Flower Of The Dragon

Flower Of The Dragon
Meet Hanna, The Dragon



"Aku tidak tahu caranya untuk kembali." beritahu Hanna sambil meringis malu. Dalam hal ini ia sungguh merasa tak berdaya.


"Hah?" pekik Aspixia.


"Yang betul saja!" Protes Adonis dengan kesal.


"Hanna, jangan bercanda!" tegur Ashia.


"Aku tidak bercanda. Aku betul-betul tidak tahu bagaimana caranya untuk kembali." jawab Hanna.


"Bagaimana kalau kau coba untuk tidur? Mungkin kalau kau tidur, tubuhmu akan kembali." Saran Xiao Bao. Yang lain mengangguk membenarkan.


"Emm. Baiklah." Hanna menoleh pada Baotu. "Ayah, dimana Hanna bisa tidur?"


"Houlan, pindah ke kamar tidur." perintah Baotu. Dalam sekejap mata pemandangan di sekitar mereka berubah. Saat ini mereka sedang berdiri di tengah ruangan yang terbuat dari batu dan di cat dengan warna putih. Ruangannya berbentuk melingkar dengan jendela bundar yang terbuat dari kaca berwarna-warni. Sebuah panggung berukuran 2x2m berada tepat di tengah ruangan. Di atasnya diletakkan sebuah matras empuk yang di tutup oleh tumpukan bedding yang semuanya berwarna biru laut. Di sebelah kiri terdapat dinding yang merupakan satu-satunya dinding yang tidak melengkung. Pada dinding tersebut terdapat 2 buah pintu berwarna biru laut yang mengarah ke lobi dan ke kamar mandi, serta sebuah meja belajar besar dan kursi yang keduanya juga berwarna biru laut.


"Huwaah, Apakah ini di dalam rumah ayah yang di tebing?" tanya Hanna terpesona.


"Em. Ini adalah kamar Ayah saat masih kecil." jawab Baotu. Ia memandang berkeliling dan tiba-tiba disergap oleh nostalgia.


"Kamar ini unik sekali!"


"Apa kau suka?"


Hanna menggeleng.


"Kamarnya bagus, tapi dekorasinya terlalu sepi. Tidak seperti kamar yang ditinggali oleh seseorang."


"Begitu ya? Mungkin karena Ayah jarang berada dalam kamar ini kecuali untuk tidur, jadi Ayah tidak pernah berpikir untuk menambahkan apa-apa selain yang ayah perlukan saja."


"Ayahmu adalah orang yang membosankan, Hanna." Seloroh Baozhu, membuat Baotu menoleh pada Baozhu dan tersenyum.


"Apa kau masih ingat kamar ini?" tanya Baotu pada istrinya.


"Tentu saja! Aku ingat mengendap-ngendap memasuki kamar ini saat kau sedang tidur, lalu membasahi kasurmu dengan air hangat agar kau berpikir kau telah mengompol." kenang Baozhu. Ceritanya membuat anak-anak dan cucu-cucu mereka tercengang. Ibu, bukankah engkau Mahadewi yang anggun tak bercela? Mengapa perbuatanmu itu mirip dengan tingkah Hanna dan Aspixia saat mereka sedang nakal-nakalnya? Menyadari keterkejutan keluarganya, Baozhu tersenyum.


"Di antara kami berdua, ayahmulah yang karakternya benar-benar menyerupai karakter dewa sejati. Dia lurus, jujur dan membosankan. Di sekolah kami dulu, Ibu adalah pimpinan anak-anak badung." cerita Baozhu. Baotu tertawa kecil mendengarnya.


"Ayah ingat melihat ibumu saat pertama kali ibumu masuk sekolah. Ibumu bertubuh mungil, ceria dan penuh ekspresi. Ia mudah sekali tertawa dan membuat orang-orang di sekitarnya tertawa bersamanya. Sungguh mahluk mungil yang membawa kebahagiaan. Pikir Ayah waktu itu. Sorenya setelah jam pulang sekolah, ibumu tiba-tiba berdiri di depan Ayah dan tanpa basa-basi mendorong ayah hingga menempel di dinding."


