Flower Of The Dragon

Flower Of The Dragon
Terbukanya Rahasia Bola Kristal



Hari itu lagi-lagi Aspixia bangun kesiangan. Ia terbangun karena sesuatu memukul-mukul dadanya dan seseorang terus memanggil namanya. Saat ia membuka mata, Chichi sedang melompat-lompat diatas dadanya dan Koko sedang memelototinya sambil terus berteriak memanggil namanya di dalam kepalanya. Namun kedua mahluk itu terlalu mungil untuk bisa mengganggunya.


Tubuh Chichi tidak cukup berat dan suara Koko tidak cukup berisik, sehingga ketika Aspixia akhirnya membuka mata, ia dengan cepat menutupnya kembali. Lalu tiba-tiba sesuatu yang berat dan berbulu menutupi wajahnya dan menghalangi jalan nafasnya. Saat Aspixia membuka matanya kembali, Chiko sudah bertengger diatas moncongnya dan mata Macka tersebut terpusat ke arahnya. Wajahnya yang judes menunjukan ekspresi kesal. Sebelah kaki depannya memukul wajah Aspixia.


"Bangun reptil bodoh! Kakakmu membutuhkanmu!" hardiknya.


"Kenapa? Bukankah Hanna sedang pergi mencari jamur? Apakah ia tidak kuat mengangkat jamur-jamur tersebut sehingga membutuhkan bantuanku?" Tanya Aspixia, merasa kesal karena tidurnya terganggu. Sebenarnya ia telah terbangun ketika Hanna bersiap-siap untuk menuju ke hutan tadi pagi. Namun karena ia sedang merasa sangat malas, Aspixia berpura-pura masih tidur lelap. Untunglah Hanna tidak membangunkannya.


"Hanna menghilang!" Sahut Chiko. Butuh waktu bagi Aspixia untuk dapat memproses kalimat Chiko tersebut. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum tiba-tiba kesadaran penuh kembali ke dalam kepalanya. Aspixia langsung terduduk sehingga Chiko dan Chichi yang sedang bertengger di tubuhnya jadi terlempar jauh.


"Coba ulangi?" pintanya pada Chiko.


"Hanna menghilang!" jawab Koko, menuruti permintaan Aspixia, sementara Chichi dan Chiko sedang merasakan efek terlempar dari atas tubuh seekor Naga.


"Apa? Jangan mengada-ada!" hardik Aspixia. Chichi melompat tinggi dan dengan sengaja menabrak bagian bawah moncong Aspixia, hingga Aspixia kembali tergeletak diatas ranjang karena terdorong oleh hantaman tubuh Chichi. Chichi melompat sekali lagi dan mendarat tepat di atas moncong Aspixia. Wajah Chichi yang biasanya manis tampak kesal. Aspixia bersyukur bahwa Chichi memiliki ukuran tubuh yang mungil, bila tidak hantaman tubuhnya di moncong Aspixia tadi pasti sudah terasa menyakitkan.


"Seorang wanita manusia datang dan membuat Hanna sedih. Hanna lalu meninggalkan semua barang yang dibawanya begitu saja di hutan, termasuk aku dan Koko. Ia lalu berjalan menuju gudang Istana." cerita Chichi.


"Kami sampai harus meminta Grutz untuk membawakan tas Hanna pulang." Di kaki ranjang, Grutz, si Varu sedang memandang pada Aspixia dengan tas Hanna tergigit di sela-sela giginya. Dari luar terdengar suara orang-orang memanggil nama  Hanna berulang kali.


"Coba dengar itu," suruh Chiko.  "Semua orang sedang mencari Hanna. Bahkan Mahadewi, Adonis dan Xiao Bao saat ini juga sedang disini dan mencari Hanna." Mahadewi Baozhu disini? Mahadewi Baozhu hampir tidak pernah meninggalkan Kuil Langit, tapi mengapa ia ada disini?


"Bukankah katamu tadi Hanna pergi ke gudang? Mengapa kau tidak memberi tahu mereka?"  Tanya Aspixia.


"Reptil bodoh!" maki Chiko. "Memangnya mereka mengerti bahasa kami?"


Ah! Saat baru terbangun dari tidur, Aspixia memang seringkali merasa otaknya bekerja dengan lebih lambat. Kali ini Aspixia menangkap Chichi dengan kedua kaki depannya dan memindahkannya ke ranjang, sebelum ia bangkit dari ranjang. Ia berjalan menuju wastafel untuk mencuci wajahnya sambil berpikir. Siapa yang berani mengganggu kakaknya di daerah kekuasaannya? Apakah orang itu sudah kehilangan akal? Aspixia akan memastikan bahwa wanita tersebut akan mendapatkan balasan yang setimpal dengan perbuatannya!


"Tunjukan jalannya!"


