
"Ibu?" Hannna menjengukkan kepalanya ke dalam kamar Baozhu. "Apa kau ada disini?"
"Hanna?" Suara Baozhu terdengar sayup-sayup seakan dari tempat yang tertutup. "Kemarilah, nak, dan bantulah aku."
Hanna mengerutkan keningnya. Ia berjalan menuju arah suara namun tidak melihat Baozhu dimanapun.
"Ibu, kau ada dimana?" Panggilnya lagi.
"Disini, Hanna. Di dalam sini!" Suara itu datang dari dalam lemari. Hanna mendekati lemari dan menarik pintunya hingga terbuka. Lemari itu ternyata lebih mirip sebuah kamar yang mungil berukuran sekitar 2x3 m. Ruangannya memanjang dengan gantungan baju, laci-laci dan rak pakaian disisi kiri dan kanannya, serta diterangi oleh cahaya lampu dari langit-langitnya. Baozhu berdiri diantara 2 buah rak tersebut, tampak sedang mencari sesuatu di dalam sebuah laci.
"Ibu sedang apa?" Tanya Hanna.
"Tunggu sebentar ya, sepertinya aku sudah menemukan laci yang benar." Baozhu terus mencari-cari di dalam laci tersebut selama beberapa saat. Setiap kali ia mengeluarkan sesuatu, ia menyerahkannya pada Hanna yang menerimanya dengan tangan menengadah. Barang berikutnya kemudian ditumpuk di atas barang sebelum. Begitu juga barang selanjutnya, dan selanjutnya lagi. Untung saja tak lama kemudian Baozhu berucap senang,
"Ah, ini dia!" Baozhu mengangkat keluar sebuah kotak tipis persegi panjang berwarna coklat. "Aku mendapatkannya, Hanna." Baozhu menoleh pada Hanna, berniat menunjukan harta karunnya. Saat itulah Baozhu baru menyadari bahwa kepala Hanna sudah menghilang ke balik tumpukan tinggi kotak-kotak yang dipegangnya.
"Oh, ya ampun!" Baozhu meletakkan kotak yang ditemukannya ke atas rak terdekat dan buru-buru mengambil semua kotak tersebut dari Hanna. "Aku mudah sekali lupa bahwa kau masih kecil, maafkan aku ya." Baozhu mengembalikan semua kotak tersebut ke dalam laci. "Kau tidak apa-apa?" Tanyanya pada Hanna. Hanna menggeleng.
"Aku baik-baik saja kok. Tidak berat sama sekali!" Jawab Hanna. Baozhu tersenyum. Lalu setelah mengambil kembali kotak yang tadi ditaruhnya di atas rak, ia mengajak Hanna keluar dari dalam lemari.
"Kemarilah! Coba lihat apa yang kutemukan." Baozhu mengajak Hanna untuk duduk di atas sofa. Baozhu meletakkan kotak yang dipegangnya ke atas meja, di hadapan Hanna. "Bukalah!" suruhnya sambil tersenyum lebar. Hanna balas tersenyum dan dengan patuh mengulurkan tangan lalu membuka kotak tersebut.
Didalamnya, terbungkus di dalam helaian kertas tipis yang berfungsi sebagai pelindung, terdapat sehelai kain tipis. Hanna membentangkannya kain tersebut didepannya dengan tercengang. Kain itu berbentuk persegi panjang dengan 2 tali panjang menjuntai di salah satu sisinya. Bahannya begitu tipis sehingga Hanna bisa melihat lekuk jari-jari tangannya dari balik kain tersebut. Namun yang membuat Hanna tercengang adalah warnanya. Sekilas kain itu berwarna putih keperakan. Namun dibawah cahaya matahari, kain tersebut berkilauan dalam berbagai warna, seolah permukaannya dilapisi oleh berlian, namun permukaannya terasa begitu lembut.