"Kau terlihat sangat tampan waktu itu. Membuatku tidak bisa menahan diri." ucap Baotu sambil tertawa berderai-derai. "Ayahmu sejak dulu selalu lebih tinggi dari rekan sebayanya sedangkan ibu beberapa ratus tahun lebih muda. Tapi ibu meletakkan kedua tangan ibu di dadanya dan mendongak padanya, lalu bertanya, 'apa kau punya kekasih?' Ayahmu dengan jujurnya menggeleng. Lalu ibu bilang, 'kalau begitu mulai hari ini kau adalah milikku!" tawa Baozhu kembali berderai, membuat anggota keluarganya yang mendengarkan dengan tercengang menjadi ingin mendengar lebih banyak lagi. Tak ada yang pernah mendengar kisah cinta antara Baotu dan Baozhu sebelumnya. Ini akan menjadi sebuah legenda yang menyenangkan bila di ceritakan kepada para pemuja Mahadewi dan Mahadewa Sirria.


"Ayah sangat terkejut waktu itu. Bagaimana mahluk yang begitu mungil, tapi perilakunya bisa begitu besar. Tapi karena sejak pertama kali melihat ibumu, ayah sudah tertarik padanya, ayah langsung mengangguk mengiyakan." sambung Baotu. Mendengar ini, Baozhu mendengus geli, membuat anak cucunya tercengang. Ibu mendengus? Sang Mahadewi bisa mendengus? Guys, tutup mulut kalian! Tidak boleh ada yang tahu kalau Ibu bisa mendengus. Tarli memandang berkeliling, mengancam dengan tatapan matanya. Yang lain mengangguk dengan patuh. Tenang saja! Nama baik sang Mahadewi dan Mahadewa akan kami jaga baik-baik. Janji mereka dalam hati.


"Tapi ternyata ibu tertipu!" Lanjut Baozhu. "Ibu pikir Ibu mendapatkan seekor domba berbulu tebal sebagai teman tidur, ternyata Ibu menangkap seekor serigala! Keesokan harinya, tanpa bicara satu patah katapun, ayahmu mengambil tangan ibu dan memasangkan gelang ikatan di tangan ibu." Gelang ikatan adalah gelang yang dipasangkan di tangan sepasang insan ketika mereka berdua dijodohkan. Gelang itu tak akan bisa dilepaskan selamanya, kecuali keduanya memutuskan untuk berpisah. "Coba kalian pikir, gelang ikatan! Ibu harus berusaha dengan segala cara untuk menyembunyikannya agar orangtua ibu tidak melihatnya. Ibu berusaha menangkap pria paling tampan di seluruh kampus untuk dipamerkan selama di sekolah, tapi malah Ibu yang terjebak menjadi istri kecilnya seumur hidup."


"Apakah kau sedang menyesalinya?" tanya Baotu sambil menyipitkan matanya.


"Tak akan pernah! Menikahimu adalah impian terindahku." Sahut Baozhu cepat. Mendengar ini, anak cucu mereka langsung bersiul-siul dan tersenyum senang, bahagia melihat keharmonisan orangtua mereka.


"Tenang saja. Ayahmu ini tidak mudah dibohongi. Ayah sudah merasakan kedatangannya sejak Ibumu membuka pintu kamar ayah. Setelah ia menyiram kasur ayah, ayah menangkap tangannya dan membuatnya berbaring di atas kasur yang basah. Hahaha!" Hanna tersenyum memandang kedua orangtua angkatnya. Ia sangat bersyukur bahwa merekalah yang membesarkannya. Walaupun Baotu dan Baozhu jarang bersama, cinta antara keduanya tidak pernah memudar sedikitpun. Hanna berharap semoga ia akan memiliki cinta yang seindah cinta mereka.


"Hanna, cepatlah pergi tidur!" desak Aspixia ketika Baotu dan Baozhu menyudahi story telling mereka. Hanna mengangguk dan naik ke atas ranjang. Ia menyelimuti dirinya dengan selimut, lalu memejamkan mata. Semua orang menutup mulutnya dan menunggu. 2 menit kemudian Hanna membuka matanya kembali.


