Flower Of The Dragon

Flower Of The Dragon
Harapan Dalam Namamu



Saat Hanna membuka mata, yang pertama dilihatnya adalah wajah khawatir Chiko, Chichi dan Koko. Melihat dirinya membuka mata, ketiganya langsung memanggilnya dengan berisik. Tak lama kemudian, wajah Aspixia turut muncul di dalam garis pandangannya, diikuti oleh Baozhu.


"Hanna, apa kau sudah bangun?" tanya Baozhu. Wajah cantiknya tampak berkerut cemas. Hanna hanya diam dan memandang ibunya sesaat, sebelum sudut-sudut bibirnya terangkat naik.


"Selamat pagi, ibu." sapa Hanna. Baozhu yang melihat putrinya untuk pertama kalinya dalam 7 hari itu, bukan hanya merespon sapaannya, namun juga tersenyum kepadanya, merasa hatinya berbunga.


"Pagi, nak. Bagaimana perasaanmu?" Tanya Baozhu. Hanna bangkit perlahan dan duduk. Rambutnya yang panjang jatuh membingkai wajahnya yang tampak sedikit lebih berwarna dibandingkan sebelumnya. Baozhu menghela nafas lega ketika melihatnya.


"Aku baik-baik saja, Bu." Jawab Hanna pelan.


"Benarkah?" Tanya Baozhu lagi, agak tidak yakin. Hanna menjawabnya dengan mengangguk dan kembali tersenyum. Bukan senyum seindah matahari yang biasanya ia tampakkan, namun menimbang keadaan Hanna sebelumnya yang tampak seperti sudah kehilangan jiwanya, senyum kecil ini adalah sebuah tanda perbaikan sehingga mata Baozhu langsung berkaca-kaca karenanya. Ia menarik Hanna kedalam pelukannya dan mendekapnya erat. Hanna membiarkan dirinya dipeluk. Telapak tangannya menepuk-nepuk punggung ibunya perlahan. Lama Baozhu memeluknya. Lalu ketika akhirnya Baozhu melepaskannya, Hanna memandang lekat-lekat ke mata ibunya dan berkata pelan,


"Maafkan aku, Ibu." Baozhu menggelengkan kepalanya dan mengusap air matanya dengan sehelai sapu tangan yang tiba-tiba muncul begitu saja dalam genggamannya.


"Jangan minta maaf! Kau tidak melakukan kesalahan apapun!" sahutnya.


"Tapi aku sudah membuat ibu khawatir sampai harus datang kemari."


"Kau adalah putriku. Apabila sesuatu terjadi padamu, tentu saja aku harus berada di sampingmu!" Tegas Baozhu.


"Terimakasih, ibu." ucap Hanna dengan mata berkaca-kaca. Baozhu menggelengkan kepalanya dan mengusap wajah Hanna penuh rasa sayang.


"Mengenai apa yang sudah terjadi, apa kau ingin membicarakannya?" Tanya Baozhu hati-hati. Namun Hanna hanya menggeleng.


"Apa kau yakin? Kita bisa membicarakannya dan mendiskusikan jalan keluar untuk mengatasinya bersama-sama." Tanya Baozhu lagi. Namun Hanna tetap menggelengkan kepalanya.


"Tidak, ibu." Sahut Hanna tegas. Tak ingin memaksa gadis itu lebih jauh, Baozhu mengangguk.


"Baiklah. Tapi kau harus ingat, tak perduli kapanpun, bila kau ingin membicarakannya, datanglah padaku. Janji?" Desak Baozhu. Hanna hanya mengangguk dan tersenyum menenangkan. Baozhu menarik nafas panjang. Ia mengusap wajah Hanna penuh rasa sayang.


"Ibu, aku lapar." ucap Hanna tersipu. Senyum Baozhu langsung mengembang lebar.


""Kau lapar? Tenang saja! Ibumu ini akan membuatkan sarapan yang lezat untukmu!"


***


Hari itu, tepat seminggu setelah Hanna menemukan kristal ramalannya, akhirnya suara tawa terdengar lagi dari cottage milik Hanna. Hanna dan saudara-saudaranya duduk berkumpul mengelilingi meja makan untuk menikmati sarapan yang dibuatkan oleh Baozhu, sementara para Chimera menikmati makan siang mereka di sudut ruangan. Hanna, walaupun masih terlihat lebih pendiam dari biasanya, sudah bersikap lebih normal. Dengan hati-hati saudara-saudaranya menahan diri untuk tidak membahas mengenai masalah ramalan. Mereka lebih memfokuskan diri pada persiapan untuk kelahiran sang putra mahkota.


"Zhouyou sedang sakaw karena kebahagiaan. Kemarin ia mengirimkan sebuah file berisikan daftar nama dan menyuruhku untuk melihat nama mana yang paling pantas untuk putranya. Memangnya dia pikir aku peramal di pinggir jalan!" cerita Xiao Bao kesal, membuat semua orang tersenyum mendengarnya.


