
Keesokan harinya diadakan upacara pemakaman bagi korban-korban yang jatuh akibat pertempuran dengan sang Naga. 12 orang prajurit terbaik Sirria, terutama Negeri Langit, telah kehilangan nyawanya. Hari ini Zhouyou bukan hanya kehilangan pesawat tempur dan awaknya, namun juga kolega dan sahabat-sahabat seperjuangannya. Isak tangis mewarnai pemakaman yang sangat jarang terjadi di Negeri Langit.
Sebagai bangsa berumur panjang yang memiliki banyak kemampuan untuk menghindari penyakit dan menyembuhkan luka-luka, di Negeri Langit, kecelakaan sekalipun jarang menimbulkan korban jiwa. Namun karena pesawat tempur yang jatuh dalam pertempuran kemarin langsung meledak baik di udara maupun saat mencapai daratan, maka tidak mungkin untuk bisa menyelamatkan awaknya. Jangankan diselamatkan, bahkan tubuh mereka sulit untuk ditemukan karena sudah hancur meninggalkan serpihan-serpihan yang tidak lagi dapat dikenali. Hari ini yang dimakamkan hanyalah seragam militer mereka dan sedikit bagian-bagian tubuh yang berhasil ditemukan. Sebagian peti mati malah kosong dan hanya terisi dengan seragam militer mereka saja. Karena itulah jerit tangis menyayat hati makin tak terbendung. Kemarahan pun menguasai hati anggota keluarga korban. Mereka menuntut balas atas kematian keluarga mereka.
Zhouyou menghadapi semua itu dengan tenang dan tidak banyak berbicara. Matanya berkaca-kaca namun ia mampu untuk menahan agar tak sampai ada air mata yang menetes jatuh. Ia dan pasukannya membungkukkan tubuh untuk meminta maaf pada keluarga korban serta menyampaikan rasa duka yang sebesar-besarnya dalam pidato singkatnya. Namun tidak ada yang dijanjikan olehnya untuk menjawab kemarahan keluarga korban. Tidak penyiksaan maupun pembunuhan pada sang Naga. Zhouyou tahu bahwa dalam hal ini ia tidak dapat begitu saja mengambil keputusan.
Saat akhirnya ia kembali berada di Istananya, Zhouyou duduk di sofa di ruang pribadinya sambil memijati kepalanya yang sakit. Suara ketukan di pintu membuatnya menoleh. Disana, Ashia berdiri sambil memegang daun pintu, ragu untuk masuk ataukah tetap berdiri di tempatnya. Zhouyou menegakkan tubuhnya dan memanggil gadis itu.
"Kemarilah." pintanya. Menurut, Ashia membiarkan pintu otomatis tersebut menutup di belakangnya dan berjalan mendekat. Saat gadis itu sudah berada di hadapannya, Zhouyou menariknya untuk duduk di sampingnya. Zhouyou lalu menyandarkan kepalanya ke atas bahu Ashia, membuat gadis itu harus bersandar di sofa, menahan berat tubuh Zhouyou.
"Kepalaku sakit sekali." keluh Zhouyou.
"Kalau begitu rebahlah diatas pangkuanku. Aku akan memijatinya." Kata Ashia. Zhouyou menurut dan meletakkan kepalanya keatas pangkuan Ashia. Lalu Ashia meletakkan kedua jari telunjuk dan jari tengahnya ke kening Zhouyou dan mulai melakukan gerakan memutar dengan tekanan yang cukup kuat untuk melawan rasa sakit yang dirasakan Zhouyou. Merasa sangat nyaman, Zhouyou menarik nafas panjang dan memejamkan matanya.
Ashia memijat kening Zhouyou sampai tangannya sendiri merasa pegal. Namun ia tidak berani berhenti. Ia tahu Zhouyou telah tertidur, namun apabila pijatannya berhenti dan rasa sakitnya kembali, pemuda itu akan terbangun kembali, padahal Zhouyou sangat memerlukan tidurnya. Karena itu Ashia terus memijati keningnya.
Sambil memijat, mata Ashia mau tidak mau berpesta menikmati wajah indah Zhouyou yang tak berani dipandanginya saat pemuda itu sedang membuka mata. Hidungnya yang tinggi dan ramping. Alisnya yang tebal. Matanya yang dalam dan berbulu mata lentik. Bibir atasnya yang tipis dan bibir bawahnya yang penuh. Rahangnya yang kokoh dan tulang pipinya yang tinggi. Kulit wajahnya yang licin sempurna. Rambutnya yang halus dan lembut. Zhouyou adalah paduan antara kecantikan dan ketampanan. Wajah yang terlalu sempurna bagi seorang raja.
Tanpa sadar jemari Ashia berhenti memijat dan bergerak untuk membelai wajah Zhouyou. Ia mengusap lembut bulu mata lentik pria itu, lalu hidungnya yang indah. Kemudian jemarinya bergerak turun dan menyentuh lembut bibir Zhouyou. Tiba-tiba mata Zhouyou terbuka. Ashia terkesiap karena terkejut. Tangannya dengan canggung mengambang di udara. Zhouyou menatapnya dengan tatapan menyelidik. Sebuah senyum jahil muncul di bibirnya.