***


Para Chimera mengarahkan Aspixia menuju ke sudut terbelakang Istana Bunga yang belum pernah Aspixia datangi sebelumnya. Aspixia malah tidak tahu bahwa ada tempat seperti itu di Istana Bunga. Sudut Istana ini tampak gelap dan tidak tersentuh cahaya matahari. Pintu ruangan yang mereka tuju sedang dalam keadaan tertutup rapat. Namun dari dalam terdengar suara berderak nyaring disertai oleh suara benda-benda yang berjatuhan. Aspixia mencoba membuka pintu, namun sesuatu tampak menahan pintu dari dalam. Aspixia mendorong pintunya keras-keras. Ia juga memanggil-manggil Hanna sekuat tenaga.


Tak lama kemudian suara berderak tersebut berhenti terdengar. Aspixia sampai terpaku di tempat karena bingung. Mengapa suara tersebut tiba-tiba berhenti? Mengapa tiba-tiba menjadi sunyi senyap? Sebenarnya apa yang sedang Hanna lakukan di dalam sana? Aspixia mencoba untuk kembali memutar gagang pintu. Hanya dalam sekali putaran dan tanpa suara, pintu gudang terbuka. Lagi-lagi mata Aspixia berkedip karena terkejut. What the hell?! Dari sela-sela daun pintu, Aspixia melihat sebuah ruangan yang disinari oleh cahaya lampu yang temaram.


Aspixia mendorong daun pintu agar terbuka lebih lebar dan memasuki ruangan, diikuti oleh para Chimera. Ruangan tersebut dipenuhi oleh rak-rak besar dan tinggi berwarna gelap yang dipenuhi oleh berbagai benda. Bau debu dan lembab tercium begitu kuat.


Ditengah ruangan, Hanna sedang berdiri memunggunginya. Ia tampak mengangkat sebelah tangannya dan sesuatu terlihat terjepit diantara kedua jarinya. Hanna lalu melemparkan benda tersebut ke udara. Aspixia berpikir bahwa benda tersebut akan segera jatuh kembali ke bawah, namun berbeda dengan bayangannya, begitu sampai di atas, benda tersebut malah berhenti bergerak, melayang di tempat, seolah-olah sedang dipegang oleh sebuah tangan yang tidak terlihat. Tak lama kemudian sebuah suara bergema ke segala penjuru ruangan.


"Dia akan menjadi wanita yang paling indah yang pernah diciptakan di dunia ini. Kecantikannya akan menggetarkan 3 dunia. Ia akan menjadi wanita yang paling berkuasa di planet ini. Pria yang dinikahinya akan menyatukan 3 dunia; mungkin dalam kehancuran, atau mungkin dalam kedamaian, pilihannya ada pada dirinya. Apapun jalan yang dipilihnya, perang besar akan dimulai karena dirinya dan jutaan nyawa akan hilang untuk menjadi bayarannya."


Segera setelah suara tersebut berhenti berbicara, benda yang melayang di udara tersebut jatuh dan mendarat diantar kaki Hanna. Hanna tampak terhuyung sesaat, lalu jatuh terduduk. Aspixia dan para Chimera langsung berlari ke arahnya. Aspixia menemukan wajah kakaknya telah basah oleh air mata.


"Hanna? Hanna, ada apa? Apa itu tadi? Bukannya itu suara kak Xiao Bao?" Tanya Aspixia. Tapi Hanna tidak menjawabnya. Ia tampak mematung di tempatnya. Hanya air matanya yang terus bercucuran. Aspixia mencoba mengguncang-guncangkan bahu kakaknya, namun tidak ada gunanya. Hanna tidak bergeming.


"Hanna, ada apa?" desak Aspixia mulai merasa panik. Suara orang berlarian terdengar dari luar. Tak lama kemudian Baozhu, Xiao Bao, Adonis dan Klan Bunga terlihat memenuhi ambang pintu. Baozhu langsung berlari ke sisi Hanna, disusul oleh Xiao Bao, Adonis dan Lady Dahlia di belakangnya. Aspixia dan para Chimera bergeser untuk memberikan tempat pada Baozhu, sementara Baozhu langsung berlutut di hadapan Hanna.


Baozhu menangkupkan kedua tangannya ke wajah Hanna dan dengan lembut memaksanya untuk mendongak. Wajah Baozhu menyiratkan kelegaan ketika melihat bahwa Hanna baik-baik saja, namun sejurus kemudian keningnya langsung berkerut kembali melihat air mata membasahi wajah Hanna. Hanna mengerjapkan matanya dan balik menatap ibunya dengan tatapan yang hampa, membuat hati Baozhu terasa diiris-iris dengan sembilu.


Di belakang Baozhu, Xiao Bao berhenti berjalan dan membungkuk untuk mengambil sesuatu dari lantai. Saat ia menegakkan tubuhnya kembali, bola kristal mungil telah terjepit diantara kedua jarinya. Baozhu yang melihat hal itu tiba-tiba merasa lantai yang diinjaknya terbelah dan ia jatuh ke dasarnya yang tidak bertepi.


Copyright @FreyaCesare