Flower Of The Dragon

Flower Of The Dragon
Amukan Sang Naga



Letusan gunung menjadi semakin hebat. Langit diatasnya diliputi awan abu dan asap hitam yang berbentuk menyerupai jamur besar. Sesekali bebatuan membara terlempar sangat jauh. Tapi yang terburuk belum tiba. Dari monitor scanner perut bumi, terlihat warna kemerahan bergerak di dalam gunung yang menunjukan pergolakan yang hebat. Lalu sesuatu yang memiliki bentuk nampak terlempar-lempar dari satu titik ke titik yang lain di dalam gunung, tampak seperti bayangan gelap berwarna merah kuning yang memiliki sayap yang lebar dan tubuh yang besar. Melihatnya tidak ada yang meragukan sedikitpun bahwa itu adalah seekor naga dan naga tersebut tampak sedang berjuang untuk membebaskan diri dari dalam gunung.


Semua orang menunggu dengan menahan nafas. Menunggu saat ketika naga tersebut berhasil membebaskan tubuhnya dari hempasan lava dan terbang bebas ke langit yang terbuka. Lalu pada suatu saat, sebuah ledakan yang lebih besar dari ledakan-ledakan sebelumnya, terjadi. Sesaat kemudian, dari kepulan awan abu vulkanik, sebuah benda yang besar melesat ke angkasa yang tinggi dan tiba-tiba sesosok makhluk besar bersayap muncul sekitar 100 meter diatas awan abu vulkanik, membuat semua orang memandangnya dengan mulut terbuka.


Mahluk itu, sebagaimana yang diduga, adalah seekor naga besar bersayap. Kulit naga tersebut berwarna merah, wajahnya tampak garang dengan bola mata berwarna merah bagai api yang membara. Sayap-sayapnya yang lebar tampak ramping dan ujung-ujungnya memiliki tanduk-tanduk yang tajam. Naga tersebut tingginya  hampir sama dengan sebuah pesawat tempur yang saat itu sedang digunakan oleh Squad One, namun ketika merentangkan sayap, sang naga tampak 4 kali lebih lebar. Penampilannya membuat semua orang tercengang. Mereka sudah menyiapkan diri untuk bertemu naga, namun sang naga ternyata sungguh jauh diatas ekspektasi mereka.


Walaupun sempat tertegun sesaat, namun Squad One dengan segera bereaksi. Mereka bergerak mengepung sang naga. Melihat dirinya dikepung, sang naga meraung. Raungannya yang keras terdengar jelas diantara suara ledakan-ledakan kecil yang terus terjadi di gunung di bawah mereka, membuat semua orang merasa gentar. Tiba-tiba, diantara raungannya, naga tersebut menyemburkan api besar yang bergerak layaknya cambuk dan menghantam salah satu pesawat Squad One terdekat. Pesawat tersebut langsung terbakar dan jatuh dengan kencang ke Bumi. Melihat salah satu teman mereka tumbang, para awak pesawat tempur Squad One tampak tersadar dan segera bermanuver untuk menghindari semburan api tersebut dengan gesit.


"Kepung dan serang!" Perintah Zhouyou dengan geram. Squad One segera mengambil posisi untuk kembali mengepung sang naga. Lalu secara serentak mereka menembakkan senjata laser ke arah sang naga. Namun secepat kilat sang naga terbang vertikal sehingga bukannya melukai sang naga, laser yang ditembakkan malah mengenai pesawat-pesawat Squad One yang berada saling berseberangan, tak sempat menghindar. 4 Pesawat langsung terbakar dan jatuh, menghamburkan serpihannya ke udara terbuka.


Di halaman Kuil Langit, sang Raja Langit Zhouyou merasakan darah seolah terserap habis dari tubuhnya. Pasukan Elite Squad One adalah pasukan dimana Zhouyou dididik dan ditempa. Setiap anggotanya memiliki kedekatan dengan Zhouyou sebagai kolega dan teman baik. Sekarang 5 diantaranya sudah tiada di waktu yang sama. Bagaimana Zhouyou harus menjelaskan semua ini pada keluarga mereka? Namun Zhouyou sangat memahami bahwa dalam perang apapun bisa terjadi.


"Kirim Squad 2 untuk membantu!" Perintahnya tegas. Mengikuti perintahnya, tak lama kemudian 18 pesawat tempur baru memasuki area pertempuran.


"Yang Mulia, apa tidak sebaiknya anda memberikan komando dari ruang kontrol? Berada di tempat terbuka begini bisa sangat berbahaya." Tanya Sekretaris Kerajaan. Namun Zhouyou tidak menggubrisnya. Pandangannya terpaku pada pertempuran di depan sana.


Sang Naga sedang melakukan berbagai manuver untuk menghindari tembakan laser yang datang dari berbagai arah. Suara raungannya terdengar nyaring diantara suara gunung meletus, suara pesawat dan suara benda-benda yang hancur disekitar mereka. gerakan sang naga dan pesawat-pesawat tersebut sangat cepat. Zhouyou mengepalkan tangannya keras-keras melihat satu persatu pasukannya berjatuhan. Namun walaupun sangat gesit, tetap saja sang naga tidak mampu untuk menghindari seluruh tembakan yang datang dari banyak pesawat tempur tersebut. Beberapa tembakan laser telah melukai sayapnya dan membuat ia meraung semakin beringas.