"Itu adalah sebuah cadar yang dibawakan oleh Baotu sebagai oleh-oleh saat ia pulang terakhir kali. Ia memperolehnya di sebuah planet yang wanitanya memiliki kebiasaan untuk menutupi wajah mereka dengan cadar. Aku tidak memerlukan cadar, itu sebabnya aku tak pernah memakainya. Tapi aku menyimpannya karena aku menyukai bahannya." Baozhu mengulurkan tangan untuk menyentuh permukaan kain tersebut. "Coba lihat, begitu lembut dan berkilauan. Ilmuwan kita belum ada yang mampu menduplikasi bahan ini walaupun mereka sudah menelitinya selama beberapa tahun ini."
Baozhu mengulurkan tangan ke belakang kepala Hanna dan menarik lepas simpul tali cadar yang dikenakan Hanna. Baozhu menempelkan kedua telapak tangannya pada pipi Hanna dengan penuh rasa sayang.
"Kecantikanmu adalah anugerah bagi mataku." pujinya, membuat Hanna tersenyum lebar. "Aku akan menunggu dengan sabar saat kau bisa memperlihatkan wajahmu pada dunia. Namun sebelum itu, pakailah cadar ini untuk menyembunyikannya." Hanna mengangguk dan dengan patuh memasang cadar barunya. Baozhu mengulurkan sebuah cermin agar Hanna dapat melihat penampilannya.
Saat terpasang, Cadar itu melekat dengan baik di wajahnya. Bahannya sebenarnya sangat tipis, namun kilaunya yang menyilaukan membuat wajah di baliknya tidak terlihat. Anehnya, warnanya yang tadinya putih keperakan, berubah menjadi biru dengan kilau yang terdiri dari beberapa shade warna biru, sewarna dengan baju yang sedang dikenakan Hanna. Baozhu tersenyum senang melihatnya.
"Ajaib kan?" tanya Baozhu. Hanna mengangguk.
"Cadar ini akan berubah warna mengikuti warna pakaian yang pemiliknya gunakan. Apabila mereka sampai memasang teknologi chameleon di atas sebuah benda yang tidak terlalu signifikan seperti cadar ini, bayangkan bagaimana menyeramkannya teknnologi persenjataan mereka." pemikiran tersebut untuk sesaat membuat kening Baozhu berkerut karena khawatir. Lalu ia menggelengkan kepala dan senyumpun kembali menghiasi wajahnya.
"Salah satu kebiasaan Baotu adalah selalu mengkoleksi benda-benda yang unik dari semua tempat yang didatanginya. Apa kau menyukainya?" Tanya Baozhu. Hanna mengangguk kembali. Baozhu mengusap kepalanya penuh dengan rasa sayang.
"Meskipun cadar ini tidak bisa mengalahkan kecantikanmu, tapi setidaknya ia tidak akan merusak penampilanmu." ucap Baozhu, menutup ceritanya.
"Ibu, suami ibu..." Baozhu menggeleng tidak setuju mendengar cara Hanna menyebut Baotu.
"Panggil dia ayah, Hanna. Kau bukan hanya putriku, tapi juga putri Baotu." tegurnya. Hanna mengangguk pelan.
"Ayah... dia orang yang seperti apa?" Tanya Hanna lagi.
"Dia sangat keras kepala dan semaunya sendiri!" Cela Baozhu sambil mengerutkan wajah. "Tapi begitulah dia. Sejak kecil impiannya adalah menjelajahi semesta. Dia bahkan berhasil membuatku jatuh cinta pada mimpinya itu dan menyeretku keluar dari planetku yang nyaman untuk pergi melihat dunia lain yang belum terpetakan." Kenang Baozhu.
"Ibu dan ayah bukan berasal dari planet ini?"
"Bukan. Kami datang dari planet yang sangat jauh. Apakah kau mau aku menceritakan tentang asal-usulku dan sejarah penciptaan Sirria?" Tawaran Baozhu langsung disambut Hanna dengan anggukan kepala girang. Baozhu mengangguk. Ia menyandarkan tubuhnya di sofa dan mulai bercerita.