"Kau tidak bisa menyalahkannya. Selain dirimu, ia tidak percaya pada peramal manapun." Komentar Adonis. Xiao Bao mendengus kesal.


"Jadi," Tanya Rowena penasaran. "Siapa nama yang kau pilihkan?"


"Mengapa harus aku yang memilih? Aku kan bukan orangtuanya!" Sahut Xiao Bao menjadi bertambah kesal.


"Tunjukkan pada kami daftar nama yang dikirimkan Zhouyou!" pinta Rowena. Xiao Bao mengangguk, lalu mengaktifkan smartwatchnya dan sebuah layar hologram muncul di atas meja makan.


"Zhang Wei? Kedengaran bagus. Bukankah itu artinya 'luar biasa'? Bao Zhang Wei: harta yang luar biasa. Bagaimana?" Cetus Rowena setelah sejenak membaca isi daftar tersebut.


"Aku lebih suka Mo Chou. Bao Mo Chou." sahut Hanna.


"Apa artinya?" Tanya Aspixia.


"Mo Chou artinya 'bebas dari kesedihan'." jawab Hanna sambil tersenyum.


"Hmmm... itu doa yang indah." Aspixia balas tersenyum, namun kemudian ia mengerutkan bibirnya dan menggelengkan kepala. "Tapi tidak terdengar indah di telinga."


"Bagaimana dengan Yunxi?" ucap Baozhu.


"Yunxi." Adonis mengucapkannya sambil berpikir. "Yun bermakna sopan, temperamen dan lucu. Xi bermakna harapan atau seseorang yang berdiri untuk menghadapi matahari pagi. Kata ini dimaknai sebagai kekuatan dan keberadaan yang penting atau berharga. Apabila di gabungkan menjadi Yunxi, ia bermakna sehat dan memperoleh lebih banyak kebahagiaan." Adonis menjelaskan.


"Bao Yunxi. Kedengarannya juga enak di telinga." komentar Aspixia.


"Aku suka nama itu, ibu." ucap Hanna. Baozhu mengangguk.


"Aku juga. Nama yang membawa doa semua orang. Semoga ia tumbuh sehat, menjadi anak yang sopan, memiliki temperamen yang baik dan menyenangkan." Ucap Baozhu sambil tersenyum.


"Juga harapan bahwa ia akan menjadi seseorang yang kuat, dipenuhi kebahagiaan dan keberadaannya berharga bagi semua orang." Adonis menambahkan yang dijawab dengan anggukan oleh Baozhu. Baozhu lalu menoleh pada Xiao Bao dan bertanya,


"Apakah itu nama yang tepat untuknya, Xiao Bao?"


"Tentu saja, Ibu." Xiao Bao mengangguk.


"Kalau begitu sampaikan pada Zhouyou untuk memberikan nama itu padanya." Perintah Baozhu. Xiao Bao kembali mengangguk dan mematikan layar hologramnya.


"Bao Yunxi." Bisik Hanna pelan, senyum lembut terukir di bibirnya.


"Apakah kau sedang membiasakan diri untuk memanggil nama tunanganmu, Hanna?" Goda Adonis. Wajah Hanna langsung memerah karena malu.


"Dia bahkan belum dilahirkan, tapi namanya telah menguasai bibirmu. Yunxi yang malang. Mengapa ia harus berjodoh dengan wanita yang hampir 11 ribu tahun lebih tua darinya?" Adonis menggeleng-gelengkan kepalanya dan memasang wajah iba. Rowena yang duduk di sampingnya, langsung menyikut pinggang Adonis keras-keras. Adonis sampai hampir terlonjak dari kursinya karena terkejut.


"Bisa tidak otakmu yang mesum itu dibersihkan sedikit? Semua orang sedang menunggu-nunggu kedatangan Putra Mahkota, termasuk Hanna. Itu bukan berarti ia sedang memikirkan hal semacam itu!" omel Rowena.  "Heran, bagaimana bisa kau disebut sebagai dewa seni dan sastra, padahal dalam otakmu, kau tidak memiliki keanggunan seorang dewa sama sekali! Dasar pria mesum!" Tambahnya, tak memberikan kesempatan pada Adonis untuk menjawab sama sekali. Aspixia langsung tergelak menertawakan kejadian tersebut sementara Xiao Bao, Baozhu dan Hanna tersenyum geli.


"Di seluruh Sirria memang hanya kak Rowena seorang yang tidak takut pada murka sang Dewa Adonis. Apa kata pemujamu bila mereka tahu kau diperlakukan seperti ini oleh wanita, Kak?" ejek Aspixia. Menjawabnya, Adonis tersenyum nakal dan mengedipkan mata.


"Mereka akan bilang bahwa aku adalah seorang pria sejati yang selalu siap untuk mengalah pada wanita yang disukainya."


"Apakah itu sebuah pengakuan?" tanya Hanna dengan senyum jahil menghiasi wajahnya, membuat semua orang yang mendengar suara dan melihat senyumnya sedikit tercengang dan diliputi oleh rasa senang. Hanna yang biasanya sedikit demi sedikit telah kembali! Sekarang ia sudah bisa ikut menjahili orang lain.


