
Hanna sedang berbaring terlentang di atas ranjang gantung, di bukit ungu. Matanya sedang mengamati awan yang berarak di langit sedangkan tangannya membelai-belai bulu Chiko yang sedang berbaring di atas perutnya. Tak lama kemudian wajah Rowena muncul di hadapannya, menutupi pandangannya ke langit. Gadis itu tersenyum dan tanpa bicara, naik ke sisi ranjang yang lain untuk turut berbaring di samping Hanna.
"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Rowena. Hanna menarik nafas panjang sebelum menjawab.
"Aku sedang memikirkan cara untuk membuat Aspixia bisa berubah wujud menjadi manusia."
"Ah." Rowena mengangguk. "Apakah sudah kau temukan?" tanya Rowena lagi. Hanna menggeleng.
"Kupikir, apabila aku bisa menemukan bagaimana caranya agar aku bisa berubah wujud jadi Naga, maka secara otomatis aku juga akan bisa menemukan cara agar Aspixia bisa berubah wujud jadi manusia."
Rowena kembali menganggukkan kepala mendengarnya.
"Masuk akal." Sahutnya.
"Tapi bagaimanapun kucoba, aku tidak mampu merubah diri menjadi Naga." Keluh Hanna.
"Hmmm... Masalah ini mungkin memerlukan lebih banyak waktu lagi untuk dipikirkan. Pelan-pelan saja." Hibur Rowena.
"10.000 tahun. Aku sudah mencari cara ini selama 10.000 tahun! Apa waktu 10.000 tahun tidak cukup lama untuk berpikir?" Tanya Hanna.
"10.000 tahun yang lalu kau masih seorang gadis kecil. Sekarangpun kau belum dewasa. Selain waktu, mungkin dibutuhkan pemikiran yang lebih matang untuk memahaminya." Jawab Rowena. Kata-katanya ini membuat wajah Hanna berkerut sedih. Tanpa sadar menyuarakan pemikirannya.
"Tapi aku tidak punya waktu lagi." Mendengar ini kening Rowena langsung berkerut. Ia bangkit dari berbaringnya, agar bisa memandang wajah Hanna dengan lebih seksama.
"Apa maksudmu kau tidak memiliki waktu lagi? Bagi mahluk immortal seperti kita, waktu adalah hal yang paling berlimpah yang kita miliki."
"Tapi aku tidak tahan melihat Aspixia menangis!" Jelas Hanna.
"Ah, adikmu menangis karena hal ini?"
"Ia menangis karena jatuh cinta."
"Aspixia? Benarkah?"
"Mmmhm." Hanna mengangguk sambil tersenyum mengenang tangisan Aspixia semalam.
"Siapa yang ia cintai?"
"Kak Xiao Bao."
"Wah!" Rowena menepuk dahinya dan berpikir.
"Bukankah itu membawa masalah lain yang lebih sulit?"
"Kudengar kakak yang memberikan kak Xiao Bao ramuan yang membuatnya berhenti tumbuh?"
"Benar." Rowena mengangguk mengiyakan.
"Apakah ada antidotnya?"
"Belum pernah kubuat." Sebenarnya karena Xiao Bao tidak memintanya, selama ini Rowena tidak pernah berpikir bahwa ia perlu membuat antidotnya.
"Bisakah kakak membuatnya?"
"Akan kuusahakan." Rowena mengangguk.
"Terimakasih, kak." Ucap Hanna, tersenyum senang. Rowena kembali mengangguk dan membalas senyumnya.
"Bagaimana denganmu?" Tanya Rowena.
"Apakah ada pria yang kau cintai?" Tanya Rowena lagi. Pertanyaan ini membuat Hanna terdiam dan berpikir. Ia mencintai ibu dan semua saudara-saudaranya. Ia juga mencintai teman-teman chimeranya. Tapi tentu saja bukan cinta seperti ini yang ditanyakan oleh Rowena. Bila bicara tentang cinta antara pria dan wanita, Hanna belum mampu memahaminya. Namun dalam hidupnya, semua orang tahu bahwa hanya ada 1 orang pria yang akan diijinkan untuk menempati posisi itu.
"Calon putra mahkota?" ucap Hanna.