Hanna sedang menyurukkan kepalanya kedalam pelukan Baozhu. Sejak tadi kepalanya terasa penuh sesak dan sakit. Di sampingnya, Xiao Bao duduk bersandar di sofa yang sama, sedangkan Adonis berjalan bolak balik dengan gelisah di hadapan mereka.


Adonis tidak terbiasa berada dalam bunker perlindungan ketika sedang terjadi pertempuran. Kemampuannya untuk mengendalikan hormon dalam tubuh seseorang sangat berguna dalam sebuah perang. Ia akan berada tidak jauh dari pasukan yang sedang berperang dan mempermainkan hormon mereka. Membuat pasukannya menjadi pemberani dan kuat sedangkan pasukan lawan menjadi emosional, lemah, lelah dan tidak bertenaga. Membuat pasukan negeri langit yang di kenal sebagai pasukan para dewa menjadi pasukan yang paling menakutkan bagi bangsa lainnya. Namun kali ini mereka harus berhadapan dengan seekor naga. Tak seorangpun mengetahui bagaimana cara menghadapi seekor naga dan perintah Baozhu sangat tegas; untuk tetap di samping Hanna dan Xiao Bao, melindungi anggota termuda mereka. Adonis tak berani menentangnya.


Baozhu memandangi putranya yang terlihat bagaikan singa yang sedang luka, berputar-putar memutari kandangnya. Ia sudah membiarkan Sirrian, Tarli dan Rowena mengambil kontrol atas infirmary dan membiarkan anak-anaknya yang lain berada di garis depan. Namun keputusannya yang dengan sengaja memaksa Adonis untuk melindungi anak-anak bungsunya bukanlah tanpa alasan. Xiao Bao sudah melihat bahaya besar membayangi Adonis dalam perang sehingga sejak itu Baozhu memutuskan untuk tidak akan membiarkan putra angkatnya itu terlibat dalam perang kembali. Katakan saja bahwa itu adalah keegoisan seorang ibu yang mencoba untuk membelenggu kehidupan putranya, Baozhu tidak perduli. Asalkan putranya bisa selamat, Baozhu akan melakukan apapun.


Tiba-tiba Hanna yang sedang berada dalam pelukannya, mengangkat kepala dan memalingkan kepalanya seolah sedang mendengarkan sesuatu. Jaaz dan Xiam berjalan mendekat.


"Apa kau sekarang bisa mendengarnya, Hanna?" Tanya Jaaz. Hanna mengangguk. "Naga tersebut akhirnya berhasil melepaskan diri dari dalam gunung. Dan yang tadinya dikuasai kemarahan, sekarang ia menjadi kebingungan."


"Mengapa baru sekarang aku mampu mendengarnya?" Tanya Hanna.


"Kau memiliki kemampuan untuk berbicara dalam bahasanya. Sedangkan kami memiliki kemampuan untuk berbicara dalam frekuensi tertentu dalam pikiran kami. Gelombang otak adalah menyerupai frekuensi radio, berbeda-beda untuk setiap species. Saat kau berbicara dengan kami, kau mengembangkan kemampuan untuk menyesuaikan gelombang otakmu agar berada di frekuensi yang sama dengan kami. Saat kau berbicara dengan tanaman, kau juga melakukan hal yang serupa. Kebiasaan kami untuk berpindah-pindah frekuensi guna mengintai bahaya yang mendekat, membuat kami dengan mudah menangkap gelombang otak sang naga. Hal itu membuat kami bisa mendengar pikirannya sebelumnya kami mendengar suaranya. Namun kau baru bisa mendengarnya setelah ia keluar dari penjaranya karena kau mendengar suaranya, bukan gelombang otaknya." Jelas Xiam.


"Benar. Bukan hanya itu, kalian memiliki frekuensi gelombang otak yang sama." Jawab Jaaz.


"Bagaimana dengan kak Adonis, kak Hazrat atau kak Rowena? Apakah frekuensi gelombang otak mereka juga sama denganku?"


"Sama. Mereka seharusnya juga mampu mendengar sang naga. Hanya saja mereka sepertinya tidak mengenali bahasanya. Hal ini membuat suara sang naga menjadi tak berarti bagi mereka." Jawab Jaaz lagi.


Hanna memandang Adonis yang saat itu sedang berdiri diam di tempatnya dengan kepala mendongak dan mata menatap langit-langit.


"Tapi kak Adonis bisa merasakan..."


"Sepertinya begitu." Jaaz mengiyakan.


Baozhu memegang kedua pipi Hanna dan membuat gadis kecil itu menoleh padanya.


"Hanna, ada apa?" Namun belum sempat Hanna menjawab, suara dentuman keras terdengar di udara. Jeritan kemarahan dan frustasi sang naga terdengar memekakkan telinga. Hanna menutupi kedua kupingnya.


"Apa yang terjadi?" Tanyanya pada Chimera dalam suara manusianya.


"Mereka menembakinya..."


Suara jeritan sang naga terdengar semakin putus asa dan menyayat hati. Hanna bangkit dari pangkuan Baozhu dan sebelum bisa dicegah oleh siapapun, berlari ke arah pintu bunker diikuti oleh Jaaz dan Xiam. Baozhu, Xiao Bao dan Adonis yang terkejut melihat perilakunya, langsung menyusulnya.


"Hanna, ada apa?" Tanya Adonis, mencoba menghentikan upaya Hanna untuk membuka pintu.


"Mereka akan membunuhnya, Kakak! Tolonglah! Tolong hentikan mereka!"


Copyright @FreyaCesare