"Hmmm..." Adonis memandang Hanna dengan lagak sedang berpikir. Ia kemudian menoleh pada Rowena dan bertanya,


"Apa kau akan suka bila itu adalah sebuah pengakuan?" Tanyanya sambil kembali tersenyum menggoda. Melihat tingkahnya, Rowena memicingkan kedua matanya dan meraih sendok di hadapannya yang langsung dipukulkan ke atas kepala Adonis sekuat tenaga.


***


Adonis duduk di sofa sambil mengusap-usap kepalanya yang membengkak seperti telur karena dipukul menggunakan sendok dengan sekuat tenaga oleh Rowena, sementara Baozhu yang duduk di seberangnya, memperhatikannya sambil tersenyum geli. Melihat senyum ibunya, Adonis tersenyum masam.


"Apakah sepadan?" Tanya Baozhu.


"Apanya, ibu?" heran Adonis.


"Bengkak di kepalamu itu, apakah sepadan dengan kesenangan yang kau peroleh saat menggoda Rowena?" Ulang Baozhu, menjelaskan makna dari pertanyaannya sebelumnya. Senyum Adonis menjadi semakin lebar.


"Tentu saja, ibu! Aku tidak akan pernah melakukan sesuatu tanpa memperoleh hasil yang setimpal." Sahut Adonis jumawa, membuat Baozhu tergelak karena geli. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya melihat perilaku putra angkatnya tersebut. Di antara semua putranya mungkin Adonislah yang paling flamboyan dan tidak tahu malu.


Baozhu lalu bangkit dari sofa dan berjalan menuju ke jendela. Dari balik kaca jendela ia melihat Hanna, Rowena, Aspixia dan Xiao Bao sedang memainkan kembang api dengan gembira bersama beberapa anggota klan Bunga yang masih belia. Hanna berdiri di samping Xiao Bao dan Rowena sambil bertepuk tangan saat Aspixia melakukan tarian di udara dengan memutar-mutar kembang api di kedua tangannya. Setelah kembang apinya mati, Aspixia kembali turun ke daratan dan menggunakan nafas apinya untuk menghidupkan kembang api besar yang diulurkan oleh Xiao Bao. Kembang api tersebut langsung melesat secara susul menyusul ke angkasa dan meledak menjadi serpihan-serpihan api yang mekar layaknya bunga. Menyala terang dan sangat indah.  Rowena dan Hanna bertepuk tangan girang, sama sekali tidak menyadari bahwa Ibu mereka sedang mengamati mereka dengan seksama.


"Ibu, kau harus segera pulang. Sesuai jadwal, 4 hari lagi Perdana Menteri Sirrian dan Tarli yang baru terpilih akan datang untuk meminta restu darimu. Kedatangan mereka telah direncanakan begitu lama, sehingga tidak mungkin untuk membatalkannya dengan alasan masalah kesehatan yang dialami Hanna."  Adonis mengingatkan. Baozhu mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya. Adonis bangkit dari sofa dan berjalan ke sisi Baozhu. Ia turut memandang keluar, menikmati kembang api di angkasa. Lama mereka berdiri begitu tanpa berbicara. Yang terdengar hanyalah suara ledakan kembang api dari luar. Lalu ketika akhirnya suara letusan kembang api mereda, Baozhu berkata pelan,


"Aku tak pernah sekalipun berpikir bahwa akan tiba saatnya aku tidak akan bisa melihat senyumnya lagi." Adonis mengikuti arah pandang ibunya yang sedang memperhatikan Hanna. Saat itu Hanna sedang menertawakan Chiko yang ketakutan pada suara letusan kembang api yang memekakkan telinga. Macka itu menyembunyikan kepalanya ke bawah lipatan lengan kiri Hanna. Melihat tawanya membuat mata Baozhu berkaca-kaca. Adonis memeluk ibunya dari belakang dan mencium kepalanya dengan penuh kasih sayang, menawarkan penghiburan.


"Apa ia akan baik-baik saja?" Tanya Baozhu.


"Jumlah kortisolnya masih tinggi, namun jauh lebih baik daripada beberapa hari yang lalu. Setelah jumlah kortisolnya menurun maka serotoninnya akan meningkat sehingga moodnya akan membaik. Apabila dilihat dari perkembangannya, mungkin besok kandungan hormonnya akan membaik sehingga ia tidak akan mengalami episode depresi akut lagi. Jadi kurasa ia akan baik-baik saja, ibu." Jawab Adonis.


"Kau yakin?" Tanya Baozhu lagi. Adonis tercenung sesaat sebelum menjawab,


"Tidak. Tapi kita akan terus mengawasi dan mendampinginya sampai ia pulih kembali seperti sediakala. Saat ibu pulang nanti, aku dan Rowena akan tetap disini untuk beberapa waktu sampai aku benar-benar yakin bahwa ia akan baik-baik saja." tegas Adonis. Dan Hanna akan baik-baik saja. Pasti baik-baik saja!


Copyright @FreyaCesare