"Planet asal kami bernama Qu. Qu adalah bangsa yang besar. Peradaban di Qu jauh lebih maju daripada peradaban di planet berpenghuni lainnya. Teknologi Qu membuat kami berhasil memperpanjang usia kami. Kami tidak lagi perlu takut pada sakit maupun pada tua. Selama tidak ada yang berusaha membunuh kami, kami akan terus hidup, mungkin sampai alam semesta ini tiada. Kami juga menciptakan berbagai teknologi tinggi yang berfungsi untuk menjaga dan memelihara kehidupan, maupun yang berfungsi untuk menghancurkan. Kami tak pernah berhenti berinovasi. Selalu ingin sesuatu yang lebih lebih, dan lebih lagi. Tapi teknologi itu pulalah yang telah menghancurkan Qu." Cerita Baozhu. Matanya memandang keluar jendela, ke arah langit tinggi, seolah ia dapat melihat Qu disana.
"Aku juga tak tahu pasti apa yang sesungguhnya terjadi. Waktu itu aku dan Baotu sedang berada dalam penjelajahan kami yang kesekian kalinya. Tiba-tiba transmisi dari rumah terputus begitu saja dan sebuah data menginformasikan bahwa terjadi sebuah ledakan yang sangat besar di Qu. Kami berusaha untuk kembali secepat mungkin, namun kami berada sangat jauh dari rumah. Saat kami kembali, sudah tidak ada lagi yang tersisa dari Qu kecuali sebuah ruang kosong yang dipenuhi oleh bebatuan di tempat dimana Qu seharusnya berada."
"Yang tersisa dari ras kami adalah para penjelajah seperti kami, yang juga sama tidak tahunya dengan kami mengenai penyebab kehancuran Qu. Peradaban yang telah berumur trilyunan tahun menghilang begitu saja bagaikan sebuah mimpi."
Hanna mendengarkan dengan terpesona. Ini adalah pertama kalinya ia mendengar tentang asal usul Baozhu dan Baotu. Ia tak pernah menduga bahwa mahadewa dan mahadewi Sirria yang agung memiliki masa lalu yang begitu menyedihkan. Hanna tidak bisa membayangkan apabila pulau bunga tiba-tiba menghilang begitu saja tanpa jejak, mungkin ia bisa gila.
"Lalu kami melanjutkan perjalanan dan kemudian sampai di sini. Sirria adalah satu-satunya planet yang memiliki kemiripan dengan Qu. Disini kami bisa bernafas dan bergerak dengan bebas tanpa alat bantu. Tapi Sirria adalah planet yang sangat kering dan tandus. Terdapat jejak-jejak peradaban yang telah hancur, namun tak ada kehidupan tersisa di muka planet ini dan iklimnya pun sangat ekstrim. Hanya saja kami sangat ingin menjadikannya sebagai rumah kami yang baru karena itu kamipun berusaha memperbaikinya." Lanjut Baozhu.
"Dengan bantuan teknologi yang kami miliki, Baotu mencoba membuat agar planet ini layak untuk dihuni kembali. Lalu setelah itu aku menghidupkan kembali semua mahluk hidup dari planet kami. Tanamannya, binatangnya, semuanya. Aku juga mencoba mengembang biakkan tumbuhan dan hewan yang indah serta berguna dari planet-planet lain yang pernah kami datangi. Dan kemudian aku menciptakan Sirrian dan Tarli." Baozhu tersenyum dan mengakhiri nostalgianya.
"Ibu, apakah kau masih sering merindukan Qu?" Tanya Hanna lagi. Baozhu mengangguk mengiyakan.
"Tentu saja, namun tidak terlalu. Waktu telah berlalu terlalu lama untuk hati bisa mempertahankan emosi yang sama. Lagipula semua yang kucintai ada disini. Sirria adalah rumahku sekarang dan kuharap selamanya."
"Apa kau tidak rindu untuk bertualang bersama ayah kembali?"