"Hah! Karena Ia belum lagi dilahirkan, maka yang kau pikirkan tentang dirinya itu adalah pengharapan! Bukan cinta." bantah Rowena. Hmmm.... benar juga. Bagaimana ia bisa jatuh cinta pada entitas yang belum pernah dilihat dan dikenalnya sebelumnya? Ia mencintai Tuhan yang menciptakan semesta, tapi itu karena ia telah mengenal kebesaran dan kekuasaannya. Sementara sang putra mahkota belum memiliki satu langkahpun untuk bisa menjejak dalam hatinya. Berpikir mengenai hal ini membuat Hanna tersenyum. Ia lalu menoleh pada Rowena dan bertanya,
"Lalu yang disebut cinta itu seperti apa sih?" Tanya Hanna. Rowena mengerjapkan matanya pelan dan terdiam. Benar. Apa sih yang disebut dengan cinta? Rowena telah hidup selama puluhan ribu tahun. Ia telah pula merasakan manis dan pahitnya jatuh cinta. Tapi, apakah ia memahami makna cinta itu sendiri?
Ambillah dirinya sendiri sebagai contoh; ia mencintai Adonis dengan seluruh jiwanya. Ia tidak pernah merasa rela menerima rasa cinta itu, tapi ia tidak pernah memiliki kemampuan untuk berpaling. Sepanjang masa remajanya hingga sekarang, Rowena kemudian menghabiskan energinya untuk memerangi perasaannya sendiri agar tak seorangpun dapat melihatnya. Tapi apa akibatnya bagi dirinya? Bagi Rowena, cinta hanya memiliki 1 makna; yaitu rasa sakit. Namun apakah memang begitu seharusnya? Apakah mencintai harus selalu mengakibatkan rasa sakit seperti yang ia rasakan atau seperti yang Jinxiu alami? Bila memang begitu, bukankah itu berarti cinta antara pria dan wanita adalah hal yang paling tidak berguna di dunia ini?
Namun Rowena sudah melihat bagaimana cinta antara Baotu dan Baozhu. Ia juga sudah mendengar cinta antara Zorex dan Aspixia senior. Selain itu ia juga menyaksikan sendiri cinta antara Hazrat dan Yue, serta cinta antara Raja dan Ratu. Semuanya adalah cinta yang begitu kuat dan begitu indahnya, sehingga menebarkan kebahagiaan ke hati siapapun yang mendengar kisah mereka. Apakah cinta mereka memang ditakdirkan berbeda dengan cinta yang ia rasakan? Kalau begitu, apa sebenarnya yang dimaksud dengan cinta?
Melihat Rowena hanya terdiam dan tidak segera menjawab pertanyaannya, Hanna berucap,
"Kau juga tidak tahu? Hmmm... kalau mereka yang sudah jatuh cinta saja tidak tahu, bagaimana aku bisa mengetahuinya juga?" Keluh Hanna. Rowena menoleh pada Hanna yang masih berbaring sambil memandangi langit dan membelai Chiko yang berbaring di atas perutnya. Menarik nafas panjang, ia kembali membaringkan diri di sebelah gadis itu.
"Aku jatuh cinta, tapi aku tidak mengijinkan cinta itu untuk berkembang. Karena itu aku jadi tidak bisa memahami maknanya, sama seperti dirimu." Jawab Rowena pada akhirnya.
"Kau jatuh cinta tapi tidak mengijinkan cinta tersebut untuk berkembang? Kenapa?" Tanya Hanna heran.
"Karena seperti Aspixia yang mencintai pria yang tidak akan pernah tumbuh dewasa, Aku mencintai pria yang tidak akan bisa hidup tanpa banyak wanita di sekelilingnya." Jawab Rowena jujur sambil mengerutkan bibirnya. "Aku rasa aku wanita pencemburu. Aku tidak suka berbagi pria yang kucintai dengan wanita lain, sedangkan pria itu memiliki banyak wanita di sekitarnya. Jadi itulah sebabnya aku tidak mengijinkan cinta tersebut untuk berkembang."
"Apakah kau berhasil menghalanginya untuk berkembang?" Tanya Hanna lagi.
