
Ashia tersenyum lebar pada ketiga orang yang sedang menunggu mereka di depan pintu. Tarli langsung mendekat dan memeluk gadis itu erat.
"Bagaimana keadaanmu?" Tanyanya sambil mengusap kepala Ashia.
"Aku hidup." jawab Ashia. Tarli mengangguk.
"Benar. Kau hidup dan itulah yang terpenting kan." Sahutnya.
"Apa kau sudah boleh keluar dari Infirmary?" Tanya Bao Chen Yang. Ashia mengangguk.
"Paman Sirrian hanya berpesan bahwa aku tidak boleh berjalan dulu selama 24 jam ke depan." jawab Aisha.
"Syukurlah. Karena kau sudah baik-baik saja, mau ikut kami ke perpustakaan? Kami punya sesuatu untuk Zhouyou." Ajak Bao Chen Yang.
"Untukku?" Tanya Zhouyou.
"Benar. Untukmu, keponakanku sayang." Ucap Adonis sambil tersenyum. Ia merangkul Zhouyou dan membawanya berjalan menuju perpustakaan. "Kau akan suka kejutan dari kami ini."
Tarli mengambil tempat di belakang kursi roda Ashia dan mendorongnya untuk mengikuti Zhouyou dan Adonis, bersama Bao Chen Yang di sebelah mereka.
Saat memasuki perpustakaan, Zhouyou menemukan bahwa ruangan itu telah dihuni oleh beberapa anggota keluarganya. Baozhu tampak duduk di sofa besar dengan Hanna yang sedang memangku Raagh disebelahnya, dan Jaaz serta Xiam duduk dengan santai di dekat kaki mereka. Ayah dan kakeknya duduk bersebelahan di sofa tunggal, sedangkan Rowena sedang berdiri bersandar di depan sebuah rak buku dengan sebuah buku tebal bersampul warna merah terbuka ditangannya. Gadis itu mengangkat kepalanya ketika Zhouyou dan yang lainnya memasuki ruangan. Diatas meja kerja Zhouyou, Xiao Bao duduk bersila, tampak asyik membaca komik.
Saat melihat Aisha, Baozhu dan kedua Raja terdahulu langsung bangkit berdiri. Baozhu menarik Aisha dalam pelukannya.
"Gadis nakal! Kau suka sekali membuat nenekmu yang sudah tua ini khawatir." celanya lembut. Ashia tersenyum manis.
"Maafkan aku, nenek." jawabnya.
"Apa kau berjanji tidak akan mengulanginya?" pinta Baozhu. Aisha mengangguk.
"Aku berjanji."
Baozhu mencium kedua pipi Ashia, kemudian ia berbalik dan kembali ke sofanya. Sementara Ashia menemukan dirinya dipeluk oleh sang Raja Agung, Bao Yang.
"Terimakasih telah kembali kepada kami, Ashia. Mulai sekarang berhentilah menantang bahaya dan biarkan Zhouyou yang melakukannya untukmu." Nasihat Bao Yang. Ashia tersenyum.
"Baiklah, Yang Mulia." Jawabnya patuh, membuat Bao Yang tersenyum senang. Sepeninggal Bao Yang, sekarang Ashia berhadapan dengan Bao Yuan yang juga memeluknya hangat.
"Jadi, apa kau akan menjadi menantuku?" Tanya Bao Yuan sambil mengedipkan sebelah matanya. Wajah Ashia langsung bersemu merah. Ia tersenyum malu-malu sehingga menyebabkan Bao Yuan terkekeh senang.
"Aku akan mempersiapkan pernikahan yang terbaik untukmu!" Janjinya, sebelum berbalik kembali ke sofanya, masih sambil terkekeh. Zhouyou yang sedari tadi hanya diam memperhatikan; tersenyum lebar.
"Lalu, apa yang ingin kalian tunjukan padaku?" Tanya Zhouyou. Senyum jahil Adonis langsung mengembang karenanya.
"Apa kau ingat kau telah berjanji pada Zorex bahwa kau akan memberikan apapun yang ia inginkan apabila ia berhasil menyelamatkan Ashia?" Tanya Adonis. Zhouyou mengangguk.
"Hari itu, sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya, Zorex sempat meninggalkan sebuah pesan untukmu."
"Pesan? Apa pesannya?"
"Ia meminta kau untuk selalu melindungi anaknya." Jawab Adonis. Kening Zhouyou langsung berkerut.
"Anaknya? Apakah Zorex meninggalkan seorang anak?" Tanya Zhouyou. mendengar pertanyaannya, Adonis lalu memandang pada Xiao Bao yang telah menutup komik yang tadi dibaca dan meletakkannya keatas meja. Xiao Bao lalu turun dan atas meja dan meraih sebuah kotak. Kotak tersebut tadinya tersembunyi di balik punggung Xiao Bao sehingga Zhouyou tidak dapat melihatnya. Benda itu adalah sebuah kotak yang terbuat dari kayu berukir dengan ukuran 30 x 30 cm, berwarna coklat tua dan dilengkapi dengan kunci pada tutupnya, yang tidak pernah dilihat oleh Zhouyou sebelumnya. Xiao Bao mengambil kotak tersebut dan memberikannya pada Zhouyou.