"Ayah, bolehkah cahayanya sedikir diredupkan?" tanya Hanna. Baotu yang sekarang sedang duduk di kursi, di depan meja belajarnya, memerintahkan pada Huolan untuk meredupkan ruangan sebanyak 50%. Hanna kembali menutup mata. Kembali, semua orang menutup mulutnya dan menunggu. 5 menit kemudian, Hanna membuka matanya kembali.


"Aku tidak mengantuk." keluh Hanna. Mendengar ini, hampir semua saudaranya mendesah dengan kesal.


"Coba untuk tidak berpikir apapun. Pejamkan matamu, lalu berhitunglah." ucap Sirrian. Dengan patuh Hanna kembali menutup matanya dan mulai menghitung.


"Satu... Dua..."


"Hitungnya dalam hati saja, Hanna."


Hanna melanjutkan hitungannya dalam hati. Semua orang diam menunggu, tanpa sadar turut menghitung dalam hati. Ketika mereka sampai pada hitungan ke 100, Hanna kembali membuka mata.


"Aku tidak bisa tidur." putusnya. Ia bangkit dan duduk di atas kasur. "Aku tidak mengantuk, tidak lelah, tidak lapar dan tidak haus. Aku tidak bisa memaksa diri untuk tidur."


"Hanna benar." ucap Baotu. "Saat ini ia hanya sesosok roh. Roh tidak memiliki kelemahan fisik, karena itu tidak memerlukan tidur."


"Lalu bagaimana caranya agar Hanna bisa kembali ke tubuhnya?" Tanya Adonis.


"Bagaimana kalau kita mencoba untuk membangunkan tubuh Hanna kembali." suruh Baozhu. Mereka lalu memasuki ruangan tempat tubuh Hanna berada. Sirrian membuka tabung yang berisi tubuh Hanna dan kemudian bergeser untuk menunjukan tubuh Hanna pada Hanna dan Baotu. Keduanya langsung tercengang.


"Naga!" pekik Hanna dengan mata berbinar. "Waah, Naga putih, cantik sekali! Darimana Naga ini berasal? Coba lihat sisik itu. Berkilauan! Dan lehernya begitu panjang! Eh, ini bukan Kak Ashia kan?" tanya Hanna. Keluarganya saling memandang satu sama lain, menyadari bahwa Hanna tidak mengenal dirinya sendiri.


"Aku ada disini, Hanna." sahut Ashia menunjukkan diri.


"Ah. Eh, lalu ini siapa? Mengapa kalian menunjukan ini padaku?" tanya Hanna dengan heran.


"Ini, sayangku, adalah Hanna, sang Naga." ucap Adonis, membuat mulut Hanna terbuka lebar.


"Eh?"


"Selamat berjumpa dengan Nagamu, Hanna." ucap Zhouyou sambil tersenyum.


Copyright @FreyaCesare


Author Note:


Karena usia bangsa Qu dan bangsa Naga yang panjang, pertumbuhan mereka menjadi sangat lambat. Usia 500 tahun akan memiliki fisik yang terlihat seperti anak berusia 10 tahun. Sedangkan usia 1000 tahun akan terlihat seperti masih berusia 14 tahun. Ini adalah usia ketika Baozhu dan Baotu bertemu untuk pertama kalinya. Baozhu masih 500 tahun, sedangkan Baotu sudah 1000 tahun. Pembaca bisa membayangkan perbedaan tinggi tubuh mereka.


Qu dan Klan Naga baru akan terlihat dewasa ketika berusia 10.000 tahun.


BTW, Saya menulis ini sambil antri vaksin ke 3. Semoga yang kali ini nggak bikin saya terkapar seperti saat menerima vaksin ke2, karena bisa menghalangi saya menulis chapter berikutnya. Anyway, stay save, everyone. Jangan lupa pakai masker dan rajin cuci tangan.


Freya