
Hanna, Xiao Bao dan Adonis sedang bertengger di atas sebuah pohon besar di depan jendela kamar Hanna, ketika Zhouyou memasuki kamar.
"Seharusnya kita membawa popcorn." Keluh Adonis. Hanna mengulurkan sebatang lollypop pada Adonis yang diterima pemuda itu dengan senang.
"Jangan berisik, kakak! Nanti mereka bisa mendengarnya." perintah Hanna. Adonis mengangguk. Ia memandangi Lollypop tersebut dan berpikir bahwa tidak mungkin ia bisa membuka bungkusnya tanpa suara. Adonis menarik nafas panjang.
Ini adalah hari yang melelahkan bagi Adonis. Setelah menghabiskan sepanjang jam makan siang untuk bermain petak umpet dengan Tarli, Adonis harus menemani Hanna dan Xiao Bao berburu chimera listrik. Orang dewasa mana yang akan membiarkan anak-anak kecil menangani mahluk semenyeramkan chimera listrik kan? Tentu saja sebagai orang dewasa yang bertanggung jawab Adonis merasa terpanggil untuk melakukannya. Untungnya mereka berhasil menemukan seekor anak chimera yang mungkin baru berusia 2 bulan. Di usia itu, mahluk itu mungil; hanya sebesar anak kucing berusia 2 bulan, tidak berbahaya dan sangat menggemaskan.
Saat hari mulai gelap, setelah memastikan bahwa Ashia telah tertidur karena kelelahan akibat perjalanan panjang dari Federasi Antar Bangsa, mereka memberi makan chimera kecil dengan listrik dari gardu utama. Mereka sangat takjub melihat bagaimana tubuh semungil itu dapat makan begitu banyak. Akibatnya listrik di seluruh Kuil Langit langsung padam. Dengan menggunakan Baterai, Xiao Bao berhasil mengirimkan 2 pesan bagi Zhouyou, namun segera mematikan koneksi begitu pesannya sampai ke Sima. Hanna sudah melonjak-lonjak girang karena sejauh itu rencananya berjalan dengan lancar namun kemudian mereka mendengar bahwa ada seekor chimera listrik dewasa yang sedang mengamuk di pintu gerbang dan melukai beberapa orang.
Mereka segera menuju pintu gerbang dan diam-diam melepaskan chimera kecil yang langsung berlari ke arah ibunya. Begitu bayinya aman dalam pelukannya, ibu chimera langsung berbalik pergi meninggalkan korban-korbannya yang bergelimpangan di tanah kotor, mengerang kesakitan.
Hanna menghabiskan sisa waktu dengan menangis dalam pelukan Adonis, menyesal karena ulahnya telah membuat beberapa orang terluka. Namun begitu kabar tentang kedatangan Zhouyou sampai ke telinganya, tangisnya langsung berhenti.
Walaupun sedang berada dalam kegelapan, dengan gesit Hanna kemudian memanjat pohon dan menunggu Zhouyou muncul. Adonis menyalahkan dirinya sendiri yang telah membesarkan Hanna menjadi gadis yang tomboy dan jahil. Seharusnya ia membiarkan Hanna dibesarkan oleh Sirrian. Mungkin sekarang Hanna sudah menjadi seorang putri yang anggun dan ahli di bidang medis. Menarik nafas panjang dan mengusap perutnya yang lapar, Adonis membuka bungkus lollypopnya, lalu memasukkannya ke dalam mulutnya. Ia nyaris terjatuh dari duduknya di atas pohon ketika Hanna mengeluarkan suara terkesiap yang ditahan oleh bekapan tangan Xiao Bao. Di dalam kamar, seseorang sedang menghunuskan belati ke leher Zhouyou.
Mata Zhouyou terbelalak mendapati sebilah belati sudah terhunus di lehernya. Lebih terkejut lagi ia ketika menyadari siapa orang yang sedang memegang belati tersebut.
"Ashia?"
"Zhouyou?" Ashia langsung melemparkan belatinya ke atas ranjang dan bangkit untuk membantu Zhouyou berdiri. Namun Zhouyou yang kakinya lemas karena terkejut, tidak bisa berdiri dengan tegak dan jatuh kearah ranjang dengan menindih Ashia yang sedang berada tepat di antara kedua tangannya. Mereka berpandangan dengan terkejut. Berbagai emosi bergetar keras dalam hati keduanya sedangkan mata mereka tak bisa mengalihkan pandangan.
Ashia... Ashia...
Panggil Zhouyou dalam hati. Ia tidak dapat mempercayai matanya sendiri. Setelah begitu lama waktu berlalu tanpa Ashia di sisinya, Zhouyou mulai berpikir bahwa perasaannya pada gadis itu hanyalah sebuah mimpi. Namun begitu ia menatap wajah Ashia, perasaan tersebut kembali padanya dengan kecepatan penuh.
