Flower Of The Dragon

Flower Of The Dragon
Kisah Dari Masa Lalu



Ternyata dibutuhkan waktu 2 hari bagi sang Naga untuk sadarkan diri. Saat itu terjadi, hari sudah senja dan Hanna sedang duduk di dekat kepalanya ditemani oleh Xiao Bao. Kesadaran sang Naga ditunjukan mulai dari matanya. Matanya berkedip pelan sebelum membuka sepenuhnya.


"Apa kau sudah sadar?" Tanya Hanna.


"Ah, gadis kecil. Kau berhasil membuat mereka menunda membunuhku." Ucap sang Naga dengan suara yang lemah. Ia tampak masih belum dapat menggerakkan tubuhnya.


"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Hanna lagi.


"Apa aku baik-baik saja? Entahlah. Sudah lama sekali..... aku berhenti merasa baik-baik saja." Jawab sang Naga.


"Kau sudah membunuh 12 orang. Karena itu sekarang kau seorang tahanan." Ucap Hanna.


"Tahanan?" tanya sang Naga. suaranya terdengar tak percaya. "Setelah gunung berapi itu, kau pikir ada penjara lain yang mampu mengurungku?" Ia terkekeh.


"Kumohon jangan mencoba melarikan diri. Itu tidak akan baik bagimu." Pinta Hanna panik, tapi sang Naga kembali terkekeh dengan suaranya yang lemah.


"Apa kau pikir aku masih memiliki tenaga untuk melarikan diri?"


"Syukurlah." tukas Hanna.


"Gadis kecil yang kejam." lagi-lagi sang Naga terkekeh.


"Apakah kau tahu bahwa kau sedang sakit?" Tanya Hanna.


"Apakah aku tahu bahwa aku akan segera mati, maksudmu?" Ralat sang Naga.


"Jadi kau tahu?" ulang Hanna.


"Tentu saja. Hanya si bodoh yang tidak mengetahui tubuhnya sendiri."


"Kalau kau tahu, mengapa kau memutuskan untuk keluar dari dalam gunung?"


"Kalau kau tidak dapat melihat matahari selama jutaan tahun, apakah kau tidak memiliki keinginan untuk melihatnya lagi walau untuk yang terakhir kali?"


Hanna tercenung sejenak mendengar pertanyaan itu.


"Tentu saja aku ingin. Tapi kalau melihat matahari dapat membunuhku, apakah itu sebuah pertukaran yang layak?"


"Apa bedanya bagiku yang sudah bagaikan bom waktu ini? Mati terbakar matahari atau mati karena penyakit, yang manapun sama saja kan?" Hanna tidak suka mendengar pertanyaan sang Naga.


"Betapa suramnya." celanya.


"Suram adalah temanku selama jutaan tahun." Sahut sang Naga.


"Jutaan tahun... Mengapa mereka mengurungmu?" Tanya Hanna ingin tahu.


"Karena aku sangat berbahaya." Jawab sang Naga, membuat bibir Hanna mengerut kesal mendengar jawaban yang ambigu tersebut.


"Apa yang sudah kau lakukan?" Kejar Hanna.


"Aku menghancurkan kerja keras mereka."


"Apakah perbuatanmu sangat buruk?" Kejar Hanna lagi.


"Tidak seburuk yang kuharapkan."


"Kau membuat dirimu sendiri terdengar jahat." protes Hanna, membuat sang Naga lagi-lagi terkekeh.


"Hehe... apakah aku berhasil membuatmu takut?"


"Gadis pintar." Puji sang Naga. Sang Naga mencoba menggerak-gerakkan sayapnya perlahan, namun berhenti ketika tubuhnya bergetar hebat. Ia melenguh pelan.


"Sakit?" Tanya Hanna khawatir.


"Tidak seberapa."