"Dan kehilangan kesempatan melihatmu tumbuh besar, atau melihat Zhouyou bertekuk lutut dibawah cinta seorang wanita?" Hanna tertawa. Baozhu menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku ingin hidup tenang bersama anak-anakku, jadi aku tidak akan mau untuk pergi lagi. Lagipula aku takut apabila aku pergi, saat aku kembali, Sirria sudah lenyap seperti Qu dan semua yang kucintai turut menghilang bersamanya." Baozhu bergidik ngeri.
"Walau aku merindukan Qu, aku tidak akan pernah menukar kehidupanku di Sirria dengan apapun, bahkan dengan Qu sekalipun. Kebahagiaanku dan kebanggaanku, cintaku dan kekuatanku, semuanya ada bersama kalian." Baozhu tersenyum penuh rasa sayang pada Hanna yang langsung disambut Hanna dengan senyuman yang sama indahnya, walaupun tersembunyi di balik cadarnya.
"Terimakasih karena sudah mencintai kami, ibu. Terimakasih karena sudah mencintaiku." Ucap Hanna penuh syukur. Baozhu menarik Hanna mendekat dan lalu memeluknya erat.
"Terimakasih karena sudah diciptakan, Hanna. Terimakasih karena sudah mengijinkan aku mencintaimu." Balas Baozhu.
Terdengar suara ketukan di pintu disusul Xiao Bao yang menjulurkan kepalanya ke dalam ruangan.
"Ibu?" Panggilnya. Ketika matanya menemukan Baozhu dan Hanna yang sedang duduk di sofa sambil berpelukan, Xiao Bao tersenyum dan lalu berjalan memasuki ruangan.
"Ibu, Kak Hazrat dan Ashia datang untuk menemui ibu." ucap Xiao Bao, memberitahu. Begitu Xiao Bao berhenti bicara, tiba-tiba angin berhembus memasuki ruangan dari pintu kamar Baozhu yang terbuka, membuat rambut dan cadar Hanna berkibar pelan. Tak lama kemudian seorang pria muncul di depan pintu.
Pria itu bertubuh tinggi dan ramping, dengan wajah yang layak untuk dipasang sebagai model cover majalah. Seandainya ia tidak sedang mengenakan seragam militer pasti Hanna sudah mengira bahwa ia adalah seorang model. begitu melihatnya, Baozhu langsung memekik girang, bangkit dari duduknya dan berlari untuk melemparkan dirinya dalam pelukan pria itu.
"Anak nakal! Baru sekarang kau ingat untuk menjengukku?" Cela Baozhu kesal. Pria dalam pelukannya itu tersenyum lebar.
"Maaf ibu, tapi aku sangat sibuk. Kalau tidak aku pasti sudah kemari karena aku juga sangat merindukanmu!" jawab pria tersebut sambil tertawa. Ia membiarkan wajahnya diciumi Baozhu yang telah berlinangan air mata. Hanna yang melihat adegan tersebut menyadari bahwa pria dalam pelukan ibu angkatnya itu adalah salah satu saudara angkatnya. Ia menyikut Xiao Bao pelan.
"Kakak, dia siapa?" bisiknya.
"Itu Jendral Hazrat, sang dewa angin. Ia adalah bayi pertama yang tercipta dari ketiadaan." Xiao Bao balas berbisik. Ah, jadi ini sang dewa angin yang terkenal itu.
Sebelumnya Tarli dan Sirrian pernah bercerita tentang dewa angin. Hazrat ditemukan oleh 2 orang pendaki di sebuah gunung bersalju. Pada saat ditemukan Hazrat tidak mengenakan sehelai benangpun di tubuhnya. Tubuh mungilnya melayang pelan dibawa angin dan sedang tertidur pulas, seolah sedang berada dalam buaian. Padahal suhu sedang berada di bawah titik nol, tapi bayi tersebut tampak baik-baik saja. Bingung dengan apa yang mereka lihat, para pendaki tersebut kemudian mengantarkan si bayi ke rumah sakit terdekat dan mendaftarkan kasusnya di kepolisian. Lalu berdasarkan informasi dari kepolisian pada akhirnya Hazrat sampai ke tangan Baozhu dan Baotu, yang langsung mengklaim dirinya sebagai anak mereka.