Tiba-tiba lampu kamar menyala dan instalasi Artificial Intelligent yang mengatur seluruh kuil berdengung lembut menandakan telah kembalinya tenaga listrik ke seluruh bangunan. Hal ini menyadarkan Zhouyou dan Ashia. Mereka segera bangkit dari posisinya. Zhouyou dan Ashia kemudian duduk di pinggir ranjang dengan canggung. Namun kecanggungan tersebut langsung menguap ketika mereka kembali berpandangan. Persahabatan selama ratusan ribu tahun tak dapat terurai begitu saja oleh pahitnya cinta.
"Kapan kau pulang?" Tanya Zhouyou kemudian.
"Tadi pagi. Dari pangkalan kami langsung berangkat kemari." Jawab Ashia.
"Kau pulang dengan keluargamu?" Ashia mengangguk.
"Iya. Masa jabatan ayah telah habis dan ia ingin kembali ke rumah. Lagipula ibuku sedang hamil."
"Hamil? Ibumu? Wah, selamat!"
"Terimakasih."
"Semoga kau mendapatkan adik perempuan yang kau inginkan."
"Ayah dan Ibu ingin anak laki-laki."
"Memang berapa usiamu masih mencari waktu bermain dengan anak-anak?" Cela Ashia. "Lagipula apabila ia anak laki-laki, aku akan menjauhkannya sejauh-jauhnya darimu atau ia akan tumbuh menjadi pemuda menyebalkan sepertimu!" ejek Ashia.
"Menyebalkan? Tapi aku kan orang yang paling kau cintai!" Sahut Zhouyou sambil tersenyum lebar. Mereka berdua langsung terdiam mendengarkan apa yang Zhouyou ucapkan tanpa sadar. Zhouyou memaki dirinya sendiri dalam hati. Namun ia selalu begitu. Lidahnya selalu bergerak bebas apabila berhadapan dengan Ashia. Terutama apabila berhadapan dengan Ashia.
Gadis itu adalah sahabat terdekatnya sejak kecil, lalu menjadi wanita yang paling dicintainya begitu mereka beranjak dewasa. 1000 tahun telah berlalu sejak terakhir Zhouyou melihatnya. Namun kebiasaan adalah suatu hal yang menakutkan. Ia akan datang kembali dengan cepat dan tanpa disadari, mengembalikan keadaan diantara keduanya, seolah Ashia tidak pernah pergi kemana-mana selama 1000 tahun itu.
"Sedang apa kau di kamar Hanna?"
"Ah, Hanna memintaku untuk tidur disini bersamanya."
"Lalu Hanna dimana?"
"Tadi dia bilang tidak mau menggangguku untuk beristirahat. Jadi ia pergi bermain dengan Xiao Bao."
"Bermain dengan Xiao Bao?"
"Iya. Katanya mereka sedang mempersiapkan sesuatu sebagai hadiah untuk penobatanmu sebagai raja." Kening Zhouyou berkerut sesaat sebelum sebuah pemikiran menyadarkannya. Pesan-pesan mendesak dari Hanna dan Xiao Bao, jaringan komunikasi yang terputus akibat listrik yang padam, Ashia yang berada di atas tempat tidur Hanna...
"Begini saja, aku akan meminta bantuan nenek dan kakak untuk mencarikan istri bagimu. Paman tunggu saja ya!" ucapan Hanna di video call terakhir mereka terngiang kembali di telinganya.
Zhouyou memandang lekat pada Ashia. Serahkan pada Xiao Bao untuk mencarikan istri baginya, maka sang dewa peramal itupun dengan kejamnya mengantarkan cinta yang paling menyakitkan untuk kembali ke hadapannya. Zhouyou menarik nafas panjang.
"Selamat atas penobatanmu."
"Jangan memberiku selamat. Kau kan tahu betapa aku tidak berminat untuk menjadi raja."
"Kasihan." ejek Ashia. "Hidupmu pasti sangat sulit ya. Setiap hari harus mengenakan pakaian yang bagus, dilayani puluhan pegawai, duduk di singgasana yang empuk dan dihormati semua yang datang."
"Kau tidak bisa membayangkannya!"
"Kenapa tidak bisa? Aku bisa menebaknya."
"Tunggu sampai kau harus duduk di sana, baru kau akan tahu."
"Untuk apa aku harus duduk disana? Aku kan bukan pewaris tahta istana."
"Sebagai permaisuriku!" Benar. Pikir Zhaoyou. Xiao Bao dan Hanna telah menyeretku dari singgasanaku untuk menemuimu. Itu berarti hanya ada 1 kemungkinan. Bukan! Bukan kemungkinan! Tapi sebuah kepastian. Bahwa Ashia adalah wanita yang menjadi takdirnya. Wanita yang dipilihkan Tuhan untuk menjadi pendampingnya.
Copyright @FreyaCesare