"Pembohong." cela Hanna pelan. Hanna dapat mendengar rasa sakit dalam perubahan suara sang Naga dan itu membuatnya merasa iba. Mendengar celaannya, sang Naga kembali terkekeh.


"Sebagai seorang bayi, bukankah kau terlalu pencuriga?" tanya sang Naga.


"Aku bukan bayi!" Tukas Hanna kesal.


"Kau bagiku. Berapa usiamu? 500 tahun?"


"100."


"Hah? Ternyata kau lebih kecil dari yang kuperkirakan. Ck ck ck. Dalam bentuk Naga ukuranmu seharusnya hanya 30 cm. Imut sekali. Hehe."


Hanna terdiam sesaat sebelum bertanya.


"Apa aku benar-benar klan Naga?" Tanyanya kemudian.


"Apakah kau meragukan asal-usulmu?"


"Benar. Tak ada yang tahu mengenai asal-usulku. Pada suatu hari mereka menemukanku di antara semak-semak mawar saat masih bayi, dalam keadaan telanjang dan tanpa tanda pengenal apapun. Semua menyebutku anak yang tercipta dari ketiadaan. Lalu sepanjang hidupku tak pernah sekalipun aku berubah wujud menjadi seekor Naga. Bagaimana mungkin seekor Naga tak pernah berubah menjadi Naga?" Hanna menjelaskan keraguannya.


Sang Naga mencoba menggerakkan tubuhnya dan berhasil. Sekarang ia berbaring terlentang diatas punggungnya. Keempat kakinya terangkat tinggi ke langit. Dimata Hanna ia terlihat menggemaskan. Persis Raagh yang sedang tidur terlentang dengan perut terbuka untuk di gelitiki. Membuat Hanna tersenyum geli. Sang Naga melihat senyumnya dan menggeram lemah.


"Kau menertawakan ku?"


"Kau imut sekali!"


"Haaaah, dimana harga diriku, dikatai imut oleh seorang bayi yang bahkan tidak tahu caranya berubah menjadi Naga!" keluh sang Naga bernada sedih. Membuat Hanna tertawa geli. Dibelakangnya Xiao Bao tersenyum. Walaupun Xiao Bao tidak memahami bahasa yang digunakan Hanna, namun ia bisa menebak maknanya dengan melihat posisi sang Naga. Naga tersebut bertingkah layaknya seekor kucing yang sedang malas-malasan di bawah sinar matahari. Di belakang Xiao Bao, Jaaz dan Xiam mendekat.


"Dahulu banyak bangsa Naga yang tidak menyukai menjadi Naga. Mereka kemudian mengembangkan obat-obatan yang membuat mereka dan keturunan mereka tidak lagi dapat berubah menjadi Naga. Mungkin saja kau salah satu dari keturunan mereka."


Kening Hanna berkerut mendengarnya.


"Tidak suka menjadi Naga? Memangnya kenapa?" Tanyanya Hanna heran.


"Mereka bilang menjadi Naga itu merepotkan. Kami butuh ruang yang luas, makanan yang banyak dan bila bertemu dengan mahluk lain, kami hanya akan membuat mereka ketakutan. Saat berinteraksi dengan mahluk planet lain, kaumku belajar tentang teknologi dan gaya hidup mereka. Kaumku menyukainya. Awalnya mereka hanya mengadopsi teknologi tersebut untuk digunakan di planet ini. Lalu lama-lama, mereka mulai mengadopsi gaya hidupnya. Beberapa lalu memilih hidup dalam wujud manusia, membangun kota dan peradaban yang hanya bisa digunakan dalam wujud manusia. Gua-gua ditinggalkan, sayap-sayap ditanggalkan. Mereka malah mencoba membangun pesawat dan senjata." sang Naga tertawa getir. Tubuhnya sampai bergetar karena tawa tersebut. "Betapa bodohnya mereka, meninggalkan sayap yang bisa membawanya terbang ke angkasa luar dan membuang api atau es dalam diri mereka yang membuat mereka mampu membakar dan membekukan apapun yang mereka ingin hancurkan, lalu menggantinya dengan benda kecil bodoh bernama jet tempur dan bom nuklir. Mereka bahkan melakukan lebih jauh dari sekadar hidup dalam sosok manusia, mereka berani menghilangkan sisi naga dalam diri anak-anak mereka, menghilangkan pilihan dari tangan anak-anak mereka. Membuat anak-anak itu terkurung dalam tubuh lemah seorang manusia."