"Ehm..." Ashia berdehem. "Kalau kepalamu sudah tidak sakit lagi, bangkitlah. Tanganku sudah pegal-pegal." kata Ashia. Bukannya menjawab atau melakukan apa yang diminta Ashia, Zhouyou meraih tangan Ashia yang masih mengambang di udara dan mulai memijatinya dengan gerakan memutar pada punggung tangan menggunakan ibu jarinya. Ashia membiarkannya. Seulas senyum terbit di bibirnya. Ia menyukai rasa tangan Zhouyou pada tangannya dan ia berharap pijatan itu akan berlangsung lama.
Setelah selesai dengan sebelah tangan, masih dalam posisi berbaring di atas pangkuan Ashia, Zhouyou meraih tangan Ashia yang satunya lagi dan mulai memijatinya juga. Setiap gerakan jarinya dimaksudkan untuk memberikan kenyamanan sekaligus godaan pada pemilik tangan tersebut. Mencoba mengingatkan Ashia mengenai masa-masa indah ketika apa yang terjadi diantara mereka berdua hari ini, dahulu sekali pernah mereka lakukan setiap waktu tanpa kecanggungan.
Apakah Ashia akan mengingatnya? Lalu apakah mengingat akan cukup membuat Ashia menginginkannya kembali? Zhouyou tidak bisa berhenti berharap. Pada suatu saat, Zhouyou menghentikan pijatannya dan membawa jemari Ashia ke bibirnya. Ia menciumi satu demi satu jemari gadis itu dengan lembut. membiarkan bibirnya menempel berlama-lama pada setiap ujung jari gadis itu, membuat Ashia mendesah bahagia. Jantungnya berdebar hebat dan kepalanya terasa ringan. Ashia tidak lagi dapat memungkiri kerinduannya pada kedekatan fisik mereka berdua. Perasaannya pada Zhouyou masih sekuat dahulu tak perduli apapun kilah yang telah diucapkannya untuk menyangkalnya. Ashia mencintai Zhouyou sebesar cinta pria itu untuknya.
Ashia mendapati nafasnya tertahan dan matanya langsung tertutup rapat. Sebelah tangannya entah kapan sudah menarik kain baju Zhouyou, memaksanya untuk lebih dekat. Bibir mereka bersentuhan lembut, meledakkan sejuta rasa yang nyaris mereka lupakan. Sesaat mereka tertegun akan kekuatan rasa tersebut, namun saat yang lain Zhouyou memperdalam ciumannya dan membuat Ashia menyingkirkan semua logikanya jauh-jauh dari kepalanya. Sentuhan ini, rasa ini, pria ini, Ashia menyukai semuanya. Bagaimana bisa selama ini ia berpikir bahwa ia bisa hidup tanpa merasakan dan memilikinya? Sekarang saat merasakannya kembali, Ashia tidak yakin bahwa ia mau kehilangan semua ini lagi. Karena itulah, ketika akhirnya Zhouyou melepaskan bibirnya dan mengangkat wajahnya untuk dapat menatapnya, Ashia menyemburkan kata-kata tersebut tanpa pikir panjang.
"Menikahlah denganku!" Mata Zhouyou terbelalak karena terkejut. Ia mengedip-ngedipkan matanya persis tingkah Hanna ketika sedang berpikir, membuat Ashia tersenyum geli. Senyum gelinya membuat Zhouyou memicingkan matanya karena kesal.
"Kau dan kekeras-kepalaanmu! Mengapa semua hal harus dilakukan oleh dirimu? Dulu kau yang pertamakali menyatakan cinta padaku! Lalu setiap kali aku mencoba melakukannya kemudian, kau selalu menampikku. Sekarang kau sudah berulangkali menolakku. Lalu ketika aku sedang menyusun siasat untuk mendapatkan dirimu kembali, kau malah melamarku! Aku ini laki-laki, Ashia! Dan aku seorang Raja! Mengapa kau selalu membuat aku kalah langkah dihadapanmu?" omelnya. Mendengarnya, Ashia mengangkat alisnya dan bertanya,
"Tidak mau? Kalau tidak mau ya sudah!" Ia mencoba bangkit dari duduknya, namun Zhouyou langsung mengurungnya dalam kedua tangannya dan mendorong tubuh Ashia dengan tubuhnya sampai rebah di atas sofa.
"Enak saja! Kau sudah melamarku, karena itu bertanggung jawablah!" perintahnya. Wajahnya yang tampan berada dekat sekali dengan wajah Ashia dan senyum bahagia menghiasi wajahnya, membuat Ashia ikut tersenyum bersamanya.
"Berjanjilah padaku, Ashia. Berjanjilah padaku bahwa mulai hari ini dan selamanya, kau tidak akan pernah meninggalkan aku sendirian lagi!" Pinta Zhouyou sepenuh hati. Ashia mengangguk.
"Aku berjanji."
"Katakan!" Perintah Zhouyou membuat Ashia memicingkan matanya namun tersenyum geli.
"Aku berjanji bahwa mulai hari ini dan selamanya, Ashia tidak akan pernah meninggalkan Zhouyou lagi!" ucap Ashia dengan sungguh-sungguh. Senyum Zhouyou semakin lebar.
"Aku suka itu." bisiknya. "Aku mencintaimu, Ashia." Belum sempat Ashia menjawabnya, Zhouyou sudah menundukkan wajahnya dan menciumi bibir Ashia kembali.
Copyright @FreyaCesare