"Apakah kau bisa menghalangi musim semi datang setelah musim dingin berlalu?" desah Rowena dengan hati yang nelangsa. Tentu saja jawabannya adalah tidak. Siap atau tidak, musim semi akan datang tanpa diundang. Mau atau tidak mau, cinta akan berkembang walau kau mencoba untuk meracuninya. Apabila sudah begini, hanya Tuhanlah yang bisa menolongmu!
"Lalu apakah kau tidak mau mencoba untuk mengungkapkan perasaanmu, kak?" selidik Hanna.
"Tidak." Tegas Rowena.
"Kenapa?"
"Karena ia tidak pantas menerimanya." Sahut Rowena dingin. Keputusan ini sudah ia tentukan sejak lama dan tidak ada yang perlu ia pertimbangkan kembali. Orang itu tidak pantas untuk kucintai! Yakinnya dalam hati. Mendengar ketetapan hati dalam nada suara Rowena, Hanna menarik nafas panjang.
"Apakah kau tahu, terkadang apa yang kita kira kita ketahui ternyata bisa saja salah sama sekali." Ucapnya perlahan. Rowena menoleh kearahnya, tidak mengerti. Hanna lalu berbalik agar dapat berbaring menghadapnya. Hal ini menyebabkan Chiko yang masih tertidur nyenyak, tergelincir dari atas perut Hanna. Dengan bersungut-sungut, Chiko lalu bangkit sebentar untuk kemudian menyurukkan tubuhnya ke dada Hanna yang hangat dengan meletakkan kepalanya di atas lengan Hanna. Ekornya yang panjang, menepuk-nepuk Wajah Rowena lembut dan sebentar saja, ia telah tertidur kembali. Mengabaikan tingkah teman kecilnya, Hanna memandangi Rowena dengan seksama.
"Kak Adonis contohnya," mulai Hanna. "Selama ini kita semua selalu berpikir ia adalah pria yang suka berpindah dari pelukan satu wanita ke wanita yang lainnya. Namun nyatanya hal ini sama sekali tidak benar. Walaupun setiap hari dikerubuti banyak wanita, tidak ada satupun dari wanita-wanita itu yang pernah berhasil memiliki hati dan tubuh kak Adonis. Bukankah hal ini sulit untuk dipercaya?" Diperlukan waktu bagi Rowena untuk mencerna kata-kata Hanna karena bertentangan dengan keyakinannya selama ini. Namun begitu memahaminya, Rowena merasa sulit untuk mempercayai pendengarannya.
"Itu tidak mungkin..." Bantah Rowena, tidak yakin. Tapi adik kecilnya tersebut mengangguk kuat-kuat. Hanna memperhatikan dengan seksama perubahan wajah Rowena dan tersenyum lembut karenanya.
"Lalu, apakah kau juga tahu," Tambah Hanna lagi. "Menurut kak Sirrian klan naga memiliki 1 keunikan hereditari yang mirip dengan Tarli." Tertegun dengan perubahan arah pembicaraan yang tiba-tiba, Rowena bertanya,
"Apa itu?"
"Bahwa kita cuma bisa jatuh cinta sekali dalam seumur hidup kita." Ucap Hanna dengan perasaan bangga.
"Benarkah?"
"Entahlah. Tapi sepertinya semua bukti yang dikumpulkan kak Sirrian menghasilkan kesimpulan seperti itu. Lalu karena kecenderungan inilah aku jadi bisa percaya bahwa kak Adonis memang benar-benar bukan pria sebagaimana yang kita kira selama ini."
"Kenapa begitu?"
"Karena itu berarti citra seorang playboy yang disandang kak Adonis tidak cocok dengan kepribadian genetik klan naga, padahal kak Adonis adalah anggota klan Naga yang murni. Hal ini memastikan bahwa kak Adonis benar-benar tidak pernah terlibat dengan wanita-wanita tersebut lebih dari seharusnya." Ucap Hanna, membeberkan analisanya, membuat Rowena tidak dapat berbicara karena terpana. Ia hanya bisa memandangi wajah Hanna yang tampak jelas sedang berusaha menyampaikan sesuatu padanya.
"Lagipula," ucap Hanna dengan bola mata yang berkilau jahil, "Apabila ia sudah pernah jatuh cinta sebelumnya dengan salah satu wanita penggoda tersebut, mana mungkin saat ini ia bisa begitu tidak berdaya karena jatuh cinta padamu."
Copyright @FreyaCesare