"Apa itu penyebab pertempuran di antara kalian?" Tanya Hanna.


"Bukan. Aku dan teman-temanku tak perduli dengan mereka atau apapun yang mereka inginkan bagi diri mereka sendiri dan keturunannya, selama itu tidak mengganggu kami. Tapi ketika mereka mulai melupakan filsafat Naga yaitu untuk hidup dalam harmoni dengan alam, lalu mulai mengeksploitasi alam sekehendak hati mereka sehingga menimbulkan kerusakan dimana-mana, kami tidak bisa tinggal diam. Maka kuhancurkan semua mesin perusak yang mereka ciptakan bahkan sebelum benda-benda terkutuk itu bisa digunakan, aku curi semua blueprint yang mereka buat dan aku bunuh semua ilmuwan mereka. Hahahaha!" tawa sang Naga menggelegar, membuat Hanna bergidik ngeri. Bagaimana Naga yang sudah tidak mampu bergerak ini masih bisa tertawa semenyeramkan itu? Lalu Naga tersebut bergerak. Entah ia memperoleh kekuatan dari mana, sang Naga berguling, lalu bangkit dari berbaringnya. Sekarang ia berdiri menjulang tinggi. Ujung kepalanya nyaris menghantam Shield yang memisahkannya dari alam bebas.


"Lalu mereka menangkapku! Dengan licik mereka menculik telur pasanganku dan membuatku menyerahkan diri dengan menggunakan telur tersebut! Tak sampai disitu, mereka bukan hanya mengurungku dalam gunung tapi juga melemparkan telur tersebut bersamaku. Anakku, yang bahkan belum menetas, mereka berani mencelakakannya!" Raung sang Naga. Suaranya membuat orang-orang berdatangan dari segala penjuru, sebagian di antara mereka mengokang senjata. Namun sang Naga tampak tidak melihat itu semua. Ia terlalu larut dalam kenangannya, dalam kesedihannya, kepalanya menunduk sedih dan suaranya melemah.


"Aku tidak dapat membayangkan apa yang dirasakan oleh pasanganku. Dalam sekejap ia kehilangan suami dan anaknya. Ia yang selalu hidup sebatang kara dan hanya ditemani oleh binatang peliharaannya, bagaimana ia hidup tanpa kami?" Tanya sang Naga sedih.


"Kau tahu, istriku adalah salah satu anak yang haknya sebagai Naga telah dirampas oleh orangtuanya. Sebelum bertemu denganku, terbang di angkasa yang luas tanpa bantuan teknologi hanyalah sebuah mimpi baginya. Tapi ia tidak pernah membenci orangtuanya, tidak juga ia berubah menjadi mahluk penggila teknologi seperti saudara-saudaranya yang lain. Ia memilih untuk hidup berdampingan dengan alam layaknya seorang Naga sejati. Aspixia, apa yang terjadi padamu?" Suara sang Naga terdengar begitu pilu. Ia kembali terduduk di tanah. Kepalanya yang tadinya menunduk, kini rebah keatas tanah berumput. Matanya kembali tertutup rapat. Disebelah Hanna, Jaaz dan Xiam mendekat dengan tergesa.


"Apakah kau tuan Zorex? Apakah kau Tuan Zorex, Suami tuan kami, Aspixia?" Tanya Jaaz. Mata sang Naga langsung terbuka dan ia mengangkat kepalanya.


Copyright @FreyaCesare