Di usia 2 tahun, Hazrat adalah pembawa masalah. Ia menggunakan kemampuannya untuk mengendalikan angin di segala situasi. Angin bagaikan pelayan yang siap mengambilkan ini dan itu untuknya, bahkan untuk membawa Ibu dan Ayahnya, atau kakak-kakaknya kepadanya, ketika ia menginginkan mereka. ia juga menjadikan tornado sebagai teman bermainnya, mengakibatkan seluruh isi kuil porak-poranda oleh senggolan sang tornado. Hazrat menjadi raja kecil membuat semua orang sakit kepala. Butuh waktu beberapa tahun sebelum akhirnya Hazrat memahami alasan mengapa tornado tidak diijinkan untuk masuk ke dalam kuil dan mengapa mendorong seseorang dengan menggunakan angin itu bisa dikategorikan sebagai perbuatan yang tidak sopan. Hanna tidak bisa membayangkan kekacauan yang terjadi saat itu.
Diusia remaja, Hazrat menjadi atlet yang hebat. Ia menguasai berbagai bidang olahraga yang menggunakan angin sebagai salah satu faktor penentu kemenangan, seperti dayung, selancar, tenis, badminton atau terjun payung. Tapi Baozhu membuatnya berjanji untuk tidak mengikuti kompetisi apapun di bidang-bidang tersebut karena apabila Hazrat memenangkan pertandingan itu sudah pasti karena ia memanfaatkan angin yang tunduk padanya, yang dipandang Baozhu sebagai kecurangan. Mengikuti saran Baozhu, Hazrat kemudian menfokuskan diri pada olahraga beladiri dan menjadi atlet tarung derajat yang hebat. Saat dewasa ia kemudian bergabung dengan angkatan udara dan sejak saat itu kariernya terus menanjak.
Selang beberapa waktu kemudian 2 orang wanita memasuki kamar Baozhu. Wanita yang lebih tua tampak sedang hamil besar, sedangkan wanita yang lebih muda membantunya untuk berjalan. Keduanya luar biasa cantik, namun bila wanita yang lebih tua tampak seperti seorang putri dengan wajah yang lembut dan agak kekanak-kanakan, maka wanita yang lebih muda adalah seorang jendral. Hal ini bukan saja karena seragam militer yang dikenakannya, namun juga keanggunan yang terpancar dari gerak-geriknya dan tatapannya yang menyiratkan rasa percaya diri yang kuat.
"Ah, Yue sayang, apakah ini sudah dekat harimu untuk melahirkan?" Sambut Baozhu, mengambil alih Bao Yue dari tangan putrinya. Kepada si wanita muda ia mengulurkan tangan ke kepala wanita itu dan menarik kepalanya mendekat untuk mencium pipinya.
"Ashia sayang, kau cantik sekali." Pujinya. Ashia tersenyum dan kecantikannya menjadi bersinar dengan kekuatan penuh. Hanna mendesah.
"Kakak, itu siapa?" Sikut Hanna kembali bergerak ke arah Xiao Bao.
"Itu Bao Yue, Istri kak Hazrat, dan Ashia, putri tunggal mereka." Jawab Xiao Bao.
"Apakah ia belum menikah?" Tanya Hanna lagi.
"Belum. Dan setahuku kak Hazrat juga belum menerima satupun pinangan yang ditujukan bagi putrinya."
"Oh?" Hanna tersenyum girang mendengar keterangan dari Xiao Bao, membuat Xiao Bao yang melihatnya ikut tersenyum karena memahami apa yang terlintas di kepala adiknya itu.
"Mereka pernah saling mencintai." Bisiknya pelan.
"Siapa?" Hanna menoleh padanya dengan heran, tidak memahami maksud kata-kata kakaknya.
Xiao Bao menunjuk ke arah Ashia dengan dagunya.
"Dia dan Zhouyou." Yang benar? Hanna hampir melonjak-lonjak kegirangan, namun gerakannya dihentikan oleh suara Baozhu yang memanggil namanya.
Copyright @FreyaCesare