aku!" Bantah Rowena. Ia membuka tutup kotak ice cream dan menyendoknya dengan bahagia. Ketika ice cream tersebut menyentuh lidahnya, creamnya yang lembut dan dingin langsung lumer dalam mulut Rowena dan menyebarkan rasa manis khas coklat dan rasa nutty dari hazelnut ke seluruh lidah Rowena. Gadis tersebut memejamkan mata dan tersenyum bahagia, membuat Adonis yang sedang memperhatikannya turut tersenyum. Hazelnut Choco adalah ice cream favorit Rowena sejak dulu. Gadis itu tak pernah memilih rasa yang lain.


Adonis kemudian duduk di kursi di hadapan Rowena dan mulai menyantap venison steaknya.


"Andai kau mencintaiku sebesar kau mencintai Hazelnut Choco Ice cream..." keluh Adonis tiba-tiba, membuat tangan Rowena yang sedang hendak menyuapkan ice cream ke dalam mulutnya menjadi terhenti sesaat di udara, sebelum kembali melakukan tugasnya.


"Idiot!" celanya. "Mana bisa membandingkan manusia dengan makanan."


"Oh, jadi apakah aku lebih dicintai dari pada hazelnut choco ice cream?" Adonis menaikkan sebelah alisnya dan menatap Rowena dengan seulas senyum menggoda dibibirnya.


"Tentu saja tidak!" tukas Rowena dengan kejam. Jawabannya membuat  Adonis tersenyum geli.


"Ah, kau tidak menyangkal bahwa kau mencintaiku." Adonis mengedipkan sebelah matanya dan memandang Rowena dengan jumawa. Semburat merah kembali menjalar di wajah Rowena.


"Cih, mimpi!" Tolak Rowena cepat. Adonis yang memperoleh hasil sesuai dengan harapannya, tersenyum senang dan memutuskan untuk tidak mengejarnya lebih jauh.


"Sebaiknya segera makan saladmu, karena kita harus segera berangkat ke Istana Langit setelah ini." Suruh Adonis.


"Hmm? Sekarang? Kenapa?"


"Zhouyou baru saja menghubungiku. Ia merasa khawatir dengan keadaan Ashia, terutama karena sekarang sudah menjelang waktu melahirkan. Ia berharap agar kau segera berada di sisi sang Ratu secepat yang dimungkinkan."


"Hah! Kecerewetannya pasti membuat Ashia merasa kesal!"


"Bisa kubayangkan."


Adonis kembali makan dengan tenang sementara Rowena menikmati ice creamnya dengan pikiran menerawang. Memiliki topik pembicaraan untuk dibahas berhasil membuatnya lebih santai dari sebelumnya.


"Adonis…"


"Hmmm?"


"Apakah Zhouyou sudah memberitahu Ashia mengenai komplikasi yang disebabkan oleh kebangkitan Naga miliknya?" Tanya Rowena ingin tahu. Adonis mengangkat kepala sejenak dari steak untuk menatap Rowena, sesaat merasa bingung mendengar pertanyaan ini. Namun dengan cepat ia menyadari maksud Rowena.


"Ah, maksudnya tentang kemungkinan bahwa ia akan melahirkan seekor Naga sejati?" Tanyanya untuk memastikan. Rowena mengangguk.


"Entahlah. Tapi sepertinya belum karena apabila sudah, Ashia pasti sudah menculik Aspixia dari sisi Hanna dan menyandera Naga bodoh itu." Sahut Adonis.


"Mengapa Zhouyou tidak mengatakannya?"


"Entahlah. Mungkin ia hanya tidak ingin membuat Ashia cemas."


"Tapi bagaimana kalau Ashia bukan melahirkan seorang anak, tapi malah sebutir telur?" Mereka terdiam sambil berpandang-pandangan; membayangkan reaksi Ashia yang terlambat menyadari keanehan pada bayinya. Bayangan Zhouyou berlari keliling ruang singgasana karena dikejar oleh Ashia yang mengacung-acungkan sebuah gagang sapu ditangannya membuat Adonis tersenyum geli.


"Zhouyou harus memastikan bahwa para pelayan sudah menyembunyikan semua sapu yang ada dalam istana tersebut." Seloroh Adonis yang langsung disambut oleh senyum geli Rowena.


"Sapu sama sekali tidak diperlukan! Aku akan menyiapkan sebuah tongkat yang pantas untuk digunakan Ashia menakuti Zhouyou!" Bayangan Zhouyou berlarian untuk menghindari kemarahan istri tercintanya juga muncul dalam imajinasi Rowena.


"Aku akan membantumu memilihkan tongkat yang paling kuat dan tebal." Janji Adonis, membuat Rowena tergelak. Derai tawa mereka dengan segera berhasil mencairkan aura canggung yang tadinya memenuhi ruangan membuat Rowena sesaat lupa pada kegelisahan cintanya.  Eh, nggak juga sih. Tapi setidaknya Rowena bisa berpura-pura bahwa ia lupa, sampai saat Adonis yang tidak perseptif mengingatkannya kembali.


"Ngomong-ngomong," mulai Adonis. "Mengenai apa yang kau katakan tadi pagi… kapan aku bisa melakukannya?"


Copyright @FreyaCesare