Zhouyou menerimanya dengan ragu-ragu. Ia tidak dapat memikirkan satupun alasan mengapa paman-pamannya memberinya sebuah kotak kayu berukir. Ia sempat ragu-ragu sesaat sambil memandang ukiran yang menghiasi kotak kayu tersebut. Kualitas ukirannya jelas menunjukkan bahwa benda tersebut adalah kotak kayu yang cukup berharga. Menilik dari itu, Zhouyou yakin isinya pasti lebih berharga lagi. Mengangkat wajahnya, ia menemukan ekspresi penuh antisipasi tergambar di wajah hampir semua orang. Dengan perlahan Zhouyou membuka kotak kayu tersebut.
Untuk sesaat Zhouyou tidak dapat memahami apa yang sedang ia lihat. Indra visualnya menangkap sebuah benda berbentuk oval sebesar bola kaki, namun otaknya tak mampu memprosesnya.
"Ini apa?" Tanyanya.
"Tunjukan padaku." Pinta Ashia. Zhouyou menunjukkannya pada Ashia dan gadis itu langsung menebak,
"Telur?"
Kening Zhouyou berkerut bingung.
"Telur?" ulangnya, tampak berpikir keras. Lalu sebuah pemikiran melintas di kepalanya. Tidak mungkin...
"Telur Zorex?" ucapnya tak percaya. Mendengarnya Adonis bertepuk tangan.
"Akhirnya dia berhasil menebaknya juga." cetusnya dengan suara riang.
"Tapi, bagaimana mungkin? Zorex... dia adalah Naga jantan kan?" tanya Zhouyou bingung.
"Duh, keponakan! Apa kau lupa bahwa Zorex ditangkap dengan cara menculik telur dari kekasihnya?" Adonis mengingatkan.
"Tapi itu terjadi lebih dari 10 juta tahun yang lalu. Bagaimana telur ini masih berbentuk telur setelah waktu berlalu selama itu?" Tanya Zhouyou.
"Hasil test yang dilakukan Solomon (AI utama milik kerajaan langit) membuktikan bahwa telur ini sudah berusia 11 juta tahun. Namun bukan hanya itu, hasil pemeriksaan juga menunjukan bahwa di dalam telur ini terdapat mahluk yang hidup, dengan detak jantung yang kuat dan pergerakan yang baik, menandakan bahwa janin di dalamnya normal dan sehat. Ia bisa menetas kapan saja." Sirrian menjelaskan. Ia baru saja memasuki ruangan dan sekarang sedang mengambil tempat duduk di sisi Hanna.
"Apakah berarti kita akan segera bertemu dengan seekor Naga kecil dalam wujud aslinya?" Tanya Ashia. Sirrian mengangguk.
"Benar."
"ini menjelaskan mengapa Zorex, di saat-saat terakhirnya memaksa untuk keluar dari penjaranya dalam gunung berapi itu." Ucap Zhouyou. Keningnya berkerut penuh konsentrasi. "Apakah Zhouyou benar-benar memintaku untuk menjaga anaknya?" Tanyanya.
"Tepatnya dia memintamu untuk melindungi anaknya. Sepertinya ia mau Hanna yang menjaga anaknya." Jawab Adonis.
"Apa ia bilang begitu, Hanna?" Tanya Zhouyou pada Hanna.
"Ia tidak sempat mengatakan hal itu karena kata-katanya keburu dipotong oleh kemunculan si pembunuh waktu itu. Tapi aku yakin itu yang ingin ia katakan." jawab Hanna.
"Ini adalah pilihan yang masuk akal mengingat hanya Hanna yang memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan anak itu kelak." Sambung Adonis.
Ashia mengulurkan tangannya untuk meminta kotak berisi telur tersebut dari Zhouyou. Ashia kemudian meletakkannya diatas pangkuannya. Tangan Ashia mengelus lembut kulit kasar telur berwarna merah tersebut.
"Apakah ada yang tahu jenis naga apa ini?" Tanyanya.
"Xiam bilang itu adalah Naga Api. Zorex dan Aspixia memiliki sebuah telur lagi yang berwarna Aquamarine, warna Naga Air." Jawab Hanna.
"Apakah mungkin seekor Naga melahirkan 2 jenis yang berbeda?" tanya Ashia lagi.
"Aspixia adalah Naga Air, sedangkan Zorex adalah Naga Api. Persatuan keduanya akan melahirkan variasi bayi Naga."
"Bagaimana dengan kita? Apakah kita juga bisa dibedakan dalam kedua variasi itu?"
"Bisa dengan cara melihat kekuatan utamanya. Jaaz bilang Kak Hazrat, dan tentu saja kakĀ Ashia; adalah Naga Air. Kak Adonis dan Kak Rowena adalah Naga Api. Sedangkan aku, kata Xiam, kekuatanku agak membingungkan apabila ingin digolongkan. Namun karena Aspixia memiliki kekuatan yang mirip denganku, maka besar kemungkinan aku adalah Naga Air."
"Aspixia memiliki kekuatan yang mirip denganmu?" Tanya Ashia. Hanna mengangguk. "Dan ia memiliki sebuah telur lagi yang berwarna Aquamarine?" Hanna mengangguk kembali."Diman telur itu sekarang?" Hanna mengangkat bahu.
"Hanya Aspixia yang tahu. Telur itu menghilang tak lama setelah Zorex menghilang."
"Hanna, apa tidak mungkin kau adalah putri Aspixia?" Tebak Ashia.
"Aku?"
Copyright @FreyaCesare